
Karel duduk di kursinya. Sekarang telah jam istirahat. Di kelas hanya ada dirinya dan Saga saja. Mengingat kejadian kemarin, apalagi melihat kondisi cowok itu yang sekarang, Dalam hati Karel menyesal. Di depannya, tepat di atas meja ada satu kotak nasi goreng, ia sengaja memasaknya tadi pagi. Karena ia tahu bahwa Saga pun tidak mengisi perutnya sama sekali. Karel berdiri dan membawa kotak itu. Berjalan ke arah meja Saga.
Saga masih belum menyadari keberadaannya.
Karel menyempatkan diri duduk di depannya dan menaruh kotak berwarna biru itu. Menyodorkannya pada Saga. Saga melihat ke arahnya. Entah kenapa, tatapan Saga seolah ingin membunuhnya.
"Saga..." Suara Karel tercekat. " Gue tahu lo gak makan beberapa hari ini. Bukannya gue gak tahu apa yang lo rasain, tapi dengan keadaan Mey yang sekarang, gak seharusnya lo kayak gini kan? lo juga butuh energi buat tubuh lo, lo gak mesti nyiksa diri lo sendiri kek gini."
" Gue gak tahu sedalam apa cinta lo sama Mey, tapi plis?? jangan siksa diri lo kek gini, Saga.. lo gak berhak ngelakuin ini-"
"Emangnya lo berhak nyeramahin gue kek gini?" Karel tertegun. " Ngasi gue nasi goreng buatan lo, gak bakal hati gue luluh sedikit pun. Gue gak peduli sama keadaan gue ataupun gimana caranya gue mati ntar, karena gue pun bener-bener udah gak ada gunanya setelah lo jadi perusak hubungan gue sama Mey!"
Nafas Saga memburu. Tatapannya kian menusuk membuat Karel menahan nafas. Tubuhnya terlonjak kaget ketika Saga melempar nasi goreng itu dengan keras. Dari arah pintu, Key dan Panji datang membawa sepiring nasi goreng. Beberapa menit yang lalu, mereka berdua memang sengaja pamit keluar untuk pergi ke kantin, dan sekalian membelikan makanan buat Saga. Tapi setelah sampai di Kelas, pemandangan yang mengejutkan benar-benar ada di depannya. Dan baru kali ini Panji melihat kemurkaan Saga.
"GUE GAK BUTUH BELAS KASIH LO! GUE GAK BUTUH PERHATIAN LO! GUE GAK BUTUH SEMUA ITU! KARENA APA YANG LO LAKUIN MENJADI PENYEBAB MEY PERGI NINGGALIN GUE!!"
Brak!!
Seluruh penghuni kelas terkejut melihat meja yang sudah terbelah menjadi dua. Bagaimana bisa Saga melakukannya dengan satu tangan saja? Sadar akan kejadian tersebut, Panji segera memberikan nasi goreng pada Key dan berlari menuju Saga. Cowok itu memberontak. Pelukan Panji semakin erat. Namun bukannya melemah, Saga malah mendorong tubuh Panji hingga terpental mengenai meja. Key melotot.
"PANJI!" Key berteriak histeris. Panji berusaha berdiri, mengabaikan punggungnya yang terasa sakit.
"BERHENTI SAGA!" Cowok itu semakin memberontak, kekuatannya sangat besar sampai Panji tidak bisa mengatasinya. Key menyorot bengis ke arah Karel yang kini diam mematung. Tubuhnya bergetar hebat. " Key, ikut gue."
"Kemana?"
Panji bergeming sesaat. " Ke Dokter Alif."
*****
__ADS_1
Ali hanya bisa menghela nafas lelah melihat dua pasien yang berbaring si brankar rumah sakit. Sepasang kekasih ini, selalu saja merepotkannya. Yang satu sering melakukan tindakan bunuh diri, yang satu lagi tidak bisa mengontrol emosinya. Nyatanya sejauh apapun mereka di pisahkan, salah satu dari mereka pasti akan berusaha mengejarnya.
Terutama... Saga.
Sahabatnya itu... entah kenapa Alif merasa bahwa Saga akan melakukan tindakan kriminal jika saja cowok berseragam SMU itu tidak mencegahnya. Ya meskipun terdapat lebam di punggungnya. Ali menoleh ke belakang, tepat ke arah Panji. Key dia memilih untuk tetap tinggal di Sekolah.
"Kamu awasi dia, seringkali saya melihat dia mencoba melakukan tindakan kriminal tanpa dia sadari. Fikiran dia saat ini sedang kacau. Biarkan saja mereka di satukan ruangan."
Panji menangguk. " Iya, Kak. Saya akan jaga mereka berdua. Saya akan bolos Sekolah hari ini." Mendengar jawaban ambigu itu, sontak Ali tertawa renyah.
"Gak perlu sampai segitunya, lagipula keluarga mereka akan segera datang gak sedikit yang peduli pada mereka." Alif diam. " Kalau gitu saya tinggal dulu."
