
“Mama sudah belikan lagi buku-buku yang harus kamu baca selama satu semester ini.”
Mama masuk ke kamarku dengan setumpuk buku yang dipegangnya. Meletakkannya ke lemari bukuku yang hampir sebulan sudah kosong, tak terisi.
Siap atau tidak, aku sudah mulai masuk SMA, menjalani hidup di sekolah yang sama sekali tidak pernah ada dalam bayanganku. Bahkan, aku baru tau ada sekolah ini beberapa minggu sebelum ini, saat aku mencari pilihan lain untuk mendaftarkan diriku melanjutkan pendidikan, alih-alih mendaftarkan diri ke sekolah yang aku mau.
Rasa tidak terima memang masih ada, tak terhitung sudah berapa kali aku berharap agar aku bisa sekali saja mengulang hari dimana aku menjalani Ujian Nasional, memperbaiki apa yang salah, menaikkan nilaiku seperti yang selama ini aku targetkan terhadap diriku sendiri.
Namun, segalanya hanya berhenti dalam angan. Terpaksa harus kurelakan karena kini aku justru diterima di salah satu sekolah yang meski tidak bisa dibilang buruk, membayangkannya saja terasa tak pernah sama dengan sekolah impian.
Seminggu yang lalu, aku telah menjalani Masa Orientasi Sekolah. Mengenal lingkungan sekolah, berkawan dengan orang-orang baru, dan menjalani tes untuk menentukan jurusan SMA. Untuk hal yang terakhir, aku tak pernah memikirkan ingin memilih jurusan IPA atau IPS. Entahlah, mungkin karena aku terlalu menyibukkan diri dengan menyesali hal yang sudah-sudah sampai-sampai masa depan terasa buram saat itu.
Melihat aku yang kebingungan, Mama berharap aku bisa masuk IPA dan karenanya aku pun ikut berharap semoga aku memang masuk IPA. Meski untuk menggapainya, aku harus mengulang beberapa materi SMP lagi melalui buku tulis yang berisi rangkuman rumus yang selama kelas 9 kutulis agar mudah dipelajari, berhubung buku-buku SMP telah kubuang jauh-jauh dari lama.
Dan benar saja, begitu salah satu guru menyebutkan nama kami satu persatu, aku mendapati diriku bergabung dengan anak-anak lain di jurusan IPA. Kala aku mengabari Mama, Mama terlihat lega dan mengatakan semoga aku semangat belajar. Aku bisa merasakan kegembiraannya bahkan hanya dengan melalui pesan pribadi di WhatsApp.
Mama tipikal orang yang selalu mengusahakan segalanya untuk kemajuan pendidikan aku dan adik-adikku. Maka, bukanlah hal yang mengherankan jika Mama tiba-tiba masuk ke dalam kamar dengan setumpuk buku yang dibelinya entah dari mana. Hal itu sudah berlangsung sejak aku kecil, aku bisa menghabiskan latihan soal dari beberapa buku untuk satu mata pelajaran karena Mama memang sudah menekankanku untuk melakukan itu. Mama selalu percaya, semakin banyak kita mengerjakan soal, kita bisa melampaui orang-orang di luar sana yang belum tentu melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Aku selalu percaya itu. Sampai saat nilai UN ku tidak melampaui teman-temanku, aku mulai merasa ragu benarkah yang Mama katakan itu benar adanya. Aku bertanya-tanya apakah aku kurang giat dalam belajar ataukah teman-temanku yang lain melakukan hal lain supaya bisa lebih unggul dariku?
“Hara, kamu dengar?” panggil Mama membuatku terkejut.
“Ya, apa, Ma?”
“Kamu harus mulai mempersiapkan diri dari kelas 10, tepatnya mulai dari sekarang. Dengar-dengar masuk PTN bisa melalui jalur undangan dengan nilai rapor. Itu artinya, nilai rapormu harus bagus. Paling tidak mencapai rata-rata sembilan puluh. Oke?”
