Isteri Rahasia Kakak Kelas

Isteri Rahasia Kakak Kelas
Nikah dan Kencan pertama


__ADS_3

Ara mematut pantulan dirinya di cermin, sangat anggun, dengan kebaya panjang berwarna putih dan kain wiron bermotip bunga Ara tampil Anggun dan mempesona.


"Ara sayang, cepat keluar, udah mau mulai tuh acaranya." suara ibu memanggilnya terdengar di balik pintu.


"Iya buk sebentar!" seru Ara dari dalam kamarnya. Ara menyentuh dadanya yang terasa berdegup kencang, hari ini adalah hari pernikahannya dengan Teo, babak baru dalam hidupnya baru akan dimulai.


Dengan langkah pelan Ara melangkah menuju tempat di mana akan berlangsung akad nikah mereka.


Diruang keluarga Ara, tampak beberapa orang sudah berkumpul salah satunya tentu saja Teo si pengantin pria.


Karena pernikahan ini tertutup jadi hanya keluarga saja yang hadir di sini, di tambah dua saksi dari petugas komplek perumahan tempat tinggal Ara pak Rt dan pak Rw.


Kedatangan Ara menyita perhatian semua orang yang ada di ruangan itu, termasuk Teo. manik hitamnya tak berkedip menatap calon istrinya yang tampak berbeda hari ini, dia tampak begitu cantik dan seksi.


Kebaya yang dipakainya mencetak jelas lekuk tubuh Ara yang bak gitar sepanyol. Kini bukan saja dadanya yang menonjol seksi, tapi bokong Ara juga.


Ara mengambil tempat di samping Teo, di depan mereka sudah ada penghulu nikah, dengan kaca mata yang sedikit turun tak pada posisi, pak penghulu memeriksa lembaran kertas dibatas meja.


"Ardian Teo Samudra, Sukma Klara, apa benar itu nama kalian?" tanya penghulu nikah dengan mata sedikit menyipit memperhatikan dua bocah di bawah umur yang akan menikah hari ini.


"Iya pak," sahut Ara dan Teo berbarengan.


"Ardian Teo samudra dan Sukma Klara kalian tidak lupa kan, berapa usia kalian saat ini?"


"Tidak pak."


"Usia kalian belum memenuhi sarat untuk melakukan pernikahan, setidaknya sampai kalian tamat SMA, tapi karena menurut keluarga kalian ini nikah gantung maka saya setuju untuk menikahkan kalian." elas penghulu nikah sambil menatap keduanya bergantian, dengan kacamata yang turun di ujung hidung.


Tak butuh waktu lama bagi Teo sampai saksi mengucap kata SaH, pertanda keduanya sudah jadi pasangan suami istri yang sah.


Setelah jamuan makan siang para tamu berpamitan pulang termasuk Teo dan keluarganya.


"Ara, Teo, tante bawa pulang dulu ya, untuk sementara kalian tinggal terpisah sampai kau tamat SMA, agar sekolah mu tak terganggu, nanti kalau Ara sudah tamat, baru kalian boleh tinggal satu rumah bareng Teo, Ara paham kan?" jelas tante Feby.


"Tidak apa tante Ara paham kok." sahut Ara dengan senyum di bibirnya.


"Teo Kemari pamitan gih sama istrimu." panggil feby.


Teo berjalan mendekati Ara, sikap Ara yang tampak gugup membuat Teo gemas, ingin rasanya dia melarikan Ara saat ini juga, bukankah srudah hallal baginya memberikan sentuhan pada Ara.


Dia tak habis pikir, gadis kerempeng yang dulu dia kenal kenapa bisa menjelma jadi begitu seksi.


"Ra Aku pulang ya." pamit Teo pada Ara, Ara mengangguk pelan.


Dengan di antar Ara dan ibunya, Teo dan keluarga meninggalkan kediaman Ara.


Mungkin karena mereka tak tinggal serumah setelah menikah, membuat Ara merasa biasa saja seperti tak ada yang terjadi.


Rumah kembali sunyi hanya ada ibu dan Ara sekarang, Ara mengenakan baju tidur sebatas lutut berwarna biru, baju dengan kancing depan itu tak mampu tertutup rapat, membuat rongga pada kancing, membuat sedikit gambaran isi dalamnya.


Sudah satu jam lebih Ara berbaring di sofa ruang tv, sementara ibu tengah mengerjakan tugas kantornya.


Drrrttt!!


Ara menatap ponselnya yang terdengar bergetar, Ara berdecak kesal, siapa sih yang menelponnya, apa gak tau dia lagi pewe.

__ADS_1


Ara terlonjak kaget saat menatap layar hp nya. pada layar tertera nomor Teo. ya Teo yang telah menelponnya. Ara tak percaya Teo menelpon dirinya, ini di luar prediksinya.


"Malam Ra."


"Malam kak."


"Kamu sibuk?"


"Gak, lagi baring depan tv kok kak."


"Bagus, cepatlah keluar aku menunggumu di taman."


Ara terdiam, Teo memintanya menemuinya di taman, ada apa?


"Ra, kok diem, cepatlah." desak Teo tak sabar.


"Baik kak."


"Ra, jangan bilang ibu ya." pinta Teo, Ara bengong kalau gak boleh bilang ibu, trus dia harus pakai alasan apa keluar rumah, apa lagi ini sudah malam, ibu pasti gak akan lolosin Ara gitu aja.


"Buk pembalut kita masih ada?"


"Habis, emang kamu dapet Ra."


"Iya buk."


"Ya udah beli sana."


