
Ibu membunyikan klakson beberapa kali sebagai protes keterlambatan Ara pagi ini.
"Iya ini dah jalan bu!" teriak Ara dari teras rumah agar ibu tak lagi membunyikan klaksonnya lagi.
"Ibu dah telat tau." ucap ibu kesal saat Ara sudah duduk di samping ibu.
"Maaf bu, ibu sih gak banguni Ara."
"Gak banguni kamu bilang, kamu tuh kalau tidur kayak orang mati tau gak!" gerutu ibu jengkel, bagaimana tidak pagi ini dia ada rapat penting di kantor dan ulah Ara bisa membuatnya terlambat.
Mobil ibu berhenti di halaman sekolah Ara, setelah memberi ciuman hangat di tangan ibu, Ara pun bergegas turun dari mobil.
"Hati-hati buk."
"Iya ibuk pergi dulu ya."
"Iya buk."
Ara berjalan menuju kantin dengan membawa tasnya, dia tak berniat masuk kelas lebih dulu, yang ada di benaknya mengisi perutnya yang keroncongan minta di isi, kebiasaan sarapan pagi membuatnya tak bisa menahan lapar.
Ara mencari tempat di sudut kantin agar sedikit nyaman menyantap bakso kosong pavoritnya.
Makan sambil mainin gawai adalah salah satu hobinya juga, dia bahkan sering di protes ibu karena hobinya ini.
Mulutnya penuh dengan bakso, saat mata bulatnya tiba-tiba menangkap sosok yang membuatnya kesiangan pagi ini, sebab tak tidur sepanjang malam, dia baru terpejam menjelang subuh.
Teo, ya dia adalah Teo, dia tak sendiri, dia datang ke kantin dengan teman sekelasnya, Widuri. Nama yang indah seindah orangnya, body tinggi berisi, kulit putih bak artis korea, wajah tirus dengan bibir dan hidung mungil bertengger indah di wajah cantiknya.
Seusianya dia bahkan sudah menghasilkan uang sendiri dari dunia model yang digelutinya, tak tanggung-tanggung beberapa brand ternama memakai wajahnya sebagai model produk mereka.
Melihat Kelebihan widuri Ara merasa tak sebanding dengan Teo.
Teo tampak mengedarkan pandangan ke penjuru kantin, tatapannya berhenti pada sosok Ara yang tengah menatap ke arahnya.
Ara menarik pandangannya membuangnya ke mangkuk bakso yang sudah terlihat kosong, pura-pura tak melihat kehadiran Teo mungkin lebih baik.
Ara baru saja akan beranjak bangkit saat seseorang menyebut namanya lalu duduk tepat di sampingnya.
"Ara temani aku." pinta Arga, seraya duduk di samping Ara.
Ara mengurungkan niatnya untuk pergi, Ara juga tak bisa keluar Arga menghalangi jalannya dengan duduk di sampingnya.
"Cepat, bentar lagi bel berbunyi loh." ucap Ara sambil bertopang dagu menatap Arga yang tak menanggapi ocehan Ara.
"Tugas mu udah selesai?" tanya Arga, tanpa berpaling dari sepiring nasi goreng yang jadi menu sarapannya paginya.
"Udah walau penuh perjuangan nyelesainnya tau gak, entah aku yang bodoh atau tugasnya yang terlalu sulit." keluh Arah seraya menempelkan wajahnya di atas meja dengan beraskan telapak tangannya.
"Aku rasa kau tidak terlalu bodoh Ra, cuma kurang pintar aja."
__ADS_1
Ara mengangkat wajahnya kesal, perkataan macam apa itu, harusnya dia menghibur Ara bukannya malah ikut mengatainya bodoh, dasar.
"Iissh." desisnya kesal seraya mendaratkan tinjunya pada lengan Arga.
Arga terkekeh, Ara memang bukan gadis pintar, dia harus berjibaku dengan waktu demi mengejar ketinggalan dalam memahami mata pelajaran, dan selalu Arga yang jadi tumbalnya jadi mentor dadakan.
"Udah selesai ayo."
Arga meraih tangan Ara membawanya keluar dari kantin, Ara tak menolak, dia mengikuti langka Arga neninggalkan kantin dengan tangan di gandeng Arga.
Sejak pertama masuk kesekolah Arga memang selalu seenaknya menggandeng Ara, seakan mereka sudah berteman lama.
Gerak gerik Ara barusan tak lepas dari pengawasan Teo, dia juga baru tau kalau mereka satu sekolah saat melihat Ara di kantin barusan.
