
Menjadi orang tua tunggal untuk anaknya, terkadang merasa ingin menyerah. Terlebih harus mengelola sebuah perusahaan yang cukup besar. Hanya orang-orang kuat saja yang bisa bertahan selama hampir enam tahun tanpa seorang suami disampingnya. Dan berjuang seorang diri untuk tetap bertahan. Jika dulu Nisha sanggup tanpa sedikitpun mengeluh, tapi tidak untuk saat ini.
Semua semangatnya luntur, karena sosok Alexander yang kembali ingkar. Pria itu hanya berpamitan untuk pergi sebentar namun ternyata sudah hampir 4 bulan tak ada kabar darinya. Semangat untuk melanjutkan hidupnya kembali pupus, terlebih akhir-akhir ini kesehatan Nisha sedang tidak baik. Rasanya sungguh tidak sanggup lagi Nisha melewati hari-hari yang semakin hari semakin banyak masalah yang datang.
Ternyata tentang Alexander yang memberikan saham di perusahaannya menjadi sebuah masalah baru yang harus dihadapi oleh Nisha. Bagaimana tidak, Nisha dituduh telah melakukan penipuan karena berhasil merampas 80% saham dari perusahaan milik Daddy-nya Xella yang saat itu dikelola oleh Alexander. Padahal Nisha sendiri tidak tahu apa maksud dari Alexander memberikan saham sebanyak itu untuk perusahaannya.
Dan pada saat Nisha ingin mengembalikan saham yang telah diberikan oleh Alexander, Hansen mencegah. Dia mengatakan jika itu adalah saham pribadi milik Alexander selama hampir 6 tahun dia mengelola perusahaan Daddy-nya Xella. Saham itu sengaja diberikan kepada Nisha untuk tetap mempertahankan perusahaannya karena, suatu saat Alexander akan kembali untuk mengelola perusahaannya sendiri.
"Ibu... ada mas Hansen di luar ingin bertemu dengan Anda," ucap Neneng saat memberitahu Nisha jika Hansen mendatangi rumahnya.
"Apakah dia datang sendiri atau dengan Alexander?" tanya Nisha yang merasa malas untuk menemui Hansen, karena pria itu selalu bungkam saat ditanya kemana perginya Alexander.
"Hanya sendiri, Bu."
__ADS_1
"Aku tidak mau menemuinya. Suruh aja dia pergi. Aku hanya akan menemuinya jika dia datang bersama dengan Alexander," ucap Nisha.
"Baiklah, Bu. Akan saya sampaikan pada mas Hansen." Neneng pun langsung keluar dari kamar majikannya untuk mengusir Hansen.
Hansen yang mendengar kabar jika Nisha sedang jatuh sakit, dia langsung buru-buru terbang dari Jerman ke Jakarta hanya untuk memastikan bagaimana keadaan istri dari bosnya. Sebenarnya Hansen merasa tidak tega jika terus menerus bungkam tentang keberadaan bosnya. Namun, dia sudah berjanji bahwa dia tidak akan memberitahu siapapun dimana keberadaannya saat ini sebelum ingatannya benar-benar pulih kembali.
"Mas Han, ibu tidak mau bertemu dengan Anda jadi silakan Anda pergi saja!" usir Neneng pada Hansen.
"Apa kamu bilang? Aku jauh-jauh datang dari Jerman dan setelah sampai di sini aku diusir? Tidak, aku tidak mau pergi sebelum aku bertemu dengan majikanmu."
"Hai ... buka dulu pintunya! Aku belum selesai berbicara. Aku harus bertemu dengan Nona Nisha, terlebih dahulu. Jika tidak aku bisa dipencet oleh bosku. Baiklah, aku akan mengatakan di mana bosku berada tetapi tolong bukakan pintunya dan biarkan aku bertemu dengan majikanmu!" teriak Hansen dengan kuat.
Dan tak butuh waktu lama pintu pun terbuka kembali. Namun, kali ini bukan sosok Neneng yang muncul melainkan istri dari bosnya.
__ADS_1
"Nona ... Anda baik-baik saja kan? Saya mendengar jika anda sakit jadi saya memutuskan untuk melakukan penerbangan langsung dari Jerman," celoteh Hansen.
"Aku baik-baik saja. Jadi sekarang katakan di mana keberadaan Alexander. Bukankah tadi kamu mengatakan akan mengatakan Di mana keberadaan Alexander setelah pintunya dibuka. Aku harap kamu tidak lupa! Cepat katakan atau aku akan tidak akan pernah mau untuk menemuimu lagi!" ancam Nisha.
Hansen hanya bisa menelan pasar salivanya dengan ancaman yang diberikan oleh istri dari bosnya.
Enggak suami, enggak istri dua-duanya hobi sekali mengancam. Mana dua-duanya galak lagi. Aku pikir istri bos itu orang lemah lembut, ternyata sama aja seperti wanita pada umumnya, galak! gerutu Hansen dalam hati.
"Baiklah, saya akan memberitahu gimana keberadaan Bos, tapi dengan satu syarat. Apakah Anda siap dengan syarat itu?"
"Apapun syarat akan aku lakukan asalkan aku bisa bertemu dengan Alexander secepatnya. Kamu pikir enggak sakit dibohongi terus-menerus? Terlebih aku juga tidak bisa menghubunginya. Bahkan kamu juga memilih bungkam selama hampir lebih 4 bulan. Kamu pikir enggak sakit rasanya dipermainkan?"
Lagi-lagi Hansen hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar. "Nona, kenapa Anda marah denganku. Aku hanya menjalankan tugas dari bos. Sebenarnya ada alasan lain mengapa tidak memberikan kabar kepada Anda. Jika Anda ingin marah, marahlah dengan Bos yang tidak mau menghubungi Anda!" protes Hansen.
__ADS_1
...#####...