
Sudah seminggu ini Ara giat belajar sepulang sekolah, dia bahkan mengabaikan suaminya yang merengek-rengek minta bertemu.
"Ayolah Ra, lima menit juga gak apa, yang penting kita ketemu" bujuk Teo siang tadi, tapi Ara tetap pada pendiriannya, belajar.
Sebenarnya teman sekelasnya mengajak Ara belajar bareng, tapi karena ada Arga, Ara memilih belajar sendiri dari pada harus bertengkar dengan Teo.
Ara melihat jam di atas meja riasnya, sudah jam enam sore, ibu belum pulang, biasanya jam segini ibuk sudah di rumah.
"Bik, masak apa?" tanya Ara pada bik Uli Art di rumahnya.
Bik Uli yang sedang menata bumbu di kulkas, menghentikan aktivitasnya sejenak lalu menatap Ara.
"Gulai kakap, sama cah kangkung non."
"Wihh enak tuh."
Mendengar cah kangkung Ara langsung ambil piring di rak, lalu mengisi piring dengan nasi dan cah kangkung pavoritnya.
"Bik lain kali ajari aku buat cah kangkung ini ya, kalau aku ikut Teo, aku bakal kangen dengan masakan bibik." celoteh Ara sambil mengunyah makanannya.
Bik Uli tersenyum mendengar ucapan Ara. Ara memang suka cah kangkung buatannya, apa lagi ara memang doyan pedas makanan seperti cah kangkung dengan lepel pedas di atas rata-rata pasti langsung masuk lis pavoritnya.
Seperti malam kemarin, malam ini pun Ara mengisi waktunya dengan belajar, maklumlah isi kepalah yang di bawah rata-rata memaksa dirinya harus belajar ekstra.
Ara sengaja tak mengaktifkan ponselnya, dia benar-benar ingin berkosentrasi belajar tanpa gangguan.
Tok!
Tok!
"Ara buka pintunya sayang, ada yang mau gabung belajar bareng kamu nih!" teriak ibu dari balik pintu.
Kening Ara tampak berkerut, siapa yang mau belajar bareng, apa Arga?
Ceklek!
Ara membuka pintu kamarnya lebar-lebar, mata bulatnya melebar seketika, saat melihat siapa yang berdiri di samping ibu saat ini.
"Kak Teo?!" pekik Ara tak percaya, apa-apaan ini.
Teo mengedik kan bahunya lalu tersenyum penuh kemenangan pada Ara.
"Ara, Teo tadi izin ke ibu, mulai dari saat ini hingga beberapa waktu kedepan, dia akan membimbingmu belajar." jelas Ibu.
"Tapi buk ..."
"Udah jangan ngebantah! Teo siswa terbaik disekolahmu kan, ibu yakin dia mampu membimbing kamu, apa kamu tidak ingin mengubah angka di rapormu." ucap ibu memotong kalimat Ara, ucapan bernada mengejek itu tentu saja membuat
Ara jengkel, apa lagi ibu mengatakannya di depan Teo.
"Masuklah Teo, biar ibu buatkan minum sama cemilan untuk kalian." ucap ibu, lalu meninggalkan mereka berdua.
"Baik buk." sahutnya.
"Ayo jangan bengong." Teo menarik tubuh Ara kembali kekamarnya.
Teo duduk di depan Ara, diantara mereka ada meja kecil yang menjadi pembatas atara keduanya, sementara dintangannya ada sebuah pengaris kayu berukuran lumayan tebal.
__ADS_1
Ara mendengus kesal melihat gaya sok garang Teo, yang ada pasti dia cuma modus mau menemui Ara, Ara menatap Teo dengan tatapan jengkel.
"Mau bahas pelajaran yang mana?" tanya Teo dengan mimik serius.
"Fisika." sahut Ara. dia sengaja memilih pelajaran fisika, biar tau rasa si Teo tidak punya waktu buat gombalin dia.
"Fisika ya. Oke, aku kasih soal dasar aja dulu, kamu kerjain nanti aku koreksi."
"Gitu doang?"
"Iya."
"Kalau gitu, anak SD juga tau." sungut Ara.
Dengan muka di tekuk Ara mengerjakan soal yang di sebut dasar oleh Teo, tapi nyatanya sangat sulit di kerjakan.
Beberapa menit kemudian Ara menyerahkan hasil jawabannya pada Teo.
"Ini koreksi." Ara menyodorkan buku pada Teo.
Teo terlihat benar-benar serius memeriksa jawaban Ara.
"Kamu ini, bagaimana bisa soal semudah ini pun jawaban mu masih salah." Sentak Teo kesal.
"Apanya yang mudah, susah tau."
"Apa yang kamu kerjakan di sekolah hah!" sentak Teo seraya menjitak kening Klara.
"Aauw sakit kak!" reriak Klara sambil mengelus jidatnya yang memerah.
Teo mulai menjabarkan rumus-rumus yang tadi terlihat sulit, tapi berubah jadi mudah di tangan Teo.
"Bagaimana? masih ada yang belum kamu pahami?" tanya Teo dengan tampang serius.
"Yang ini masih belum terlalu paham kak."
