
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Buk Fatma yang sedang menjelaskan beberapa rumus fisika, terpaksa berhenti oleh sorak sorai anak kelas dua B. Dengan terpaksa dia melipat bukunya lalu menyimpannya ke dalam tas sandang miliknya.
"Sampai bertemu lagi dua hari kedepan." ucap buk Fatma sebelum meninggalkan kelas. Anak-anak pun mulai keluar menyusul langkah buk Fatma.
Ara sudah akan berdiri saat ponselnya berdenting. Ternyata pesan dari Teo.
"Kita pulang bareng." bunyi pesan Teo. Ara mengernyitkan alisnya, pulang bareng? Gak salah.
"Hey, gak niat pulang?" Arga menoyor bahu Ara, saat melihat Ara masih belum beranjak dari kursinya.
"Emang boleh ya, nginep di sini?" Ara balik nanya.
"Boleh, nginepnya bareng aku ya."
"Ihh ogah!" cibir Ara sembari membulatkan matanya.
Arga terbahak, siapa coba yang gak mau nginep bareng Ara.
"Ya udah ayok pulang. Kok malah anteng di kelas. Beneran mau nginep?"
"Duluan deh. Aku ada janji dengan seseorang." sahut Ara sambil nyengir. Mendengar ucapan Ara, wajah ceria Arga berubah murung.
"Siapa?" tanya Arga penasaran. Ara tak menyahut, membuat Arga semakin curiga.
"Udah main rahasia-rahasian sekarang kamu Ra." ujar Arga di barengi dengan senyum terpaksa. Ada kekecewaan tersirat pada sorot matanya.
Dari pertama masuk sekolah ini, Argalah orang pertama yang menjadi temannya. Tidak ada rahasia antara mereka berdua, kecuali tentang perasaan suka Arga pada Ara.
Ara hanya tersenyum sungkan mendengar kalimat bernada kece dari Arga. Dia juga tak bisa berterus terang tetang hubungannya dengan Teo.
"Ya udah deh, aku duluan ya." pamit Arga sembari menepuk pundak Ara. Ara hanya mengangguk sembari tersenyum.
Ponsel Ara kembali berdenting, rupanya pesan masuk dari Teo.
"Tunggu di parkiran." bunyi pesan Teo.
Lima menit kemudian Ara sudah berada di halaman parkir, tepat di samping mobil Teo.
Iris hitamnya mencari sosok Teo tapi tidak ketemu. Ara berdecak kesal, kemana dia? Bukannya bel pulang sekolah sudah berbunyi sedari tadi.
Ara sudah akan meninggalkan tempat parkir, saat bayanganTeo terlihat di ujung parkiran.
Tubuh jangkungnya terlihat sangat tampan dengan langkah kakinya yang tenang. Tak heran kalau Teo jadi idola sekolah ini, wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas. Bola matanya hitam dan tajam etajam mata elang. Dengan hanya memandang saja Teo mampu membuat gadis-gadis jatuh cinta.
"Maaf Ra udah buat kamu nunggu lama, ada urusan mendadak tadi. Gak apa-apa kan?" ujar Teo begitu sampai di depan Ara. Ara mengangguk sebagai bentuk jawaban.
'urusan mendadak udah kayak orang. kantoran aja' gerutu Ara dalam hati. Yang ada paling juga dia sibuk meladeni fans beratnya.
Teo melajukan mobilnya meninggalkan halaman parkir menuju ke Jalan Raya.
Rara melirik wajah suaminya sekilas. Dengan seragam sekolah yang kebuka kancing atasnya dia terlihat keren.
"Ngajak aku pulang bareng, kakak nggak takut ketahuan fans berat kakak?" tanya arah memulai percakapan.
Theo menoleh menatap arah sembari tersenyum miring. "Aku kira kamu yang takut ketahuan Arga?" cibir Teo.
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau ketahuan Arga?"
"Siapa tahu kamu takut. Gebetan kamu marah?"
mendengar kalimat Theo Ara membuang muka sambil menggerutu "Gebetan apaan, orang cuma temen."
Melihat wajah cemberut istrinya, Teo terbahak sembari mengacak Puncak kepala arah dengan lembut.
"Bagus kalau bukan gebetan, jangan berani macem-macem kamu sama dia, kalau nggak mau dia kuhajar." ucap Teo, bernada ancaman.
"Apaan sih mau menghajar anak orang, udah kayak preman aja."
"Kamu pikir preman aja yang bisa hajar anak orang. Suami orang juga bisa, mau bukti?"
"Enggak." sahut Ara ketus.
"Aku juga gak bakal macem-macem." imbuhnya dengan suara rendah. Mau macem-macem juga dengan siapa, dari dulu yang ada di hatinya hanya Teo.
Mendengarnya Teo tersenyum, kemudian tangannya meraih jemari Rara membawanya kepangkuannya.
"Mau apa?!" seru Rara, sembari berusaha menarik tangannya dari genggaman Teo. Tapi sayang tenaga Teo lebih kuat darinya, tangannya tak bisa dilepas.
"Pegang tangan, nggak boleh?" tanya Teo sembari menaikkan alisnya.
