
Entah ada angin apa, Sukma Klara bisa bangun pagi hari ini.
"Tumben." ucap ibu, saat melihat Klara sudah stay di meja makan.
"Ibu kok gitu sih, anak gadisnya bangun pagi malah diledekin." sungut Klara.
Wanita berusia empat puluh tahun itu tertawa, menanggapi ocehan anak gadisnya sembari mengolesi roti bakar dengan mentega.
"Siapa yang ngeledek sih. Ibuk tuh senang, kalau anak gadisnya itu tahu diri bangun pagi. Jadi tetangga sebelah nggak bising lagi oleh klakson mobil Ibu tiap pagi." sahut ibu dengan senyum.
"Tuh, kan." Rajuk Klara, ibunya kembali tertawa sembari menatap putrinya.
Siapa sangka gadis manja yang masih belia ini sudah berstatus istri.
Sebenarnya ada rasa tak rela di hatinya, membiarkan Klara menikah di usia yang masih sangat muda. Tapi keluarga Teo adalah keluarga besar yang sangat menyayangi Klara. Dia berpikir, tidak ada lagi keluarga sebaik keluarga Teo, yang bisa dititipi Klara.
Mereka hidup sendirian. Dia tidak memiliki keluarga bahkan suami. Kalau suatu saat nanti dia meninggalkan Klara, dia bisa tenang. Ada keluarga Teo yang begitu menyayangi Klara.
"Sudah ayo cepat, nanti ibu terlambat."
"Siap nyonya." kelakarnya, kemudian beranjak bangkit mengikuti langkah ibunya menuju luar rumah.
Seperti biasa, ibu akan mengantar Klara di depan gerbang sekolah. Begitu dia turun dari mobil Cyntia langsung menyambutnya.
Cyntia adalah teman sebangkunya, yang baru saja mengambil cuti panjang di sekolahnya.
"Kangen.." rengeknya sembari "bergelayut manja pada lengan Klara.
"Kapan kamu pulang? Kok gak kasih kabar."
"Sudah dua hari, sengaja mau buat kejutan." sahutnya sambil nyengir.
"Kamu berhasil, aku benar-benar kaget."
"Heee, bagus dong."
Klara mencibir, lalu menarik langkkah Cyntia masuk ke sekolah.
"Sukma, ini gawat!" serunya panik.
"Ada apa?!"
"Aku belum selesaikan tugas semalam..." lirihnya, sembari bergelayut pada lengan Klara.
Klara berdecak kesal, dia sudah kwatir tadi. Ternyata ...
"Kau ingin aku hajar?! Hal kecil saja membuatku kaget." omel Klara. Kemudian mengambil buku tugasnya dari dalam tas.
__ADS_1
"Nih, cepat kerjakan." ujarnya sembari menyerahkan buku tugasnya pada Cynthia.
"Kau memang the best Klara." pujinya sambil nyengir.
Klara tak menyahut, dia menyeret tubuh Cyntia masuk ke kelas. Cuti begitu lama ternyata tak merubah kebiasaan Cyntia, dia masih saja malas mengerjakan tugas rumah.
Walau Cyntia cuti, tapi dia tetap di beri tugas oleh wali kelas. Biasanya tugas di serahkan melalui email, oleh Cyntia.
"Tugasmu sudah selesai?" tanya Arga, begitu Klara duduk di samping nya. Klara mengangguk, jari telunjuknya mengarah ke Cyntia.
"Haiis dasar pemalas!" gerutu Arga. Klara menanggapinya dengan tertawa.
Klara bukan murid yang pintar, tapi dia rajin belajar. Sebelum ada Teo, Arga selalu membantunya memahami soal-soal yang sulit. Seperti pada pelajaran fisika dan matematika.
Cyntia lebih pintar dari Klara, hanya saja dia pemalas, dan selalu lupa dengan tugas rumah.
Bell istrahat pertama, bergema di setiap ruang kelas.
"Kantin yok," ajak Arga. Klara menggeleng.
"Aku mau ke perpus, bareng Cynthia."
Arga tampak berpikir sejenak. "Oke. Aku ikut, tapi kita ke kantin dulu ya, beli minum, haus."
"Oke."
Dia mengikuti langkah Arga menuju kantin bersama Cynthia.
Begitu masuk ke dalam kantin, tak sengaja pandangan Klara langsung mengarah pada Teo. Suaminya itu sedang duduk dengan dua siswi. Sepertinya ada perdebatan kecil terjadi di antara mereka. Semua itu tak luput dari perhatian Klara.
