
Kecewa untuk kedua kalinya manakah seorang Alexander mengingkari janjinya. Sudah satu minggu Alexander berlalu tanpa sebuah kabar. Selain menenangkan pikirannya yang semakin kalut dia juga harus meyakinkan pada Alsha jika Papanya akan segera pulang.
Sebagai teman dekat, Lucas mencoba untuk membantu Nisha untuk melacak dimana keberadaan Alexander. Namun, ternyata pria itu tidak bisa mendeteksi dimana keberadaan Alexander.
"Mungkinkah Alexander tidak yakin jika kamu adalah istrinya sehingga dia memutuskan untuk pergi begitu saja?" tanya Lucas saat bertemu dengan Nisha.
"Aku tidak tahu. Tetapi jika dia tidak yakin lalu mengapa dia memberikan saham ke perusahaan sebesar 80%. Aku tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh Alexander."
"Apa? 80 persen? Yang benar aja, Nish! Sungguh Alexander gila!" Lucas tidak bisa berkata apa-apa lagi saat mendengar ucapan Nisha.
Baru saja Nisha merasa sangat bahagia karena Alexander telah kembali pulang, tetapi kini dia harus bersedih kembali saat tak ada sedikitpun kabar dari Alexander. Jika pertemuannya hanya untuk menggores luka di dalam hatinya mengapa dia harus dipertemukan lagi dengan Alexander. Rasanya Nisha sedang dipermainkan oleh Alexander yang datang secara tiba-tiba dan pergi begitu saja.
"Buk,ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda," ucap Calline saat masuk kedalam ruangan Nisha.
"Siapa dia?"
"Em ... dia." Belum sempat Calline menjelaskan orang yang ingin bertemu dengan Nisha, tiba-tiba seorang wanita datang nyelonong begitu saja.
"Oh ... ternyata ini istri dari seorang Alex? Aku pikir lebih cantik dariku, tetapi lihatlah biasa saja. Hanya seperti wanita penjual sayur di pasar!" cibir seorang wanita asing. Bahkan Nisha saja belum pernah melihatnya.
__ADS_1
"Maaf, kamu siapa? Aku tidak mengenalmu. Jika tidak ada urusan yang lebih penting silakan keluar karena aku tidak mempunyai waktu untuk menanggapi wanita sepertimu!" balas Nisha dengan santai.
Seorang wanita yang tak lain adalah Xella sengaja mencaritahu tentang istri dari Alexander. Berbagai cara dilakukan untuk menemukan keberadaan Nisha. Dan ternyata Xella berhasil menemukan Nisha yang tak lain adalah istri Alexander. Xella benar-benar sudah gila, karena nekat mendatangi Nisha yang berstatus istri sah dari Alexander.
"Tapi aku punya urusan denganmu. Asal kamu jika bukan karena aku, Alexander tidak akan pernah bisa bernapas sampai detik ini. Dan jika bukan karena aku, Alexander tidak akan dikenal oleh dunia. Aku yang berjasa pada hidup Alexander. Jadi lebih baik kamu lepaskan Alexander, karena yang berhak memiliki Alexander adalah aku, bukan kamu!" Xella setengah berteriak untuk melampiaskan perasaannya yang beberapa hari ditahannya.
Bola mata Nisha langsung membulat dengan lebar. Dalam hati Nisha hanya bisa membatin apakah yang sedang berada di hadapannya saat ini adalah Marxella, mantan Alexander?
"Oh, jadi kedatangan kamu ke sini hanya untuk mengatakan jika kamu sangat berjasa untuk hidup Alexander dan memintaku untuk meninggalkan dia? Tidak segampang itu, Nona! Kamu pikir aku akan menyerahkan Alexander begitu saja? Tentu tidak! Aku adalah istri sah-nya dan aku tidak akan memberikan suami kepada wanita lain. Hanya wanita bodoh yang mau mengalah dengan wanita penggoda. Dasar wanita penggoda!" cibir Nisha.
Xella yang dikatakan wanita penggoda tentu saja merasa tidak terima. Matanya melotot dengan lebar, bahkan kedua tangannya telah mengepal. "Jaga mulut kamu! Asal kamu tahu aku adalah wanita dari keluarga terhormat jadi jangan sekali-kali kamu mengatakan aku adalah wanita penggoda!" sentak Xella.
"Oh ... jadi kamu adalah wanita terhormat? Jika kamu adalah wanita terhormat kamu tidak akan pernah merebut seorang pria yang telah mempunyai anak dan istri. Jika kamu masih mempunyai pikiran seperti itu apakah kamu masih pantas untuk disebut pemerintah terhormat, Nona?" tekan Nisha mendalam.
"Apa kamu bilang?" Xella melangkah maju untuk mendekat kepada Nisha. Karena kesabarannya hanya setipis tisu, Xella berniat untuk menarik hijab yang digunakan oleh Nisha. Namun, belum sempat mendekat, Calline sudah sigap untuk menghadang.
"Tolong jangan membuat keributan disini atau aku akan memanggilkan security untuk menerima keluar!" ancam Calline.
"Kamu pikir aku takut? Tidak! Aku tidak akan takut! Bahkan dengan sekejap mata aku bisa menghancurkan perusahaan ini! Lihat saja nanti, apa yang akan aku lakukan!"
__ADS_1
Sebenarnya Nisha tidak pandai untuk berdebat dengan seseorang. Tetapi entah mengapa kali ini dia sangat berani dan mempunyai nyali untuk melawan orang lain. Mungkin itu karena ingin mempertahankan Alexander?
"Baiklah, aku akan pergi dan tidak akan membuat keributan disini, tapi katakan dimana Alexander berada," lanjut Xella yang sudah berhasil meredupkan emosinya.
Detik itu juga dada Nisha seakan ingin berhenti berdetak. Bagaimana mungkin Xella tidak tau jika saat ini Alexander telah pulang ke Jerman untuk menyelesaikan pekerjaannya?
Tunggu ... apakah Alexander tidak pulang ke Jerman? Lalu dia pergi kemana? Bukankah saat itu dia mengatakan ingin pulang? Ya Allah ... sebenarnya apa yang telah terjadi kepada Alexander. Tolong jaga dia di manapun dia berada.
"Bukankah dia sudah pulang ke Jerman satu Minggu yang lalu," ucap Nisha dengan pelan.
"Apakah aku akan percaya dengan ucapanmu jika Alexander sudah pulang ke Jerman? Jika Alexander berada di sana tidak mungkin aku ke sini untuk mencarinya. Sekarang katakan di mana Alexander karena aku ingin berbicara dengannya!" tekan Xella.
"Tapiaku benar-benar tidak tahu di mana satu minggu yang lalu dia mengatakan ingin pulang ke Jerman untuk menyelesaikan pekerjaannya. Jika kamu tidak percaya itu adalah urusanmu. Calline, bawa dia keluar karena aku kan ada rapat!" ketus Nisha dengan nafas panjang sebelum meninggalkan Xella.
"Hei... jangan pergi urusan kita belum selesai!" teriak Xella saat diacukan oleh Nisha.
...***...
Detik-detik Tamat ya 😔
__ADS_1