
Kami sampai di mekdi pukul 4 sore, berharap menemukan tempat duduk yang nyaman dengan tempat yang ada colokan listrik untuk mengecas ponsel kalau-kalau ponsel kami hampir kehabisan baterai.
Untungnya, begitu kami masuk, orang yang duduk di salah satu meja di pojokan beranjak pergi, buru-buru aku duduk di sana, sementara Nara dan Eris memesan makanan untuk kami bertiga.
Aku melepas tasku dan mengeluarkan ponsel, mengecek apakah ada notifikasi dari orangtuaku atau tidak. Untungnya tidak ada dan aku mendesah lega.
Mungkin jika aku menceritakan apa yang sedang aku lakukan kepada teman-temanku, mereka mungkin akan bertanya, mengapa aku harus benar-benar melakukan ini.
Mereka tidak tahu bahwa selama aku bersekolah, mendapat izin untuk pergi bersama teman hanya bisa dihitung dengan jari. Semakin aku dewasa, aku merasa semakin banyak larangan yang orangtua berikan padaku. Mereka membuat aturan, menyuruh ini itu, tanpa melibatkan aku untuk memberi pendapat. Sama sekali.
Jangankan untuk mengizinkan refreshing, aku kerja kelompok lebih dari 3 jam saja sudah ditanya-tanya kapan pulang. Padahal aku ingin sekali mengatakan bahwa tugas SMA tidaklah semudah itu untuk dikerjakan dalam waktu yang singkat. Sayangnya aku selalu dikira main-main ke rumah teman padahal aku sama sekali tidak terpikir untuk main-main selama kerja kelompok.
Belum lagi, yang biasanya aku diperbolehkan ke mal sendiri untuk berkunjung ke toko buku, kini kebiasaan itu tidak lagi ada sejak aku masuk SMA karena Mama merasa membaca membuatku melupakan kewajiban belajar dan jujur kewajiban yang selalu dielu-elukan itu seringkali membuatku tertekan.
Mungkin rasa tertekan itu yang pada akhirnya membentuk sisi lain dari diriku, yang sedari kemarin menyusun rencana dan tubuh asliku harus menuruti apa maunya.
"Ini hari kebebasan. Untuk yang pertama dan terakhir!" suara dalam kepalaku berteriak, mengatakan bahwa ini yang kumau sejak SMP. Sejak orang-orang menganggapku aneh karena tidak pernah main keluar rumah bersama orang lain selain bersama keluarga.
Nara dan Eris datang beberapa menit kemudian. Kami langsung menyambar makanan kami dan memasukkannya ke dalam perut kami yang sudah dibuat lapar mendadak melihat makanan-makanan ini.
"Sumpah, gue terakhir kali makan ini kapan ya? Sebulan yang lalu deh kalau nggak salah," kata Nara sebelum ia kembali menyuap makanannya.
"Oh ya? Gue jarang banget kayaknya makan makanan ginian. Gue malah lebih suka masak aja di rumah sama ibu dan adik gue. Nggak tahu kenapa, gue males aja kalau keluar rumah. Jadi, makan juga lebih suka makanan rumah," jawab Eris.
"Ya lo kan introvert, Ris. Gue nggak bisa kalau nggak keluar rumah, nggak ketemu orang-orang, nggak ada teman ngobrol. Bukan gue banget lah, makanya gue maksa kalian jalan, kan," balas Nara lagi.
Aku terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Tiba-tiba ponselku yang lupa kusingkirkan dari meja, tempat kami makan, berbunyi. Notifikasi dari Kaiva muncul di bilah layar ponsel. Buru-buru aku mengambilnya supaya kedua temanku tidak melihatnya. Namun, terlambat. Eris bersuara.
"Kaiva? Ada apa dia ngirim pesan ke lo, Ra?"
Aku meletakkan ponselku di pangkuanku, kemudian mengedikkan bahu. "Nggak tahu. Nanti aja balasnya."