Alif keluar. Tinggalah mereka bertiga di dalam ruangan sunyi itu. Panji memilih duduk di sofa panjang dan bergantian melihat sahabat dan temannya itu.
"Gue... berasa jaga dua anak aja ya Allah..."
Panji baru ingat. Ia buru-buru menelfon Key, ada yang ingin ia bicarakan dengan pacarnya itu.
" Gue serahin semuanya sama lo. Oh iya, jangan lupa urusin tuh si mak lampir ya? Males gue ngomong sama dia."
" Hm, lo tenang aja, bibir seksi gue juga udah gatel pengen ngehujat tuh iblis."
Mendengarnya Panji hanya bisa tertawa dalam diam.
" Ya udah, gue tutup ya telfonnya."
" Hm, lo jangan lupa makan Awas loh ya asam lambung lo kumat, gak mau gue nanggung beban gara-gara lo."
Jahatnya...
__ADS_1
" Iya, bawel."
Tut..
Telfon mati. Lagi-lagi Panji hanya bisa menghela nafas lelah menyorot dua sepasang kekasih yang absurd itu.
*****
Key menutup sambungan telfonnya dengan Panji. Kali ini mata hazelnya menyorot tajam ke arah Karel yang tengah terdiam di kursinya. Meskipun kelas sudah di penuhi banyak siswa, nyatanya suasana nampak sepi lantaran ingin melihat apa yang akan di lakukan oleh Key. Key duduk di atas meja. Melipat kedua tangannya di depan dada.
"Cewek modelan kek lo, mana bisa sih nyaingin Mey? Ya.. meskipun Mey termasuk cewek yang pemales, bener-bener males, tapi di bandingin dengan kecantikannya dia, lo gak ada apa-apanya, Karel. Lo itu cuma hama di mata Saga. Harusnya lo nyadar dan ngaca."
"Gue denger-denger, lo satu SMP kan sama si Mey dan Saga? Dan gue denger-denger juga... lo itu salah satu temen yang setia bantu Mey di saat mereka bulli dia. Emang bener gitu?" Karek diam. " Lo sengaja temenan sama Mey, siap menjadi tameng buat Mey di saat dia di bulli banyak orang, dan lo hadir sebagai pahlawan. Nyatanya hal itu gak tulus di mata Mey. Lo sengaja ngelakuin itu semua biar bisa di puji dan di sebut sebagai penyelamat kan?"
"Padahal... lo sendiri yang bikin Mey kayak gitu. Lo sendiri yang nyiram bensin ke mereka yang bener-bener bulli Mey, terus terciptalah sebuah api. Lo... sengaja kan?" Karel menggeleng cepat. Mana mungkin Key bisa tahu semuanya? " Ya jelaslah gue tahu semuanya... karena gue pernah satu SMP sama kalian."
"Mungkin gak banyak yang tahu, karena gue saat itu masih gak peduli sama perlakuan lo. Tapi lama-lama, lo makin kesini makin nyebelin, Karel. Lo masuk ke dalam kehidupan Mey, ngerusak mentalnya dan dengan entangnya lo datang sebagai penyelamat, gitu? Dan di saat lo tahu kalo Saga peduli sama mey, lo semakin benci kan sama dia?"
"Karel... lo tahu? Saga itu udah lama merhatiin Mey, fokusnya dia cuma satu, yaitu pacarnya. Meskipun lo dandan kek gimana, ya gak bakalan berpaling." Anak-anak di dalam kelas tertawa. Saling menggunjing satu sama lain. " Mey masuk rumah sakit gara-gara lo, dan dengan tanpa rasa bersalah lo nyamperin Saga dan ngasi nasi goreng murahan lo itu? Lo... gak tahu diri banget sih? Emang lo fikir dengan tindakan lo itu, Saga bakalan tersentuh? bakalan terenyuh dan balik menyukai lo? Gak Karel! Enggak!"
" CUKUP!!!" Kelas kembali hening. Karel berteriak dan menyorot murka ke arah Key. " Cukup Key.. kalo lo berani ngomong lagi, gue bakalan bikin hidup lo kek di neraka."
"Emang lo bisa?" Key bertanya guyon. Tersenyum meremehkan. " Di saat semua orang ngejauhi lo, emangnya lo bisa berdiri tegak kek Mey dulu di SMP? gak bisa Karel, lo sama Mey itu beda. Mey kuat meskipun gak ada yang bela'in dia. Dan lo tahu, kalo sebenernya Mey tahu apa motif tujuan lo sampe lo mau temenan sama dia."
Tubuh Karel menegang.
"Ya karena si Mey bukan tipe-tipe cewek mulut ember yang sukanya gunjingin orang lain, dia memilih tutup mulut. Karena dia pun sadar, meskipun dia bilang sama lo pun, itu semua gak ada gunanya."
"Ah.. haus gue, kebanyakan ngasi pencerahan sama lo, bikin tenggorokan gue kering. Gue tinggal makan dulu ya? Oh iya, jangan lupa tuh pungutin nasi goreng lo, mubazir kan kalo gak di makan."
__ADS_1
Key keluar sambil tertawa terbahak-bahak.