Melihat Arga seenaknya menggandeng Ara membuat dada Teo panas, dia memang belum ada rasa, tapi melihat calon istrinya seenaknya di gandeng lelaki lain, tentu saja melukai harga dirinya.
"Ada apa, kenapa wajahmu jadi bete gitu." tanya Widuri seraya menyesap jus mangga miliknya.
"Gak ada." sahut Teo dengan malas, dia memang bete lihat Ara seenaknya di gandeng orang.
Dering bel di jam istirahat pertama terdengar nyaring, Ara bergegas ke toilet tak perduli Arga yang teriak-teriak memanggil namanya, sesak buang air kecil membuatnya tak menggubris Arga.
Lima menitanlah Ara di toilet wanita. Buang air sekalian membersihkan muka dan menyisir rambut panjangnya.
Ara baru saja keluar dari toilet, tiba-tiba tangannya di sentuh seseorang.
"Ikut aku."
Ara tertunduk dalam, sementara Teo terus saja menatapnya tak berkedip.
"Mana ponselmu?" suara Teo memecah keheningan, Ara mengankat wajahnya menatap Teo sekilas.
Ara mengambil ponselnya di saku roknya menyerahkan benda pipih itu pada Teo.
"Apa sandinya?"
Arah membuat garis zikzak pada layar poselnya.
Tampak Teo mengutak atik ponsel Ara, lalu kembali menyerahkannya pada Ara.
"Siapa tadi yang bersama mu di kantin?" tanya Teo dengan suara dingin.
"Arga kak."
"Pacar kamu?"
"Bukan kak, cuma teman."
"Baguslah, ingat kamu dan aku akan jadi pasangan suami istri, kelakuan seperti tadi aku tidak ingin melihatnya." ucap Teo terdengar begitu tegas layaknya pria dewasa.
__ADS_1
"Baik kak."
"Pergilah dulu, aku tidak mau ada yang melihat kita berduaan." perintah Teo.
Ara bergegas meningalkan Teo seorang diri menuju kelasnya, bukan hanya Teo dia juga tak ingin ada yang melihat dirinya bersama Teo, bisa di buli satu sekolah dia.
Sesampainya di kelas, Ara membuka ponselnya, memeriksa kontak yang tersimpan di hpnya, dugaannya benar, Teo menyimpan nomornya di kontak Ara.
Dan mau tau Teo memberi nama apa pada kontaknya, calon suamiku.
Ara mencibir, pd sekali dia baru calon suami, lagian apa hebatnya calon suami seperti Teo, hatinya bahkan bukan untuknya.
Dia tau dengan pasti, kalau dugaannya seratus persen akurat. Beda dengan Ara yang menjadikan dia lelakinya seumur hidupnya.
"Ra gak kekantin?" tanya Laras teman sekelasnya.
"Gak Ras, tugasku masih satu lagi belum selesai."
"Oo, soalnya Arga tadi pesan dia nunggu kamu di kantin." terang Laras.
"Ya udah, nanti aku telpon dia."
"Oke." sahut Laras sambil melangkah menuju mejanya.
Ara baru saja bermaksud menelpon Arga, tapi bocahnya udah keburu masuk kelas dengan tangan penuh jajanan dan minuman dingin.
"Nih." Arga meletakkan jajanan di meja Ara beserta minuman dingin.
"Kenapa gak kekantin?" tanya Arga sambil melirik ke dada over kapasitas milik Ara.
"Males." jawab Ara asal. lalu seenaknya merebahkan separuh tubuhnya di atas meja.
Gerakan itu sudah pasti membuat dua benda kenyal itu semakin menggoda Arga. oh good Ara.
Dia bahkan tak tau kalau Arga saat ini tengah berjuang meredam gairahnya, ingin rasanya dia menyeret Ara kebelakang sekolah, membenamkan wajahnya pada benda kenyal di depannya, seperti di adegan film yang sering dia tonton di malam hari.
"Arga!" sentak Ara.
"Ehh, ya ada apa Ra."
"Aku punya hutang ke kamu, liatinnya gitu amat!" sentak Ara sewot.
Aku yang punya hutang kekamu Ra, otak mesum ku kamu buat traveling beberapa detik yang lalu, maaf Ra, batin Arga.
"Abisnya kamu cantik sih," sahut Arga sambil nyengir.
"Gak bosen kamu ngomong gitu tiap hari." sungut Ara.
Mana mungkin bosan, Arga, dia malah ingin mengatakannya tiap menit. Ara bukan tipe wanita yang membosankan, dia cantik, baik juga polos. Hanya saja sedikit kurang pintar.
__ADS_1
Happy reading.