Untungnya Eris dan Nara yang juga mendengar, tidak bertanya apa-apa lagi.
Selesai makan, kami mengobrol hal remeh-temeh lagi. Hal-hal kecil yang justru membuat kami bersyukur memiliki satu sama lain. Sudah hampir enam bulan sejak kami pertama kali berkenalan dan mulai berteman. Sayang, Qia tidak bisa ada bersama kami sekarang. Kami akhirnya memutuskan untuk menyapanya lewat video call atas saranku supaya terasa lengkap.
"Eh, bentar-bentar. Kita harus foto dulu baru pamer ke Qia, setuju nggak? Lagian momen ini harus kita abadikan. Gue jamin lo semua pasti bakal susah kalau diajak main bareng lagi. Geng ambis belajar, bukan main kerjaannya. Ayo, ponsel siapa yang mau dipakai?"
"Benar juga. Ya udah nih, pakai ponsel gue aja," saranku. Aku menyodorkan ponselku kepada Nara yang berada di depan aku dan Eris.
"Yu, atur posisi," sahut Nara sambil mencari sudut foto yang bagus.
Eris di sebelahku hanya geleng-geleng kepala. "Kalian bisa rendahin suara, nggak? Ini tuh tempat umum. Malu diliatin banyak orang."
"Nggak ada yang kenal ini, Ris," jawabku sambil terkekeh, kemudian tersenyum ke arah kamera diikuti Eris yang akhirnya pasrah dengan image buruk kami semua.
"Lagi. Lagi. Say cheese!"
Kami menghabiskan beberapa menit selanjutnya dengan narsis di depan kamera, setelahnya kami baru menelepon Qia.
"Tanggung. Sekalian pakai ponsel lo aja ya, Ra," pinta Nara.
"Eh, bentar-bentar. Gue balas pesan orang dulu." Aku meraih ponselku dan diam-diam membuka pesan Kaiva. Aku takut kalau pesan ini belum dibalas akan mengundang rasa penasaran Nara dan Eris untuk membuka dan membaca isi pesannya.
Kaiva :
Halo.
__ADS_1
Hai.
Hara?
Oh iya, lagi berenang, ya?
Me :
Iya. Kalau mau ngomong nanti aja ya.
Aku kembali memberikan ponselku kepada Nara. "Nih, udah."
"Balas pesan siapa sih? Ko gue nggak ada yang ngirim pesan ya?" Nara memajukan bibirnya. Cemberut.
"Si itu emang nggak nyapa lo lagi, Nar?" aku bertanya balik sambil menyunggikan senyum menyindir.
"Siapa? Ohh...si itu. Nggak mungkin lah, dia orangnya cuek abis. Nggak paham lagi gue."
Enggan membahas lebih lanjut, Nara langsung memencet tombol video call untuk menghubungi Qia. Tidak lama kemudian, sambungan itu dijawab oleh Qia.
"Qiaaa!!"
"Hai, kalian. Gimana makan-makannya. Gue tebak kalian udah abis makanannya," Qia menjawab.
"Tebakan lo hampir bener. Cuma gue yang makanannya belum abis, kalau Hara dan Nara jangan ditanya. Mereka makan udah kayak anak yang kelaparan," balas Eris sambil menatap ke arah kami, menyindir terang-terangan.
Qia tertawa. Kemudian, aku bersuara, "acara keluarga lo udah selesai, Qi?"
Qia mengarahkan kamera ponselnya ke sekeliling. Sepertinya ia berada di sebuah gedung dengan dekorasi janur kuning yang diletakkan disebar di seluruh ruangan. Acara nikahan.
"Akhirnya Qia menikah yaampun. Gue turut bangga, Qi," seru Nara tiba-tiba.
Eris menyenggol lengan Nara. "Ngawur lo, Nar."
Qia geleng-geleng kepala. Lalu, setelahnya kami mengobrol hal tidak penting, seperti bertanya-bertanya apakah tes renang sudah selesai, makanan apa yang akan Qia makan, dan hal-hal lain yang membuat kami tidak sadar bahwa hari sudah mau menjelang malam. Pukul 6 sore.
