INSECURE

INSECURE
Ketakutan Hati


__ADS_3

Beberapa kali Saga menggedor pintu berwarna pink muda itu dengan keras, berharap sang pemilik kamar mau membukanya. Saga kalap ketika ketika mendapatkan kabar dari Nara bahwa Mey mengurung diri di kamar. Di belakang tepat Saga berdiri, ada Key dan Panji, orang tua Mey pun ikut serta. Beberapa kali Fredy menenangkan sang istri untuk tidak terlalu khawatir akan kondisi sang Putri tercinta. Selalu mengatakan bahwa Mey adalah gadis yang sangat kuat dan juga tangguh.


" Mey... ini gue... gue mohon buka pintunya, jangan lakuin ini gue mohon..." Bahkan teriakan Saga tidak di gubris sama sekali. Karena hal ini pun pernah terjadi dulu, di saat Saga masih belum resmi menjadi pacarnya. Jadi, jika ini terjadi lagi, entah apa yang akan ia lakukan kedepannya.


"Dobrak pintunya, Saga.. Mey di dalem, dia gak bakalan buka pintu kalo gak di dobrak." Nara menyarankannya. Saga dengan mantap hati mengangguk dan mulai mendobrak pintu itu.


Brak!


Dengan satu kali dobrakan pintu itu terbuka lebar, menampilkan sosok yang Saga khawatirkan saat ini. Namun matanya membelalak ketika melihat Mey sudah tergeletak bersimbah darah di bagian lengannya. Saga gemetar, begitu pun dengan semuanya.


" Sayang..." Saga menepuki pelan wajah pacarnya. Namun tidak ada reaksi apapun. Nara dan Fredy yang melihat itu tak kuasa menahan tangis melihat kondisi sang putri. Key yang sadar di antara semuanya mengusulkan mereka buat membawa Mey ke rumah sakit.


"Saga, kita bawa ke rumah sakit."


*****


Tidak terbayangkan jika hal akan terjadi lagi. Saga benar-benar tidak menyangka akan hal itu. Melihat Mey tergeletak lemah dengan bersimbah darah, membuatnya terlempar lagi di masa lalu. Bayangan akan dirinya yang begitu takut jika sampai Mey pergi, Saga mungkin tidak akan berfikir jernih.


" Mey..." Nara menangis di pelukan suaminya. Fredy menahan nafas ketika melihat tubuh sang putri sudah terkapar di brankar rumah sakit. Air matanya mengalir begitu deras mengingat masa lalu yang sangat menyakitkan menimpa putrinya. " Mey..."


"Putri kita kuat, dia gak akan ninggalin kita sayang.. Mey kita itu, bener-bener kuat."


Sedangkan Key, cewek itu hanya menatap kosong ke bawah tepat di keramik rumah sakit. Key tidak bisa berfikir jernih, semua ini salahnya. Jika saja ia tak berbicara ngawur mungkin Mey tidak akan terluka.


Key menangis.

__ADS_1


Ia menunduk dalam. Sentuhan lembut terasa di pipi chubbynya. Key menoleh melihat wajah sang pacar yang juga sama dengannya. Meskipun kerap kali Panji jadi bahan hinna oleh Mey, nyatanya Panji juga peduli pada cewek itu.


"Semua ini salah gue kan? kalo aja gue gak ngomong aneh-aneh, pasti Mey-"


"Sss, lo gak salah." Panji berusaha menenangkan. Cowok itu mengusap air mata Key. " Lo gak salah ok? Semua ini kehendak tuhan. Jangan pernah salahin diri lo sendiri, gue gak suka."


Key menagngguk. Namun ia terus saja menangis meskipun hanya isakan kecil. Pintu pun terbuka. Seorang Dokter yang cukup familir memasang wajah rumit.


"Kenapa dia sampai se-nekat itu?" Alif bertanya pada Saga. Cowok itu enggan menjawab. Menyadari keterdiaman sahabatnya, Alif yakin pasti ada sesuatu yang terjadi di antara mereka. " Kondisinya belum pulih. Tapi untuk beberapa waktu dia harus tetep tinggal disini. Mey banyak kehilangan darah, kalau saja kalian gak segera bawa dia kesini, mungkin nyawanya tidak tertolong."


Mereka semua bungkam.


Fredy berkata. " Tolong, selamatkan putri kami, hanya dia satu-satunya harta paling berharga di keluarga kami." Suaranya begitu lemah dan tak berdaya. Alif hanya mengangguk.


