
Kini mereka berdua telah sadar. Mey yang bangun dari kritisnya kini tengah duduk bersandar di dampingi Saga di sebelahnya. Cewek itu enggan membuka mulut dari pertama dia membuka mata. Setelah mengetahui bahwa Saga seringkali menjenguknya, Mey bahkan enggan untuk melihat ke arah Saga. Cowok itu tidak pernah menyerah. Panji melihat sesekali Saga mencolek pacar kesayangannya, mencubit pipi berlemak bayi itu, lalu tanpa di suruh dia mengecup wajahnya. Panji terkikik geli. Membiarkan saja dua pasangan itu menikmati dunianya sendiri. Setelah di kabari bahwa Mey sudah sadar, keluarganya berencana datang, begitu pun dengan Raga dan Aninda. Orang tua Saga pun tak kalah terkejutnya mendengar jika calon menantunya masuk ke rumah sakit.
"Sayang.. ngomong dong? masa gue di cuekin sih." Mey enggan menoleh. Tatapannya kosong ke arah jendela. Kedua tangannya terkepal kuat. Dalam hati ia berfikir, kenapa Saga harus menemuinya? Bukan kah hubungannya sudah berakhir? Tapi.. kenapa masih muncul di hadapannya. " Gue kangen sama lo."
"Saga, Mey itu baru bangun dari kritis, jangan lo ajak ngomong dong! lo pengen dia koma lagi?!"
"Lo do'ain yang enggak-enggak sama pacar gue?!"
ealahh, nih bocah di kasi tahu.
Panji mendengkus. Tak mau capek hany karena ikut campur hubungan kasmaran sahabatnya itu.
"Lo marah, Yang? Lo marah gara-gara gue ngomong sama Karel? Kalo gitu, tanpa di suruh pun gue gak mau deket lagi sama dia." Saga tidak kehilangan akal. " Lo tahu sendiri kan, siapa yang gue suka? gue cinta sama lo, gue gak mungkin bisa berpaling dari lo."
Uekkkk!
Panji pura-pura muntah. Jijik mendengar ucapan Saga barusan. Bisa-bisanya di ngegombal di rumah sakit, heran.
"Sayang..."
"Pergi." Mey akhirnya angkat bicara. Namun pandangannya masih fokus ke luar jendela.
" Gue kangen sama lo, lo gak-"
__ADS_1
"Gue bilang pergi." Sorot mata Mey terlihat sayu. Irisnya memerah menahan tangis. " PERGI! GUE BILANG PERGI!" Mey mengamuk. Saga berusah menenangkan pacarnya. Ia menyentuh lembut tangan itu.
"Sayang-"
"Gue bilang pergi! Jangan temui gue lagi!" Badan Mey tremor parah. Panji segera memanggil Dokter, di iringi masuknya orang tua Mey ke dalam ruangan. Nara syok melihat putrinya yang sudah sadar tapi tiba-tiba berontak seperti itu.
"Sayang... tenang ya, ini Mama." Nama terlihat linglung. Kenapa Putrinya harus menerima cobaan yang begitu berat seperti ini? Fredy mencoba menenangkan sang Putri.
"Sayang.. tenang ya, ini Papa sama Mama, jangan nangis oke?" Mey sudah berhenti memberontak, namun tangisnya masih belum berhenti. Saga melihat itu hanya bisa tersenyum miris. Ia tidak menyangka jika karena kejadian itu, Mey sampai membencinya bahkan tidak ingin melihatnya. Apa yang salah? Saga tertawa sinting. Ia keluar ruangan dan ternyata di luar sudah ada Raga dan Aninda.
Mamanya melihat kondisi putranya hany bisa menghela nafas. Setelah Mey di nyatakan kritis, Saga kerap kali marah dan mengamuk. Membanting apa saja yang ada di sekitarnya. Kantung matanya terlihat hitam dan kentara. Aninda memeluk Putranya dan menenangkannya.
"Saga yang tenang ya? Mey kayak gitu, karena dia syok. Keadaannya belum pulih, kamu gak usah khawatir. Serahin aja sama Dokter." Dapat Aninda rasakan tubuh Saga bergetar, Putranya menangis.
"Dia gak mau lihat Saga Ma, apa Saga udah gak berarti apa-apa buat Mey?"
"Kamu gak usah khawatir, Alif itu Dokter ternama, dia pasti bisa nanganin pacar kamu." Raga menepuk pelan pundak sang Putra. Saga mengangguk dan meninggalkan mereka berdua.
*****
Seperti biasa suasana kelas nampak ramai. Karena jam pelajaran pertama belum di mulai, para siswa lebih memilih main ponsel dan ada juga yang membaca buku. Tak terkecuali dengan Key dan Panji. Karena cowok itu harus mendengarkan ocehan dari pacarnya. Key nampak semangat menceritakan bagaimana Dirinya kemarin membuat malu Karel habis-habisan. Mungkin sedikit menggertak cewek itu bukanlah hal yang melanggar aturan Negara.
"Jadi cewek tuh mahal dikit napa sih? Kayak gak ada cowok lain aja. Pacar sahabat sendiri di embat? gak malu sama harga diri? tahu diri dong?!"
__ADS_1
Hadehhh, Panji menutup wajahnya dengan sebelah tangan. Pacarnya ini... jika menyangkut tentang hujatan dia adalah nomer satu.
"Gak merasa bersalah lagi? Pura-pura baik padahal cuma pengen deketin cowoknya, cuih."
"Kenapa lo bilang cuih ke muka gue?!" Panji tidak terima.
"Muka lo ngeselin soalnya." Panji misuh-misuh. Untung pacar. Sedangkan Saga, dia malas berdebat, ia diam saja saat Karel di gunjing seperti itu. Lagipula, itu salahnya sendiri, dan dirinya pun tidak mau peduli.
"Makanya Saga, jadi cowok tuh jangam murahan, emangnya si Mey kurang cantik apa sih, sampe lo mau ngomong sama dia? Lo tuh gak berhak!"
Cewek ini...
Panji kadang sampai berfikir, sebenarnya selama Key di dalam kandungan, Mamanya itu ngidam apa sih? Mercon? Lembek sekali mulutnya itu.
"Gue juga sadar diri kok, kalo pacar gue itu.. lebih cantik bahkan cewek-cewek di sini gak ada apa-apanya sama sekali."
Wowwww, Saga mulai beraksi.
Dia sedikit melirik ke arah Karel yang kini menunduk dalam, tubuhnya bergetar menahan tangis.
"Gue juga cukup sadar diri, lagian.. Mey juga pernah bilang, kalo sahabat satu-satunya itu gak pernah tulus temenan sama dia. Jadi dia mulai berfikir gak bakalan peduli tentang apa yang dia omongin." Key tersenyum miring. " Heh Karel? Gue awalnya emang gak peduli saat dulu diam-diam lo sebenernya juga nyebar aib Mey waktu SMP, lalu lo datang layaknya pahlawan buat nenangin Mey, tapi di rasa lo keterlaluan... mulai hari ini lo bakalan ngerasa'in apa yang Mey rasa'In dulu."
Karel menangis tertahan.
__ADS_1
Ia menutup mulutnya agar tidak menimbulkan suara. Tidak! Ini tidak akan terjadi, Karel tidak akan membiarkan mereka menyakiti dirinya atau mempermalukannya.
"Di hina, di caci maki, di pandang remeh, bahkan gak di anggap sama sekali. Di saat Mey ngerasa'in itu semua... kenapa lo gak bisa? Ya... anggap aja ini adalah sebuah karma yang pernah lo lakuin dulu di masa lalu."