Isteri Rahasia Kakak Kelas

Isteri Rahasia Kakak Kelas
Part 11


__ADS_3

"Sukma Klara! Tinggalkan Teo, dia adalah milikku!" bunyi pesan dari nomor tak di kenal. Saat Klara menghubungi nomor ini, nomornya sudah di luar jangkauan.


"Teo adalah milikku! Cih! Aku loh istri sahnya." omel Klara sembari melotot ke ponselnya. Begini nih kalau nikah sama buaya...


Pesan barusan membuat Klara tidak bisa tenang. Bukan karena takut, tapi lebih karena kesal. Sudah sangat jelas yang mengirimi pesan ini pasti penggemar Teo. Atau mungkin mantan yang belum move on.


Klara me-screenshot pasan bernada ancaman itu, lalu mengirimnya ke Teo.


Tak lama ponsel Clara berdering, pada layar ponselnya tertulis, suami memanggil. Itu panggilan dari Theo.


"Kamu di mana?" tanya Teo di seberang telepon. Suaranya terdengar sedikit berat, itu sangat merdu. Tak bisa di pungkiri, suara Teo mampu menggetarkan hati Klara .


" Di rumah Kak." sahut Clara.


"Ya udah aku ke sana sekarang." ucapnya lalu memutus panggilan, sebelum Klara mengiyakan ucapannya.


Tiga puluh menit kemudian, Teo sudah sampai di depan rumah Klara. Klara menyambutnya di depan pintu, Ibunya belum pulang kerja jadi dia hanya sendiri di rumah.


Teo turun dari mobil dengan membawa beberapa buku di tangannya. Matanya tak lepas dari sosok Klara yang berdiri diambang pintu menyambutnya.


Dia terlihat sangat cantik hari ini, dengan baju tidur bermotip hello kitty. Rambutnya yang panjang di ikat satu keatas, memperlihatkan leher jenjangnya. Ingin rasanya membopong tubuhnya keatas tempat tidur, lalu melahapnya tak tersisa.


"Buku apa ini?" tanya Klara, begitu Teo sampai di depannya.


"Ada beberapa tugas sekolah yang harus aku kerjakan. Aku terpaksa bawa, kalau pulang dari sini baru dikerjakan takutnya nggak keburu." sahut Theo, sembari menghentikan langkahnya tepat di depan Klara. Pria bertubuh jangkung itu tiba tiba membungkuk, kemudian melabuhkan lecupan lembut di kening Klara.


Klara yang tak menyangka Teo melakukan itu, terlihat berdiri kaku dengan mata terbelalak kaget.


"Di cium suami kok reaksinya gitu?" protes Teo, bibirnya di hiasi senyum tipis. Rona merah pada pipi Klara membuatnya gemas.


Klara gelagapan, mereka hanya berdua di rumah ini. Bagaimana kalau Teo macam-macam?


"Hey! Kok malah bengong." Teo mentoel hidung Klara dengan lembut.


"Abisnya kakak sih ngagetin aku. Bagaimana kalau ada yang liat."


Teo terkekeh, kemudian menggandeng lengan Klara Membawanya masuk kedalam rumah. "Perduli apa, aku cium istriku. Siapa yang berani larang?" sahut Teo dengan mimik muka genit.

__ADS_1


Klara membulatkan matanya tanda protes. Walaupun sebenarnya, hatinya suka perlakuan Teo. Entah sejak kapan dia jadi begitu menyukai sentuhan Teo.


"Ibuk belum pulang?" tanya Teo, sembari celinguan melihat seisi rumah.


"Belum, kakak mau minun apa? Biar aku buatin."


Teo tak langsung menyahut, dia meletakkan buku diatas meja sofa kemudian menatap Klara di depannya. "Tunjukin dapurnya, biar aku buat sendiri." ujarnya, kemudian merangkul bahu Klara.


"Cepat, kok malah bengong." Teo mengguncang bahu Klara yang masih diam di tempatnya.


Klara berjalan ke dapur di ikuti oleh Teo. Sesampainya di dapur, Klara cuma bengong memperhatikan Teo membuat jus buah mangga.


Setelah selesai,Teo menuang jus kedalam dua gelas jus.


"Ayo kedepan. Aku perlu tenaga, untuk mengerjakan tugas sambil mendengarkan curhatanmu." ucapnya Teo, lalu beranjak ke ruang tengah dengan dua gelas jus di tangannya.


Setelah meletakkan gelas jus di atas meja, Teo duduk di sebelah Klara. "Kamu gak ada tugas?" tanyanya sembari mengambil buku yang tadi dia taruh diatas meja. Klara menggeleng, dia memang bebas tugas hari ini.


