
Kaiva :
Lo ikut daftar olimpiade?
Aku sedang berselancar di instagram kala pesan Kaiva muncul di bilah notifikasiku. Aku mengerutkan kening. Setahuku, aku hanya mengatakan bahwa aku mendaftar olimpiade hanya kepada ketiga temanku. Apa mungkin salah satu dari mereka yang memberi tahu Kaiva?
Tring!
Kaiva :
Iya, nggak?
Aku segera mengetikkan balasan.
Me :
Tahu dari mana?
Beberapa detik setelahnya, notifikasinya kembali muncul. Sampai sekarang, aku belum juga mendapat jawaban mengapa Kaiva bisa secepat ini merespons pesan dariku. Selalu, ia selalu membalas pesanku tidak sampai satu menit, meski aku sering menghilang dan baru menjawab pesannya beberapa menit kemudian.
Kaiva :
Apa sih yang nggak gue tahu?
Aku mengerutkan kening kala membaca pesannya.
Me :
Itu bukan jawaban dari pertanyaan gue barusan.
Kaiva :
Lo juga sama. Gue nanya lo ikut olimpiade, malah nanya balik gue tahu dari mana. Itu bukan jawaban.
Aku tersenyum miring tanpa sadar, kemudian kembali mengetikkan balasan.
Me :
Bisa banget lo balikin kata-kata gue.
Kaiva :
Hehe. Jadi?
Me :
Iya, gue ikut olimpiade.
Kaiva :
Kan bener. Pasti matematika ya?
Aku menaikkan alis. Jari-jariku kembali bergerak di atas layar ponsel. Rasa penasaranku semakin mencuat mengenai dari mana informasi itu Kaiva dapatkan.
Sebenarnya aku tidak berniat untuk menyembunyikan hal ini dari teman-temannya yang lain, termasuk Kaiva. Untuk apa? Toh nantinya semua orang akan tahu. Entah dari Hito yang menjadi teman olimpiadeku atau dari diriku yang berencana membawa buku olimpiade ke sekolah supaya bisa belajar.
Bukan. Bukan seperti itu.
Aku masih ragu dengan keputusanku—lebih tepatnya keputusan Mama yang aku iyakan—walaupun sebenarnya tidak ada yang bisa diubah lagi. Aku takut dengan pandangan orang-orang. Aku tidak tahu apakah mereka akan mendukungku atau diam-diam menganggap aku terlalu nekat berkecimpung di olimpiade.
__ADS_1
Me :
Lo tahu dari mana sih? Eris ngasih tahu lo? Atau Nara? Atau Qia?
Kaiva :
Nebak aja.
Aku berhasil dibuatnya kesal. Jawaban macam apa ini?
Me :
Nebak? Dikira cenayang kali ya. Nggak mungkin.
Kaiva :
Ya, anggap aja gue cenayang. Percaya nggak percaya, gue kalau nebak sesuatu pasti bener.
"Ngawur," balasku dalam hati. Mulai kesal karena Kaiva tidak pernah serius. Bukannya menjawab dengan benar, cowok itu malah mengatakan suatu hal yang tidak logis. Mana ada orang nebak benar terus. Kecuali kalau ia punya indra keenam. Apa jangan-jangan Kaiva punya?
Buru-buru, aku menggeleng-gelengkan kepala, mencoba menghilangkan pikiran aneh yang mendadak muncul dalam otakku.
Me :
Terserah lah. Besok gue tanya sendiri ke temen gue.
Kaiva :
Nggak percaya banget jadi orang. Ya udah terserah, tanya aja.
Me :
Ya, gimana mau percaya. Jawaban lo ngaco.
*
"Ada yang bisa mengerjakan soal nomor satu?"
Bu Tati—wali kelas sekaligus guru matematika— mengangkat spidolnya dan mengacungkannya ke arah kami semua. Menunggu salah satu dari kami maju ke depan untuk menjawab soal tersebut.
"Nggak ada? Kalau nggak ada, Ibu tunjuk."
Tidak ada. Tidak ada yang mengangkat tangan untuk mengajukan diri ke depan. Aku menoleh ke arah Eris, kemudian ke arah Nara dan Qia, terakhir ke arah Hito yang menunduk di bangkunya masing-masing, tidak ada tanda-tanda mereka akan maju.
"Hara?" aku mendongak, menatap Bu Tati yang kini mengarahkan spidolnya ke arahku. Pun aku melihat orang-orang menatap ke arahku. Dari tatapannya mereka seolah-olah mengatakan agar aku maju saja supaya Bu Tati berhenti menunjuk siapapun yang akan menjadi sasarannya—takut-takut mereka terpilih—.
Aku berdiri. Suara decit bangkuku terdengar di antara sepinya suasana kelas. Sambil menenteng buku tulisku, aku maju ke depan kelas, menerima spidol yang Bu Tati sodorkan padaku, dan menuliskan jawabanku di papan tulis.
Aku tidak tahu apakah jawabanku benar, tetapi aku tetap menuliskannya karena sudah kepalang tanggung untuk bertanya kepada siapapun itu.
