
Berhubung pelajaran olahraga tidak dijadikan ujian tertulis, maka sebagai gantinya, guru olahragaku mengadakan praktik renang di salah satu tempat berenang yang tidak jauh dari sekolahku.
Namun, sehari sebelum ujian praktik tersebut, Nara malah mengajakku makan di mekdi besok.
"Kan besok kita renang, lupa?" tanyaku bingung.
"Ih kita nggak usah renang," jawabnya enteng.
Mataku membuat. "Emang boleh?"
Nara menampilkan ekspresi gemas. "Ya boleh lah, kalau kita bilangnya lagi halangan. Kan nggak bisa renang tuh. Lagian emang lo mau renang?"
Aku menggeleng. "Ya, nggak."
Aku mengingat-ngingat kapan terakhir kali aku mengikuti ujian renang yang diadakan guru olahraga. Kalau aku tidak salah ingat, aku tidak pernah ikut ujian renang sejak SMP. Entahlah, aku selalu punya alasan untuk tidak ikut. Semakin dewasa, rasa maluku semakin bertambah dan membuatku tidak ingin menyebur ke dalam air dengan baju yang biasanya ketat di badan itu.
"Jadi, ayo makan aja yuuk. Nanti gue mau ajak Eris sama Qia juga deh. Kita nongkrong bareng. Masa udah enam bulan jadi anak SMA, nggak pernah jalan sama teman sih, nggak seru banget. Mau ya?"
Aku menimang sejenak, sementara Nara menatapku dengan tatapan memohon. "Oke. Tapi, aku izin dulu sama orangtuaku."
Nara meloncat girang. "Yey. Oke. Aku mau ke Eris dan Qia dulu."
Malamnya, di rumah, aku menunggu waktu yang tepat untuk izin sama orangtuaku. Aku menunggu mereka menyelesaikan makan malamnya, lalu aku mendatangi mereka yang setelahnya bersantai di ruang keluarga.
Aku duduk di sebelah Mama yang sedang memainkan ponselnya. Mulutku terbuka dan suaraku hampir keluar, sesaat sebelum suara Mama lebih dahulu terdengar. "Besok tes renang, ya, Ra?"
Aku terkejut, mengapa topiknya bisa pas sekali? Lalu, aku menyadari bahwa Mama mungkin baru membaca informasi yang disampaikan di grup kelas khusus orang tua.
Aku mengangguk. "Iya, Ma."
Mama menengok ke arahku. "Ya udah, kamu siap-siapin apa aja yang harus dibawa besok. Baju renang kamu masih ada kan di lemari? Oh iya, jangan lupa bawa handuk dan baju ganti," perintah Mama panjang lebar.
Aku menggeleng. "E-Hara nggak usah ikut renang deh. Dari SMP kan, aku udah nggak pernah ikut tes renang."
"Loh kenapa? Kamu nggak lagi halangan kan?"
"Ya, nggak sih."
"Ya ikut dong berarti. Tes renang tuh masuk nilai rapor. Inget kan, nilai rapor kamu tu berarti banget buat SNMPTN? Kalau kamu males-malesan gini, bagaimana nilai kamu akan bagus?" sergah Mama.
__ADS_1
"Tapi, aku SMP nggak ikut renang, nilaiku masih bagus," aku mulai menyanggah apa yang Mama katakan, berharap Mama mengizinkanku untuk tidak ikut tes renang dan bisa jalan sama teman-temanku besok.
"Ya, itu kan SMP. Kita nggak tahu kalau aturan SMA beda lagi. Udah kamu harus ikut," ujar Mama tegas.
"Tapi-"
"Nggak ada tapi-tapi, Ra. Udah ikutin aja yang diminta guru olahraga kamu."
Final. Aku tidak bisa mengatakan apapun lagi karena aku kehabisan kata-kata. Aku mendesah pelan, kemudian aku beranjak berjalan menuju kamarku.
Di kamar, aku berbaring di atas tempat tidurku dan membuka ponsel, lalu membuka pesan dari Nara yang belum kubaca sejak tadi sore.
Nara
Gue sama Eris udah dapat izin, Qia ada acara jadinya nggak bisa ikut. Tapi, dia nggak papa kalau kita tetap mau jalan. Lo gimana? Yuk caw! Gue udah nunggu-nunggu waktu kita bisa jalan dan nongkrong bareng, akhirnya kesampaian.
Aku baru saja akan membalas kalau aku tidak diizinkan oleh Mama, tetapi mendadak tanganku kaku karena batinku mengatakan bahwa aku harus ikut. Dalam lubuk hati yang terdalam, aku benar-benar merasa butuh sedikit refreshing dari kesibukanku sehari-hari. Aku telah mengorbankan apapun untuk fokus pada rapor dan sekarang aku benar-benar butuh jeda.
Lagipula, ini hanya nilai olahraga. Guru olahraga selalu santai dan tidak menuntut apapun dari muridnya, tetapi selalu memberi nilai baik. Aku tidak sok tahu karena memang begitu kenyataannya.
