
Flashback On
Akibat perhatiannya yang begitu lebih pada gadis berparas cantik itu, yang kerap kali jadi bahan pembullian di Sekolahnya, Saga merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Semakin lama, rasa itu semakin besar hingga tak sanggup bagi Saga untuk membendungnya. Hatinya begitu sakit melihat gadis itu di perlakukan layaknya sampah dan binatang. Sejak memasuki pertama di hari Sekolahnya, pusat perhatiannya hanya pada gadis itu. Wajah sendu itu selalu saja menghantui dirinya.
Pernah Saga berusaha untuk tak menghiraukannya dan memasang wajah tidak peduli, namun hatinya bertindak lain. Bagaimana Saga bisa diam ketika tubuh mungil itu harus di kerumuni oleh segerombolan cowok berbadan besar? Apa mereka tidak punya otak semua sampai-sampai bertindak tidak ber-etika seperti itu.
Hingga pada akhirnya rasa peduli itu berubah menjadi rasa cinta yang amat dalam. Setiap hari melihat wajah sayu itu membuatnya tak tahan untuk segera merengkuh tubuh kecil itu. Saga yang merupakan pribadi tertutup kini harus terbuka dan mulai mencari tahu siapa gadis itu. Ternyata gadis itu bernama Meygi. Putri dari pemilik Sekolah ini. Namun, kenapa dia di siksa dan di bulli habis-habisan?
Dan alasannya cukup klise, karena mereka hanya mempermainkannya saja. Gadis itu tidak tahu jika dirinya sedang di manfaatkan. Memasang senyum termanisnya di depan manusia tak berhati itu.
"Kamu di sakiti lagi?" Entah kenapa, melihat wajah sembab itu Saga merasakan sakit yang amat dalam. Saga sengaja mengikuti dia hingga berhenti di toilet. Cukup lama gadis itu di dalam sana hingga dia keluar, dan Saga langsung mencegahnya. "Siapa yang udah nyakiti kamu?"
Gadis itu menepis pelan lengan milik Saga, Saga terkesiap. "Bukan siapa-siapa. Kamu gak perlu se-peduli itu sama aku, aku gak butuh siapa pun."
"Gak butuh siapa pun?" Saga bergumam pelan. Dia tertawa miris. Nyaris gila mengetahui jika gadis kesayangannya mendapatkam perlakuan buruk dari mereka. Kenapa dia begitu sulit untuk di dekati? Dan kenapa segitu sulitnya untuk dia bercerita tentang masalahnya? "Kita lihat saja, sampai kapan kamu bertahan dengan ketidak butuhanmu itu, Meygi.."
Flashback Of
Saga menghela nafas pelan. Melihat kondisi sang pacar, membuat kekhawatirannya kian membuncah layaknya letusan gunung. Saga kembali mengingat kejadian 5 tahun yang lalu, dimana posisi Meygi belum menjadi bagian dari hidupnya. Kehidupan cewek itu selalu saja menyakitkan dan menderita. Mendapatkan perlakuan kejam dari seluruh teman kelasnya selama 3 tahun lamanya. Namun penderitaan itu sirna ketika Saga mengklaim cewek itu sebagai pacarnya dan mengancam siapa pun yang berani menyentuh kesayangannya.
Ya... memangnya, siapa yang tidak tahu Sagara Miller Dirgantara?
__ADS_1
Cowok keren dan juga tajir itu selalu saja menjadi pusat perhatian pasang mata. Kembarannya pun tak kalah tampan. Dua-duanya sama, hanya saja beda sifat.
Alif, sang Psikiater muda itu menghela nafas panjang, cukup lama Meygi menjadi pasiennya dan baru kali ini ia mendapati pasien yang kesembuhannya lumayan lama. Bahkan... tidak ada kemajuan sedikit pun.
"Dia mimpi lagi?" Alif bertanya pada Saga setelah memeriksa keadaannya. Cowok berjas putih dan berkacamata bening itu mengalihkan pandangannya sepenuhnya ke arah sahabatnya. Saga mengangguk lemah. "Ya udah. Untuk kali ini gue cuma ngasi dia resep dulu. Kalo misalnya dalam waktu dua minggu belum ada kemajuan, lo telfon gue kalo enggak bawa dia kerumah sakit. Gue takut keadaannya malah makin buruk akibat mimpinya. Meygu butuh pengendalian diri, meskipun bantuan lo cukup memadai, tapi semua itu tergantung gimana caranya Meygi ngedaliin dirinya sendiri."