Klara mengenali salah satu dari mereka, dia adalah widuri, dan satunya lagi Klara baru sekali ini melihatnya.
"Kekasih lama Teo, sudah pulang rupanya." ucap Arga, sembari menyerahkan sebotol Minuman dingin pada Klara. Sementara manik hitamnya mengikuti pandangan Klara.
"Ooh." sahut Klara, sembari berpaling. tepat ketika Theo melihat ke arahnya.
Klara melangkah keluar kantin menuju perpustakaan di susul oleh Arga dan Cyntia.
Ada rasa nyeri di sudut hatinya, mendengar penjelasan Arga. Kemaren aja bilang gak pernah pacaran. Nyatanya?
Klara benar-benar tenggelam dalam buku bacaannya. Walau pikirannya tak benar-benar focus pada buku yang dia baca.
Separuh pikirannya tertuju ke Teo, dia sempat melihat mata tajam Teo, menatapnya dengan tatapan rumit.
Sementara Cyntia dan Arga sibuk mengotak atik gawainya. Membaca bukanlah hobi mereka.
"Gak nyangka Velisa balik lagi, jadi kasian ama Widuri." bisik Cyntia mulai bergosip. Klara yang sedang focus membaca, berhenti sejenak.
__ADS_1
"Velisa siapa?" tanya Klara, walau sebenarnya dia sudah tahu, siapa yang dimaksud oleh Cynthia.
"Kekasih lamanya Teo. Habis mau dibilang mantan, mereka kan belum putus." sahut Chintya.
"Dari mana kamu tahu mereka belum putus?" timpal Arga.
"Dari gosip," sahut Cyntia sambil nyengir.
"Cih! Gosip." cibir Arga. Lelaki berwajah tampan itu melirik Klara sekilas, kemudian kembali foku pada gawainya.
Klara menarik nafas dalam, melonggarkan nafasnya yang terasa sesak, lalu kembali fokus pada bukunya.
Saat pulang sekolah, Teo menghubungi Klara. Ngajak untuk pulang bareng.
Teo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Manik hitamnya se-sekali menatap istrinya yang berada di sebelahnya.
Dia tau, prasaan Klara sedang dalam keadaan baik. Teo meraih jemari istrinya, membawanya kepangkuannya.
Klara kaget, refleks dia menarik tangannya kembali. Tapi genggaman Teo, tak semudah itu dapat dilepas oleh Clara.
"Ada apa? mau kamu dari tadi bete gitu." tanya Teo dengan lemah lembut. saat menatap, sorot matanya menyejukkan hati Klara.
"Nggak ada apa-apa kok."
"Yang bener?" tanyanya.
"Bukannya kamu lagi cemburu ya?" imbuh Teo.
"Iiss, siapa juga yang cemburu." sungut Klara.
Teo tertawa. Dia melepaskan genggamanya, mengacak rambut Clara penuh kasih sayang.
"Hmmm, bagus lah kalau kamu gak cemburu. Aku cuma mau jelasin ke kamu, bahwa aku dan Velisa gak ada hubungan apa-apa." Teo menjeda ucapannya. Mendengar itu, Klara berpaling menatap Teo.
"Velisa pernah bilang suka ke aku. Dia bilang gak masalah bertepuk sebelah tangan. Dia bilang gitu, karena aku gak nanggapi perasaannya." Teo kembali menjeda ucapannya.
"Yang kau lihat di kantin tadi, aku sedang menegurnya. Selama ini dia biasa berbuat seenaknya, itu karena aku belum punya kamu, orang yang harus aku jaga perasaannya." ujar Teo mengakhiri ucapannya.
Apa ini? Apa Teo sedang merayunya. Tapi kalimat ini sungguh manis. Klara tersenyum dalam hati, kesal hatinya hilang seketika.
"Masih tidak puas?" tanya Teo, sembari menyondongkan tubuhnya ke samping.
"Lihat ke jalan. Kakak lagi nyetir." tegur Klara, sembari mendorong tubuh Teo. Pipinya bersemu bersemu merah.
Hangatnya hembusan nafas Teo, membuat jantungnya berdetak kencang.
Melihat itu, senyum Teo mengembang sempurna. Entah sejak kapan Klara jadi semanis ini. Gadis bertubuh kerempeng, dan b berkulit sedikit gelap itu, kini berubah jadi gadis cantik dan manis.
__ADS_1
Bukan Teo tak menghargai ciptaan tuhan. Tapi sebagai lelaki dia punya kreteria sendiri dan itu wajar.
Bersambung