
“Hito, gue boleh nanya penyelesaian soal nomor 3, nggak?”
Aku mendatangi meja Hito setelah Bu Ira—guru kimia—menyuruhku untuk bertanya kepada Hito karena beliau ingin izin mengambil minum di ruang guru. Namun, begitu aku sampai di mejanya, aku bukan orang satu-satunya yang bertanya. Beberapa temanku yang lain juga ikut bertanya kepada cowok itu dan berebut untuk lebih dahulu mendapat penjelasan.
Selain Eris, diam-diam aku mengakui bahwa Hito juga orang yang pintar. Bahkan, aku pernah mendengar sekilas bahwa ia akan masuk kedokteran. Maka bukan hal yang aneh kalau aku dan yang lain melihatnya mampu mengerjakan soal tanpa merasa kesulitan. Aku bisa mengetahui bahwa ia telah mengusahakan segalanya untuk mendapat nilai yang terbaik bahkan saat aku sendiri belum tahu masa depanku akan bagaimana dan mau jadi apa.
“Oh, soal nomor 3 sudah dikerjakan oleh Kaiva. Kalau mau, lo tanya aja dia,” balas Hito seraya menunjuk ke salah satu laki-laki yang duduk tidak jauh darinya.
Aku melihat sesuai arahan Hito, kemudian menyadari cowok yang ditunjukknya. Namanya Kaiva. Aku baru mengenalnya setelah beberapa minggu yang lalu. Kami digabungkan dalam suatu kelompok biologi yang diberi tugas untuk membuat suatu produk makanan berbahan dasar jamur hasil fermentasi.
Namun, aku tidak percaya bahwa cowok itu yang ditunjuk Hito setelah akhir-akhir ini aku mengenalnya bukan sebagai sosok yang kupandang sama seperti Hito dan Eris.
Semua bermula usai tugas praktik biologi kami selesai, entah mengapa Kaiva menjadi lebih sering mengirim pesan kepadaku. Entah menanyakan tugas atau mempertanyakan dan menjelaskan suatu hal yang kala itu menurutku sama sekali tidak penting.
Pernah suatu malam, aku membalas pesannya dengan mengatakan bahwa aku ingin belajar, cowok itu malah menimpalinya dengan berujar bahwa tidak seharusnya kita menghabiskan waktu kita lagi untuk belajar di rumah setelah berjam-jam belajar di sekolah dan di tempat les.
Tentu awalnya aku tidak percaya. Aku rasa ini hanya akal-akalannya saja supaya aku tetap membalas pesannya yang rasa-rasanya tak ada tanda-tanda berakhir. Lebih tepatnya mungkin belum. Begitu aku mengabaikan pesannya dan membuka buku untuk mengulang materi yang barusan kupelajari di sekolah, cowok itu kembali mengirim pesan padaku.
Kaiva :
Hei, lo tahu, nggak? Orang yang kaya sejak kecil aja, besarnya bisa saja menjadi peternak lele.
Pesannya muncul di bilah notifikasiku membuatku memutuskan untuk menutup bukuku dan menjawab pesannya dengan rasa penasaran.
Me :
Maksud lo?
__ADS_1
Tring!
Tidak butuh waktu lama untuk mendapat balasannya. Sepertinya ia sedang bosan dan tidak memiliki pekerjaan lain selain memegang ponselnya terus-menerus sambil menanti balasanku.
Kaiva :
Gue hanya ingin bilang bahwa hidup tidak usah terlalu dibawa serius.
Aku mengernyitkan alis. Tidak paham dengan jalan pikirannya. Maksudku, apa yang salah dengan menjalani hidup lebih serius? Justru ini adalah cara untukku mendapatkan masa depan yang lebih baik. Aku kembali mengetikkan balasan.
Me :
Ya, sayangnya hidup gue nggak main-main seperti lo. Asal lo tahu, gue punya tujuan yang harus gue capai.
Kaiva :
Me :
Gue bisa bercanda, tapi nggak sekarang.
Aku mematikan ponsel dan meletakkannya agak jauh supaya aku tidak tertarik untuk membukanya lagi sebelum aku menyelesaikan jadwal aktivitasku malam itu.
Kukira ia akan berhenti mengirimiku pesan tepat di malam itu. Menyadari bahwa berkirim pesan denganku bisa membuatnya jauh lebih bosan. Namun, dugaanku salah. Setelahnya, hampir setiap hari hal itu terjadi. Ia tak henti-hentinya mengirimiku pesan, mengajakku bergurau dengan melontarkan hal-hal random, seperti apakah lele bisa menjadi ikan hias atau apakah adonan roti yang diberi banyak tepung ketika dipanggang akan berubah nama menjadi tepung panggang.
