
Saga mengeringkan rambut Mey menggunakan hair drayer. Setelah adu mulut dengan pacarnya itu, akhirnya Mey mau mandi dengan wajah yang suntuk.
Ya... Saga sengaja membangunkan Mey pagi-pagi sekali untuk mandi, karena Panji dan juga kawan-kawan ingin berkunjung.
Seperti sekarang ini, sambil menunggu kedatangan mereka, Mey kembali tidur dengan merayap manja ke pangkuan Saga. Memeluk erat leher pacarnya lalu meringkuk. Saga terkekeh, mengecup lembut keningnya lalu menepuk-nepuk punggungnya.
"Siapa aja yang kesini?" Mey bertanya parau, namun matanya masih terpejam.
"Emm, Panji, Daniel, Daren, Carel-"
"Carel?"
"Iya Carel?" Saga menyorot balik mata sayu itu. "Kenapa?"
Mey mendengus. "No prob." Saga terkekeh. Tahu betul apa yang di fikirkan sang pacar.
"Tenang aja, lo yang paling utama bagi gue, gak usah cemberut gitu ntar cantiknya ilang."
"GOMBAL!" Meskipun di buat jengkel, nyatanya pernyataan Saga sanggup membuat dirinya blusshing. Ada saja kalimat-kalimat yang cowok itu lontarkan hanya untuk menyenangkan hatinya. "Gak mempan."
"Tapi merah wajahnya?"
"Gue habis make aye shadow." Iya'in ajalah. Saga kembali menepuk pelan Punggung Mey sembari menunggu kedatangan teman-temannya. Hari ini Saga memasak makanan ringan untuk di jadikan hidangan. Sebenarnya Saga tidak mau, tapi karena Mey memaksa Saga tak dapat berbuat apa-apa selain menurutinya.
ting-tong..
Suara bel berbunyi. Saga berteriak mempersilahkan mereka masuk. Daniel, Daren masuk terlebih dahulu, di susul Carel yang kini datang menghampirinya. Terakhir Panji, cowok itu sempat berhenti ketika melihat pemandangan yang ada di depannya. Panji menunjuk ke arah Mey.
"Kucing?"
"Enggak, macan." Jawaban Saga lantas mengundang gelak tawa dari Daniel dan juga Daren. Carel hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Udah gue bilang tungguin gue? Malah di tinggal! Pacar macem apa sih lo?!"
Semua bungkam.
Bahkan, Mey yang tadinya tidur mendadak terbangun mendengar suara cempreng dari bibir seseorang. Seorang cewek berambut blonde sebahu itu, memasang wajah cemberut ketika sang pacar meninggalkannya di halaman rumah miliknya. Mey menatap lekat wajah itu. Penampilannya benar-benar seperti artis korea yang pernah ia lihat di TV. Cewek itu duduk di atas karpet yang sudah di sediakan oleh Saga lalu menyeruput teh tanpa rasa dosa.
"Gak sopan!" Cewek itu berengut kesal lalu memakan rakus makanan itu. Panji melotot garang. Daniel yang melihat tingkah dua sejoli itu terkekeh geli.
"Lagian lo? Udah tahu si Key orangnya ngambekan? Malah lo tinggal."
__ADS_1
"Dia bukan anak kecil." Jawab Panji melirik ke arah Key. Cewek itu masih belum menyadari keadaan di sekitarnya, lalu sebuah suara menghentikan aktifitasnya.
"Lo... kembarannya Lisa Blackpink?" Mey menyorot datar cewek berwajah chubby itu. Tatapannya lurus tertuju padanya. Key melongo. Lalu tanpa aba-aba dia merapat ke arah Key membuat Saga menarik tubuh mungil sang pacar.
"Lo barusan nyama'in gue sama Lalisa?" Sorot mata Key begitu antusias. Matanya mengerjap lucu membuatnya seperti boneka hidup. "Iya. Gue kembarannya Lisa, nggak ralat! Bukan kembarannya tapi gue adiknya. BWAHAHAHA!!"
Krik.. krik..
Krik.. krik..
Mey mengerjap. Cewek di depannya ini sungguh garing sekali seperti remahan krupuk. Tapi tanpa di sadari Mey tersenyum.
"Pacar gue aja gak pernah muji gue, tapi lo yang notabenya baru aja gue kenal, langsung muji gue?! Ya Allah ya rabb, mimpi apa gue semalem..." Tawanya masih terdengar. Panji menghela nafas panjang.
"Panji, pacar lo antimeanstream."
