Intermissum

Intermissum
Bab 7


__ADS_3

Aku suka sekali membaca dan menulis.


Hal itu bermula sejak kelas 2 SD, dimana Mama membelikanku sebuah buku serial Kecil-kecil Punya Karya yang dibeli di bazar yang dibuka di sekolahku.


Buku itu yang membuatku suka membaca. Aku pun meminta orangtuaku untuk membelikannya lagi. Namun, Mama saat itu menjawab kalau aku mau dibelikan buku lagi, aku harus mendapat peringkat minimal 10 besar.


Mungkin hal itu yang menjadikanku termotivasi untuk belajar dengan rajin. Aku tidak pernah protes saat sedang asik bermain, lalu tiba-tiba Mama datang dan mengatakan bahwa aku harus masuk ke kamar untuk belajar.


Dan aku berhasil. Aku berhasil masuk 10 besar dan orangtuaku pun membelikan beberapa buku untukku dan hal itu berlangsung di semester-semester berikutnya.


Lalu, di kelas 4 SD, aku terbesit keinginan untuk ikut menulis juga. Apalagi saat aku tahu bahwa buku-buku serial tersebut ditulis oleh anak-anak seumuranku. Aku termotivasi untuk mencobanya.


Berhubung aku tak punya ponsel pribadi atau buku khusus, aku pun iseng menulisnya di selembar kertas HVS sebagai permulaan. Awal-awal aku menulis, aku menulis apa saja yang terlintas di kepala. Entah menceritakan kejadian yang kualami hari itu, kisah persahabatanku dengan teman-temanku, atau pengalaman pergi berlibur bersama keluargaku.


Aku benar-benar menuliskannya semauku. Tidak mempertimbangkan kaidah penulisan yang benar, sedikitpun, tapi aku begitu menyukainya. Aku menyukai perasaan yang menggebu-gebu, begitu menggembirakan saat aku berhasil menuliskan apa yang ada di kepalaku. Aku terbang, melintasi batas-batas imajinasi yang tak bisa kudeskripsikan saat hanya ada aku, kertas, dan sebuah pena.


Menulis menjadi media bicaraku. Saat aku tak sabar untuk bercerita mengenai suatu hal yang kualami dan aku sedang tidak punya teman bicara, menulis menjadi satu-satunya cara untukku mengungkapkan hal tersebut.


Aku tidak pernah memberitahu orangtuaku perihal kesukaan baruku itu. Bukannya aku tidak mau, hanya saja aku terlalu disibukkan dengan proses menulis itu sendiri sampai-sampai lupa untuk menceritakan hal tersebut ke orangtuaku.


Sampai suatu ketika, Mamaku yang ingin menyapu kamar, menemukan kumpulan kertas-kertas HVS di meja belajarku saat aku tidak ada. Begitu aku kembali ke kamar, Mama menanyakan mengapa kertas-kertas ini dibiarkan berserakan, bukannya dibuang.


"Itu bukan sampah. Itu isinya cerita Hara semua," sergahku ketika Mama berniat untuk menyingkirkannya dari mejaku.


Mama langsung membuka kertasnya. Aku bisa melihat Mama membacanya. Kukira Mama akan senang karena anaknya bisa menulis. Beliau akan memuji karyaku, lalu mendukungku untuk menerbitkannya dan aku bisa menghasilkan uang sendiri.


Nyatanya, aku mendengar perkataan Mama yang bahkan sampai bertahun-tahun usai kejadian itu, aku masih mengingatnya dalam kepala.


"Jadi, pas Mama suruh belajar, kamu malah nulis? Ngapain nulis-nulis ginian, Ra?"


Aku yang masih berumur 10 tahun, menunduk lemah, tidak berani menatap Mama yang kini melihatku dengan mata melebar.


"Hara cuma iseng. Terus jadi ketagihan," ujarku dengan suara pelan.

__ADS_1


"Tugas kamu sekarang belajar aja dulu yang bener, kalau kamu nulis mulu, nanti yang ada lupa belajar dan nilaimu turun. Harusnya kamu semakin giat belajar supaya peringkat kamu bisa naik, kalau perlu jadi peringkat satu."


Mama kemudian meremukkan kertas-kertas itu menjadi bulatan-bulatan besar, kemudian menyapunya. Aku tidak mampu mencegah karena aku paling tidak bisa untuk menyanggah apapun lagi. Aku membiarkan kertas-kertas itu masuk ke tempat sampah, menjadikannya seolah tidak berarti.


Sejak saat itu, aku bertekad untuk menulis diam-diam. Aku menulis sebelum tidur, saat-saat orangtuaku pergi, dan di waktu-waktu dimana orangtuaku tidak akan memergokiku sedang menulis.


Sayangnya aku tak punya lemari khusus untuk menyimpan kertas-kertas ini. Aku sudah berusaha menyelipkannya di buku pelajaranku, di tas sekolahku, atau di lemari baju. Namun, Mama selalu berhasil menemukannya karena urusan menjaga kebersihan kamarku masih tanggung jawab Mama. Dan semua kembali berulang, aku diomeli, aku disuruh berhenti, dan segala hal yang berlawanan dengan apa yang sebenarnya kuinginkan.


Aku berusaha mencari pembelaan dari Papa. Aku sengaja meletakkan salah satu tulisanku di meja kantor Papa, tetapi yang terjadi malah Papa menyuruhku untuk mengikuti saja aturan dari Mama karena itu yang terbaik.