"Baik aku ulang lagi ya, kamu perhatikan baik-baik."
Teo kembali menjelaskan dengan lebih rinci soal yang tak di pahami oleh Klara.
"Bagaimana sudah paham?"
Klara menatap Teo takut-takut lalu kembali menggelang pelan.
"Aishh anak ini." desis Teo seraya menjitak jidat Ara lagi.
"Auuw, sakit tau, aku ini istrimu apa tidak bisa bersikap sedikit romantis padaku." protes Ara dengan mimik kesal.
"Sukma Klara, kita sedang belajar. Bukan sedang melakukan adegan ranjang, buat apa romantis-romantisan, ayo perhatikan lagi, atau kau tak kan bisa istrahat sampai pagi." ancam Teo.
Rara mencebik kesal, ibu sungguh keterlaluan membiarkan dirinya ditindas oleh menantunya, kenapa tidak menyuruh Teo pulang saja, lihatlah tingkahnya melebihi guru BP galaknya.
"Yang serius Ra! kalau kamu ngelamun gitu, mana ada rumus yang nyangkut di kepalamu!" salak Teo dengan mimik galak.
"Iya-iya, ini juga udah serius." tukas Ara jengkel.
Kali ini Ara benar-benar berusah mengingat semua yang di jabarkan Teo, dia sudah tak sabar mengusir si jutek itu dari kamarnya.
__ADS_1
Saking seriusnya, Ara tak memperdulikan ibunya yang datang membawa jus dan juga cemilan buat mereka.
Usaha Ara tak sia-sia, akhirnya Ara bisa paham juga.
"Aku sudah paham sekarang." ucap Ara dengan wajah di tekuk. Dia masih jengkel dengan perlakuan Teo yang tidak ada manis-manisnya. Kemaren aja main sosor sana, sosor sini seenaknya.
Teo tersenyum, dengan lembut dia membelai rambut Ara. Apa ini ...
"Bagus, walau harus sedikit keras, mau gimana lagi isi kepalamu di bawah rata-rata sih." ujar Teo dengan penuh kelembutan, sikap bertolak belakang dengan saat dia mengajari Ara tadi. Tapi tetap saja bernada mengejek.
"Gak harus juga sekeras itu aku pasti paham kok." sungut Ara.
"Masih marah?" tanya Teo seraya mencondongkan tubuhnya kedepan, hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti saja dari wajah Ara.
Ara tak menyahut, dia menatap Teo dengan pasang wajah cemberut.
"Jangan cemberut. Wajahmu itu bikin orang ingin cium kamu." bisik Teo.
"Orang siapa?"
"Aku." sahut Teo sembari menyondongkan tubuhnya ke Klara.
Ara melotot garang, siapa juga yang mau dicium, tadi aja giliran dia salah, galaknya minta ampun, terus seenak nya lagi ngatain isi kepalanya di bawah rata-rata, kalaupun itu bener tetap aja dia gak akan rela di katain begitu.
"Cupp!" Teo mendaratkan bibirnya dengan manis, hanya sekilas. Walau sekilas tapi mampu membuat jantung Rara melompat keluar.
Ara mendadak jadi salah tingkah, apa lagi Teo terus saja menatapnya dengan tatapan yang terlihat berbeda.
"Su-sudah malam, apa kakak tidak pulang?" tanya Ara gugup, apa lagi kini Teo malah bergeser tepat di sampingnya.
"Tentu, setelah kudapatkan jatahku malam ini, apa lagi kau sudah absen beberapa hari, bukankah seharusnya jatahku double?" bisik Teo. Kalimat yang mampu membuat bulu kuduk Klara merinding.
"Ja-jangan macam-macam!" Ancam Ara dengan mata melotot, Teo malah terkekeh.
"Hanya satu macam sayang." bisik Teo, di barengi senyum.
Deg!
Entah mengapa tiba-tiba, Ara melihat Teo begitu bersinar malam ini, ada gelenyar halus mengalir dalam darahnya, hatinya tiba-tiba menghangat.
Dengan gerakan perlahan Teo memberi sentuhan lembut di bibir Klara, dan Klara membalasnya. Memberi aroma manis lumayan lama di sana, lalu melepasnya perlahan membuat Teo terngah kehabisan nafas.
Apa ini, Ara memberinya sentuhan yang begitu lembut, tapi penuh kenikmatan.
"Kakak sudah mendapatkan jatah bukan, pulanglah sudah malam." ucap Ara, dengan wajah tertunduk, Pipinya bersemu merah.
"HHmm, baiklah aku pulang, besok malam jangan kunci kamarmu." ujar Teo dengan lembut. Ara mengangguk mengiyakan. Tapi kemudian melotot ke Teo, melihatnya Teo terbahak.
"Bercanda sayang."
"Dasar jail."
"Ya sudah, aku pulang sayang." pamit Teo, sebelum pergi dia memberi Ara kecupan lembut di puncak kepalanya tanda kasih sayangnya.
Pipi Sukma Klara kembali bersemu merah, dadanya berdegup kencang. Ada rasa tak rela melepas Teo pulang. Padahal tadi dia begitu ingin Teo menghilang dari kamarnya.
Bersambung
__ADS_1