
Semuanya kacau.
Sejak kejadian di kelas kemarin, Meygi tidak ingin bertemu dengan Saga-bahkan hanya untuk sekedar berbicara saja. Meygi kali ini berada di rumahnya, ingin sendiri dan mengurung diri di dalam kamar miliknya. kamar kos ia tinggal dan lupa memberitahukan pada Enzi.
Meygi menghela nafas kasar. pasti... Enzi akan memarahinya habis-habisan.
Meygi duduk di bawah sebelah kasur. menyandarkan kepala dan punggungnya lalu mulai berfikir. Awal dimana ia bertemu dengan Saga hingga menjalin asmara yang begitu antimeanstream. Hubungan yang di anggap haram bagi orang-orang yang tidak menyukainya. Tapi seperti yang ia lihat, bahwa Saga tak memperdulikan akan hal itu. Nyatanya cowok bermarga Dirgantara itu hanya bisa bersikap cuek dan acuh tak acuh. Lebih memilih memnentingkan hubungan dengan dirinya.
Namun kali ini... Meygi akan bersikap egois. Mulai hari ini ia akan melupakan Saga, dan besok ia harus bisa berbicara padanya. Sedikit Meygi memikirkan bagaimana reaksi cowok itu ketika ia memutuskan hubungan dengannya. Apa Saga akan marah dan membenci dirinya? Dan itu pasti. Meygi tertawa sumbang. Melupakan keberadaan orang tuanya yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. Suara gedoran semakin keras kala dirinya tertawa lebih kencang lagi. Meygi tak menghiraukannya. Kepalan kedua tangannya semakin erat hingga menimbulkan luka. Jika di Fikir-fikir, kenapa dirinya begitu inginnya untuk berpisah dengan Saga? padahal jika di lihat-lihat, Saga sangat tulus padanya. Meygi semakin di buat bimbang akan keputusannya. Ia berusaha berfikir keras lagi, kenapa? kenapa ia ingin sekali berpisah dengan Saga jika hatinya jelas berkata tidak?
Jawabannya hanya satu. Karena dirinya sadar diri.
Ya... Sadar diri karena dirinya kurang sempurna jika di bandingkan dengan Saga. Sedetik tubuh Meygi tersentak mendengar getaran ponsel yang ia genggam sedari tadi. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Saga. Hah... cowok itu, pasti tengah mengkhawatirkannya. Pasti Saga saat ini sedang berfikir yang tidak-tidak tentangnya. Lalu... ia harus apa? Beritahu Meygi, bahwa dirinya harus bersikap seperti apa? nyatanya sedekat apapun hubungan pertemanannya dengan Carel, cewek itu hanya membuat cover di depannya. Semua itu hanyalah kebohongan belaka. Demi ingin memperpendek jarak antara dia dan juga sang kekasih, sahabatnya itu bahkan rela memasang topeng munafik.
"Gue... emang gak pantes buat Saga." Meygi bermonolog sendiri. Kesadaran diri atas dirinya semakin memuncak. entah apa yang tengah ia fikirkan saat ini, Meygi sampai-sampai tak dapat menetralisirnya. Meygi menatap ponsel di genggamannya, lalu melemparnya hingga mengenai dinding. Ponsel itu pecah menjadi tiga bagian, bahkan suara dering pun sudah tidak terdengar lagi. Tangisan raung kian kencang hingga terdengar di luar kamar.
"Sayang... Mama mohon buka pintunya!"
Bahkan suara teriakan Nara, sang Mama ia abaikan. Seolah tuli, Meygi menutupi kedua telinganya. Matanya terpejam erat tak mau mendengar apapun.
"Mama mohon buka pintunya sayang, jangan bikin Mama sama Papa khawatir..." Fredy di samping sang istri pun tak bisa berbuat apa-apa. Meskipun putrinya itu termasuk tipikal yang pendiam dan anti sosial, nyatanya sifat keras kepala dirinya menurun pada putri semata wayangnya. "Mas..."
Nara lelah berteriak. Dan semuanya tidak menghasilkan apapun meskipun ia menangis darah. Putrinya itu... sudah terlalu banyak menderita, hingga membuat kepribadiannya tertutup dan enggan untuk terbuka pada siapa pun.
"Apa kita telfon Saga aja? Mas gak tahu masalah apa yang mereka hadapi sekarang, tapi setidaknya, Saga bisa ngendali'in Meygi."
Nara mengangguk lemah. " I-iya, Mas cepat telfon Saga. Jangan sampai putri kita ngelakuin hal yang bisa bikin nyawanya dalam bahaya. Aku gak mau Mas, aku bener-bener gak mau.."
