Intermissum

Intermissum
Bab 3


__ADS_3

"Ra, sini deh," panggil Mama dari luar kamar ketika aku merasa baru beberapa detik berbaring di atas kasur untuk menghilangkan penat usai les.


Dengan malas-malasan, aku bangun dan keluar kamar, masih dengan seragam lengkap putih abu. Aku menemui Mama sendirian di ruang tengah, di hadapan televisi yang sedang menayangkan drama korea—film kesukaan Mama—.


Aku menebak adik-adikku pasti sibuk belajar di kamar mereka masing-masing sejak setengah jam yang lalu. Sudah jadi kebiasaan, seolah di dalam tubuh anak-anak Mama tersimpan alarm yang akan berbunyi setiap jam tujuh yang akan memerintahkan kita untuk belajar atau setidaknya menyelesaikan pr. Itulah sebabnya di luar hanya ada Mama, sementara Papa belum sampai rumah karena bekerja di Jakarta yang memakan waktu perjalanan lebih lama dari kantor ke rumah.


Seharusnya aku juga begitu. Hanya saja hari ini aku benar-benar merasa lelah karena otakku sudah terlalu banyak dipaksa berpikir di sekolah dan di tempat les. Sebab itu, aku butuh sedikit waktu untuk tiduran dan mengistirahatkan otak.


"Kenapa, Ma?" tanyaku seraya duduk di sofa, bersebelahan dengan Mama yang sibuk dengan ponselnya, entah melihat apa.


"Ni loh, Mama dapat informasi dari wali kelas kamu kalau ada pendaftaran bagi anak kelas 11 dan 12 ikut untuk berkesempatan ikut olimpiade tingkat SMA," Mama menyodorkan ponselnya padaku untuk memperlihatkan informasi tersebut.


"Kamu ikut aja. Lagipula kamu udah punya pengalaman juga pernah ikut olimpiade matematika sewaktu SD. Siapa tahu kalau kamu menang, prestasi kamu itu bisa didaftarkan untuk SNMPTN, ya kan?" ujar Mama penuh semangat. Aku bisa melihat binar-binar dari kedua mata Mama yang merasa ini adalah kesempatan yang tidak boleh aku sia-siakan.


"Hara nggak yakin bisa menang, Ma," bukannya ikut bersemangat seperti Mama, rasa ragu justru muncul pada diriku.


"Loh kenapa, Ra?" pertanyaan Mama sontak membuatku terdiam.


Aku tidak mungkin mengatakan pada Mama bahwa selama di SMA, aku harus berusaha lebih keras untuk mengerti materi-materi yang diajarkan khususnya untuk pelajaran peminatan IPA. Meski sampai saat ini, nilaiku tidak ada yang di bawah nilai minimal, hanya saja melihat perjuanganku menambah jam belajar hanya untuk mendapat nilai diatas delapan puluh membuatku benar-benar tidak yakin bisa memahami soal-soal olimpiade yang tingkat kesulitannya jauh di atas soal-soal yang selama ini aku dapatkan.


"Ikut aja, ya? Buktinya SD kamu bisa sampai tingkat nasional. Ingatkan waktu kamu harus pergi ke luar kota bersama teman-temanmu yang juga lolos tingkat nasional? Mama yakin kamu bisa kalau berusaha," jelas Mama yang kutahu sedang membujukku untuk ikut.


Aku menelan ludah. Masa-masa SD sudah bertahun-tahun lamanya. Aku tidak tahu apakah aku masih punya kemampuan yang sama seperti lima tahun yang lalu atau tidak (atau malah mempunyai keberuntungan yang sama seperti saat itu atau tidak).


Namun, melihat binar-binar penuh harapan dari Mama membuat aku tidak bisa mengatakan satu katapun dalam pikiranku selain kata iya. Selain, aku yang harus nekat dan menambah beban lagi di pundak semata-mata agar aku tidak mengecewakannya lagi.


*

__ADS_1


Maka, keesokan harinya, saat istirahat, aku mendatangi ruang guru untuk mencari wali kelasku. Dengan setengah hati, aku meneguhkan diriku bahwa tidak ada salahnya mencari peruntungan, berharap nasib baik akan datang.


Kalau aku tidak salah dengar, Mama mengatakan bahwa olimpiade tersebut akan dilaksanakan bulan Februari atau Maret, sementara sekarang masih bulan November. Masih ada waktu untuk belajar dan mempersiapkan diri.


"Semangat ya, Hara. Semoga kamu bisa membanggakan sekolah dengan ikut olimpiade ini. Mulai minggu depan, kamu bisa menuju perpustakaan untuk belajar dengan guru Matematika yang akan membantu kamu belajar. Hanya saja bukan Ibu, tetapi ada guru lain," kata Bu Tati, wali kelasku.


