
Tiga tahun yang lalu. Di depan Perpustakaan.
Dadaku bergemuruh tak karuan, perasaan bahagia begitu membuncah menghinggapi perasaan. Aku tak bisa berkata-kata, seolah semua kata yang aku miliki musnah bersama rasa bahagia ini. Aku hanya mampu tersenyum, tersenyum dan tersenyum. Mungkin hanya ini yang bisa menggambarkan semua yang aku rasakan. Bagaimana tidak, beberapa menit yang lalu tepat di depan perpustakaan ini, seorang Oky Pradipta salah satu mahasiswa semester akhir yang terkenal karena ketampanan dan ketajirannya, memintaku untuk jadi pacarnya.
Aku, Laras Lembayung Senja yang cuma perempuan biasa masih saja tidak bisa percaya dengan apa yang Oky katakan. Rasanya ini sebuah mimpi, dan jika ini mimpi biarkan aku tertidur dulu Tuhan, aku masih ingin bahagia seperti ini, pikirku.
"Ko dari tadi senyum-senyum terus sih?" Tanyanya.
"Ini mimpi ga sih? Ko kamu tiba-tiba mau jadi pacar aku?"
"Ini ga mimpi Laras, aku beneran uda lama suka sama kamu!" Jawabnya sambil mecubit hidungku.
"Ihh apaan sih, jangan cubit hidung aku ga suka!" Jawabku sambil mengusap hidungku. Dia tertawa melihat tingkahku.
"Laras, aku tuh merhatiin kamu uda lama banget. Aku ngelihat kamu dulu lagi makan di kantin bareng temen kamu. Rasanya dengan gaya cuek kamu namun rada pecicilan, aku nyaman lihatnya."
"Dua teman aku? Siapa?"
"Itu yang perempuan, sama perempuan jadi-jadian."
Aku tertawa terbahak-bahak, "itu riyani sama si iday... Hahaha... Dan dia bukan perempuan jadi-jadian. Dia laki-laki feminim." Jawabku geli
"Yalah apapun itu. Dan kamu tau, dari perempuan-perempuan di kampus ini rasanya cuma kamu yang ga peduli dengan semua ya ketajiran ku."
"Yaa lagian ngapain aku peduli, yang tajir kamu kenapa aku yang ikut mikirin."
"Yaa makanya, pas aku bawa mobil keluaran terbaru, kamu cuek aja ga peduli. Makanya aku pikir aku bakalan ngiblncer kamu."
__ADS_1
"Hahhaa.. itu kan mobil kamu kenapa aku harus pusing?"
"Laras aku sayang sama kamu."
Oky menggenggam tanganku erat, perasaan hangat seketika menjalar memenuhi rongga-rongga kosong dalam hati. Sebegitu bahagianya aku sampai mukaku bersemu merah. Bagiku Oky lelaki sempurna ciptaan Tuhan, wajah tampan dibarengi dengan ketajiran, pasti banyak perempuan antri untuk menjadi pacarnya. Tapi tanpa aku bayangkan, ternyata Oky memilihku perempuan biasa saja yang tidak punya apa-apa.
***
Semakin hari Oky semakin menunjukan rasa cintanya. Seolah sehari saja dia tidak bisa menjauh dariku. Apa yang aku mau pasti langsung diturutinya, entah itu makan atau jalan bareng. Aku semakin yakin jika Oky memang betul-betul menyangiku. Oky tak pernah membentak, oky tak pernah marah, dan Oky yang selalu mengalah.
Selesai kuliah, Oky langsung bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata dan dia juga kerja sampingan di salah satu sanggar seni di kotanya. Oky selalu berprinsip jika dia lulus kuliah dia tidak akan berusaha sendiri dan tidak tergantung kepada orangtuanya. Akhirnya dia memilih untuk bekerja, padahal tanpa harus bekerja pun kekayaan orangtua Oky tak akan habis tujuh turunan.
Meskipun dia bekerja, dia masih sempat mengunjungiku. Entah untuk sekedar makan atau mengajaku nonton.
***
Jitakan Baim di kepalaku membuat semua lamunanku tentang Oky buyar seketika.
"Lo apa-apaan sih Baim?" Bentakku sambil mengusap kepala.
"Lo yang apa-apaan, dari tadi gue berdiri di sini manggil-manggil lo ga nyahut..."
"Hahahaa sorry... Sorry.. gue ga nyadar ada lo disitu."
"Iyaa hidup lo kebanyakan nge-halu."
"Gue ga nge-halu Baim, gue ...."
__ADS_1
"Ngelamun. Uda!"
Aku nyengir kuda dan Baim malah menambah jitakannya di kepalaku.
"Heloo everybadeehhhh....." Ami berteriak di samping kami. Sontak kami menoleh berbarengan.
"Bro, sis, selamaaaatt kitaaa akan sidang bareng Lusaaa!" Seru Ami sambil memeluk aku dan Baim.
"Iyaaa gue baru sadar...!" Ucap Baim.
"Semoga semuanya lancar genks!" Ucapku.
"Aaamiiiiin" teriak Baim dan Amy barengan.
Ami melepaskan pelukannya dan duduk di samping Baim. Kita membahas ada beberapa buku yang harus kita cari.
"Kalo kata gue sih kita cari abis sidang proposal aja deh, ini kan buat skripsi!" Ucapku.
"Bisa juga sih kaya gitu, mending besok kita fokus sama sidang proposal dulu." Timpal Baim.
"Iyaaa sih, lagian kita bisa cari buku bareng, kan ada beberapa buku yang sama. Yauda kita beli satu aja biar lebih hemat." Usulku lagi.
Ami hanya mengangguk. "Makan yuuu!" Ajaknya.
"Uda jam makan siang" timpal Baim melirik jam tangan brandednya.
"Makan di Pujasera aja ayoooo!" Ajakku sambil bersidiri diikuti Baim dan Ami.
__ADS_1
Kalo urusan makan biasanya aku yang sering nentuin, dan para bodyguard biasanya mengekor di belakang.