__ADS_1
Fredy menghapus jejak air mata milik istrinya. Mencoba menenangkan dengan melontarkan kalimat, yang perlahan membuat istrinya kembali tenang.
"Putri kita gak papa. Gak bakal terjadi apa-apa sama putri kita, ok? Kamu harus percaya, kalo putri kita itu kuat, Meygi... putri kita yang sangat kuat." Nara mengangguk. " Sekarang kita kebawah, kita harus cepet-cepet telfon Saga. Cuma dia yang bisa ngatasi ini semua."
*******
Kini Panji dan juga Key sedang berada di apartemen milik Saga dan juga Meygi. Saga sengaja membawa mereka karena ada sesuatu yang harus di bicarakan pada mereka.
Terutama... pada cewek sinting itu.
Hah... entah kenapa, Saga memberi nama pada pacar si Panji dengan sebutan sinting? karena dia benar-benar sinting!!! Bisa-bisanya dia berkata seperti itu pada Mey, ya... wajar sih, karena Key mengatakan itu atas ketidak tahuannya akan keadaan Mey. Namun tetap saja, harusnya dia juga bisa menjaga mulut merconnya itu.
Di samping itu, Key tengah duduk anteng di samping sang pacar. Kali ini cewek itu tidak banyak tingkah dan bicara, hanya menatap datar pada Saga yang ada di kursi depannya.
"Lo mau ngomong apa?"
"Jaga mulut mercon lo itu!" Ucap Panji penuh sarkas. Saga tertawa geli.
"Gini ya, gue kasi tahu lo sesuatu." Key nurut. " Ini tentang bini gue."
"Bini?!" Key bertanya sarkas. Apa-apaan Saga ini? " Sejak kapan lo nikah sama si Mey?"
Saga hanya mendengus. Memilih mengabaikan kejulidan pacar temannya.
"Jangan sekali-kali lo ngomong sesuatu sama Mey, meskipun itu tentang hubungan percintaan gue sama dia. Lo tahu sendiri, si Mey orangnya kek gimana? perasaannya sangat sensitif, di omelin aja langsung ngambek. Tapi... kalo lo ngomong tentang masa lalu dia, mungkin yang lo dapet bukan jawaban, tapi gambaran wajah yang menyesakkan."
Key diam. Panji melirik sekilas ke arah pacarnya itu.
__ADS_1
"Gue udah bertahun-tahun pacaran sama dia, gue berusaha buat ngilangin traumanya, dan kalo misalnya trauma itu gak bisa ilang, gue gak tahu apa yang terjadi kedepannya."
"Tapi lo seneng kan?" Kali ini gantian si Panji yang bertanya sarkas. Apa coba maksud Saga bicara seperti itu? Padahal dia juga senang-senang saja di saat Mey bergantung padanya. Panji mendengus sebal.
"Hm." Hanya gumaman pelan sebagai jawaban. "Trauma di masa lalu Mey, bener-bener bikim hidup dia hancur. Dan gue ngerasa, kalo aja gue gak ngajak dia jadi pacar gue, mungkin sekarang dia udah gak ada di dunia ini."
"Trauma yang lo maksud itu... apa?" Key semakin penasaran. Meskipun pertemuannya dengan Mey di bilang mendadak, tapi Key sudah mendapatkan ketertarikan pada diri cewek itu.
"Dia ngidap penyakit PTSD. Lebih tepatnya skizofrenia. Penyakit yang dia alami sesekali bikin Mey terlempar di masa lalu. Seolah hal itu masih terjadi di kehidupannya dia. Gue udah nyewa Psikiater terbaik, dia sahabat kecil gue dulu. Bertahun-tahun Mey jadi pasiennya, tapi gue rasa... semua itu gak ada apa-apanya."
"Tapi ada apa-apanya pas dia bergantung sama lo!"
Panji ini.... bisa tidak sih merusak suasana? Saga benar-benar di buat kesal oleh temannya itu.
"Gu-gue bener-bener gak tahu..." Key nampak bersalah. " Tapi gue juga kesel sama lo dan Karel! Udah tahu lo punya Mey, lo masih aja deketin si Karel."
"Tapi si Mey fine-fine aja tuh." Saga mengelak. Key melotot.
"Fine-fine apa lo bilang?! Gak semua cewek bisa ngungkapin perasaan cemburunya secara langsung!"
"Tapi-"
Pembicaraan Saga terhenti kala mendengar dering ponselnya. Dari Tante Nara. Dengan cepat Saga mengangkatnya.
"Halo Tante?"
" Saga! Kamu cepet kesini! Mey lagi ngurung diri di kamarnya!"
__ADS_1
Tut... Tut...