INSECURE

INSECURE
Kenangan Pahit


__ADS_3

aku menelengkan kepalaku ke kanan ketika mendapati segerombolan cewek tengah berbincang sesekali tertawa ria. Aku tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan saat ini, tapi melihat mereka tertawa bersama membuatku iri dan ingin sekali bergabung dengan mereka.


Tapi... apa itu bisa?


Aku tersenyum miris, lalu memasang wajah datar mengingat bahwa diriku tak lebih dari sekedar sampah yang harus di buang. Masa SMP-ku harus terkuras habis dengan sebuah perundungan di setiap harinya. Telingaku sudah cukup banyak mendengar hinaan para siswa-siswi tentang diriku. Aku tidak tahu mengapa mereka sebegitu teganya terhadap diriku.


Aku kembali mengingat pertama kali masuk Sekolah, dimana mereka menghampiriku dan mengajakku berteman. Mereka tahu aku anak dari seorang yang punya Sekolah ini, dan memanfaatkanku di saat aku lengah. Saking bahagianya mendapatkan seorang teman, hingga tidak menyadari bahwa mereka hanya memanfaatkanku saja.


Aku di hina, aku di caci maki, dan aku... di buang. Tak ada lagi tempat bagiku bergabung dengan mereka. Aku tertawa ringan. Aku menggiring langkahku menuju kelas, semua pasang mata tertuju padaku. Lalu seorang cewek berambut sepunggung tersenyum mengejek ke arahku.


Dia Ladeya.


Teman sebangkuku, yang kerap kali membulliku habis-habissan. Tubuhku tersentak kaget ketika sebuah dobrakkan keras berasal dari pintu. Pintu di tutup rapat dan di kunci. Seorang cowok bertubuh jangkung mendorongku hingga aku terpental jauh ke lantai.


Suara tawa menggelegar di telingaku.


Tubuhku bergetar hebat. Ku pejamkan mataku rapat di iringi suara gemelatuk gigiku. Tubuhku tremor parah. Di setiap harinya kejadian ini selalu saja menimpaku. Aku takut, tapi aku tidak bisa menangis. Yang kulakukan hanyalah diam dengan meringkuk di pojok kelas. Mereka mentertawakanku.

__ADS_1


"Hadehhhh, sampah ya tetep sampah!" Suara Ladeya berkumandang. "Kenapa lo gak mati aja sih, Mey? Gue tuh eneg lihat wajah polos lo! Enyah sana dari hadapan gue!"


Tak!


Aku mengaduh sakit. Sebuah hantaman keras mengenai dahiku hingga berdarah. Penghapus itu berada tepat di bawahku. Aku tak berani melihat mereka, terlalu menyakitkan jika ku buka mataku.


"Cewek jelek kek lo tuh gak pantes Sekolah di sini! Bikin sakit mata tahu gak!"


"Iya! Kenapa masih Sekolah sih nih cewek? Bukannya berhenti malah masuk, kesel gue sama dia." Ujar mereka. Aku hanya bisa meringkuk, tak ada pembelaan dari siapapun.


"Mati sana!"


Semua itu hanya mimpi yang nyatanya pernah terjadi dalam hidupnya. Mey menangis. Jiwanya terguncang dan tubuhnya tremor parah. Kakinya gemetar hingga tak sanggup untuk berjalan. Mey melihat di sampingnya, tak ada Saga. Nafas Mey memburu, matanya bergerak liar mencari keberadaan Saga. Mey beringsut turun dari ranjangnya dan mulai berjalan tertatih menapaki dinginnya keramik.


Mey sesenggukan. Dadanya naik turun akibat mimpi itu. Lagi-lagi ia harus bermimpi sebuah kenangan pahitnya dulu. Ia tak dapat berfikir dengan jernih.


"Saga!" Suaranya berubah parau. Lampu di Villa mati semua dan mengganggu Mey untuk mencari keberadaan Saga. Ia menangis. Saga tidak ada di sampingnya. "Saga!" Lagi Mey memanggil nama sang pacar.

__ADS_1


"Saga.." Suaranya mulai habis. Kakinya sudah tak sanggup menopang tubuhnya yang lemas. Mey bersandar di tembok dan meringkuk di sudut ruangan. "Saga..." Mey terua saja menggumamkan nama itu berharap Saga datang dan menenagkannya.


Lampu pun menyala.


Menampilkan sosok cowok jangkung dengan senyuman smirknya. Ia berhasil. Membuat sang pacar ketakutan akan kehilangan dirinya, dan menjadi bergantung padanya. Semua ini ulah Saga, sengaja meninggalkan Mey dan memilih sembunyi di balik pintu ruang tamu. Saga berjalan pelan menghampiri sang pacar. Mey belum menyadari kedatangannya. Saga menggendong tubuh mungil itu lalu mengecup lembut kedua matanya. Mey membuka matanya.


"Jangan nangis, gue gak suka." Mata sembab itu begitu lucu di hadapannya.


"Gu-gue takut, jangan ninggalin gue, Saga.. jangan ninggalin gue.."


"Hm, gue gak bakalan ninggalin lo."


Saga membawa Mey masuk ke dalam kamar lagi. Menaruh tubuh mungil itu perlahan dan ikut tidur di sebelahnya. Mey merapatkan tubuhnya dan memeluk erat tubuh kekar itu.


"Lo mimpi buruk lagi?" Saga bertanya. Mey enggan untuk menjawab. "Jawab sayang..." Mey mendongak menghadap ke arah Saga, nafasnya masih sesenggukan dan sulit untuk bernafas. Matanya terus saja bergerak liar.


"Me-mereka nyakitin gue, mereka ngehina gue, bulli gue terus-terussan pake mulut mereka yang busuk. Gue takut, Saga..."

__ADS_1


Saga mengerti. Ia pun memeluk erat tubuh Mey dan mendekapnya. Ia tahu, bahwa Mey tengah bermimpi buruk. Namun kejadian ini ia buat kesempatan agar Mey mau bergantung padanya. Egois memang. tapi jika menyangkut tentang sang pacar kesayangan, bagaimana tidak?


__ADS_2