
"Oh... jadi intinya banyak cowok yang nembak lo gitu?"
Key mengangguk sekali. Mey menimang-nimang, di lihat dari segi wajah dan juga keseluruhan, memang Key begitu cantik. Sangat sangat cantik. Rambutnya pun sudah di ganti dengan warna merah, semakin menambahkan kesan savage pada cewek itu.
"Ya gimana ya, Mey? Dari orok tuh gue emang selalu memikat para cowok, itu aja baru SD, gue udah bisa pacaran."
"Pacaran... cinta monyet maksud lo?" Key nyegir, lalu mengangguk. Tersenyum manis dan berbisik pelan. Mey mendekat.
"Jangan bilang Panji, dia itu meskipun bodo amat tapi sebenernya cinta mati sama gue." Ujarnya percaya diri lalu mengibaskan rambutnya ke belakang.
"Oh, ok." Mey iya-iya saja. "Tapi, sejak gue masuk tadi, banyak murid lain yang ngomongin lo."
"Ah, masa?" Mey mengangguk mengiyakan. Key mendekatkan wajahnya ke arah Mey. "Ngomongin apaan?"
"Katanya lo cantik." Mata bulat itu membola sempurna. Hampir mirip seperti bola pimping di rumahnya. Mey mangangguk. Sedikit geli melihat ekspresi senang dari teman barunya. Ya... sepertinya Key akan menjadi teman barunya Mey sekarang.
"Ngomong-ngomong Mey." Key merapikan sejenak rambutnya. "Sejak kapan lo sama Saga pacaran?"
Mey nampak berfikir. "3 tahunan lebih lah. Kenapa emangnya?" Mey menggeleng, ia menggigit bibir bawahnya pelan. Matanya melirik ke arah dua sepasang lawan jenis yang tengah bercengkerama di depan kelas. Key melihat ke arah Mey, cewek itu nampak suntuk dengan kedua matanya yang sayu.
"Carel itu... lo gak curiga sama dia?"
"Ngh?" Mey loading. Masih belum jelas akan perkataan Mey tadi.
"Ck! Gini nih? Yang bikin gue kesel dari kemaren-kemaren." Ucap Key jengkel setengah mati. Gemas juga karena respon cewek di depannya yang nampak tak peduli. Key menggeleng pelan, Mey ini pura-pura tidak tahu, apa memang dasarnya tidak tahu?
__ADS_1
"Lo kesel kenapa emangnya?" Tuh kan? Bahkan ekspresi wajahnya pun tetap datar, tak ada raut kekhawatiran di sana.
"Mey!" Key berucap tegas. Matanya menyorot tajam dan menggenggam erat kedua pundaknya. "Gue tahu lo gak buta. Gue tahu lo ngerti. Pura-pura gak tahu karena adegan itu yang nyatanya bikin lo nyesek ampek ke ati. Tapi plis?? Jangan kek gini, Mey... gue mohon, kalo emang lo sakit hati, lo boleh protes! Kalo lo kesel, lo boleh ngomong sesuka hati lo, jangan lo sok masang wajah gak peduli kalo nyatanya lo sendiri yang sakit hati."
Semua bungkam.
Mey pun tak sanggup berkata apapun. Mata sayunya masih menyorot lurus ke arah Key. Mey tidak tahu harus berbicara apa, tapi menyadari bahwa ada seseorang yang masih peduli padanya, bohong jika ia tak bahagia. Sedangkan Saga, cowok itu nampak khawatir, melirik ke arah Carel sekilas lalu berjalan mendekati pacarnya. Saga berhenti ketika Key menunjuk dirinya.
"Lo sakit hati kan sama dia? Enggak ralat! Maksud gue lo sakit hati kan sama mereka berdua? Pura-pura gak tahu padahal lo sendiri pun gak baik-baik aja."