Aku mengangguk ragu. Rasa percaya diriku menurun lebih dari 40 persen sekarang dan aku mulai memikirkan banyak hal. Takut-takut segalanya lagi-lagi tak sesuai harapan. Aku ingat bagaimana kecewanya Mama karena nilai UN-ku tidak mencapai rata-rata sembilan puluh. Aku ingat bagaimana mama marah karena sudah begitu optimis bahwa aku bisa, tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Segalanya terputar lagi dalam kepalaku seperti kaset rusak dan aku merasakan dadaku terasa sakit untuk kesekian kalinya.
Oleh sebab itu, malamnya aku bertekad untuk mencoba kembali dari nol. Menutup buku kehidupanku di SMP dan membuka lembaran baru di SMA. Sejenak lupakan apa yang sudah terjadi, berharap dengan begitu, maka segalanya akan baik-baik saja.
Ya, aku harap begitu. Meski tetap saja tak bisa kupungkiri bahwa segalanya kini tak semudah dulu.
*
Ekspektasi memang sering kali tidak sesuai realita. Usai niatku malam itu dan proses belajar-mengajar semester 1 telah dimulai, seperti janji setengah hatiku pada Mama, aku mulai mencoba menguasai materi SMA. Namun, beberapa bulan pertama, aku tak pernah merasa benar-benar puas dengan penguasaan materiku di pelajaran peminatan IPA, seperti fisika, kimia, dan biologi.
__ADS_1
Aku seringkali mendapati diriku termangu sendiri di tempat dudukku, berusaha mencerna maksud soal yang berada di hadapanku. Pun yang membuatku tambah pusing adalah aku menyadari bahwa banyak teman-temanku yang tidak merasa kesulitan dan lancar-lancar saja dalam mengerjakan soal.
Seperti salah satu temanku bernama Eris. Aku mengenalnya sejak hari pertama MOS karena kami masuk di gugus yang sama. Semenjak mengenalnya, aku sudah memiliki firasat bahwa dia memang pintar. Terlihat dari inisiatifnya membuat yel-yel sendirian tanpa meminta bantuan dari aku dan teman satu gugusku yang lain, terlibat aktif di kelas dengan merespon pertanyaan guru, segalanya ia lakukan seolah orang lain tak memiliki kesempatan untuk ikut terlibat. Atau kalaupun memang ada, tidak akan ada yang bisa melakukannya sebaik dia.
Karenanya aku iri. Karenanya, aku menghabiskan setiap malam untuk mengejar ketertinggalan, memahami apa yang tidak aku mengerti. Mencoba membaca penjelasan dari beberapa buku dan mengerjakan soal-soal yang setipe dengan apa yang sedang kupelajari.
Sama halnya dengan di kelas, aku mulai memberanikan diri maju untuk bertanya hal yang tidak kumengerti. Suatu hal baru karena selama SD dan SMP, aku tak pernah bertanya kepada guru sepersonal ini, mengingat aku selalu mengerti apa yang guruku jelaskan—kurang lebih seperti itu, sebabnya aku merasa optimis nilai UN-ku akan bagus dan aku tidak mau mengulanginya lagi di SMA—.
Sampai suatu ketika, entah dari mana segalanya bermula, aku malah berkawan dekat dengan Eris dan dua orang lainnya, yaitu Nara dan Qia. Mereka menawarkan diri untuk saling membantu dalam belajar. Bahkan Nara memiliki ide untuk membuat grup di mana isinya akan membahas pelajaran dan saling menutupi kekurangan yang satu dengan kelebihan yang lain.
Ya, meski pada kenyataannya, grup itu tidak hanya berisi pelajaran, tetapi juga mengobrol hal-hal yang remeh-temeh, melempar gurauan, tetapi setidaknya aku bisa menurunkan kadar ketidakpercayaan diriku dan termotivasi untuk bergerak maju.
Belum lagi, Mama yang seperti tahun-tahun sebelumnya, mendaftarkanku lagi di tempat les yang sudah berjalan selama kurang lebih seminggu. Aku berharap semoga hal ini bisa membantuku agar perlahan bisa mengimbangi beberapa materi di SMA.
Ya, mungkin perihal ini, aku hanya butuh waktu.
*
__ADS_1