Lalu, aku menyerah. Aku membiarkan diriku kembali mengikuti perintah Mama. Aku berusaha untuk membuktikan bahwa aku bisa menjadi yang terbaik. Semata-mata agar setelahnya Mama bisa memercayaiku untuk melakukan apa yang kusuka tanpa mengabaikan kewajibanku, tanpa menurunkan nilaiku seperti harapan Mama.


Sampai saat aku masuk SMP, aku mendapat ponsel sendiri dan kesukaanku itu kembali kutekuni. Aku menulis di Word setiap malam dengan penerangan yang kurang karena aku takut Mama bisa memergokiku lagi. Aku tidak peduli. Selama aku bisa mendapat nilai yang bagus, Mama tidak berhak untuk memarahiku lagi.


Akan tetapi, nyatanya aku malah gagal di Ujian Nasional SMP. Mama kembali memarahiku, Papa terdiam dan tidak tahu harus bicara apa karena setelahnya keluarga-keluargaku yang lain mulai menelepon dan menanyakan perihal hasil UN-ku. Dari sana aku sadar, menulis tidak pernah jadi bagian dari hidupku.


Maka, saat Mama menanyakan aku ingin jurusan apa, aku tidak berani bilang bahwa sebenarnya aku sempat terpikir untuk memilih jurusan yang sesuai dengan minatku, yaitu menulis. Sekalipun aku bilang padanya, hal itu tetap tidak akan mengubah apapun. Mama pasti tidak akan pernah setuju.


Jadi, aku menghabiskan malamku usai belajar dengan mencari informasi mengenai jurusan-jurusan yang sekiranya bisa menarik perhatianku. Aku membuka jurusan-jurusan saintek, seperti teknik, kedokteran, farmasi, dan lain-lain.


*


Ujian akhir semester pun selesai. Aku berhasil menyelesaikan ujian terakhirku dengan upaya semaksimal mungkin. Aku berharap semoga nilaiku baik, meski aku tidak berharap mendapat peringkat pertama. Aku sadar bahwa ada banyak hal yang kurang kukuasai di beberapa mata pelajaran tertentu.


Setidaknya, ujian selesai dan aku bisa menambah jam tidurku yang selama ini rasanya kurang karena dipakai untuk belajar.


Aku mengemas barang-barangku, seperti tempat pensil dan botol minum, lalu memasukkannya ke dalam tas.


Aku berniat untuk langsung pulang ke rumah. Aku mengambil sepatu di rak sepatu dan duduk di bangku depan kelas untuk mengikat tali sepatu.


Beberapa saat setelahnya, tiba-tiba rambutku seperti ditarik oleh seseorang dan sontak aku berteriak.


"Aw!" aku menoleh, ternyata itu adalah Kaiva. Ah, seharusnya aku sudah bisa menduganya. Siapa lagi yang suka iseng menarik-narik rambut selain cowok itu?

__ADS_1


Kaiva kemudian duduk di sebelahku, membuatku mendelik. "Ngapain lo?"


Bukannya menjawab, ia malah menanyakan hal yang lain, "Bagaimana ujiannya?"


Aku menaikkan alis. "Bagaimana apanya?"


Kaiva memutar matanya. "Iya, lu kan udah belajar mulu nih dari kemarin. Bagaimana? Bisa nggak? Lancar jaya ngerjain soalnya?"


"Kepo ya anda ini. Ya gitu lah, pokoknya."


"Gitu tuh gimana sih? Gua tebak bisa ya? Nggak nemu kesulitan kan?" tanyanya lagi.


Aku mengedikkan bahu. "Nggak tahu, deh. Udahlah nggak usah nanya-nanya ujian lagi."


Kaiva mengangguk. "Oke. Lo pulang naik apa?"


"Naik ojek online. Ni mau pesen," jawabku sambil mengeluarkan hp.


"Oh, oke. Gue juga."


Kami pun terdiam. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin kutanyakan padanya. Perihal alasannya selalu mengirimku pesan dan lain-lain. Namun, aku teringat bahwa Kaiva tidak akan menjawabnya dengan benar seperti biasanya, aku akhirnya langsung memesan ojek online dan tidak berapa lama, ojekku pun tiba. Aku menimbang apakah aku harus pamit pada Kaiva atau langsung berdiri dan meninggalkannya. Namun, sebagai bentuk kesopanan dan karena ia temanku, aku pun memutuskan untuk pamit padanya


"E-gue duluan ya. Udah dateng ojeknya."


Ia menengok ke arahku, kemudian mengangguk. "Oke. Hati-hati."


Aku balas mengangguk pula. Kemudian aku berdiri. Kulihat ia melambaikan tangan padaku, jadi aku ikut membalasnya dengan lambaian singkat.


Aku tidak tahu mengapa setiap bicara dengannya bisa jadi secanggung ini. Atau itu hanya perasaanku saja?


Atau karena kami sudah terbiasa mengobrol lewat ponsel sehingga begitu mengobrol langsung rasanya malah jadi berbeda?


Aku menarik napas panjang. Semua hal tentang Kaiva tak pernah mampu kujawab. Segalanya begitu abu-abu membuatku tidak bisa berspekulasi apa-apa.

__ADS_1


*


__ADS_2