
Breng sek! Teo benar-benar breng sek. Sejak kapan mereka dekat, lalu kenapa harus Klara yang dia dekati. Klara adalah miliknya seorang, bukan milik lelaki play boy seperti Teo. Umpat Arga, dalam hati.
Arga benar-benar geram setengah mati, ingin rasanya dia menyeret Klara dari hadapan Teo. Melihat Klara berada di samping Teo membuat hatinya terbakar api cemburu. Arga tak habis pikir kenapa Teo begitu serakah, dia punya Widuri dan Velisa, kenapa masih mendekati Klara.
Selama jam pelajaran berlangsung, tak satupun materi yang di sampaikan guru, nyangkut di otaknya. Di kepalanya hanya ada Klara.
Klara menatap punggung Arga di depannya. Sejak masuk kelas, Arga sama sekali tidak ada menyapanya.
Klara bisa menebak diamnya Arga karena apa. Itu pasti karena dia dan Teo sangat intim pagi ini. Tapi bukan Arga saja yang mendadak marah, beberapa teman wanitanya yang ramah mendadak berubah sinis, mau bagai mana lagi, hubungan mereka sudah terlanjur terekspose.
Beruntung mereka taunya Teo dan Klara cuma pacaran. Kalau mereka tau Teo dan Klara sudah menikah, entahlah apa yang bakal terjadi.
Saat jam istirahat, Arga meminta waktu untuk bicara. Ini terdengar bukan seperti Arga. Pria yang saban hari selalu bersikap ceria itu, mendadak jadi begitu dingin dan kaku.
Tatapan matanya juga tidak selembut biasanya. Ini membuat Klara sedih. Benar kata orang, bahwa persahabatan pria dan wanita mustahil tidak melibatkan prasaan.
"Kau kenapa?" tanya Klara, sebelum Arga angkat bicara.
Arga menatap Klara, lekat. Ada banyak kata yang ingin dia katakan untuk melampiaskan rasa cemburu yang membakar hatinya.
"Sejak kapan? Kenapa aku tidak tau." Arga balik nanya.
"Karena ini kamu marah?"
"Aku gak marah."
"Oh ya, terus apa? Dari pagi kamu gak tegur aku lo, terus sikap macam apa ini?"
"Aku hanya kesal, kenapa harusTeo? Kamu memangnya gak tau, Teo seperti apa? Dia play boy Ra!"
Klara mende sah berat. "Terus gimana dong, kami udah jadian Ga, dan aku juga suka Teo. Gak perduli dia seperti apa, hati ku udah terlanjur milih Teo."
Arga berdecak kesal. Terlihat jelas dia sangat panik, sampai-sampai dia menendang meja taman di depannya.
"Aku yang lebih dulu dekat sama kamu kan Ra, Lalu kenapa tiba-tiba kamu bilang kamu suka Teo."
"Maksud kamu?"
Arga membeku, dia tak ingin Klara tau perasaannya. Hampir saja dia mengungkapkan perasaannya yang selama ini dia simpan dengan begitu rapih. Tidak, Klara tidak boleh tau.
Arga menatap Klara lekat-lekat. Kenapa wajahnya bisa terukir seindah ini, setiap kali menatapnya, membuat jantung Arga berpacu sangat kencang.
__ADS_1
"Aku hanya takut, Teo mempermainkan perasaanmu. Yang aku tau, Teo gak pernah serius ke satu hati. Selama tiga tahun dia di sekolah ini. Entah udah berapa hati yang dia singahi, bahkan orang sekelas Velisa saja gak mampu membuat dia puas." ucap Arga. Sorot matanya sudah berubah lembut seperti biasa.
Klara tau itu, tapi bagaimana lagi. Mereka bahkan telah mengucapkan janji suci saat ijab kabul waktu itu. Ingin mundur juga sudah terlambat. Lagi pula, hati Klara hanya menginginkan Teo. Dari dulu, sekarang dan nanti.
"Kau masih temanku bukan?" tanya Klara.
Arga terdiam sesaat, kemudian mengangguk ragu. "Kalau begitu, dukunglah setiap kepusanku. Bisakan? Kalau suatu saat nanti Teo benar-benar menyampakkan aku, kamu maukan menjadi tempat bersandar, dan mendengar keluh kesahku kan."
Arga mende sah berat. Klara, apa kau tidak tau. Merelakan orang yang kita cintai untuk orang lain itu benar-benar sakit.
"Demi kebahagiaanmu Klara. Aku akan coba."
Klara tersenum. "Terimakasih, kau memang sahabatku."