"Terus pesan itu gimana kak?"


Teo yang sudah siap membuka lembaran buku di tangannya, tampak


"Terus kakak ngapain kemari?"


"Kangen kamulah, memangnya apa lagi."


Klara terdiam, pipinya mendadak menjadi hangat. "kangen kamu." kalimat itu terdengar begitu manis di telinga Klara.


"Bukannya kita baru ketemu di sekolah." sahut Klara dengan suara pelan.


Teo tersenyum sembari menatap Klara. "Di sekolah cuma bisa liat kamu doang. Gak bisa ngapa-ngapain." sahut Teo, di barengi kerling nakal.


Klara membeku, ucapan Teo membuat pikiran Klara berkelana tak tentu arah. Gak bisa ngapa-ngapain? Memangnya mereka mau apa?


"Kan memang kita gak boleh ngapa-ngapain juga kan."


"Bukannya kata kakek gitu?"

__ADS_1


Teo menyondongkan tubuhnya ke arah Klara, mengikis jarak antara mereka berdua. "Dia bilang belom boleh tinggal serumah, dia takut kamu hamil. Kita bisa pakai pengaman biar kamu gak hamil." bisik Teo dengan nada sangat tenang.


Sontak Klara mendaratkan pukulan ke pundak Teo. "Dasar me sum! Kakak tau gak apa yang kakak omongin!" sungut Klara. Bisa-bisanya Teo bicara begitu vulgar, mendengarnya saja bulu kuduk Klara sudah meremang.


"Tentu saja aku tau, bagaimana? Bisa kita lakukan sekarang?"


"A-apa, ih ngaco deh!"


Klara benar-benar panik, bukan hanya ucapan Teo yang berani, tapi juga tindakannya. Jemari Teo kini sudah mendarat di pinggangnya, meremas pinggang ramping itu dengan jemari hangatnya.


Menerima sentuhan itu tubuh Klara menegang, remasan jemari Teo bagai aliran listrik yang menyengat lapisan kulit halusnya, memacu aliran darahnya di atas batas normal.


Klara menutup matanya erat, saat wajah Teo benar-benar mengikis jarak antara mereka. Klara bahkan bisa menghirup aroma nafas Teo, hangat dan harum.


Ini bukan yang pertama. Tapi jantung Klara terasa mau lepas dari dadanya, bibir Teo terasa begitu lembut melu mat bibirnya. Hanya sekilas, lalu Teo melepas sentuhannya.


Teo tersenyum senang menatap wajah cantik Klara yang masih memejamkan matanya erat.


"Buka matamu, atau kau mau di cium lagi?" bisik Teo.


Mendengar itu, Klara buru-buru membuka matanya. "Siapa juga yang mau di cium." sungutnya, sembari memalingkan wajahnya.


Teo terkekeh gemas, ini sangat imut. Sikap malu-malu Klara membuatnya semakin bersemangat. Tapi dia tak mau membuat takut istri polosnya. Bagaimanapun belum saatnya bertindak sangat jauh, sejauh ini dia juga masih mampu mengendalikan hasratnya.


Entahlah, semakin hari dia semakin jatuh cinta pada Klara. Teo adalah tipe lelaki yang peduli pada penampilan pasangannya. Klara di mata Teo, sudah memenuhi standardnya. Apa yang dimilliki Klara, Teo mennyukainya.


Bahkan gunung kembar milik Klara membuatnya susah tidur karena menginginkannya.


Kadang saat sendiri ada datang pikiran jahatnya, ingin dia membawa Klara menginap di hotel untuk menyalurkan hasratnya. Bukankah sudah halal baginya menyentuh Klara. Dia hanya lelaki muda yang di paksa menikah, dia juga lelaki muda yang sudah paham akan hubungan intim. Dia juga sudah memiliki hasrat yang kadang juga butuh di salurkan.


Seperti saat ini, dia begitu menginginkan Klara. Tapi melihat wajah polos Klara yang ketakutan dia tak sampai hati. Kadang dia mengutuki Klara, kenapa dia tidak menatapnya dengan penuh gairah, agar dia bisa dengan berani menyalurkan hasratnya yang sangat menyiksa ini.


"Ada apa menatapku seperti itu?" tanya Klara dengan masih malu-malu.


Teo menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. "Pengen makan kamu, tapi takut kamunya pingsan karena takut." sahut Teo dengan senyum.


Klara terdiam, dengan sedikit berani dia menatap bola mata Teo. "Kakak benar-benar ingin kita tidur seranjang?" tanya Klara dengan wajah polosnya.

__ADS_1


Ooh sh it!!!


Bersambung


__ADS_2