
Klara menatap jam di atas nakas, jam enam lewat empat puluh dua menit. Biasanya klakson ibu memanggil, manggil Klara tanpa henti. Tapi kali ini kenapa tenang begini, apa ibu juga kesiangan.
"Belum siap juga?" terdengar suara menegur Klara di depan pintu.
Klara yang sedang memasang sepatu, terjingkat kaget.
"Kakak?!" serunya dengan mata membulat.
"Iya, buruan. Aku belum sarapan." sahut Teo. Dia berdiri di ambang
pintu, sembari memperhatikan gerak Klara.
Klara buru-buru menyarungkan sepatu kekakinya, lalu bergegas bangkit, menyaut tas di nakas kemudian menghampiri Teo.
"Ibu mana?" tanyanya sembari menengadah, menatap tubuh jangkung di depannya.
"Sudah pergi dari tadi, aku juga sudah tiga puluh menit menunggumu di ruang tamu." jelas Teo. Mimik mukanya terlihat sedikit garang.
Mellihat wajah garang Teo, Klara langsung menunduk.
"Maaf, kakak sih mau jemput gak kompirmasi dulu." Lirih Klara, sembari memainkan jemarinya satu sama lain. Teo tak menyahut, senyum tipis menghiasi bibirnya, bola mata hitamnya sibuk menatapi wajah Klara di depannya.
Saat Klara tertunduk, bulu matanya yang tebal terlihat indah. Ekspresi wajah cemberut itu, membuat Teo gemas.
Teo sedikit membungkuk, menempatkan wajahnya tepat di depan wajah Klara.
Merasakan hembusan nafas Teo, Klara buru-buru mengangkat wajahnya.
"I,itu kakak mau apa?" tanya Klara panik.
"Menurutmu?" Teo malah balik nanya. Membuat Klara semakin gugup.
"Mana aku tau." sungut Klara, sembari menarik tubunya, membuat jarak dengan Teo.
Melihat sikap gugup Klara, Teo tersenyum simpul. "Biar aku kasih tau, aku mau apa," ucapnya, bergerak semakin maju, mengikis jarak di antara mereka.
Sedetik kemudian Klara merasakan sentuhan hangat bibir Teo, menyapu keningnya.
Klara membeku!
Ini masih pagi, tapi hawa hangat terasa menyelimuti tubuhnya.
"Ayo, nanti telat." ucap Teo, setelah menarik tubuhnya ke samping posisi usemula. Klara tak menyahut, dia hanya mengangguk pelan.
Teo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sekolah. Dia menyetir dengan sebelah tangannya, sementara sebelah lagi menggenggam jemari Klara.
"Kita sarapan dimana?" tanya Klara memecah keheningan.
"Kantin." sahut Teo, sembari melirik Klara sekilas.
"Kok di kantin?"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Kakak, gak takut di gosipin sama siswa lain?"
Teo, menarik napas dalam. "Baguslah, biar gak ada yang lirik-lirik kamu sembarangan. Gak apa-apa mereka tau kita pacaran, asal jangan tau kita sudah menikah."
Klara menatap Teo, lekat-lekat. Jadi dia gak mau mengakui Klara sebagai istrinya?
"Jangan bodoh! Bukan aku gak mau ngakui kamu sebagai istriku. Kalau mereka tau kita sudah menikah, mereka pasti akan bully kamu. Mereka kira kita udah gituan makanya nikah. Atau yang lebih parah, mereka nuduh kamu udah hamil duluan." ucap Teo, dia dapat membaca apa yang ada dalam pikiran istrinya.
"Ihhh amit-amit!!" seru Klara begidik, gak kebayang kalau hal itu sampai terjadi sama Klara.
"Tapi kita udah boleh tidur bareng loh. Kita ini pasangan sah, yang belum sah aja banyak yang udah ngelakuin itu."
"Apaan sih!"
"Boleh ya sayang."
"Apaan yang boleh?"
"Tidur bareng."
"Gak!" tolak Klara dengan wajah garang, meskipun wajahnya sekarang sudah berubah pucat.
Melihat wajah pucat Klara, Teo tertawa. Baru membayangkannya saja, dia sudah pucat pasih. Bagaimana kalau Theo benar-benar melakukannya.
Sebagai lelaki normal, tentu saja dia pernah membayangkan hal itu dilakukan bersama Klara, apalagi Klara adalah pasangan sahnya, mereka bebas melakukan apa saja tanpa takut dosa.
Ini juga merupakan godaan terberat bagi Teo, dia boleh melakukan apa pun, tapi tidak bisa.
Mobil Teo sudah berhenti lima menitan di parkiran. tapi Klara masih belum mau turun.
"Kakak aja turun dulu gih, nanti aku nyusul."
"Nggak gitu konsepnya Klara, kita turun bareng-bareng."
Klara belum mau beranjak, membuat Teo gemas. Tak ada cara lain selain memaksanya turun dari mobil.