Arga tersenyum kecut, sahabat? Dia ingin labih dari itu.
"Udah kelarkan?" tanya Klara.
Arga mende sah lagi. "Iya." ucapnya pasrah.
"Teo mencariku." ucap Klara, sembari memperlihatkan hpnya yang berisi chat dari Teo.
Wajah Arga berubah sendu, walau dia mengangguk setuju. "Pergilah." ucapnya di barengi senyum yang sangat menawan. Andai belum ada Teo, senyum itu pasti mampu menawan hati Klara. Sayangnya di mata Klara, senyum Teo mengalahkan senyum Arga.
Sudah entah berapa pesan yang dia kirim ke ponsel Klara. Memintanya
datang ke sisi lain taman.
Dari tempatnya duduk, Teo berulang kali menatap ke depan. Sudah lima belas menit dia di sini, sudah banyak pesan yang terkirim ke ponsel Klara. Tapi istri rahasianya itu belum juga memperlihatkan batang hidungnya.
Dia tau saat ini Klara sedang bersama Arga. Dia tak sengaja melihat mereka berjalan beriringan menuju taman sebelah utara, saat dia hendak menemui Klara di kelasnya.
Dia baru mau beranjak pergi, saat bayangan Klara terlihat di sudut taman.
Teo memindai setiap gerak tubuh Klara yang begitu indah. Mellihat keindahan itu, membuat rasa kesalnya memudar.
"Dari mana saja kamu? Memangnya butuh waktu selama itu, dari kelas mu ke sini." tanya Teo, begitu Klara tiba di depannya. Berlagak seolah tidak tau, pertemuan mereka tadi.
"Maaf kak, tadi ada sesuatu yang harus di bicarakan dengan Arga. Jadi telat nemui kakak." jelas Klara jujur.
"Memangnya apa yang mau dia bicarakan. Sampai harus cari tempat sepi segala, biasanya kalian bisa bicara di mana aja."
__ADS_1
qKlara yang masih berdiri di depan Teo, tak menyahut. Dia mana berani mengatakan apa yang di katakan Arga tadi.
Melihat Klara tak hanya diam, Teo menarik tubuh Klara agar duduk di sampingnya.
Posisi duduk mereka sanggat dekat, bahkan bahu mereka saling menempel.
Ini membuat Klara canggung, dia berniat menarik diri untuk menjauh. Tapi Teo menahan gerakannya.
"Mau kemana?" tanya Teo, sembari mencekal lengan Klara pelan.
"Itu, nanti ada yang liat," sahut Klara gugup. Sebab tubuh Teo condong ke arahnya dengan jarak yang sangat dekat.
"Gak ada orang di sini." sahut Teo dengan suara rendah. Manik hitamnya menatap lekat bibir merah Klara.
Teo menelan salivanya kasar. Si al! kenapa bibir merah Klara begitu menggoda? Juga wajah ketakutan itu, membuat Teo gemas. Tapi ini masih di lingkungan sekolah, kalau ada yang liat mereka berciu man, lalu melapor ke guru. Mereka bisa diskors pihak sekolah.
Teo menarik nafas sembari menarik tubuhnya. "Dengan suami sendiri kenapa kau takut sekali."
"Kak. Nanti ada yang dengar." bisik Klara sambil cellinguan ke kanan dan kiri.
"Gak usah takut, udah biasa anak sekarang pancaran panggil suami."
"Ihh apaan sih, geli."
"Geli? Kamu mancing aku?"
"Mancing apaan. Piktor mulu kakak sih. Siapa coba yang gak geli, masih pacaran udah berani panggil suami."
"Dari pada kamu, udah nikah pangggil aku apa?"
"Memangnya kenapa kalau panggil kakak," sungut Klara.
Bibir merahnya terlihhat manyun. Oh si al! Teo benar-benar tak bisa menahan lagi.
Dengan gerakan cepat Teo meraih tubuh Klara di sampingnya. Mendekatkan wajahnya, kemudian merasai aroma manis bibir Klara yang sedari tadi terus saja mengodanya.
Dia tak perduli kalau nanti ada yang lihat atau bahkan melapor pada pihak sekolah. Hasratnya sudah tak mampu lagi di ajak kompromi.
Klara kaget bukan kepalang, saat bibir Teo mendarat lembut di atas bibirnya. Bukannya menolak Klara malah memejamkan matanya menikmati sentuhan pasangan halalnya.
Entah mengapa, dia menyukai glenyar lembut yang mengaliri aliran darahnya saat Teo menyentuhnya.
__ADS_1
Bersambung