Intermissum

Intermissum
Bab 5


__ADS_3

Semalam aku dikejutkan dengan sebuah notifikasi dari WhatsApp yang mana aku diundang ke salah satu grup.


Kukira mungkin itu grup untuk mengerjakan tugas kelompok seperti biasanya, tetapi ternyata saat aku melihat nama grup tersebut, aku benar-benar dibuat tercengang.


Aku menggosok-gosok mataku dengan tangan, berpikir bahwa mungkin saja aku salah lihat. Namun, begitu aku kembali membuka mata dan kembali melihat layar ponsel, aku mulai sadar bahwa hal itu nyata.


Bu Ella mengundang anda ke grup "Olimpiade MTK 17/18"


Aku benar-benar tidak menyangka. Maksudku, aku bahkan tidak yakin bahwa hasil seleksiku layak untuk bergabung menjadi calon peserta olimpiade. Aku mengerjakannya benar-benar tanpa rumus, mencoba dengan cara asal-asalan yang menurutku benar, dan sepertinya aku hanya bisa menjawab soal tidak sampai setengah dari jumlah seluruhnya. Tapi, aku berhasil?


Aku tidak tahu harus senang atau tidak. Aku senang karena akhirnya aku benar-benar bisa ikut, tetapi di sisi lain aku tahu yang aku hadapi akan jauh lebih sulit. Engga, aku harus optimis bisa. Aku meyakinkan diri bahwa aku tidak akan tahu sebelum mencoba, sesuai kata Eris.


Jadi, aku hanya keluar kamar, menemui Mama dan Papa, mengatakan kepada mereka bahwa aku lulus seleksi, kemudian kembali ke kamar untuk belajar karena dua minggu lagi (tepatnya awal bulan Desember), ujian akhir semester akan dimulai.


Ya, ketimbang memikirkan beban olimpiadeku, kini aku harus fokus dulu dengan ujian akhir semester sebelum libur Natal dan Tahun Baru.


Seminggu yang lalu, tepatnya satu hari setelah seleksi olimpiade di perpustakaan, aku mendapati nilai ulangan harian fisikaku di bawah nilai minimal. Bodohnya lagi, saat remedial, nilaiku justru lebih anjlok dari nilai ulangan itu. Aku bahkan sampai harus menerima diceramahi oleh guruku itu di depan semua teman-temanku.


Selama hampir enam bulan di SMA, aku benar-benar mengakui kalau aku lemah di pelajaran fisika. Apalagi karena guruku mengajarnya terlampau cepat untuk otakku yang belum selesai mencerna yang sebelumnya diajarkan. Sampai sekarang, aku masih mencari cara supaya aku mudah memahami pelajaran yang satu itu, meski kutahu tidak ada cara lain selain aku yang harus mengorbankan lebih banyak waktu lagi untuk mempelajari semua materi sebelum ujian akhir dimulai. Setidaknya mungkin aku harus mencari cara yang lebih cepat.


Berbeda dengan teman-temanku yang lain, mereka sudah sering jalan-jalan, entah itu ke mal dengan teman segengan, makan di restoran, atau hanya sekadar nongkrong di hari weekend. Nara pernah mengajakku jalan, tapi waktu itu kutolak halus dengan alasan bahwa aku ada jadwal les. Padahal jadwal lesku masih dua jam lagi yang mungkin cukup untuk mengelilingi mal atau untuk sekadar minum segelas kopi. Akan tetapi, aku lebih memilih untuk pulang ke rumah untuk beristirahat sejenak sebelum les karena kutahu sepulang les aku harus tetap belajar dan tidak bisa istirahat sebelum jam sepuluh malam.


Sebenarnya aku benar-benar lelah. Tak jarang, aku terpikir untuk istirahat dulu sebelum memulai aktivitas seperti biasa lagi. Namun, entah mengapa setiap aku bersantai-santai, aku selalu dilingkupi bayang-bayang rasa ketakutan akan kegagalan. Aku takut orangtuaku kecewa lagi, aku takut tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka juga orang-orang di luar sana yang selalu penasaran dengan hidup orang lain.


Maka, untuk sekarang, aku tidak masalah jika harus seperti ini.


Ya. Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.


*

__ADS_1


Hari pertama ujian akhir selesai. Aku bergegas merapikan alat tulisku, kemudian mencangklongkan tas dan menuju gerbang untuk menuju tempat les.


Selama ujian akhir, jadwal les ditambah dengan jadwal persiapan untuk pelajaran yang akan diujikan di keesokan harinya. Otomatis setiap hari, aku harus ke tempat les supaya persiapanku lebih mantap untuk ujian selanjutnya.


Begitu sampai di depan gerbang, aku melihat ke arah langit. Warnanya kelabu karena tertutup awan gelap. Kutebak sebentar lagi akan hujan. Aku segera memesan ojek online dan berharap semoga hujan tidak turun lebih dahulu.


