
Setelah sampai di kantor, Nisha merasa sangat terkejut dengan berita yang sampaikan oleh Calline. Bagaimana tidak, baru beberapa hari yang lalu perusahaannya berada di ujung tanduk, kini mendadak sudah normal kembali. Berbagai pertanyaan muncul, karena rasanya mustahil untuk mengembalikan kondisi perusahaan hanya hitungan hari saja. Pasti ada seorang yang diam-diam memulihkan perusahaan.
"Siapa yang melakukan ini? Apakah Danar, Giovanni, atau Lucas? Karena selama ini Nisha hanya berhubungan dengan tiga orang itu. "Calline, apakah kamu tau siapa yang telah menyokong perusahaan kita?"
"Em ... itu Buk," Calline menjeda ucapannya, karena merasa hampir tak percaya pada pelakunya.
"Siapa?" Nisha kedua menautkan alisnya.
"Tuan Xander, Buk. Dia memberikan sahamnya untuk perusahaan kita hampir 80 persen," jelas Calline.
Nisha terbelalak dengan keterkejutan. Sungguh tidak masuk akal jika Alexander memberikan saham sebanyak itu. Jika benar begitu, lalu bagaimana dengan perusahaannya yang berada di luar Negeri sana?
"Apa kamu bilang? Xander telah memberikan 80% sahamnya untuk perusahaan kita? Kamu tidak salah informasi kan, Cell?" tanya Nisha yang masih tidak percaya dengan penjelasan Calline.
"Tidak Bu. Ini ada datanya. Dua hari yang lalu utusan beliau datang kesini, tetapi karena ibu sedang sibuk, jadi serah terima saya yang ambil."
Helaan napas panjang terdengar begitu berat. Sebenarnya apa yang sedang direncanakan oleh Alexander sehingga memberikan salam yang begitu besar ke perusahaannya. Karena diliputi dengan berbagai pertanyaan, Nisha pun segera menghubunginya untuk menanyakan maksud dari tujuannya.
Namun, Nisha baru menyadari jika saat ini Alexander sedang berada di pesawat dan langsung mengurungkan niatnya untuk menghubunginya.
__ADS_1
"Ya sudah, kembalilah bekerja!" Nisha seolah mengusir Calline dengan halus, karena dia sedang ingin sendiri untuk memecahkan teka-teki yang sedang dimainkan oleh Alexander.
"Baik, Buk."
...***...
Kepergian Alexander bukan untuk kembali ke Jerman, melainkan menemui seorang dokter spesialis untuk membantu memulihkan ingatnya, karena Alexander tidak ingin terus-terusan terjebak dengan dirinya sat ini yang sama sekali tidak bisa mengingat keluarganya, termasuk Nisha.
Sebagai tangan kanan, Hansen berusaha untuk tetap disampaikannya dan menjadi satu-satunya orang yang bisa diandalkan untuk Tuanya. Hansen juga sudah mendengar cerita dari Tuanya jika ternyata dia adalah Alexander yang sedang mengalami hilang ingatan.
"Tuan, apakah Anda yakin? Bagaimana jika dengan metode ini Anda malah tidak bisa mengingat keluarga Anda untuk selamanya? Anda harus bersabar. Semua butuh proses," ucap Hansen saat Tuannya memutuskan untuk melakukan terapi di luar negeri selama kurang lebih enam bulan.
Sebenarnya Hansen merasa kecewa dengan keputusan Tuanya yang sengaja mengorbankan perusahaan yang selama ini di kelolanya, tetapi apa boleh buat, semua keputusan ada ditangan Tuanya.
"Apakah Anda tidak menyesal jika perusahaan kita yang ada di Jerman hancur. Ingat Tuan, yang membesar nama Anda adalah perusahaan itu. Jika perusahaan itu hancur, nama Anda juga akan hancur. Lalu apa yang akan Anda lakukan memberikan penjelasan pada Daddy-nya Nona Xella. Meskipun dia sudah membatu Nona Xella menyembunyikan rahasia besar ini, tetapi tidak semestinya Anda menghancurkan perusahaannya juga," komentar Hansen.
"Aku tidak peduli dengan namaku yang ikut hancur, karena yang hancur adalah Xander, bukan Alexander. Aku akan tetap melanjutkan perjuanganku di perusahaanku sendiri. Aku tidak ingin Nisha berjuang seorang diri. Sudah cukup dia mengorbankan waktu dan tenaganya untuk mengelola perusahaanku. Kini saatnya dia harus beristirahat."
Hansen sedikit tertampar dengan ucapan Tuannya, karena selama dia mengenal tuannya, tak pernah sedikitpun tuannya memikirkan wanita. Bahkan Xella yang sudah jelas berada di depan matanya saja diacuhkan.
__ADS_1
"Beruntung sekali wanita yang bisa memiliki Anda, Tuan. Meskipun Anda dingin, tetapi Anda masih hangat pada pasang Anda. Berati anda benar-benar mencintai Nona Nisha. Aku yakin Nona Nisha bukan wanita biasa karena bisa menjerat hati Anda."
Alexander hanya mengurung senyum di bibir. Dia sendiri tidak percaya dengan dirinya yang peduli dengan wanita, padahal selama ini sekedar melihat wanita yang mendekatinya rasanya muak, tetapi berbeda saat dia sedang bersama dengan Nisha. Rasanya ada getaran yang mengguncang dadanya. Sampai-sampai Alexander merasa berat untuk berpisah dengan wanita itu. Mungkin itu adalah salah satu ikatan batin antara suami dan istri.
"Sudahlah, tidak usah membahas masalah cinta-cintaan. Mending sekarang kamu kembali ke Jerman. Siapkan semua berkas-berkas yang dibutuhkan. Karena setelah aku kembali, aku akan langsung pulang ke Jakarta," titah Alexander.
"Lalu apa yang harus aku katakan pada Daddy-nya Nona Xella, Tuan? Apakah aku harus mengatakan jika sekarang anda sedang melakukan pengobatan?"
"Katakan saja jika kamu berani. Tapi detik itu juga aku akan memastikan jika itu adalah napas terakhirmu!" ancam Alexander.
...***...
Selagi nunggu Novel ini update kembali mampir dulu dong ke Novel baru Author dengan judul KISAH YANG TERTINGGAL
Sinopsis : Lima belas tahun berpisah, kini Alvaro dan Bunga dipertemukan lagi dalam satu universitas yang sama. Meskipun telah berpisah lama, tetapi tak membuat rasa benci yang dimiliki oleh Alvaro luntur. Pria itu masih menyimpan rasa benci yang tinggi. Namun, suatu saat Alvaro dibuat menyesal dengan sikapnya yang selama ini acuh kepada Bunga. Dan penyesalan selalu datang dikemudian hari. Bagaimana kisah selanjutnya?
Langsung baca ke lapaknya ya 🙏
__ADS_1