Tak butuh waktu lama, aku kembali menyodorkan spidol itu ke Bu Tati, kemudian kembali ke tempat dudukku.
Aku melihat Bu Tati menghadap ke papan tulis, memeriksa jawabanku sambil menggerak-gerakkan spidolnya di tangan.
"Jawaban kalian sama? Atau ada yang berbeda?" tanya Bu Tati kepada teman-temanku.
"Sama, Bu," jawab Hito tegas. Aku tidak tahu apakah ia baru mendapat jawabannya atau sebenarnya sudah mengerjakan, tetapi diam saja saat Bu Tati menawarkan maju.
"Oke. Betul ya jawaban Hara."
__ADS_1
Aku hanya mengangguk, kemudian kembali mengerjakan soal yang belum kukerjakan.
Beberapa detik setelahnya, aku mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahku. Aku menoleh ke sebelah kanan dan melihat salah satu temanku, Andra.
" Hara, gue boleh nanya, nggak?"
*
Aku mencangklongkan tas, kemudian berjalan keluar kelas bersama ketiga temanku. Kami berjalan menuruni tangga, lalu Qia melambaikan tangan dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan kami karena harus kumpul OSIS.
"Eh, iya, Nar, Ris. Gue mau nanya dong."
Mereka berdua mengarahkan pandangan padaku. Mempersilakan aku untuk bertanya.
Aku baru membuka mulut dan ingin bersuara sebelum seseorang memanggil namaku dari belakang.
"Raa! Haraa!"
Aku menoleh. Begitupun Nara dan Eris. "Eh, ada apa, To?" tanyaku.
Hito membungkuk dan kudengar napasnya terengah-engah. Kutebak ia barusan berlari untuk memanggilku. Hal itu membuatku penasaran dengan apa yang akan ia sampaikan.
"Lo ikut olimpiade matematika kan?"
Aku mengangguk. Kemudian, ia melanjutkan, "Kita disuruh ke perpustakaan sekarang."
Aku mengerutkan kening. "Bukannya kumpulnya baru dimulai minggu depan?"
"Nggak jadi. Gue dikasih tahu sama anak kelas sebelah kalau hari ini kita semua yang ikut olimpiade matematika diminta ikut tes seleksi."
Aku terkejut. Mataku semakin membulat. "Seleksi apa? Kemarin pas gue daftar, Bu Tati nggak bilang kalau ada seleksi. Gue kira kita cuma perlu daftar aja."
Hito menghela napas. "Tadinya sih begitu. Tapi kayaknya yang daftar olimpiade matematika banyak deh, jadinya sekolah mau menyaring siapa yang punya potensi aja yang akan didaftarin buat ikut lombanya."
Aku mulai panik. "Gue belum ada persiapan. Kenapa mendadak sih?"
"Gue juga belum. Nggak tahu kayaknya kelas kita aja deh yang telat dapat informasi. Gue jadi bingung mau ikut apa nggak," balas Hito.
Aku mengusap wajahku. Aku nggak mungkin mengundurkan diri. Bagaimana aku mengatakannya pada Mama kalau aku batal ikut hanya karena ada seleksi mendadak?
"Kalian ikut aja. Ayo, semangat. Gue tahu kalian bisa," seru Eris yang dari tadi hanya diam memperhatikan obrolan kami.
Nara pun juga ikut bersuara. "Betul tu, ikut aja. Nggak ada salahnya kan. Kalau nggak keterima, ya mungkin belum rezeki. Tapi kalau dapat kan lumayan."
Aku menatap ke arah mereka berdua. Kemudian, ke arah Hito yang sepertinya mulai mempertimbangkan keputusannya.
"Udah, kalian nggak akan tahu hasilnya kalau belum mencoba. Udah cepat sana ke perpustakaan, jangan banyak mikir. Nanti seleksinya keburu dimulai," kata Eris lagi.
Aku menggangguk lemah pada akhirnya. Begitupun Hito. Kami akhirnya berbalik arah menuju perpustakaan, sementara Nara dan Eris melambaikan tangan kepada kami sambil memberi semangat.
Aku berjalan di belakang Hito. Berpasrah diri dengan apa yang akan terjadi. Aku sudah tak bisa mempertimbangkan apapun lagi.
Saat aku melewati tangga yang menghubungkan lantai dasar dengan kelas kami di lantai dua, aku melihat Kaiva secara tidak sengaja.
Dan lagi-lagi, ia tersenyum. Tangannya terjulur ke arahku dengan mengacungkan ibu jarinya.
Aku tidak tahu harus membalas apa. Jadi, aku tetap berjalan lurus ke depan, berjarak beberapa meter dari Hito yang tidak menyadari hal yang barusan terjadi.
Eh, ngomong-ngomong, aku lupa menanyakan kepada Nara dan Qia perihal dari mana Kaiva mengetahui bahwa aku ikut olimpiade.
__ADS_1
"Apa dari Hito, ya? Terus Hito tau dari siapa?!" aku meracau dalam hati.
*