
Mendengar teriakan sang anak Nisha langsung menarik tubuhnya yang sedang menimpa tubuh Alexander. Dengan cepat dia bangkit untuk mendekat kearah Alsha.
“Sayang, kamu kenapa, Nak?”
“Mama ... apa yang Mama lakukan diatas tubuh Papa? Apakah kalian berdua sedang berantam?”
Nisha langsung menelan kasar salivanya. Dalam hati meretuki kecerobohan Alexander yang tidak mengunci pintunya, sehingga membuat Alsha ternoda.
“Enggak, Sayang. Papa dan Mama enggak berantam. Kan kita mu liburan,” jelas Nisha.
“Lalu apa yang Mama lakukan di atas tubuh Papa dan mengapa Mama tidak memakai kerudung Mama?”
Lagi-lagi Nisha tidak bisa memberikan penjelasan mengapa dia bisa berada di atas tubuh suaminya. Semua ini karena kecerobohan Alexander yang tidak bisa bersabar dan tidak mengunci pintu ketika dia sedang menginginkan sesuatu. Beruntung saja mereka berdua belum melakukan apa-apa sehingga mata Alsha belum ternoda parah.
Melihat sang istri yang tidak bisa memberi penjelasan kepada anaknya, Alexander pun langsung bangkit dari tempat tidur dan mendekat ke bocah kecil yang sangat mirip dengan.
“Sayang ... papa dan mama sedang perencanaan memberikan adik untukmu agar kamu tidak sendirian. Apakah kamu mau?” tanya Alexander sambil melirik ke arah Nisha.
“Adik ... ? Serius Papa ingin memberikan adik untuk Alsha? Alsha mau banget punya adik Pa. Ayo cepat buatin Alsha adik!” Alsha malah merengek pada Alexander.
“Kalau begitu mulai sekarang jika Alsha mau masuk ke kamar papa dan mama harus mengetuk pintu dahulu. Enggak boleh asal masuk. Oke! Satu lagi, saat liburan nanti Alsha harus tidur sama mbak Nadine, enggak boleh tidur sama Papa dan Mama agar proses pembuatan adik bisa segera jadi. Bagaimana, apakah Alsha bersedia?”
Senyum Alsha mengembang lebar. Dengan anggukan kepala, dia mengiyakan apa yang dikatakan oleh Papanya, karena dia berharap adiknya akan segera jadi. “Iya, Pa. Alsha janji.”
__ADS_1
Alexander merasa telah memang. Dia pun langsung menggendong tubuh Alsha untuk keluar dari kamarnya. Namun, sebelum keluar Alexander menyuruh Nisha untuk segera bersiap karena sebentar lagi mereka akan berangkat.
...***...
Hati siapa yang tidak bahagia ketika kita merasakan liburan bersama dengan papa dan mamanya. Ini adalah liburan pertama Alsha ke luar negeri bersama dengan Papa dan Mamanya, karena biasanya dia hanya akan liburan bersama dengan sang Mama dan juga Mbak Nadine. Namun, kali ini dia bisa merasakan liburan bersama dengan Papanya.
Kali ini Alsha diajak terbang ke Jepang. Tujuannya adalah ke Disneyland, sesuai dengan keinginan Alsha.
Perjalanan panjang akhirnya akan terbayar, ketika pesawat yang ditumpangi oleh Alsha telah mendarat di negara cincin api. Dia sangat bahagia, karena satu persatu doanya mulai terkabulkan.
“Mbak Nadine, bisakah aku bertanya padamu?” tanya Alsha yang kini sedang berada disebuah kamar bersama dengan pengasuhnya.
“Alsha mau tanya apa?”
Nadine langsung membulatkan matanya dengan lebar saat mendengar pertanyaan Alsha yang tiba-tiba membahas tentang proses pembuatan adik. “Apakah Alsha menginginkan seorang adik?”
Kepala Alsha mengangguk dengan pelan. “Iya, Mbak. Kata Papa dia mau memberikan seorang adik kepada Alsha agar Alsha mempunyai teman atau bermain. Tapi kata Papa Alsha harus tidur sendiri agar adik Alsha cepat jadi. Memangnya bagaimana sih Mbak cara pembuatan adik? Mengapa dulu Mama tidak memberikan Alsha adik agar Alsha tak merasa kesepian.”
Alsha tercengang dengan celoteh polos anak majikannya. Bagaimana caranya dia bisa menjelaskan tentang proses pembuatan adik, kepada seorang anak kecil yang belum tahu apa-apa tentang sebuah proses pembuatan anak.
“Mbak! Mbak Nadine kok diam aja sih! Jawab dong, Mbak! Berapa lama proses pembuatan adik?”
Lagi-lagi Nadine hanya menelan kasar salivanya saat ditekan oleh Alsha. “Prosesnya lama, Alsha. Butuh waktu sembilan bulan.”
__ADS_1
“Hah? Kok lama banget sih, Mbak? Tapi kata Papa saat kita pulang ke Indonesia nanti adik Alsha udah jadi. Apakah papa membohongi Alsha?”
Nadine hanya bisa menghela napas beratnya. Sangat sulit untuk memberikan penjelasan kepada Alsha, karena tak semestinya Alsha mengetahui bagaimana proses pembuatan adik.
“Benarkah?”
“Iya, Mbak. Makanya mulai sekarang Alsha enggak boleh tidur sama mama lagi. Alsha kan jadi penasaran dengan cara pembuatan, Mbak.”
“Alsha sayang, kamu enggak usah memikirkan bagaimana cara pembuatan adik. Yang penting jika kamu ingin proses pembuatan adik kamu cepat jadi, kamu enggak boleh ganggu mama sama papa kalau mereka sedang berada di kamar, karena pembuatan adik itu butuh ketenangan.”
“Benarkah?” Alsha memastikan.
“Iya. Makanya mulai sekarang Alsha enggak boleh sering-sering masuk ke kamar mama ya!”
Jika Nadine sedang berusaha untuk memberikan penjelasan kepada Alsha agar pikiran tidak ternoda, berbeda dengan Alexander telah berencana untuk mempraktekkan bagaimana cara membuat adik untuk Alsha. Namun, sebelumnya dia berpesan kepada Nadine untuk menjaga Alsha terlebih dahulu.
“Alex ... kita baru saja sampai,” tegur Nisha saat Alexander telah memeluknya dari belakang.
“Tapi aku menginginkan sekarang, Nish. Aku sudah menahannya sejak kita akan berangkat kemarin. Dan kini Aku benar-benar tidak tahan lagi. Boleh ya! Kamu tenang saja aku sudah memberitahu Nadine untuk menjaga Alsha selama kita melakukan pelayaran.”
“Tapi Al ... ”
Kali ini Alexander tidak menerima protesan apapun dari Nisha dan segera menuntutnya untuk naik keatas tempat tidur. Alexander ingin menggunakan waktu liburan ini sebagai honeymoonnya yang tertunda.
__ADS_1
...###...