Istri Tuan Alexander

Istri Tuan Alexander
Bab 29


__ADS_3

Impian seorang gadis kecil yang ingin mempunyai keluarga lengkap akhirnya bisa terkabulkan. Kini Alsha bisa merasakan kasih sayang seorang ayah yang sesungguhnya. Bahkan Alsha dengan bangga memperkenalkan ayahnya kepada teman-temannya. Alsha mampu membungkam ejekan yang mengatakan jika dia adalah anak haram.


“Sayang, apakah kamu sudah siap?” tanya Alexander pada putrinya.


“Sebentar lagi, Yah.” Terlihat tangan Alsha masih sibuk memasukkan beberapa boneka kesayangannya yang akan dia masukkan kedalam koper.


“Sayang, kita hanya akan pergi liburan, bukan pindahan,” ujar Alexander saat melihat Alsha mencoba untuk memasukkan boneka kesayangannya.


“Iya, Alsha tahu, Pa. Tapi mereka harus ikut liburan bersama dengan Alsha, karena selama ini mereka telah menemani hari-hari Alsha ”


“Baiklah, terserah kamu yang penting jangan banyak-banyak ya! Setelah selesai, kamu langsung bersiap, karena kita akan segera berangkat.”


Alsha mengangguk dengan pelan. “Iya, Pa. Alsha tahu.”


Setelah melihat persiapan anaknya, Alexander pun meninggalkan kamar Alsha dan menuju ke kamarnya, dimana Nisha juga sedang berkemas.


“Sha, enggak usah bawa pakaian banyak-banyak! Kita itu mau liburan, bukan pindahan,” ujar Alexander pada istrinya, saat wanita itu sama seperti Alsha yang terus mengisi kopernya.


“Iya, aku tahu. Aku hanya sedang menyiapkan perlengkapan untuk kita sholat nanti. Meskipun kita sedang liburan, tetapi kita tidak boleh melupakan kewajiban kita untuk tetap sholat.”

__ADS_1


Seketika dada Alexander menjadi berdebar sangat kencang. Dalam hidupnya, bisa dihitung berapa kali dia mengerjakan sholat. Mungkin kedatangan Nisha dalam hidupnya telah menjadi rencana Allah.


“Nisha ... ” panggil Alexander dengan pelan.


“Iya, ada apa?”


“Kemarilah! Ada yang ingin aku katakan padamu.”


Nisha langsung mendongak untuk menatap Alexander yang saat ini sedang duduk ditepi ranjang. “Kemarilah!”


Dengan patuh, Nisha langsung berdiri dan melangkah untuk mendekat ke arah Alexander. Entah apa yang ingin dikatakan oleh Alexander sehingga wajahnya terlihat sangat serius. Mungkinkah telah terjadi masalah?


Kini Nisha berada tepat dihadapannya. Dia pun menatap Nisha tanpa celah sedikitpun. Wajah cantiknya terlihat begitu bersinar di matanya. Jantungnya semakin bergerumuh tak karuan, saat jarak mereka hanya satu langkah.


“Alex ... ada apa?” ulang Nisha dengan heran, karena Alexander masih membuka.


Tanpa kata tangan Alexandre langsung menarik lengan Nisha hingga keduanya sama-sama jatuh ketempat tidur dengan posisi Nisha berada diatas tubuh Alexander.


Mata Nisha langsung membulat dengan lebar ketika menyadari tubuhnya sedang menimpa tubuh suaminya. Bahkan Nisha bisa merasakan sesuatu yang telah mengeras dibawah sana. Dengan cepat, Nisha berusaha untuk bangkit, tetapi usahanya dicegah oleh Alexander.

__ADS_1


Tangan Alexandre langsung mengelus pipi Nisha yang terasa sangat lembut. Perlahan tangannya telah melepaskan hijab yang membungkus kepala Nisha.


“Alex ... apa yang kamu inginkan?” tanya Nisha dengan gugup, karena Nisha tahu apa yang sedang diinginkan oleh suaminya.


“Aku ingin memberikan adik untuk Alsha agar dia tidak merasa kesepian. Kamu mau kan?” bisik Alexander dengan pelan.


Pipi Nisha langsung memerah. Mendadak kamar yang tadinya terasa sejuk, kini mulai terasa panas saat sebuah bisikan menyentuh telinganya.


“Alex ... apa yang kamu inginkan? Bukankah kita akan segera berangkat?”


“Iya, kita memang akan segera berangkat, tapi bisakah kita melakukannya lima menit saja. Aku menginginkanmu, Nisha.” Tangan Alexander kembali mengelus pipi Nisha.


“Alex ... bukan aku ingin menolak keinginanmu, tapi jika kita melakukannya sekarang, kita akan ketinggalan pesawat dan pada akhirnya kita akan gagal untuk pergi liburan. Apakah kamu mau mengecewakan Alsha untuk yang kesekian kalinya?”


Alexander menggeleng dengan pelan. “Tidak. Aku tidak akan mengecewakan putriku lagi. Tapi aku rasa putriku tidak akan keberatan jika ayahnya mencetak adik terlebih dahulu. Nisha ... ayolah sebentar saja.”


Belum sempat Nisha memberikan jawaban, pintu kamar pun terbuka. Sosok Alsha yang berada diambang pintu langsung menjerit. “Aaaa ... ”


...😀😀😀...

__ADS_1


__ADS_2