Intermissum

Intermissum
Bab 6


__ADS_3

Siapa yang tidak mengenal Kak Rikardo?


Sejak aku bersekolah di SMA Nusa Bangsa, hanya dengan menyebut Rikardo saja (tanpa embel-embel nama lengkap), semua orang akan tahu bahwa Rikardo yang dimaksud adalah murid peraih peringkat satu sejak kelas 10, juara 1 membuat karya ilmiah, dan juara 2 debat tingkat provinsi. Guru-guru hampir semuanya mengenal Rikardo karena emang anaknya yang aktif, rasa ingin tahunya tinggi, dan ga pernah puas dengan pencapaian yang sudah ia raih.


Meski kenyataannya, aku belum pernah melihat sosok bernama Rikardo. Sebelum hari ini tepatnya. Sebelumnya, aku hanya tahu dari cerita teman-teman atau cerita guru-guru sebelum mengajar.


Oleh karena itu, seusai kelas selesai, aku buru-buru menghampirinya di pintu keluar. Aku melihatnya sedang merapikan jas hujannya yang masih basah.


Awalnya aku ragu untuk menghampirinya, bagaimana tidak, kami belum pernah bertahap muka sebelumnya. Aku takut dia merasa aneh atau malah terganggu dengan kehadiranku. Namun, aku memilih nekat dan berjalan mendekatinya.


"E-Kak Rikardo."


Kak Ricardo menoleh. "Eh, Hara."


Syukurlah ia ingat namaku. Aku berdeham, kemudian kembali bersuara, "aku boleh nanya sesuatu nggak, Kak?"


"Boleh kok. Kita duduk aja kali ya di dalam?"


Aku menggeleng. "Disini aja, Kak. Sebentar aja kok."


Kak Rikardo mengangguk pelan. Ia menatap ke arahku, menunggu aku kembali bicara.


Mataku malah melihat ke sekeliling, gugup. Mungkin karena aku tidak pernah mengobrol empat mata dengan kakak kelas. Apalagi di pertemuan kami yang pertama.


Namun, aku harus bertanya. Karena sejak tadi, aku merasakan ada sesuatu yang mengganjal dalam hatiku.


"Cara Kakak bisa pinter gimana sih?" Aku berhasil mengatakannya. Aku melihat reaksi Kak Rikardo sekilas, takut-takut ia malah tidak suka dengan pertanyaanku.


Namun, ia malah menyengir. Seolah pertanyaanku adalah pertanyaan ringan yang diutarakan antara teman dengan teman. "Kamu pasti dengar omongan orang-orang ya? Banyak kok yang nanya gitu ke aku. Padahal aku biasa aja loh."


"Biasa bagaimana? Kakak peringkat satu terus dari kelas 10, pasti ada tips nya dong."


Ah, sepertinya aku baru saja jadi adik kelas yang tidak tahu malu. Enteng sekali bicara dengan nada seperti sudah kenal lama.


Kak Rikardo terdiam, kukira ia marah atau bagaimana. Aku baru saja ingin meminta maaf karena terlalu lancang, tapi Kak Rikardo kembali membuka mulut.


"Kalau peringkat mungkin itu keberuntungan kali, ya. Karena jujur aku nggak pernah merasa sepintar itu, beneran deh. Cuma kalau kamu emang mau tahu tipsnya, kamu cari aja motivasi yang bisa bikin kamu semangat belajar," jawabnya.


Aku melongo. Motivasi? Motivasi seperti apa?


Kak Rikardo sepertinya menyadari kebingunganku, lalu ia melanjutkan. "Kalau aku ya. Motivasiku tu simpel si, aku harus jadi anak rajin. Istilahnya berjuang bener-bener dari kelas 10 supaya aku dapat SNMPTN. Karena gini loh logikanya, kalau kita dapat SNMPTN, otomatis kita cuma perlu belajar sekali, alias ya pas selama KBM belajar 3 tahun, ya nggak? Tapi, kalau kita nggak lolos SNMPTN, kita harus belajar lagi buat SBMPTN. Jadi, jatuhnya kayak kerja dua kali gitu loh. Paham nggak?"


Aku mendengarkan perkataannya yang panjang lebar dengan saksama. Kemudian, mengangguk-ngangguk paham." Jadi, Kakak belajar terus-terusan ya biar bisa semua?"


Kak Rikardo menggeleng cepat. "Eh, bukan begitu maksudnya. Maksud belajar bener-bener tuh adalah kamu kalau ada yang nggak ngerti tanya ke guru atau ke tempat les. Terus, belajar di rumah ya paling ngulang materi lagi biar nggak lupa. Bukannya belajar terus-terusan dan menuntut semua langsung bisa."

__ADS_1


"Oh, gitu. Aku kira Kakak belajar terus kerjaannya, hehe."


Kak Rikardo tertawa. "Ya, nggaklah. Kita juga butuh istirahat. Main sama teman, jalan-jalan, refreshing. Intinya harus bisa bagi waktu, bagi waktu buat pacar apalagi."


Mataku membulat. "Kakak punya pacar?"


Ia mengangguk malu-malu. "Iya, teman sekelas kebetulan."


Aku membalasnya dengan anggukan pula. Selama ini, aku belum terpikir untuk punya pacar. Rasanya aku punya banyak hal yang ingin kucapai lebih dulu ketimbang keinginan punya pacar.


"Eh, aku duluan, ya. Aku mau belanja titipan ibu dulu soalnya. Takutnya sampai rumahnya terlalu malam karena telat belanjanya. Nggak apa-apa kan, ya? Kalau mau tanya lagi, besok kita sekelas lagi kan di ruang ujian," pamit Kak Rikardo.


