
Ardian Teo samudra remaja berwajah tampan itu menatap Ara dari ujung rambut sampai ujung kaki, memindai setiap jengkal lekuk tubuh Ara tak tersisa.
Gadis bernama Sukma Klara itu tertuduk dalam. Mendapat tatapan seperti itu dari laki laki yang baru dia temui beberapa jam yang lalu. Ini bukan pertemuan pertama, mereka pernah bertemu beberapa tahun yang lalu.
Teo, masih asik memindai rupa gadis di depannya.Parasnya lumayan cantik, bibirnya merah merekah, hidungnya juga mancung, alis matanya juga lumayan tebal, di tambah bulu matanya lentik dan tebal.
Semua yang ada pada Ara tampak alami tanpa polesan, beda dengan gadis yang selalu bersamanya yang memoles wajahnya dengan make up agar terlihat sempurna.
Teo masih terus memindai tubuh Ara, kini manik hitamnya menatap lekat pada tonjolan dada Ara yang terlihat over kapasitas.
Sampai di sini, Teo menelan salivanya sendiri membasahi tengoroannya yang tiba-tiba mengering, akibat dua tonjolan yang melambai di balik baju yang tak mampu terkancing dengan sempurna.
Membuat imajinasi gilanya kambuh, Teo menghela nafas kasar, membuat Ara yang ada di depannya semakain menunduk dalam.
"Ra kamu pasti sudah tau kan kenapa kita berdua perlu bicara?" tanya Teo.
"Iya kak." sahut Ara pelan.
Manik hitam milik Teo kembali memindai setiap jengkal lekuk tubuh Ara. Tubuh yang sangat sempurna untuk gadis seusianya.
Kalau dia tau Ara semolek ini, dia pasti mengiyakan permintaan kakeknya yang sempat dia tolak mentah-mentah, bahkan sempat adu mulut dengan penuh emosi, yang ujung-ujungnya kakek dirawat di rumah sakit. Itu karena Ara yang dia kenal tiga tahun lalu bukan Ara yang dia lihat sekarang.
Tiga tahun lalu Ara yang dia kenal tidak seperti ini, gadis kerempeng dengan rambut kuncir kuda dan kulitnya sedikit gelap.
Dengan fisik seperti itu mana mau Teo menjadikannya istri. Mana mungkin dia mau menikahi wanita yang bukan seleranya, bagaimana dia mampu menjalani hari-harinya dengan wanita di bawah standartnya.
Makanya, saat kakek kembali mengungkit perjodohan mereka dan meminta Teo menikahi Ara dalam tempo dua bulan ini, Teo meradang tak karuan.
Dia bahkan menelpon Ara, mengancam Ara agar mengikuti arahannya menolak perjodohan mereka, dan Ara setuju.
Teo berdecak kesal lalu menatap Ara yang terus saja tertunduk, cuma beberapa detik Teo kembali memalingkan wajahnya ketempat lain.
Darahnya menghangat saat netranya kembali membentur dua tonjolan milik Ara, kalau tak segera menghindar entahlah.
"Sukma Klara." ucap Teo sedikit tegas, Ara sontak mengangkat wajahnya menatap Teo.
Mata bulat itu mengerjab beberapa kali menatap Teo yang juga tengah terpaku menatapnya.
"Sepertinya rencana kita tak berjalan lancar, kita belum menjalankan rencana kita, kau lihat kakek malah masuk rumah sakit, bagaimana menurut mu?" ucap Teo pelan, tak ingin di dengar penghuni rumah lainnya.
"Maaf kak, aku tidak sampai hati melihat keadaan kakek. T-tapi, aku tetap ngikut keputusan kakak kok, apa pun itu aku ikut." ucap Ara takut-takut.
__ADS_1
"Aku tidak ingin jadi cucu durhaka Ra, yang menyesali keputusannya hanya demi ego sendiri, maaf Ra aku terpaksa menuruti kemauan kakek." jelas Teo.
Arah mengangkat wajah cantiknya menatap Teo, mata bulatnya beradu pandang dengan manik hitam milik Teo, ada getar di sudut hatinya, Ara kembali tertunduk menekuri lantai.
Bagi Ara Teo memanglah lelakinya, usia mereka hanya beda satu tahun, sejak kecil kakek Teo dan mama Ara sudah menjodohkan mereka berdua, itu bukan hal baru, kalimat itu sudah sering di ucapkan pada pertemuan keluarga.
Tapi sudah tiga tahun ini mereka tak pernah bertemu, semenjak ibu Ara dipindah tugaskan ke kalimantan, baru satu bulan ini dia kembali di pindahkan kesekolah lamanya bersama Teo.
"Jadi kita sepakat menerima perjodohan ini Ra?"
"Iya kak." jawab Ara seraya menatap sekilas wajah tampan Teo. Lalu kembali tertunduk. Bertepatan dengan kedatangan seseorang dari dalam.
"Bagaimana sayang?" tanya mama Teo, yang tiba tiba udah nongol di antara mereka. wajah cantiknya menatap ke Teo penuh harap.