Aku memikirkan kata-kata yang pas untuk menjawab pesan Nara, tetapi aku tak menemukannya bahkan setelah lima belas menit berlalu. Sebenarnya satu-satunya yang harus kukatakan adalah aku tidak mendapat izin. Lebih tepatnya, aku sudah disanggah sebelum meminta izin pergi. Sesederhana itu. Namun, memikirkan bagaimana Nara begitu mendamba bisa jalan bareng seperti geng anak-anak lain dan mendengar suara hatiku yang terus meneriakkan kata "iya, aku bisa" membuatku tidak bisa mengatakan "tidak".
Lalu, tanganku tahu harus membalas apa secara tiba-tiba. Sedetik setelahnya, jari-jariku mulai mengetikkan sesuatu kepada Nara.
Me :
Aku menatap layar ponsel dengan tubuh membeku. Aku tidak tahu mengapa aku memilih mengatakan itu, seolah tubuhku sendiri yang bergerak tanpa menunggu perintah dariku.
Tring!
Nara :
Bener juga. Ya udah, besok kita ke kolam dulu. Sebentar aja ya.
Me :
Oke.
Bukannya lega, aku malah menyadari bahwa yang kulakukan barusan tidak benar. Lebih tepatnya aku menyadari yang barusan adalah sisi lain dari diriku. Sisi lain yang tiba-tiba muncul. Namun, saat aku terpikir untuk meralatnya, seolah aku bukan lagi menjadi Tuhan dari tubuhku, jariku tidak mau menggerakkan dirinya. Bahkan sampai akhirnya malam menjadi larut dan pagi datang, aku membiarkan diriku melakukan hal yang salah.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya.
*
Keesokan harinya, kami bertiga benar-benar melakukannya. Kami berangkat dari sekolah menaiki mobil menuju kolam sekitar jam 3 sore.
Untungnya kami masih harus sekolah dulu karena belum libur, jadi kedua temanku tetap membawa tas sekolah meski kutahu mereka tidak membawa apapun dalam tas mereka. Tidak sepertiku yang membawa handuk dan baju renang (tadinya aku ingin meninggalkannya dan menyimpannya di lemari bajuku, tetapi aku takut Mama mengetahuinya dan malah menimbulkan masalah).
Kami sampai di tempat yang dijadikan lokasi ujian praktik renang sekolah kami. Kebetulan hari ini jadwalnya adalah semua anak perempuan kelas 10 sehingga suasana menjadi ramai.
Tidak mau menghabiskan waktu lebih lama, aku, Nara, dan Eris segera menemui Pak Maul setelah membayar tiket masuk. Sebenarnya kalaupun kami tidak ikut berenang, kami harus tetap membayarnya sebagai ganti ketidakhadiran kami. Jadi, kami sebenarnya sama-sama rugi.
Namun, kami tidak peduli. Kami bukan orang yang punya waktu kosong banyak. Besok-besok, kami akan disibukkan kembali dengan aktivitas masing-masing. Seperti aku, yang harus mengikuti les lagi sebelum libur Natal, sekitar dua minggu lagi, meski sekolah sudah mau libur. Bahkan sekalipun kami punya, sulit untuk menggabungkan kami karena rumah kami yang jaraknya saling berjauhan. Jadi, kami rasa ini waktu yang tepat untuk kami bisa bersantai sejenak.
Kami menemukan Pak Maul tepat di depan pintu masuk kolam. Ia sedang berteriak kepada anak-anak lain, menyuruh mereka untuk tidak terpisah-pisah.
"Bapak," panggil Eris lebih dulu. Ia menyalami Pak Maul disusul kami yang mengekor di belakangnya.
"Hey, anak-anak MIPA 7 kan, ya?" seru Pak Maul.
"Iya, Pak," jawab Eris. Kemudian, gadis itu menoleh ke arah Nara, menyuruhnya untuk bicara duluan.
Nara maju. "Pak, kita izin ya, nggak bisa ikut renang-"
"Oh boleh. Lagi halangan kan ya? Ya masa lagi halangan, Bapak paksa renang? Nggak dong," ucap Pak Maul memotong omongan Nara.
Kami bertatapan. Semudah itu?
Nara kembali menghadap Pak Maul. "Hehe, iya nih, Pak. Jadi, boleh kan ya?"
Pak Maul mengangguk. "Iya sok, kalau kalian udah bayar tiket mah, nilainya udah masuk. Santai aja."
Kami mengangguk paham. Kemudian, kami pamit kepada Pak Maul dan keluar dari area kolam.
"Apa gue bilang? Guru olahraga tuh santai, nggak pelit ngasih nilai. Udah lah yuk caw. Ris, pesen kendaraan lewat ponsel lu aja dong. Gantian," seru Nara.
Eris mengangguk. Ia memesan go-car. Tidak lama, mobilnya datang dan kami segera masuk ke dalam mobil.
Eris dan Nara sama sekali tidak tahu bahwa aku sebenarnya masih tidak mendapat izin dari orangtua. Aku tidak bilang apa-apa pada Mama dan langsung pergi ke sekolah, berlaku seperti biasanya.
__ADS_1
Dan sekarang, meski hatiku mulai mengatakan seharusnya aku berhenti dari rencana burukku, di sisi lain, aku senang bisa jalan bersama Nara dan Eris. Aku membiarkan mobil membawaku meninggalkan kolam dan melakukan aksi yang tanpa sadar kususun dalam kepala sejak semalam.
Aku berharap ini adalah aksi yang pertama dan terakhir.