Jelas Alif panjang. Ia memasukkan barang-barangnya kembali. Ia menyentuh kening Mey namun terkejut karena Saga menepisnya. Alif melotot horor, lebay sekali.
"Gak usah lo pegang-pegang! Bukan muhrim." Ujar Saga sekenanya. Alif berdecak kesal. Ia berdiri sambil ngedumel.
Untung sahabat.
"Dasar pelit. Kalo ada apa-apa jangan sungkan telfon gue. Gegara lo gue ampe mending jadwal gue. Lo kira pasien gue cuma pacar lo doang apa?"
"Gue udah kaya. Bye!" Alif pun pergi meninggalkan Saga dan juga Mey. Saga menghela nafas lelah. Ia berjalan ke arah kasur setelah mengunci semua pintu. Lalu duduk dan menindij tubuh mungil itu. Saga menyatukan keningnya pada kening Mey. Entah mengapa, di saat ia melakukan ini selalu saja merasakan kenyamanan yang tiada tara.
Mey adalah nafasnya, hidupnya dan juga jiwanya. Melihat sang pacar dalam keadaan seperti ini, bohong jika Saga tidak khawatir. Tubuhnya panas, entah berapa hari lagi pacarnya itu akan sembuh.
"Gue... gak tahu apa yang harus gue lakuin, Mey.. lihat keadaan lo kek gini, bikin gue kelimpungan dan kembali inget kejadian dulu. Gue gak tahu gimana mereka nyakitin lo dulu sampe bikin lo trauma, tapi.. gue pasti'in mereka gak bakalan tenang kalo terjadi apa-apa sama lo." Suaranya terdengar berat dan parau. Keadaan Mey membuat Saga kurang istirahat dan jarang sekali tidur. Perhatiannya hanya tertuju pada Meygi seorang. Cewek yang mampu mendebarkan jiwanya.
*****
__ADS_1
Saat ini mereka berdua tengah berada di pinggir pantai sembari melihat pemandangan sunset. Saga mengajak Mey ke pantai dengan tujuan agar pacarnya bisa kembali pulih. Ia tak ingin Mey kembali mengingat masa lalu yang harus membuatnya sakit. Dengan kepala Mey bersandar di dada bidang milik Saga, Mey menyembunyikan wajahnya di sana. Aroma khas Saga membuatnya nyaman.
Saga menghirup dalam aroma manis sang pacar, menyalurkan kehangatan ke tubuh mungil itu.
"Suka pemandangannya?" Mey mangangguk. Ia tak ingat kapan terakhir kali ia datang ke sini. "Di sini dingin, pindah aja gimana?" Namun yang Saga dapatkan hanyalah rengekan manja dari sang pacar. Saga terkekeh geli.
"Sunsetnya cantik ya?" Saga mengangguk ketika Mey bertanya padanya. "Cantikkan mana sama gue?"
"Sunset lah."
"Aduh!" Saga meringis mendapatkan sebuah pukulan kecil namun berefek itu. Wajah Mey cemberut. "Kok gue di pukul?"
"Biarin!" Mey marah. Saga tahu jika Mey marah, ia memang sengaja menggoda pacarnya.
"Ya cantikkan pacar gue lah, masa sunset." Mey senyum-senyum sendiri. Hatinya sedikit lega karena setidaknya beban di fikirannya sirna.
Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu, hingga pada akhirnya Saga mendaratkan sebuah ciuman hangat di pipinya. Mey terkesiap. Menyadari kediaman sang pacar, Saga lantas tersenyum geli. Ia mencium lagi pipi Mey yang satunya, Mey lagi-lagi terkesiap. Di saat Saga ingin mencium bibirnya, Mey menggigit bibir bawah Saga hingga cowok itu meringis. Bibirnya berdarah, namun Saga malah tersenyum miring. Mey melotot.
"Asin, tapi enak."
"Asin tuh garem!" Ucap Mey nyolot. Sikap Saga tadi mampu membuat jantungnya jedag-jedug, jedag-jedug. "Cium tuh ikan!" Mey berdiri dan berlari meninggalkan Saga yang tertawa seperti orang sinting. Lalu senyum itu berubah datar di saat punggung kecil itu menghilang dari penglihatannya.
__ADS_1
"Mana mungkim gue bisa ngelepasin lo begitu aja, di saat lo udah berhasil bikin gue gila, Mey? Lo itu cuma milik gue, cuma milik gue."