"Udah dulu ya, gue mau bantu tante gue ngurus sesuatu dulu. Enjoy kalian!"
"Oke, Qi. Enjoy juga buat lo!" kami melambai serempak, lalu Qia menutup sambungan.
"Kita mau pulang jam berapa?" tanyaku. Aku melihat ponselku, mengecek apakah ada orangtuaku menelepon atau tidak.
"Nggak tahu, bentaran lagi mungkin," balas Eris.
Tring!
Ponselku berbunyi. Kukira mungkin itu dari mama atau dari papa, tapi ternyata bukan.
Kaiva. Kenapa sih cowok itu selalu saja mengirim hal tidak jelas bahkan saat aku sedang asyik bersama teman-temanku?
Kaiva :
Lo udah pulang? Udah mau malem.
Aku membacanya kali ini dari bilah notifikasi. Entahlah aku sedang tidak ingin berkirim pesan dengannya.
Kaiva :
__ADS_1
Berenangnya jangan lama-lama. Keriput ntar tangan lo atau parahnya lagi masuk angin.
Aku termangu. Tidak percaya seorang Kaiva berbicara seperti ini. Biasanya kan dia mengatakan hal-hal lain bukan sebuah perhatian yang tidak pernah aku harapkan datang dari orang sepertinya.
"Ngapain, Ra?" tanya Nara dan mendekatkan kepalanya padaku.
Buru-buru aku mematikan ponsel dan menegakkan tubuh. "Abis bales pesan orang. Kepo banget ya lo!"
Nara mengerucutkan bibir. "Penasaran aja. Abis muka lo serius banget."
Aku melongo. "Emang iya?" tanyaku.
"Iya. Serem dah liatnya."
"Ko serem, sih?" aku mendelik. Nara tertawa keras karena berhasil mengejekku.
Tring!
Kaiva :
Magrib, magrib. Nggak bagus masih berkeliaran di luar.
Aku membuka pesannya. Lantas mengetikkan sesuatu. Semakin kesini, aku semakin tidak bisa mendeskripsikan cowok itu. Penuh misterius, seolah untuk menebak kepribadiannya, aku seperti bermain teka-teki.
Me :
Tumben perhatian. Ada apa ni?
Kaiva :
Loh, bener kan? Ada yang salah dari omongan gue?
Drttt... Drttt..
Ponselku berbunyi tiba-tiba.
Papa menelepon. Aku panik. Ingin mengangkat, tetapi disini penuh dengan lagu yang diputar dari speaker yang terpasang di sudut-sudut ruangan. Kalau aku mengangkatnya sekarang, suara-suara itu akan terdengar jelas.
Aku tidak tahu apa yang kupikirkan. Yang kutahu aku pamit kepada Eris dan Nara untuk pulang dan buru-buru mencangklongkan tas dan keluar dari tempat makan kami.
Tahu-tahu aku sudah di luar. Di parkiran dengan langit yang telah berubah jadi gelap, dimana suaranya tidak seramai di dalam. Namun, begitu aku sampai di luar, sambungan telepon dari Papa sudah terputus.
Aku menelepon balik. Tidak lama kemudian, Papa mengangkat teleponnya.
"Halo?"
"Ra, kamu kapan pulang? Udah malem nih." Suara Papa terdengar.
Aku menelan ludah. "Iya. Ni mau pulang."
Kukira Papa akan bertanya lagi, tetapi ternyata Papa hanya menjawab, "oke, hati-hati."
Tipikal Papa yang cuek, tetapi sekalinya tahu aku berbuat salah, ia akan mengomeliku dengan suara beratnya yang berhasil menyudutkanku.
Aku hanya mengangguk. Padahal jelas-jelas Papa tidak bisa melihatnya. Setelahnya, telepon dimatikan Papa dan aku segera memesan ojek online. Pulang ke rumah.
Cukup sudah main-mainnya.
__ADS_1