Tidak sampai disana, cowok itu juga benar-benar usil (Qia dan Nara bahkan mengakuinya). Ia seringkali menabrakku dan mengatakan bahwa dirinya tidak sengaja, menghalangi jalanku dengan kakinya yang panjang, menarik-narik rambutku, dan melakukan hal-hal menjengkelkan lainnya.
Hal itu justru memperkuat asumsiku bahwa ia memang tipe orang yang hanya tahu sebatas bersenang-senang tanpa peduli nilai juga masa depan. Tipikal cowok-cowok nakal di kelas. Mungkin itu sebabnya, setiap malam cowok itu selalu menanyakan pr padaku atau jika tidak ada pr, ia malah menggangguku dengan mengirimkan hal-hal yang tidak jelas.
__ADS_1
“Oh iya. Tadi nanya nomer berapa, Ra?” tanya Hito setelah sekian lama. Aku tidak menyadari bahwa teman-temanku telah kembali ke mejanya dan hanya tersisa aku sendiri yang berdiri di sebelah meja Hito karena merasa heran dengan sosok Kaiva.
“Ah, iya. Nomer 3, To,” balasku. Hito kemudian mengangguk dan aku sedikit membungkuk untuk mendengarkan penjelasannya. Ternyata tidak sesulit yang kubayangkan, tetapi aku selalu merasa kesulitan mengerjakannya. Setelah Hito selesai menjelaskan, aku mengucapkan terima kasih dan berniat kembali ke mejaku sebelum suara seseorang memasuki indera pendengaranku tepat di sebelah kananku. Suara Kaiva.
“Nomer 7, bagaimana sih?”
Aku melihatnya lewat sudut mata, kepalanya menghadap ke arahku. Padahal kukira, ia akan bertanya pada Hito. Aku menoleh, memastikan karena mungkin aku salah lihat. Namun, hal yang terjadi adalah pandangan kami saling bertemu. Hanya sepersekian detik, kemudian aku buru-buru mengalihkan pandangan kembali pada bukuku dan tanpa memedulikan kepada siapa pertanyaan Kaiva ditujukan, aku langsung berbalik arah menuju mejaku.
Sebenarnya yang ingin aku pastikan barusan adalah mataku mungkin salah lihat bahwa ia tadi menyunggingkan senyum.
Dan itu ke arahku.
Aku tak mengerti apa maksudnya. Aku bisa saja bertanya, hanya saja aku tidak ingin melakukannya.
*
Seolah tidak ada habisnya, tiga minggu setelahnya, Kaiva semakin sering mengirimku pesan. Kali ini waktunya ditambah dengan sore hari. Ia mulai bercerita mengenai adik laki-lakinya yang usil, makanan yang baru saja ia beli pada hari itu, dan permainan seperti apa yang akhir-akhir ini ia mainkan.
Semua itu membuatku bertanya-tanya sebenarnya apa maunya? Benarkah hanya sebab bosan seperti yang selama ini aku duga?
Apakah ia tidak mengerti bahwa aku juga punya aktivitas sendiri yang seharusnya tidak diganggu oleh siapapun?
Ah, andai saja bisa, aku ingin mengabaikan pesannya terus-terusan sampai ia berhenti menggangguku. Akan tetapi, terkadang seseorang tidak bisa untuk mengabaikan orang lain. Selalu saja ada perasaan bersalah begitu mendapati pesan yang lama tak kunjung diberi balasan, seperti yang selalu aku rasakan.
Aku pernah tidak sengaja mengabaikan pesan Kaiva. Begitupun pesan-pesan teman-temanku yang lain. Akan tetapi, itu hanya terjadi pada saat aku benar-benar sibuk dan sedang serius-seriusnya mengerjakan sesuatu. Setelah semuanya selesai, aku tetap membalas pesan-pesan mereka.
Apa itu yang menjadi alasan Kaiva selama ini? Karena ia merasa bahwa aku orang yang selalu bisa membalas pesannya walaupun membicarakan aktivitas membosankannya sekalipun?
__ADS_1
Aku mendesah pelan. Aku memutuskan untuk mengerjakan pr agar aku tak perlu ambil pusing memikirkan maksud perlakuan Kaiva sebelum aku semakin tidak bisa mengendalikan emosiku yang mulai campur aduk.