"Hm, emang pembawaannya kek gitu." Panji menjawab tak minat. Ia melihat beberapa menu di depannya. Panji sedikit tertegun karena baru menyadari kondisi Villa milik Saga.
Ini mah bukan Villa namanya!!
Dalam hati Panji berdecak kagum melihat kemewahan Villa itu. Ia mengambil beberapa potong daging ayam. Panji mencobanya.
Panji memakannya lagi. Mey menyorot Panji datar.
"Ini enak banget sumpah!" Ucapnya kemudian. Daniel dan juga Daren pun ikut mencobanya. Mereka diam sesaat.
"Ho'oh enak. Ga, ini lo yang bikin?" Saga menoleh ketika Daren menlontarkan sebuah pertanyaan.
Saga menggeleng. "Enggak. Tapi Mey yang bikin."
Uhuk.
Panji tersedak. Key buru-buru mengambilkan air buat pacarnya lalu menepuk pelan punggungnya.
"Makan tuh hati-hati, ngeyel sih." Key mulai cerewet. Carel melihat ke arah Mey, ia sedikit memikirkan bagaimana bisa Mey melakukan ini semua?
"Serius Mey semua yang masak?" Carel bertanya. Berharap mendapatkan jawaban yang memuaskan hatinya.
"Iya. Awalnya gue gak setuju, tapi karena dia ngotot dan bilang kasian juga kalo gak ada makanan, ya udah dia yang bikin, gue ikut bantu juga sih. Tapi keseluruhannya Mey yang masak."
"Gue-" Panji masih terbatuk. "Gue gak nyangka cewek semales dia bisa masak. Lo yang ngajarin?" Saga menggeleng. "Terus? Dia ikut les masak?"
__ADS_1
Saga menggeleng lagi.
Lalu... Panji mengadu karena merasakan sebuah hantaman kecil di kepalanya. Mey melemparkan bantal ke arah Panji, Panji melotot.
"Haisshhh, sakit tahu gak sih, Mey?!"
"Lo pasti habis nonton youtube, iya kan Mey?" Tanya Daren. Mengabaikan Panji yang tengah jengkel terhadap dirinya. Mey menguap lalu mengangguk. "Pantesan."
"Sebenernya, tanpa nonton dan les pun, Mey emang punya bakat masak dari SD. Waktu itu dia udah bisa bikin kue bareng Tante Rena. Padahal Tante Rena gak pernah ngajarin dia masak."
"Ohh, berarti si Mey ngeliat sendiri Mamanya masak? Iya kan, Mey?"
Lagi, Mey hanya mengangguk.
Ia membuka matanya ketika mendapatkan sebuah sapuan lembut di kepalanya. Carel yang sedari tadi hanya diam dan melihat dua sepasang kekasih itu, hanya tersenyum miris. Carel mencoba mencari kesenangan tersendiri.
"Emm Mey? Lo.. tinggal berdua bareng Saga?" Kali ini Carel bertanya. Key, cewek berwajah korea itu masih hidmat dengan makanannya.
"Iya. Gue takut sendirian soalnya." Jawab Mey asal.
"Terus si Enzi gimana?"
"Enzi tinggal sama pacarnya. Dia jarang dateng ke kos, malah gue sendiri yang nempatin."
"Lagian juga Mey gak butuh Enzi." Jawaban Saga mampu menarik atensi seluruh temannya, termasuk Key.
"Maksud lo Mey gak butuh temennya itu apa?" Dengan makanan masih penuh di mulutnya, Panji yang melihat pun tak segan untuk menegur sang pacar.
"Mey cuma butuh gue. Emangnya Enzi bisa apa? Cuma masak doang kan gue juga bisa. Mey itu harus bergantung sama gue, gak boleh enggak, dan hal itu mutlak. Anjing banget gak sih ngeliat orang lain ngehina dia? Gue sebagai pacarnya ya gak terima lah! Bisanya cuma keroyokan. Cih!"
Semuanya spechless.
Terkecuali Mey yang kini mengusap penuh perhatian wajah Saga. Saga memejamkan mata dan menikmatinya.
"Hm, gue salut sama lo, Saga." Semua bungkam. Panji pun tak tahu harus berbuat apa. Key sedari tadi cewek itu bukan memperhatikan Mey dan juga Saga. Melainkan melihat Carel dengan keterdiamannya.
Key mengira, bahwa Carel menyimpan perasaan lebih pada Saga. Tapi Saga hanya cuek dan selalu memberi perhatian lebih pada Mey. Key menghela nafas panjang lalu menggeleng prihatin. Panji menoleh.
"Kenapa?"
"Keknya... bakal ada peperangan sengit antar teman."
__ADS_1