Teo turun dari mobil, kemudian mengitari mobil dan berhenti di sebelah pintu Klara. membuka pintunya dan memaksa Klara turun dengan menggandeng tangannya.
Dengan terpaksa Klara turun dari mobil, kemudian mengekori langkah Theo menuju kantin.
Seperti yang diduga Clara, semua mata tertuju ke mereka dan juga bisik-bisik murid lain terdengar di sepanjang jalan menuju kantin. Bagaimana tidak Teo berjalan sembari menggenggam tangannya. Bukan kah ini gosip besar, sang bintang lelas mengandeng gadis lain, setelah kekasih sahnya kembali.
Hhhh habislaah dia!
Teo makan dengan begitu tenang, di bawah tatapan penasaran semua orang yang ada di kantin. Sementara Klara merasa gugup setengah mati, dia bahkan tak sengaja menjatuhkan sendoknya sebanyak dua kali.
"Sudah jangan pedulikan mereka, makan saja dengan tenang," ucap Teo, sembari memberikan sepasang sendok baru kepada Klara.
"Bagaimana aku bisa tenang, kalau mata mereka menatapku seperti itu. Kakak Iya sudah biasa digosipin, aku sih enggak." sungut Klara, sembari menerima sendok dari tangan Teo.
Benar juga, Teo sudah biasa bersanding dengan gosip. Teo memang selalu tidak peduli dengan omongan orang, mau itu benar atau tidak.
Dia adalah pria populer di sekolah ini, selain tampan dia juga pintar. Juara umum di sekolahnya, bukan hanya di kelas. Dia narik nafas aja jadi perhatian orang, apalagi hal-hal besar yang lain. Seperti saat ini, dia menggandeng Klara, dari tempat parkir hingga ke kantin. Bukankah itu berita besar yang menghebohkan.
__ADS_1
Kelakuan Teo ini mengejutkan semua orang, termasuk Arga. Dia duduk dua meja di belakang Klara. Matanya menatap kedua nya dengan tatapan tak senang, tapi juga tak berani berbuat apa-apa, toh dia dengan Klara hanya sebatas teman.
Widuri yang baru masuk kantin, juga dibuat terbengong-bengong, dia merasa salah lihat tapi nyatanya enggak.
Sementara Teo, menikmati sarapannya, masih dengan sifat tidak pedulinya.
"Minta di suapin?" tanya Teo.
"Gak lah, aku masih bisa makan sendiri."
"Terus kenapa gak makan?"
"Iya ini juga mau makan." sahut Klara, lalu menyuap nasi goreng ke mulutnya. Entah kenapa nasi goreng kantin yang biasanya enak, kali ini terasa hambar.
Klara baru makan dua suap dan tersedak saat melihat siapa yang baru saja masuk ke kantin.
"Uhuk, uhuk!"
"Klara, ati, ati dong makannya." Teo menyodorkan selembar tisu pada Klara.
"Kak.." bisik Klara, dengan wajah pucat.
"Apa?"
"Ada Velisa." lirihnya dengan suara bergetar. Teo menoleh ke arah pandangan Klara. Disana terlihat Velisa mematung menatap mereka, dengan wajah tak kalah pucat dari Klara.
"Terus kenapa kalau ada dia?" tanya Teo, setelah memalingkan kembali wajahnya ke arah Klara.
"Kakak gak takut di labrak dia."
Teo berdecak kesal. "Haiis! Ini anak. Kalau dia labrak kita, ya kamu labrak balik. Kamu gak berani?"
"Ya gak lah, dia kan pacar kakak."
"Pacar? Kamu tuh istriku bukan sih?!" geram Teo dengan suara rendah.
"Istri kakak .." sahutnya dengan suara sangat pelan.
"Aku milikmu, kalau ada yang macem-macem kamu yang harusnya bertindak."
"Emang gak apa-apa kalau aku kayak gitu?"
"Ya gak lah."
"Ini kakak yang minta, kalau nanti aku tegur kakak saat macem-macem dengan wanita lain, gak boleh protes ya."
Mendengar ucapan Klara, Teo tersenyum sembari mengusap kepalanya dengan lembut.
"Aku lakukan ini demi lindungi kamu, dari orang-orang seperti Arga juga Velisa. Kamu bukan hanya pacar, tapi istri. Jadi aku wajib, jauhkan kamu dari hama penganggu. Begitu juga sebaliknya." ucap Teo dengan suara pelan. Klara mengangguk pelan.
Ucapan Teo, membuat Klara melayang. Lelaki impiannya sedari kecil, mengakuinya sebagai istri.
Tindakan Teo bukan tanpa sebab, hatinya terbakar api cemburu saat melihat Arga, seenaknya menyentuh istrinya. Walau hanya bergandengan tangan. Okelah dia tidak bisa mengungkap pernikahan mereka, tapi tampil sebagai kekasih Klara, Teo rasa tidak lah buruk, untuk mengusir hama.
__ADS_1
Bersambung