
Sudah Hampir 24 jam semenjak kepergian Alexander, tetapi Nisha belum juga bisa menghubungi nomer Alexander. Sungguh Nisha sangat takut jika kejadian malam itu akan terulang lagi.
"Ma, apakan mama sudah menelpon papa? Alsha ingin berbicara dengan papa," celetuk Alsha yang langsung membuyarkan lamunan Nisha.
"Ah itu ... nomer papa masih belum bisa dihubungi. Mungkin Papa masih sibuk dengan pekerjaannya sehingga dia lupa untuk menghidupkan ponselnya kembali. Sabar ya, Sayang. Besok entah lusa papa juga akan kembali pulang," ujar Nisha untuk menenangkan anaknya.
"Tapi papa enggak bohong kan Ma? Papa pasti pulang kan?"
Untuk pertanyaan Alsha kali ini, Nisha tidak bisa memberikan jawaban, karena dia sendiri tidak tahu apakah Alexander akan menepati janjinya aku kembali ingkar, mengingat hingga sampai saat ini nomor teleponnya saja belum bisa untuk dihubungi.
"Iya, Sayang. Papa pasti nggak akan bohong dia akan kembali pulang setelah pekerjaannya selesai. Jadi Alsha jangan bersedih ya jika papa belum bisa pulang cepat kerena pekerjaan papa itu banyak."
"Tapi papa beneran pulang kan?"
__ADS_1
Kepala Nisha mengangguk dengan pelan. "Iya, Sayang. Papa pasti pulang kok."
...***...
Merasa dibohongi oleh Xander membuat Xella merasa sangat geram. Sudah dua hari dirinya kembali ke Jerman tetapi tak menemukan batang hidung Xander di sana. Bahkan saat bertanya kepada Daddy-nya, pria itu sama sekali tidak tahu menahu dimana Xander berada. Bukan hanya Xander saja, tetapi Hansen pun ikut tenggelam begitu saja.
"Apakah di Jakarta sana ada masalah?" tanya sang Daddy pada Xella.
"Dadd, apakah mungkin jika Xander bertemu dengan keluarganya dan membohongiku dengan mengatakan jika sudah pulang kesini? Apakah dia mengingat sepenggal jati dirinya? Daddy sih, kenapa juga Xander diberikan izin untuk terbang ke Jakarta. Seharusnya Daddy tau konsekuensi apa yang akan diterima. Aku yakin jika saat ini Xander masih berada di Jakarta," lanjut Xella yang merasa telah di bohongi oleh Hansen.
Sang Daddy langsung menatap dalam ke arah putrinya. Dia tahu apa yang dilakukan oleh putrinya itu salah, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena Xella adalah satu-satunya keluarga yang tersisa. Rasanya memang tidak adil untuk keluarga Alexander, tetapi Daddy Xella tidak bisa membujuk putrinya saat itu yang menginginkan Alexander.
"Xell, jikapun Xander telah bertemu dengan keluarganya, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Xander punya keluarga dan dia juga berhak bahagia dengan keluarganya. Sudah cukup selama ini kita menyembunyikan Xander. Biarkan dia bahagia bersama dengan keluarganya," ujar Daddy Xella yang merasa kasian dengan apa yang terjadi pada Xander selama ini.
__ADS_1
Sud cukup Xander berpisah dengan keluarganya, terlebih saat ini Xander telah memiliki seorang anak.
Daddy Xella yang terus mengawasi Xander selama di Jakarta sangat terkejut saat mendengar pengaduan mereka tentang apa yang telah terjadi selama Xander di Jakarta. Hatinya sedikit tersenyum, terlebih saat mendengar istri Xander mampu membangun sebuah perusahaan yang gak kalah besar hanya dalam waktu lima tahun.
"Daddy kok gitu, sih? Seharusnya Daddy itu membantu Xella untuk meyakinkan Xander, bukan malah mendukung Xander kembali ke keluarganya!"
"Xella, jangan terlalu berambisi dengan apa yang bukan menjadi hak kamu, Nak. Xander itu punya keluarga. Daddy tau jika kamu sangat mencintainya dan tidak rela berpisah dengannya, tapi kamu juga harus memikirkan bagaimana perasaan keluarganya, terlebih Daddy juga mendengar jika Xander telah memiliki istri. Xella, sudahilah drama ini dan biarkan Xander bahagia dengan keluarganya!"
Xella merasa tidak terima dengan pencerahan Daddy-nya. Susah payah Xella merawat Xander dan kini harus dilepaskan begitu saja.
"Xella tidak peduli sekalipun Xander telah mempunyai istri. Yang Xella inginkan cuma Xander berada disamping Xella. Apa pun akan Xella lakukan demi mendapatkan Xella. Jika Daddy tidak setuju dengan keputusan Xella, Daddy enggak udah ikut campur dengan urusan Xella!" Detik itu juga Xella langsung berlalu meninggalkan Daddy dengan rasa kesal.
"Astaga ... Xella! Sadar Xella!" teriak Daddy-nya.
__ADS_1