Isteri Rahasia Kakak Kelas

Isteri Rahasia Kakak Kelas
Part 5


__ADS_3

Teo berbaring di atas tempat tidur, di tanganya menempel gawai miliknya. Dia benar-benar merasa gila saat ini, bagaimana bisa dia mendatangi Ara dan menciumnya.


Pesona Ara sungguh tak mampu dia abaikan, mungkin wajahnya tak secantik Widuri, tapi entah mengapa setiap geraknya seolah mengandung magnet yang menarik perhatiannya.


Seperti saat ini jemarinya tengah berkompromi dengan hatinya, mengetik untaian kata di layar hpnya lalu mengirimnya ke kontak Ara.


"Ara kamu udah tidur?" begitu bunyi pesan Teo.


Tiga menit berlalu ponsel Teo belum juga berdenting sebagai tanda pesan masuk.


"Belum kak." balas Ara di menit ke lima.


"Kamu lagi apa?"


"Belajar kak."


"Ooo, ya udah lanjut."


"Oke kak."


Teo menarik nafas berat, bentar lagi ujian kenaikan kelas, Ara pasti tengah mempersiapkan diri guna menghadapi ujian.


Sementara itu hal yang sama terjadi pada Ara. Dia tak mampu berkosentrasi dengan baik saat ini.Pikirannya terbawa pergi oleh Teo, tebayang olehnya kelakuan bibir nakal dan basah milik Teo.


Itu pertama kali bagi Ara berciuman, dan dia melakukannya dengan lelakinya, yang telah sah menyandang gelar suami. Mengingatnya hatinya berbunga. Mendadak dunianya terasa begitu indah, tak sabar rasanya menghitung waktu hingga besok, untuk melihat sosok Teo.


Ara menatap tumpukan buku di hadapannya, membuatnya sadar bahwa dia harus belajar dengan keras, mengejar materi pemblajaran yang lumayan banyak tertinggal.


* * *


Ara terburu-buru keluar dari kamarnya, seperti biasa klakson mobil ibunya memanggilnya berkali-kali.


"Iya buk lagi jalan!" teriak Ara.


Dengan setengah berlari Ara menyarungkan sepatu pada kakinya, membuat tubuhnya hampir terjungkal beberapa kali.


"Kebiasaan deh kamu Ra, susah bangun pagi." omel ibuk saat Ara sudah masuk kemobil.


"Gimana lagi, udah kebiasaan dari orok." sahut Ara sambil senyum menatap ibunya.


"Ya di ubah Ra, bentar lagi kamu ikut suami, apa kamu mau, Teo tau kebiasaan mu itu." omel ibuk sambil nyetir, sementara yang di omeli cuma nyengir.


"Masih lama buk, saat itu tiba, aku pasti udah bisa bangun pagi." sahut Ara seraya menatap ibuk.


"Semoga aja iya." ucap ibuk mencibir.


"Udah pasti iya buk." sahut Ara sok yakin.

__ADS_1


Mobil ibu berhenti di halaman sekolah, setelah mencium tangan ibu Ara keluar dari mobil.


"Hati-hati ya buk."


"iya sayang."


Mobil ibu melaju meninggalkan Ara, Ara melangkai santai menuju kantin, seperti biasa dia tak sempat sarapan pagi karena kesiangan.


"Kesiangan lagi." tiba-tiba suara Arga sudah ada disampingnya menggandeng lengannya membawanya kekantin.


Ara tak menolak dia mengikuti langkah Arga menuju kantin.


Seperti biasa Ara pesan semangkok bakso tanpa mie, sedang Arga pesan nasi goreng kampung.


"Ra nanti belajar bareng yok." ajak Arga seraya mengunyah nasi gorengnya.


"Di mana?"


"Di rumah Laras, kita berlima bareng, keke sama latif." ujar Arga seraya menatap Ara.


"Oke baiklah, nanti aku izin sama ibu."


"Aku jemput apa gimana, ibumu belum pulangkan, jam segitu?."


"Belum, tapi aku pesan taksi aja deh Ga, kamu kejauhan jemput aku."


"Terserah kamu, aku cuma nawarin jasa siapa tau berguna." jawab Arga. Ara menatap nasi goreng di piring Arga.


"Kalau gak enak ngapain di beli Ra." sahut Arga, lalu menyodorkan sendok berisi nasi goreng ke mulut Ara yang terlihat bengong.


"Aa, cicipin biar tau enak gak nya nih nasi goreng." ujar Arga seraya menggerakkan sendoknya maju mundur.


Ara membuka mulutnya memasukkan sendok berisi nasi goreng kampung yang di sodorkan Arga.


Hhmm benar-benar enak rupanya, padahal tak terlihat bumbu di nasi goreng, berwarna putih tampa kecap, tapi rasanya benar benar gurih dengan ikan teri halus yang sesekali terasa di kunyahan Ara.