Teo pura pura menarik nafas dalam. "Baik kami sepakat akan menikah, tapi aku tidak ingin ada yang tau pernikahan ini selain keluarga, sampai kami bisa tinggal bersama." jawab Teo tegas.
"Iya, iya, itu pasti sayang. Tidak ada yang boleh tau selain keluarga, nanti ngaruh ke sekolah kalian. Baiklah mama sampaikan berita gembira ini sama kakek mu dulu ya." sahut mami Teo dengan mata penuh binar.
Manik hitam Teo kembali menatap Ara, berbagai perasaan berkecamuk di dalam hatinya, kini dia tak kan punya pilihan Aralah pendamping hidupnya kelak.
"Siapkan mentalmu Ra, kakek pasti tak kan menunggu terlalu lama untuk menikahkan kita, apa lagi penyakit kakek semakin parah."
Ara menatap Teo sekilas lalu mengangguk pelan, Lelaki ini semakin bertambah tampan di matanya. Tiga tahun tak bertemu banyak perubahan yang terjadi pada tubuh Teo.
"Sayang ayo, kalian di panggil kakek."
Suara Tante Feby membuyarkan lamunan Ara, Ara menatap sekilas pada Teo yang memberi kode dengan gerakan kepalanya agar mengikuti langkah mamanya.
Di kamar kakek, tampak sudah berkumpul keluarga Teo dan ibu Ara. Sementara kakek terbaring lemah dengan selang infus di tangannya.
Sebenarnya Dokter tak mengijinkan kakek di rawat di rumah karena penyakitnya yang lumayan parah, tapi kakek kekeh minta di bawa pulang, atau dia nekat pulang sendiri. Papa Teo pun terpaksa mengalah mengikuti kemauan ayahnya.
"Kemari cucu-cucu kakek." kakek melambai dengan sangat lemah kearah Teo dan Ara.
Teo melangkah mendekat di ikuti Ara, lalu duduk di samping kakek.
Keadaan kakek tampak tak baik-baik saja, wajahnya telihat sangat pucat dengan nafas yang tersenggal senggal, sungguh mengkhawatirkan.
"Teo, kakek akan mengurus pernikahan mu dengan Ara, dalam waktu dekat ini kalian akan merlangsungkan pernikahan. Jangan membantah, kakek tak punya banyak waktu menunggumu lama. Kakek juga tak menerima penolakanmu, jadi, turuti saja perintah kakek, ini demi janji kakek pada ayahnya Ara. Kakek tidak mau mati dengan masih berhutang janji pada seseorang." kakek bicara dengan nafas tersenggal, mata kelabunya terlihat bergetar menatap keduanya.
"Baiklah kek, kami setuju dengan permintaan kakek. Sekarang kakek jangan mikir macem-macem, fokus saja pada kesehatan kakek, aku pastikan bahwa kami pasti menikah sesuai keinginan kakek." sahut Teo.
__ADS_1
Kakek tampak tersenyum, Teo sudah dewasa sekarang. Sudah mampu membaca situasi dan keadaan. Sudah tau mengambil keputusan yang semestinya dia ambil.
"Ara maafkan kakek, ini semua demi janji kakek pada almarhum papa mu."
Ara menyentuh jemari kakek Teo, mengusapnya pelan. Selama ini Ara tak memiliki keluarga selain keluarga Teo, baginya kakek sudah menjadi bagian dari hidupnya.
"Ara mengerti kek, bukankah kekek sudah sering memberitahu Ara sedari kecil. Bahwa kak Teo adalah calon suami Ara." ucap Ara dengan senyum.
Kakek kembali tersenyum, Ara masih mengingat ucapannya itu membuat hatinya lega. Sangat bagus kalau Ara menerima perjodohan ini, setidaknya Ara bisa mendinginkan hati Teo yang gampang memanas.
Setelah bincang-bincang sejenak, ibu dan Ara pamit pulang.
"Diana sama Ara pulang dulu pak sudah malam, besok dia akan kesekolah?" pamit ibu Ara pada kakek.
"Iya hati-hati di jalan."
Tante Feby memeluk Diana yang akan dia panggil besan bentar lagi.
"Kami pulang dulu jeng." pamit ibu
"Iya hati-hati di jalan jeng."
Diana mengangguk, kemudian beranjak pergi meningalkan kediaman keluarga Suteja samudra.
***
Diana fokus pada jalanan di depannya, sesekali dia menatap Ara yang juga fokus pada jalanan yang mulai lengang, maklum sudah lewat tengah malam.
"Ara."
"Iya buk."
"Bagaimana rasanya?"
"Rasa apa bu?"
Wanita berparas ayu itu tersenyum menatap putrinya. "Jangan pura-pura, bukankah Teo sampai saat ini masih menjadi lelakimu?"
Ara cuma senyum menanggapi ucapan ibu, ibu benar. Dia menjaga hatinya untuk lelaki yang telah di jodohkan dengannya sedari kecil.
Walau selama sebulan ini dia merasa kecewa dengan kelakuan Teo, tak disangka dia sudah bergelar play boy di sekolahnya.
__ADS_1
Jadi apa kabar dengan hatinya yang selalu setia ...
Happy reading.