"Aku sekalian mau beli bakso bakar ya buk."


"Bakso bakar?" ibu menghentikan aktivitasnya sejenak, menatap ke Ara dengan kening berkerut, kok tumben nih anak mau beli bakso bakar.


"Ya udah jangan lama-lama." pesan ibu pada Ara.


"Iya buk."


Ara bergegas pergi ketaman menemui suaminya yang katanya sudah menunggu di sana.


Rumahnya memang tak begitu jauh dari taman kota, kalau jalan kaki paling lima menitan sudah nyampek, seperti saat ini Ara memilih jalan kaki ke taman kota.


Sesampai di taman, mata bulatnya mencari sosok Teo di antara orang yang lalu lalang di sekitarnya, tapi Ara tak menemukan sosok Teo di sana.


Ara baru saja akan menelpon Teo, saat ponselnya berdering, panggilan masuk dari Teo.


"Halo kak."


"Ra, kamu lihat mobil hitam di sebelah kirimu?" tanya Teo. Ara berpaling ke sebelah kirinya mencari mobil hitam seperti yang di ucapkan Teo tadi.


"Liat kak."


"Bagus, aku menunggu di dalam mobil hitam itu."


"Tapi kak."


"Gak ada tapi tapian."

__ADS_1


"Baik kak."


Dengan penuh keraguan Ara mendekati mobil hitam yang di maksud Teo, Ara sudah ada di samping mobil hitam, tapi dia tak punya keberanian untuk masuk.


Ara dilema tarik ulur terjadi di benak Ara, masuk kemobil atau tetap menunggu di luar menunggu Teo menghampiri dia.


Tapi sejurus kemudian pintu mobil terbuka, tangan Teo menarik tubuh Ara masuk kemobil.


Ara duduk di sebelah Teo dengan perasaan gelisah, mata bulatnya tampak mencari sosok lain selain mereka.


"Cari siapa?" tanya Teo seraya menatap Ara.


"Kakak cuma sendirian gak bawa temen?" tanya Ara.


"Kita mau kencan ngapain bawa temen."


"Kencan?"


"Iya Ara, kamu milikku sekarang, jadi aku bebas dong mau ngapain." ucap Teo penuh ketenangan, mendengar ucapan Teo Ara repleks sedikit menjauh.


"Tapi kata kakek, kita gak boleh ngapa ngapain sampai aku tamat SMA kak." ucap Ara mengingatkan Teo.


"Aku tau." sahut Teo. Kini Teo bergerak mendekat, sementara Ara tak lagi bisa menghindar tubuhnya sudah menempel di dinding mobil.


"Kalau tau, kenapa kakak mau melakukannya?"


"Melakukan apa Ra, aku cuma mau mencium bibir mu, apa tidak boleh?" tanya Teo dengan kalimat berani. Siapa suruh istrinya begitu seksi dan cantik, sekali bertemu saja sudah membuatnya jatuh cinta.


"Ingat kak aku masih sekolah, aku gak mau hamil sebelum tamat SMA." sentak Ara. dia berusaha mengingatkan Teo. Teo terkekeh.


"Aku cuma mengajak mu berciuman Ra, darimana rumusnya ciuman menyebabkan kehamilan, tiga tahun ini kamu sekolah dimana sih Ra." ucap Teo sambil terbahak, gak tau lugu apa oon nih bini, Teo tak habis pikir.


"Ya siapa tau habis nyium kakak mau yang lain." ucap Ara bersungut-sungut. Kalimat mau yang lain tertangkap apik di telinga Teo.


"Yang lain apa?" tanya Teo dengan suara sedikit serak, membuat bulu kuduk Ara meremang seketika.


"Apa Ra." desak Teo. telinganya tak sabar mendengar Ara mengucapkannya.


"Ya, itu..." sahut Ara gugup, sebab Teo sudah menempel padanya begitu dekat, Ara bahkan mampu merasakan debar jantung Teo dengan jelas.


Teo yang sedari siang tak mampu memejamkan mata karena dada over kapasitas milik Ara,tak ingin menahan hasratnya lagi, bukankah mencium istri sendiri bukan termasuk dosa.


Jemari Teo singgah di tengkuk Ara, menariknya pelan menuju kearahnya. Dengan jarak yang begitu dekat Teo dapat mencium aroma manis dari bibir Ara.


Teo tak ingin menunda hasratnya terlalu lama dengan segenap rasa dia melabuhkan sentuhan bibirnya pada bibir merah Ara, mereguk aroma manis yang memabukkan, menerbangkan imajinasinya melambung cukup tinggi.


Ara berasa kehabisan nafas, apa memang ciuman seganas ini. Ara berusaha melepas rengkuhan Teo agar Teo melepas ciuman panasnya.


Perlahan Teo melepas tubuh Ara, menatapnya penuh gairah, kalau di teruskan bisa-bisa dia hilang kendali. di tatap begitu membuat pipi Ara tampak merona, ini pertama kalinya dia berciuman, beda dengan Teo yang lebih berpengalaman.


"Kak sebaiknya aku pulang, aku sudah lama meninggalkan rumah, takut ibu khawatir." ujar Ara, dia takut kalau Teo akan mengulanginya lagi, ciuman Teo membuat dadanya terasa mau meledak


"Kau tidak sedang menghindariku kan Ara." ucap Teo menyelidik.


"Tentu saja tidak kak" sahut Ara seraya tertunduk dalam

__ADS_1


"Baiklah, tapi bisakah kau memberi aku sekali lagi."


Happy reading.


__ADS_2