Istri Tuan Alexander

Istri Tuan Alexander
Bab 28


__ADS_3

Rasa bahagia yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata ketika ingatan Alexander sudah kembali. Nisha tak hentinya mengucap kata syukur dengan kembalinya Alexander sisinya lagi. Alsha yang semula marah kepada papanya, perlahan mulai luluh saat Alexander telah kembali pulang. Rasa bahagia pun terpancar jelas di wajah Alsha yang sangat merindukan papanya.


“Papa jangan pergi lagi!” ucap Alsha saat berada dalam gendongan Alexander.


“Iya. Papa tidak akan pergi lagi. Papa akan disini untuk Alsha.”


Kabar tentang kembalinya Alexander begitu cepat menyebar luas. Bahkan juga telah sampai ditelinga Xella yang masih berada di Jakarta. Tentu saja Xella merasa murka dengan Alexander yang tega mengacuhkan perusahaan milik Daddy-nya. Tak ingin membuang waktunya lebih lama, Xella langsung mendatangi rumah yang tempati oleh Alexander.


“Xander ... keluar kamu!” teriak Xella didepan pintu rumah Alexander. Bahkan Xella juga menggedor pintu dengan keras.


Nisha yang tengah bersama dengan Alsha merasa sangat terkejut dengan suara gedoran pintu. Alsha yang tengah bermain segera memeluk mamanya karena takut.


“Ma ... itu siapa?” tanyanya.


“Mama juga tidak tau, Sayang. Nadine, coba lihat siapa yang diluar itu!”


Nadine yang tak lain adalah pengasuh Alsha segera mengecek siapa yang berteriak dan menggedor pintu dengan keras. Mengapa satpam di luar tidak menghentikan kegilaan yang lakukan wanita itu.


“Apa yang kamu lakukan? Kamu sudah membuat keributan di rumah orang, apakah kamu orang gila?” cibir Nadine pada Xella yang ada didepannya.

__ADS_1


“Dimana Xander? Suruh dia keluar! Jangan jadi pengecut!” teriak Xella dengan kuat.


“Maaf, mungkin kamu salah alamat. Disisi tidak ada orang yang bernama Xander. Pak satpam, mengapa wanita seperti ini tidak diusir saja?”


“Maaf Mbak Nadine, wanita ini sepertinya baru keluar dari rumah sakit jiwa. Kami tidak bisa mencegahnya karena didalam tasnya ada sebuah pisau. Wanita itu telah melukai tangan saya saat hendak dicegah untuk masuk,” jelas pak satpam.


Bola mata Nadine langsung memulai dengan lebar. Bahkan terasa sulit untuk menelan salivanya. Jika benar wanita yang ada didepannya adalah seorang pasien yang sedang kabur, itu artinya Nadine harus segera menghubungi pihak rumah sakit untuk menangkapnya kembali.


“Kamu tenang dulu aku akan membantumu untuk mencari pria yang bernama Xander. Tapi bisakah kamu untuk menyerahkan tas itu?”


“Oh ... kamu berpikir jika aku benar-benar gila? Baiklah akan aku buktikan jika aku gila! Sekarang dimana majikanmu. Suruh dia keluar!” sentak Xella menjadi.


“Sayang, kamu di sini dulu ya! Mama akan mau melihat apa yang terjadi diluar sana!” ucapnya pada Alsha.


Dengan patuh, Alsha mengangguk dengan pelan. “Iya, Ma.”


Nisha merasa tidak enak saat mengenali suara siapa yang melakukan keributan diluar sana. Tidak salah lagi dugan Nisha saat melihat wajah Xella. “Kamu mau apa kesini?” tanya Nisha dengan datar.


“Akhirnya kamu keluar juga! Sekarang jika aku tidak bisa mendapatkan Xander, maka tak ada satu orang pun yang bisa mendapatkannya, termasuk kamu!” Xella mencoba untuk maju, tetapi langkah tertahan oleh seseorang yang menarik lengannya. Dan saat dilihat ternyata pelakunya adalah orang yang sedang dia cari.

__ADS_1


“Xander,” gumamnya.


“Jangan coba sekali-kali kamu menyentuh Nisha!” tegas Alexander. “Urusanmu itu denganku, bukan dengan Nisha! Mengenai perusahaan milik Daddy-mu yang hancur, itu memang sudah sepantasnya. Kamu pikir aku tidak tahu atas kecurangan yang dilakukan oleh Daddy-mu selama ini? Kamu pikir aku juga tidak tahu jika kecelakaan yang menimpaku itu adalah ulah dari Daddy kamu? Xella, aku sudah mencari tahu semua bukti tentang kecelakaan yang menimpaku malam itu. Dan Daddy-mu adalah dalangnya. Jikapun aku menghancurkan perusahaannya, itu belum apa-apa atas apa yang dia lakukan.”


Seketika tubuh Xella melemah saat mendengar ucapan Alexander. Memang benar apa yang dikatakan oleh Alexander jika kecelakaan malam itu terjadi karena Daddy-nya. Andaikan saja Daddy-nya tidak serakah akan kekuasaan, mungkin Alexander tidak akan dikejar oleh anak buahnya.


“Tidak hanya sampai di situ saja, ternyata kamu juga menculikku saat aku dalam keadaan koma. Kamu memanggilku dengan nama Xander agar tidak ada satu orang pun yang menemukanku. Kamu ingin menguasaiku tapi sayangnya doa seorang istri mampu menembus langit. Lihatlah, sekarang semuanya sudah terungkap dengan sangat jelas. Jika kamu masih mau menuntutku, aku juga akan menuntutmu dan juga Daddy-mu atas apa yang telah kalian lakukan. Bagaimana?” ancam Alexander.


Mata Xella telah berubah merah. Dia mencoba untuk menahan air matanya. Bagaimanapun dia adalah seorang wanita yang lemah, meskipun mempunyai ambisi yang besar.


“Apakah ini adalah balas budi setelah aku merawatmu selama ini? Xander, aku harap kamu tidak bagaimana kamu bisa tetap bernafas sampai detik ini. Semua itu karena aku, Xander! Dan inikah balasan yang kamu berikan untukku? Kamu jahat Xander!” sentak Xella dengan dada naik turun.


“Seharusnya aku yang mengatakan Kamu jahat, Xella! Kamu jahat karena telah memisahkkan aku dengan istriku yang sedang hamil. Bahkan kamu tega menyembunyikan identitas. Lalu apakah aku salah jika aku membalas kejahatanmu?”


Xella tak bisa berkata apa-apa lagi. Kini dirinya tercepat dalam pertanyaan Alexander. Karena merasa malu, Xella pergi dari rumah Alexander dengan rasa kecewanya.


...**...


Guys maaf ya novel ini lama upnya. Sudah aku katakan jika novel ini akan segera tamat. Jadi hanya tinggal 2 bab lagi ya, karena novel ini tuh sepi, gak semangat untuk ngelanjutin 🥺

__ADS_1


__ADS_2