Beberapa saat, Saga menyesali kebodohannya. Melupakan bahwa Mey juga merasakan sakit. Saga tidak tahu jika Mey akan bereaksi seperti ini.


"Sayang..." Saga mengambil tangan pucat itu, terasa dingin dan kecil di genggamannya. Saga terkekeh, mengingat dimana ia menyentuh telapak tangan itu di saat dirinya pertama kali menyatakan perasaannya pada Mey. Saat itu, Mey merasa linglung dan tidak menyangka jika ada seorang lelaki yang suka padanya. Saga mengusapnya lembut lalu menciumnya. " Maaf..."


Bahkan Saga tak mampu untuk melanjutkan kata-katanya. Terlalu menyakitkan dan hina di hadapan Mey. Mungkin Mey akan mengusirnya jika dirinya ada disini. Mengumpat dan mungkin akan memukulinya.


" Bangun ya? Jangan tinggalin gue, gue mohon Mey..." Saga sudah lelah menangis. Ia takut jika tidak ada harapan lagi bagi dirinya untuk berdiri di samping Mey. " Kenapa lo harus lakuin ini? Lo bisa pukul gue, hina gue, kalo lo emang bener-bener kesel sama gue, tapi jangan dengan cara ini."


Saga menggeleng lemah.


"Gak harus dengan cara ini Mey, gue minta maaf kalo udah bikin lo sedih dan sakit. Gue janji gue gak bakalan ninggalin, gak bakalan deket sama dia lagi, tapi gue mohon.. gue mohon bangun, Mey.."

__ADS_1


Saga sudah kehilangan arah dan akal sehatnya. Kehilangan Mey sama saja seperti kehilangan dunianya sendiri.


"Om gak tahu apa yang terjadi sama hubungan kalian, apapun masalahnya kalo udah nyangkut putri Om, Om gak bakal tinggal diam."


Saga masih bergeming.


"Tapi.. misal keadaan Mey makin memburuk dan benar-benar parah, terpaksa Om akan memisahkan kalian berdua. Mungkin membawanya ke Luar Negri adalah keputusan terbaik."


Saga diam. Tapi tanpa di sadari kedua tangan Saga terkepal kuat hingga membuat jari kukunya memerah. Apa dari perkataannya? Membawa pergi Mey dari dirinya begitu? Tidak akan Saga biarkan itu terjadi. Sampai kapanpun, Mey tidak akan pernah pergi dari sisinya.


Saga hanya bisa tersenyum pedih.


"Hm." Dan bergumam tanpa menyadari bahwa dirinya tengah merencanakan sesuatu.


*****


Dua minggu berlalu.


Sampai sekarang ini, bahkan Mey tidak membuka matanya sedikit pun. Saga tidak pernah absen untuk datang menjenguk dan membawa sebuket mawar merah kesukaan sang pacar. Tapi kali ini berbeda, mungkin karena setiap hari membawa bunga, Mey jadi bosan. Saga berencana membelikan sebuah boneka pikachu kesukaan sang pacar.


Saga menaruh boneka besar itu di samping nakas. Sudah banyak beberapa bunga di sana, dan iti dari dirinya semua. Tapi.. kenapa sampai hari ini Mey enggan membuka matanya? Saga tersenyum pedih. Ia mengambil alih telapak mungil itu, benar-benar dingin layaknya mayat hidup. Tapi di saat sakit begini, kenapa kadar kecantikan Mey tidak pernah luntur ataupun berkurang? Semakin cantik dan cantik di mata Saga. Sambil menatap lurus ke arah pacarnya, Saga mencium penuh cinta dan damba telapak tangan itu. Mengusap jemari lentik dan sedikit memainkannya. Tiba-tiba, Saga teringat akan kenangannya bersama Mey. Jika Mey sedang tidur, bahkan tanpa sepengetahuannya, Saga sering kali berbuat nakal pada pacarnya. Sesekali mencium dan menggigit anggota tubuh Mey. Entah Mey yang terlalu ngantuk apa bagaimana, cewek itu bahkan tidak terusik sama sekali. Saga mengingatnya justru terkekeh pelan.


"Gue... kangen sama lo Yang?" Suaranya parau. Karena semalaman menangis bahkan tidak tidur, Saga terkadang melupakan kesehatannya. Tapi itu semua tidak ada artinya di banding rasa sakit yang ia berikan lada Mey. Mulai sekarang dirinya akan menajga jarak dari siapapun dan tidak mau berurusan lagi dengan cewek lain, termasuk Karel.


"Gue... akan ngelakuin semuanya demi lo Yang."

__ADS_1


__ADS_2