"Habisnya Kakak suka sentuh-sentuh sembarangan sih." sungut Rara kesal.
"Kasihan jadi suami kamu ya Ra, pegang tangan aja diomelin. Suami lain malam pertama langsung udah boleh bikin anak." keluhnya sedih.
Rara membulatkan matanya menatap Teo, bikin anak? Ngomong apa sih dia?! pipi Rara langsung bersemu merah.
"Kenapa pipimu merah, bikin orang naf su aja."
"Kakak kalau ngomongnya jorok gini, besok-besok gak usah pulang bareng deh!" sungut Rara kesal.
Teo terbahak oleh ucapan Rara, tawanya yang lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan tersusun rapih. Saat dia tersenyum, Lesung terlihat di sudut bibirnya. Membuat Teo terlihat benar-benar tampan.
Rara buru-buru beralih pandang, kalau terus menatap Teo, dadanya bisa meledak. Rara baru tau ternyata begini rasanya dekat dengan Teo.
Kini Rara memilih diam sambil memandang keluar jendela.
"Hey, kenapa diam." ujar Teo sembari menarik tangan Ara yang masih berada di pangkuannya.
Ara melirik sekilas ke Teo, kemudian kembali menatap keluar jendela. Kelakuan Ara malah membuatnya gemas.
"Jangan diam, aku bosan." rengek Teo.
Ara menoleh menatap Teo yang juga menatap ke arahnya. Mimik wajahnya terlihat manja, tidak di ragukan lelaki ini benar-benar play boy. Dia lihai merayu wanita.
"Gini cara kakak ngerayu cewek?" tebak Ara tak senang.
Teo menggeleng. "Enggak."
"Bohong."
"Aku gak bohong. Aku gak pernah ngerayu wanita selain kamu."
__ADS_1
"Gak percaya."
"Beneran Ra, ceweknya yang ngerayu aku, akunya enggak kok."
"Haiis! Dasar!" umpat Ara, sontak jari mungilnya mencubit pinggang Teo geram.
"Adu! Aduh! Sakit Raa."
"Jail sih rasain tuh!"
"Di cium sayang, jangan di cubit. Sakit."
"Ogah! Aku nyesel di cium kakak. Gak tau tuh bibir bekas siapa aja." rajuk Ara berusaha menarik tangannya, yang masih di genggam Teo.
"Hey jangan fitnah. Aku gak pernah cium cewek selain kamu."
Ara tertawa sarkas. Lelaki se-play boy Teo gak pernah cium cewek? Impossible.
"Pacarnya banyak gitu, mana mungkin gak ciu man."
"Hey, hey! Kamu hobi ya fitnah suami. Mana ada aku pacaran."
"Tapi gosipnya bilang gitu."
"Jangan percaya sama gosip. Namanya juga gosip, beritanya gak bener."
Ara mencebik, kalau gak percaya gosip masak harus percaya sama Teo?
Tapi itu benar, bukan bualan Teo. Dia memang sering jalan bareng temen sekolahnya yang cewek. Tapi hanya jalan, tidak lebih.
Teo lelaki pemilih, jadi sulit dapat pacar. Sebenarnya ada beberapat teman wanitanya yang pernah dia taksir. Tapi setelah dekat Teo malah ilfil dengan sifatnya dan selalu begitu. Jadi kesannya dia sering gonta ganti pacar. Ditambah lagi cara bicaranya yang pulgar memperkuat dugaan orang tentangnya.
"Sudah sampai." ujar Teo, sembari menepikan mobilnya di halaman rumah Ara.
"Tuh lepas dulu," ucap Ara, sembari menunjuk tangannya yang masih di gengam Teo, dengan dagunya.
"Aku udah anterin kamu dengan selamat. Terus kamu gak mau ngasih sesuatu gitu?"
Ara nyengir. "Oh iya lupa. Makasih kak."
"Makasih doang?"
"Iya, memangnya kakak mau aku ngasih apa?"
Teo tak menyahut, dengan gerakan cepat dia menyentuh tengkuk Ara membawanya mendekat kearahnya. Lalu dengan lembut dia menyesap bibir merah yang sedari tadi mendikte dirinya tanpa henti.
Ara tak bergeming, gerakan cepat dari Teo membuatnya tak sempat menghindar. Tubuhhnya gemetar merasai bibir basah Teo tengah melu mat bibirnya dengan penuh perasaan.
Teo melepas pagutannya dengan nafas terengah. "Lain kali pejamkan matamu saat kita berciuman." ujar Teo dengan suara rendah, terdengar sangat lelaki. Sembari menyeka bibir Ara dengan ibu jarinya.
"A-apa?" tanya Ara linglung.
Teo terkekeh. "Tidak ada, sudah sana turun. Kalau kamu gak turun, ciu mannya bisa nambah lagi loh." sahut kembali ke mode jail.
Tak menunggu dua kali, Rara segera berhambur keluar dari mobil Teo. Teo kembali tertawa melihat tingkah Ara.
__ADS_1
Siapa sangka dia akan sebahagia ini di dekat Ara. Untung saja dia tak jadi menolak Ara. Kalau tidak dia pasti menyesal seumur hidup.
Bersambung