"Eh, iya, nggak apa-apa, Kak. Terima kasih ya. Maaf mengganggu, hehe," balasku.


"Santai aja. Kamu pulang naik apa?" tanyanya tiba-tiba.


"Dijemput sama orangtua, Kak."


Ia mengangguk. Kemudian, ia pamit lagi padaku dan berjalan ke motornya yang diparkir tidak jauh dari pintu.


Ia menyalakan motor, kemudian ia kembali menatap ke arahku. "Duluan, Ra."


"Iya, Kak. Hati-hati," teriakku karena motornya sudah berjalan menuju padatnya jalan raya.


Sejak saat itu, aku mencoba mengikuti tips dari Kak Rikardo. Aku benar-benar belajar dengan giat. Aku mulai memasang tujuan awal, yaitu meraih nilai bagus di rapor semester pertamaku dan hal itu berhasil membuatku bergerak untuk mengusahakan yang terbaik. Untuk pelajaran yang menjadi kelemahanku, aku menambah jam belajarku dengan bangun pagi.


Sialnya, Kaiva tidak pernah absen mengirimiku pesan bahkan di minggu ujian sekalipun. Ia benar-benar bersikap santai seolah ujian ini tidak berarti apa-apa. Berbanding terbalik denganku yang kelabakan, tak bisa diam.


Kaiva :


Raa, udahan belajarnya. Istirahat, kasian otak lo panas.


Aku menarik napas panjang. Niat hati ingin mengabaikan, tetapi melihat pesan notifikasinya, tanganku malah memencet ruang pesannya. Aku tidak tahu mengapa otak dan tangan sering kali tidak sejalan dan hal itu membuatku tak jarang kesal sendiri sampai-sampai ingin membenturkan kepalaku ke dinding.


Me :


Lo bisa nggak, nyari kerjaan lain selain ngajak gue ngobrol? Gue masih belum hapal bentuk molekul.


Tring!


Kaiva :


Ngapain dihapalin? Itu bisa pakai logika.


Gue nggak tahu harus ngapain, nih.

__ADS_1


Aku menggerutu. Sebenarnya apa sih maunya?


Me :


Logika dari mana sih?


Ya udah kalau nggak tau mau ngapain, ya belajar.


Kaiva :


Perhatian banget lo nyuruh gue belajar. Hehe.


"Argh," aku merasakan otakku benar-benar memanas. Bukan karena pusing belajar, tetapi karena Kaiva yang membuatku emosi.


Kemudian, pintu kamarku diketuk. Buru-buru aku meletakkan ponselku di atas kasur dan menarik bukuku kembali ke atas pangkuanku.


Pintu terbuka. Kepala Mama muncul dari balik pintu. "Lagi belajar, Kak?"


Aku mengangguk. Meski jantungku mendadak berdebar kencang karena panik. Kalau Mama melihatku memainkan ponsel pasti aku akan diceramahin karena dianggap bersantai-santai saat ujian.


Mama masuk ke dalam kamar, kemudian duduk di sebelahku.


"Gitu dong, belajar yang bener. Mama pengen banget Hara masuk UI."


Aku terdiam. Pura-pura sibuk menghapal, padahal aku mendengar jelas omongan Mama dan tahu kemana percakapan ini akan mengarah.


"Hara masuk kedokteran aja, ya? Sampai sekarang saudara-saudara kamu belum ada yang berhasil masuk kedokteran UI. Pasti keren kalau kamu bisa masuk."


Aku merasakan tubuhku membeku dan aku hanya bisa menunduk. Dari dulu, Mama emang sudah sering memintaku masuk kedokteran. Tapi, mendengarnya saat aku sudah di SMA dan beberapa tahun lg akan masuk kuliah, aku mungkin harus mulai mempertimbangkan.


" Tapi, masuk kedokteran UI kan susah, Ma. Dan lagi-"


Suaraku tercekat. Aku baru saja ingin mengatakan bahwa aku pernah gagal masuk SMA favorit, bagaimana jika aku gagal lagi masuk universitas dengan pesaing yang justru lebih banyak dari persaingan memperebutkan SMA. Namun, aku tidak bisa mengatakannya pada Mama, takut kalau Mama akan sedih lagi. Akhirnya aku hanya bisa menelan perkataanku tadi bulat-bulat.


Bukannya menjawab, Mama malah mencoba berbaring di sebelahku, aku menggeser tubuhku supaya Mama bisa leluasa berbaring. Matanya menatap ke arah atas. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Mama sekarang. Jadi, aku kembali menghapal.


"Terus kamu mau jurusan apa?" tanya Mama setelah hening beberapa menit. Keheningan yang mendadak canggung bagiku.


Aku termangu. Aku belum memikirkan sama sekali ingin jadi apa. Menurutku, ini terlalu cepat untuk memutuskan. Aku masih kelas 10 dan aku punya dua tahun lagi untuk mempertimbangkan mau jadi apa.


"Nggak tahu," aku menjawabnya dengan suara agak serak. Aku tidak tahu mengapa suaraku mendadak berubah.


Mama menatap ke arahku, "masa nggak tahu jadi apa? Pasti punya bayangan dong tentang kamu mau kuliah di mana, jurusan apa, mau jadi apa. Masa nggak ada?"


Lagi-lagi, aku malah seperti orang bisu. Pikiranku layaknya kaset rusak mulai menayangkan kejadian-kejadian yang membuatku lagi-lagi tidak bisa menjawab perkataan Mama, bahkan sampai Mama keluar kamar dan kembali membiarkanku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2