"Beneran enak loh, aku kira di kantin cuma bakso doang yang enak." ujar Ara seraya merebut sendok di tangan Arga lalu menyendok nasi goreng di piring Arga yang tinggal sendoan terakhir.


Sementara di sudut kantin sepasang mata menatap kearah Ara dengan perasaan marah, dadanya panas di bakar api cemburu, apa lagi saat dengan lancang tangan Arga menyuapi Ara, ingin rasanya dia mematahkan pergelangan tangan Arga saat itu juga.


Ara yang tak tau ada sepasang mata yang mengawasinya, bersikap biasa saja.


Beruntung Ara menolak saat Arga akan menggandeng jemarinya saat mereka akan meningalkan kantin. Berjalan beriringan gitu aja udah membuat ada seseorang panas.


"Kamu kenal dengan pasangan itu Teo." tanya Widuri saat mengikuti tatapan Teo, yang tertuju pada Ara dan Arga.


"Aku suka lihat mereka. Serasi, Arga dan Ara, dari nama saja sudah serasi, ya kan?" imbuh Widuri. Mendengar kalimat itu malah membuat Teo semakin kesal.

__ADS_1


Teo bangkit dengan kasar, hingga kursi yang dia duduki tumbang kebelakang, kemudian berlalu pergi meninggalkan Widuri yang bengong oleh ulahnya.


"Kenapa sih itu anak." gumam Widuri heran.


Teo geram sendiri, bukankah dia sudah memperingati Ara soal kedekatannya dengan Arga, tapi tadi, sungguh membuat hatinya memanas dan ingin menghajar Arga.


Sejak kata sah di ucap para saksi, batin Teo otomatis terpaut dengan Ara, dia merasa Ara adalah miliknya dan hanya dia yang boleh memperlakukan Ara begitu, tidak dengan orang lain.


Saat jam istrahat pertama, Teo meminta Ara menemuinya di belakang sekolah, dia sendiri sudah menunggu di tempat yang dia janjikan.


Dari jauh Teo melihat sosok Ara berjalan kearahnya, gemulai geraknya terasa menyejukkan hatinya yang sempat memanas. Tubuhnya tinggi, padat berisi. Rambut panjangnya tergerai indah tertiup angin. Bibirnya merah merekah, sangat sempurna.


"Ada perlu apa kak?" tanya Ara saat sudah duduk di samping Teo.


"Apa harus ada perlu dulu, aku baru bisa memintamu menemuiku?" tanya Teo sedikit meradang.


"Maaf kak, bukan begitu maksud perkataan ku." ujar Ara seraya menatap Teo. Dia tak habis pikir kenapa Teo suka sekali memarahinya. Mungkin dia masih jengkel dengan pernikahan mereka. Kalau iya, kenapa tadi malam dia mencium Ara?


Teo balas menatapnya, kalau dipikir kedekatan Ara dan Arga masih dalam tahap wajar. Tapi saat melihat tatapan mendamba milik Arga untuk Ara, hatinya terbakar cemburu. Ara adalah miliknya, hanya dia yang boleh menatap Ara dengan tatapan seperti itu.


"Jangan terlalu dekat dengan Arga, aku tidak suka." ujar Teo, seraya menatap Ara dengan tatapan tajam.


Ara tak menyahut, dia asik menikmati indahnya ciptaan tuhan di hadapannya. Tuhan begitu sayang pada Teo, hingga memberinya garis wajah begitu sempurna. Lihatlah bibirnya yang basah, begitu menggoda Ara.


Ooh no Ara!


"Dia memang selalu seenaknya, tapi dia cuma menganggap ku teman kok kak, gak lebih."


"Jadi begitu menurut mu?" tanya Teo dengan mimik tak suka.


Ara tak menyahut, dia merasa ada ketidak sukaan pada nada kalimat Teo barusan.


"Kakak mau aku menjauhi Arga?" tanya Ara hati-hati.


"Ara, bukankah itu yang aku katakan padamu, kemarin juga tadi, hati ku panas rasanya melihat Arga memperlakukan mu seistimewa itu, dia tak berhak melakukan itu kepadamu Ra, hanya aku yang berhak kau dengar!" ucap Teo memuntahkan isi hatinya tanpa ragu. Dia tidak peduli Ara beranggapan seperti apa setelah mendengar kalimat ini.


"Kau dengar tidak!" sentak Teo.


"Dengar kak."


"Bagus, sekarang kembalilah ke kelas, nanti ada yang lihat kita berdua di sini." ujar Teo lagi.


"Iya kak." sahut Ara. Lalu beranjak meninggalkan Teo seorang diri.


Teo menatap punggung Ara hingga menghilang di balik bangunan sekolah.


Sementara tanpa sepengetahuan keduanya, sepasang mata tengah mengawasi mereka, raut wajahnya berubah penuh kemarahan menyaksikan kedekatan mereka.

__ADS_1


"Gak segampang itu kamu rebut Teo dari aku Ra." bisiknya geram.


Happy reading.


__ADS_2