Untungnya, aku tidak butuh waktu lama menunggu ojek online yang kupesan. Aku menerima helm yang pengemudi berikan dan motor melaju melintasi ramainya jalan raya.


Sayangnya, awan sudah tak kuasa menahan beban air hujan. Di tengah perjalananku, satu demi satu tetes air jatuh dan mengenai tubuhku.


"Pakai jas hujan aja ya, Neng? Kayaknya bakal deras deh," tawar pengemudi ojekku.


Aku mengiyakan dan motor yang kukendarai mulai menepi. Aku segera menerima jas hujan yang ia sodorkan.


Benar saja, seketika gerimis rintik-rintik mulai tergantikan dengan hujan deras disertai angin kencang.


Sesampainya di tempat les, usai memberikan uang kepada pengemudi ojekku, aku tergopoh-gopoh berlari masuk ke dalam.


Sepatu dan rokku dari lutut ke bawah basah. Aku tidak peduli. Mau bagaimana lagi, aku tidak bawa sandal dan baju ganti.


"Aduh, Ra, roknya basah. Keringkan dulu saja di mushola, ada kipas angin," seru Mas Kiky, salah satu staf di tempat lesku.


Aku melihat ke arah jam. Lima menit lagi masuk. Mana sempat mengeringkan rok terlebih dahulu.


Aku tersenyum, kemudian menggeleng. "Nggak usah deh, Mas. Nggak apa-apa kok, basah dikit. Aku langsung ke kelas aja."


"Oh oke. Eh, tapi kelasnya nggak di kelas biasa, ya. Ada tukang servis lagi benerin pendingin ruangan kelasmu. Jadi, untuk hari ini aja, kelasmu gabung dengan anak kelas 11 ya di lantai tiga," ujar Mas Kiky.


"Oh gitu, Mas. Kelasnya yang di pojok itu kan?" tanyaku.

__ADS_1


"Iya. Ruangannya paling besar supaya muat untuk kalian semua."


Aku mengangguk, kemudian berjalan menuju kelas.


Sedikit aneh karena harus bergabung dengan kakak kelas, aku memilih untuk duduk di paling belakang. Aku melihat ke sekitar, aku tidak mengenali satupun dari mereka dan kutebak semuanya adalah kakak kelas. Aku belum melihat teman-temanku yang datang, entahlah mungkin mereka terjebak hujan.


Bahkan sampai pelajaran dimulai, aku tetap tidak melihat kehadiran teman-temanku. Kuharap mereka segera datang, meski rasanya mustahil karena dari jendela di sebelahku, aku bisa melihat hujan semakin deras. Aku menarik napas panjang begitu menyadari bahwa aku akan mengikuti pembelajaran ini sendiri.


Usai pengajarku membagi papan tulis jadi dua dengan garis di tengah-tengah untuk memisahkan materi kelas 10 dan 11, beliau mulai mengajar. Yang diajarnya lebih dahulu adalah aku, lalu setelahnya beliau memberikan soal untuk kujawab.


Saat aku sedang mengerjakan soal yang diberikan dan pengajar fisika itu mulai mengajar anak kelas 11, mataku malah terpaku pada satu sosok laki-laki yang suaranya sepertinya tidak asing. Sosok itu duduk di paling depan, selalu menjadi yang bertanya ketika yang lain hanya mengangguk-angguk paham (entah beneran paham atau tidak), dan selalu maju ke depan untuk menjawab soal yang anehnya selalu bisa ia jawab dengan benar serta mampu ia ajarkan kepada teman-temannya.


"Hara, soalnya sudah selesai dikerjakan?" tanya pengajarku berhasil mengejutkanku. Aku menggeleng, soal ini tidak semudah yang aku bayangkan. Malahan aku kini lebih mengerti materi kelas 11 dari penjelasan yang diberikan sosok itu. Namun, seperti yang sudah kuduga, aku diminta untuk maju dan menjawab soal yang sudah berhasil kujawab. Mau tidak mau, aku harus maju karena tidak ada anak kelas 10 selain aku.


Begitu aku maju, aku bisa melihat sosok itu dengan jelas. Ternyata, ia kakak kelasku. Aku melihatnya tadi duduk tidak jauh dariku di ruang ujian. Pantas saja aku merasa mengenalinya dari belakang dan dari suaranya.


"Hara dari SMA mana, ya? Bapak lupa," tanya Pak Andri sambil memberikan spidol padaku.


"Dari SMA Nusa Bangsa, Pak."


"Oh, satu SMA dong ya dengan Rikardo?"


"Iya Pak, satu sekolah." kali ini yang menjawab bukan aku, melainkan sosok yang kini tepat di belakangku.


Sambil menuliskan jawaban, aku terperangah.


"Oh jadi dia, Kak Rikardo, yang pintar itu?!" tanyaku dalam hati. Tidak menyangka bahwa orang terpintar di angkatan atasku adalah siswa yang les di tempat yang sama denganku.


*

__ADS_1


__ADS_2