
"Kenapa... apakah ini akhirnya? "
"Seandainya aku bisa merebut yang mereka miliki... mengapa hanya aku yang mendapat penderitaan... "
***
Beberapa jam sebelumnya...
Di pagi hari, ada seorang lelaki muda berambut coklat gelap dengan matanya yang berwarna merah, sedang berdoa di depan dua buah makam.
"Baiklah Ayah, Ibu, Kaito berangkat dulu," ucap Kaito sebelum berangkat sekolah.
Kaito pun berjalan menuju sekolahnya di tengah perjalanan ("Kruruk..") suara perut Kaito yang lapar. "Sepertinya aku harus mampir ke kios roti di sana " ujar Kaito menuju sebuah kios roti di pinggir jalan.
"Permisi.. aku ingin membeli roti ini " ujar Kaito tergesa-gesa "Baiklah, harganya 80 yen " ucap bibi penjaga kios roti.
"Ini uangnya, terima kasih... Ham.." ucap Kaito, menggigit roti, dan berlari bergegas menuju sekolah.
"Kuharap tidak terlambat " gumam Kaito sembari mengunyah roti, namun ("Bruk!") "Aduh " ujar seorang pria tertabrak Kaito.
"Ah, sial rotiku jatuh " ujar Kaito "Ah, maaf " ucap Kaito meminta maaf "Apa... maaf, kau bilang?" ujar pria itu dengan wajah kesal.
"Apa kau tahu karena mu pakaianku jadi kotor?" ucap pria itu "Maaf aku tidak sengaja " ucap Kaito.
"Hei, mana bisa selesai dengan maaf saja! " pria itu membentak.
Lalu, setelah itu Kaito merogoh kantongnya dan mengambil uangnya "Ini sebagai permintaan maaf " ujar Kaito memberi pria itu uang.
__ADS_1
"Nah begini dong " ucap pria itu. "Baiklah permisi" ujar Kaito, dan berlari dengan tergesa-gesa menuju sekolah.
"Yosh untung saja belum terlambat " ujar Kaito melihat gerbang sekolah yang belum tertutup. Setelah itu, Kaito masuk ke sekolah dan menuju kelasnya.
Saat Kaito memasuki kelasnya, orang-orang menatap rendah dan jijik padanya seakan mereka sedang melihat kotoran, namun Kaito sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu.
Saat Kaito hendak duduk, ia melihat ada sampah di kursinya. Sebenarnya dia sudah tahu siapa pelakunya yang meletakkan sampah di kursinya, tapi ia tak berani menegur karena takut dengannya.
Saat Kaito hendak membersihkan sampah di kursinya.
"Hei Kaito apa yang kau lakukan?" ucap seorang murid sembari menabrak Kaito ke arah sampah di kursinya.
"Aghh!!" teriak Kaito saat tertabrak ke kursi penuh sampah.
Kaito menengok ke belakang untuk melihat siapa yang menabraknya.
"Ohh... kau Hugo, tidak kukira siapa tadi," jawab Kaito dengan takut.
Hugo, murid berandal di sekolahku dan orang yang sering membuliku, tubuhnya cukup besar seperti atlet tinju. Itulah salah satu alasan aku tak berani dengannya.
"Hahahahahaha " tawa beberapa murid di kelas.
"Hahaha, dia berpura-pura tidak tahu, lihat wajahnya konyol sekali hahaha" ucap seorang murid sembari tertawa.
"Eww memalukan sekali dirimu, pagi-pagi sudah jadi bahan tertawaan" ucap seorang murid perempuan.
"Yuna " ucap Kaito sembari melihat murid perempuan tadi.
__ADS_1
"Hah!!.. Tak usah sok akrab denganku, pakai memanggil nama panggilanku, jangan sok kenal denganku hanya karena kita pernah satu sekolah saat kecil " ucap Yuna sembari membentak.
"Baiklah, Yunari," jawab Kaito dengan merendah.
"Lihat bahkan dia tak diakui oleh teman masa kecilnya sendiri hahaha " ucap salah seorang murid sembari tertawa.
"Hah! Aku bukan teman masa kecilnya, kebetulan saja kami satu sekolah saat kecil " jawab Yunari.
Lalu, Kaito membersihkan sampah di kursinya sembari diejek dan ditertawai murid sekelasnya.
"Sudah, senyap! kelas akan segera dimulai!" ucap ketua kelas sembari menenangkan kelas. "Baik.." jawab beberapa murid.
"Hah... kapan ya semua ini akan berakhir " keluh Kaito dengan pelan sembari menghela nafas.
Kaito pun lanjut membersihkan sampah di kursinya.
Lalu, setelah Kaito membersihkan sampah dan duduk di kursinya, pelajaran baru saja akan dimulai dan guru akan segera tiba di kelas, tapi tiba-tiba muncul sebuah lingkaran aneh penuh simbol yang bercahaya di lantai kelas.
"Apa itu? Silau sekali... silaunya.." ujar beberapa murid.
"Ugh, silau" ujar Kaito.
Bersamaan dengan redupnya cahaya, seketika mereka sekelas berada di sebuah lapangan, dikelilingi pilar.
"Apa yang baru saja terjadi?" ucap Kaito dengan bingung.
Bersambung.....
__ADS_1