"Key cukup." Saga mengisyaratkan Key untuk berhenti. Namun yang Key lakukan hanya tersenyum mencomo'oh. Key melihat jijik ke arah Carel, Carel membuang muka.
Cih!
"Kalo lo gak suka, lo tinggal bilang. Kalo lo marah, lo berhak keluarin itu semua. Kalo lo sakit hati, lo berhak buat bales rasa sakit hati lo itu. Mey, gue emang baru ada di deket lo, gue bukan Saga yang selalu bisa di sisi lo, tapi satu yang harus lo ketahui, kalo gue... benci sama orang yang selalu ngerasa'in sakit hati karena kebaikannya sendiri."
Mey tersentak ketika mendapati pelukan hangat pada tubuhnya. Ia menangis. Ia tidak tahu kenapa dengan ucapan itu, harus membuat dirinya menangis. Mey mencoba untuk mengehentikan isakannya. Malu karena ia harus lemah di hadapan semua orang. Panji pun ada di sana juga. Cowok itu menarik pelan lengan sang pacar.
"Maaf..." Saga berucap pelan. Merasa bersalah karena telah melupakan keberadaan Mey. "Mey, maaf..."
Mey tak sanggup lagi untuk berbicara. Tubuhnya tremor parah. Bergetar hebat dan hampir saja oleng jika saja Saga tidak memegang tubuhnya.
"G-gue pengen pulang." Ucapnya terdengar pelan, suaranya pun parau. "Gue pengen pulang, kepala gue pusing."
"Iya, kita pulang. Kita pulang ke Villa." Mey mengalungkan kedua tangannya pada leher sang pacar. Tubuh Saga gemetar ketika merasakan pelukan di lehernya semakin mengerat. Sekali lagi, Saga merasa bersalah pada Mey. Jika saja Key tidak berkata seperti tadi, mungkin dirinya benar-benar akan kehilangan Mey.
__ADS_1
Astaga!!! Sejenak, ia merasa kelepasan dan hampir kehilangan kendali.
*****
"Lo tuh ye!" Akibat kejadian beberapa menit yang lalu, akhirnya dirinya pun terpaksa pulang juga dan tak lupa membawa pacarnya. Panji benar-benar tidak paham akan sifat sang pacar, sudah bar-bar, petakilan, tidak tahu malu, dan banyak pokoknya. Apaan coba dia itu berbicara seperti tadi? Panji takut. Karena Panji tahu betul bagaimana hubungan Saga dan juga Mey, apalagi melihat wajah pucat Mey tadi, sepertinya Cewek itu traumanya mulai kambuh lagi.
"Emangnya kenapa sih? Gue salah apa?! Gue gak salah ya!"
Tuh kan? Apa Panji bilang? Sudah tahu salah masih saja ngelak, mana ngegas lagi. Sekali-kali ingij sekali rasanya Panji menenggelamkan pacarnya ke laut lepas.
"Salah lo tuh karena lo terlalu ikut campur urusan mereka!"
Key tersentak spontan mundur beberapa langkah. Mengusap pelan dadanya karena terkejut mendengar teriakan sang pacar. Apalagi matanya yang melotot hampir saja keluar itu membuat dirinya takut.
"Ya, ya emangnya kenapa? Kan gue bermaksud ngelurusin."
"Ngelurusin apanya maksud lo?! Berantakin iya!!"
"Ya biasa aja dong! Gak usah nyolot!" Key kesal. Pasalnya suara Panji benar-benar keras dan hampir saja membuat telinganya sakit. Bicara pelan kan bisa, tidak usah pakai otot juga. "Sakit telinga gue!"
"Kalo lo gak di gitu'in lo bakalan ngelawan, paham!" Dan Key mengangguk. Terlalu malas kalau ia tak mengiyakan ucapan sang pacar. "Lagi-lagi gak usah gitu."
"Emangnya kenapa sih?" Key penasaran. Ia menelisik wajah Panji yang berubah serius.
"Masalahnya cukup rumit."
__ADS_1