
Keheningan itu semakin terasa kala malam tiba. Aku terduduk bersandar di atas tempat tidur yang mendadak terasa pengap karena aku semakin kesulitan untuk bernapas. Mataku entah sejak kapan mulai berair, aku menangis tanpa suara, membiarkan air mataku membasahi pipi, leher, dan sarung bantal yang kudekap di wajah untuk meredam isak tangisku agar tak semakin menjadi.
Dalam tangisan itu, tubuhku bergetar dan bibirku terasa beku. Peristiwa yang terjadi selama hidupku mulai berputar dalam kepala, memunculkannya secara acak, dan meninggalkan perasaan nyata yang membuat aku ingin memukul diriku sendiri.
“Bodoh, bodoh, bodoh,” rutukku sambil menarik-narik rambutku, melakukan apapun yang bisa menghilangkan rasa sakit yang tak kunjung menghilang. Kecewa, marah, sedih, hancur bergabung menjadi satu-kesatuan yang menekan dadaku kuat-kuat sehingga aku merasa kesulitan bernapas. Frustrasi, aku melempar bantal ke arah pintu, menendang selimut yang kupakai, dan meringkuk di atas kasur layaknya kepompong yang kehilangan tenaga dan mulai tak berdaya, masih dengan air mata yang semakin mengalir deras.
__ADS_1
Mungkin jika aku hanyalah anak kecil berumur 5 tahun, aku tidak akan seperti ini. Aku hanya menganggap segalanya hanya angin lalu dan melupakannya di beberapa menit setelahnya, lalu berlaku normal lagi, seolah tak memiliki beban. Namun, aku kini berumur 14 tahun, aku sudah memasuki masa remaja dan aku mulai mengerti banyak hal. Aku mulai memikirkan segalanya, termasuk risiko yang kini kudapat dari apa yang aku lakukan sebelumnya.
Aku tahu tidak seharusnya aku menangis hanya karena mendapati kegagalanku untuk pertama kalinya dalam hidup. Namun, kenyataan itu justru begitu menyakitkan. Semua karena aku telah menaruh harap yang begitu besar sampai-sampai aku tak pernah membayangkan bagaimana jika segalanya tak sesuai dengan apa yang kuharapkan.
“Bodoh,” umpatku lagi.
__ADS_1
Pun aku teringat bagaimana papaku mengatakan kepada saudara-saudaranya dengan percaya diri bahwa anaknya bisa masuk sekolah unggulan, bagaimana mamaku selalu mengidamkan yang terbaik dan ingin menunjukkan kepada orang-orang yang selama ini meremehkan bahwa aku mampu, dan bagaimana aku juga ingin membuktikan bahwa aku bisa membanggakan mereka. Namun, segalanya ternyata tak berjalan sesuai rencana.
Aku tahu sekuat apapun manusia berusaha, tetap Tuhan-lah yang menentukan. Aku tahu. Akan tetapi, kenyataan ini tak semudah itu untuk diterima karena aku merasa usahaku selama ini benar-benar tidak mendapat balasan yang setimpal.
Maka, aku mengambil buku-buku itu dengan hati yang seolah dicabik-cabik sehingga menimbulkan rasa sakit yang begitu perih, memindahkannya ke lemari terjauh dari tempat tidurku, supaya aku tak perlu melihatnya lagi malam ini, setidaknya sampai aku bisa menerima kenyataan ini. Atau kalau bisa, aku ingin mereka menghilang sekarang juga agar aku tak pernah melihatnya lagi selamanya.
__ADS_1
Ya, selamanya. Karena kutahu, rasa sakit ini tidak akan bisa hilang hanya dalam semalam. Pun dalam beberapa hari kedepan, atau beberapa bulan setelahnya. Layaknya tinta yang dimasukkan ke dalam air, terlarut dan memperkeruh jernihnya air, rasa sakit ini mungkin tidak akan benar-benar hilang sepenuhnya dalam hidup. Tidak akan pernah.
*