Aku tersenyum masam. Belum apa-apa, banyak orang yang seketika menaruh harap padaku, padahal belum tentu bisa kuwujudkan atau tidak. Enggan bicara lebih banyak lagi, aku mengucapkan terima kasih pada Bu Tati dan izin untuk kembali ke kelas.


Di kelas, aku terduduk dan mulai memikirkan apakah keputusanku benar atau tidak sesaat sebelum pikiranku akhirnya terhenti begitu melihat kedatangan ketiga temanku. Mereka mengambil duduk tepat satu orang di sebelahku dan sisanya di hadapanku.


"Habis dari mana, Ra?" tanya Nara.


"Dari ruang guru," jawabku singkat, kemudian memutuskan untuk memakan bekalku yang belum kusentuh.


"Ngapain?" kali ini pertanyaan datang dari Qia.


Belum. Belum saatnya.


"Gue daftar olimpiade matematika," jawabku sambil memasukkan makanan sebagai suapan pertamaku.


"Wah, keren. Semangat," tukas Eris menyemangatiku. Begitupun Nara dan Qia setelahnya membuatku merasa mendapat dukungan dan energi positif.


"Lo nggak ikut, Ris?" Nara menatap ke arah Eris yang sontak membuatku dan Qia juga menunggu jawabannya. Ikut penasaran.


"Eh? Mau sih, tapi nggak tau masih ragu," balasnya.


"Emang lo mau ikut apa? Ikut aja kali, Ris. Paling tidak nyari pengalaman," tanyaku sambil memberinya saran agar ikut. Lebih tepatnya agar aku tidak sendiri dan kami bisa saling menyemangati.

__ADS_1


"Kayaknya ekonomi, sih. Gue nggak tahu kenapa tiap belajar ekonomi tuh suka. Lebih excited gitu. Rasanya pengen belajar lebih banyak di mata pelajaran tersebut."


Aku, Nara, dan Qia mengangguk-ngangguk. Ya, meski kami berasal dari anak IPA, bukan berarti kami tidak belajar IPS dan itu berbeda di setiap kelas IPA. Khusus kelasku, kami mendapat pelajaran ekonomi dan sejarah. Aku tidak tahu apakah di SMA lain memiliki sistem yang sama atau tidak.


"Kayaknya lo cocok di IPS, deh, Ris," kata Nara yang kutahu hanya sebuah candaan. Karena bukan hanya aku, semua orang juga pasti akan berpikir bahwa Eris yang pintar di IPA tidak mungkin merasa salah jurusan. Buktinya, ia mampu-mampu saja menjalani proses belajar-mengajar. Namun, begitu mendengar jawabannya, aku terkejut dan sama sekali tidak pernah membayangkan jawabannya.


"Emang iya deh, kayaknya. Gue kira waktu pengumuman pembagian kelas, gue akan masuk kelas IPS. Pas nama gue disebut, gue kaget dan malah mikir mungkin itu Eris yang lain atau malah gurunya salah sebut. Tapi, ternyata engga," jawab Eris yang sukses membuatku melongo.


"Serius?" suara itu adalah suara Qia. Ternyata bukan aku saja yang terkejut dengan jawaban Eris. "Lo kan pinter, Ris."


Eris tertawa. "Mana ada? Itu hanya kebetulan, lagian gue masih suka nanya-nanya kan ke kalian, ya karena gue masih suka nggak ngerti. Malah menurut gue, yang pinter ya kalian bertiga."


Aku hampir tersedak, buru-buru mengambil botol minum dari dalam tas dan meneguknya.


"Setiap orang punya kepintarannya masing-masing. Jangan dipatok si ini pintar dari satu sisi. Kita punya kelebihan sama kekurangan, ya kan? Alasan kita bikin grup juga karena itu. Saling melengkapi, bukan jadi dominan sendiri," jelas Eris yang tak kusangka punya pemikiran bijak seperti itu.


"Betul juga," sahut Nara yang kubalas dengan anggukan karena tidak tahu harus menjawab apa.


Kemudian, sisa waktu istirahat kami dihabiskan dengan mengobrol hal-hal ringan, tentang kesibukan Qia menjalani organisasi OSIS, drama korea yang sedang Nara tonton, atau keseharian Eris di rumah dengan keempat saudaranya yang selalu bikin kekacauan.


"Wah, ada yang ikut olimpiade matematika," teriak salah seorang temanku seketika membuat kami berempat menengok ke asal suara.


"Semangat ya, Hito!" suara-suara menyemangati terdengar bersahut-sahutan.


"Hito juga ikut olimpiade di bidang yang sama seperti lu tuh, Ra. Ada teman dong," kata Qia padaku.


Mendadak aku tidak tahu harus senang atau tidak. Seharusnya aku senang karena aku punya teman ketika belajar olimpiade di perpustakaan, tetapi di sisi lain aku tidak bisa untuk mengontrol perasaanku yang mulai tidak nyaman, pun pikiranku yang kembali mempertanyakan apakah aku tidak salah mengambil keputusan.

__ADS_1


*


__ADS_2