Istri Tuan Alexander

Istri Tuan Alexander
Bab 24


__ADS_3

Berpura-pura untuk kuat itu tidak semudah yang dibayangkan, apalagi untuk dalam jangka waktu yang lama. Entah kapan Nisha bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya bersama dengan keluarga kecilnya.


Selama ini dia terus berusaha untuk membahagiakan putrinya, dengan caranya sendiri tanpa memikirkan bagaimana dengan perasaan yang masih hancur. Namun, sebisa mungkin Nisha tidak ingin menunjukkan kelemahannya di depan semua orang.


"Mama, kenapa menangis?" Nisha sangat terkejut dengan pertanyaan yang menyentuh telinganya. Entah sejak kapan anaknya masuk ke ruang kerjanya.


"Alsha." Nisha langsung mengusap jejak air mata yang membasahi pipinya. "Kok ada disini?"


"Mama dipanggil dari tadi enggak jawab. Salam Nisha juga enggak dibalas. Mama kenapa? Apakah Mama juga sedang merindukan Papa?"


Mata Nisha menatap pilu pada sang anak. Namun, sebisa mungkin Nisha harus menguatkan dirinya sebelum menguatkan sang anak.


"Mama, apakah nomor Papa sudah bisa dihubungi?" tanya Alsha lagi.


Nisha hanya bisa membuang napas kasarnya, karena sampai detik ini nomor Alexander juga belum bisa dihubungi.


"Apakah belum bisa?" Alsha terlihat kecewa. "Apakah papa membohongi kita. Alsha tidak akan memaafkan papa lagi. Papa pembohong! Alsha benci Papa!" teriak Alsha yang kemudian berlari meninggalkan ruangan Nisha.


Nadine sebagai pengasuh Alsha langsung mengejar Alsha yang berlari. Begitu juga dengan Nisha yang juga ikut mengejar anaknya.


"Astaghfirullahaladzim ... Alsha!" teriak Nisha.


...***...


Untuk kali ini Nisha tidak bisa meyakinkan Alsha yang sedang kecewa, karena Alexander yang tak kunjung kembali. Satu-satunya orang yang bisa diandalkan adalah Danar. Dengan terpaksa Nisha meminta bantuan kepada adik iparnya untuk menenangkan hati Alsha yang sedang kecewa.


Danar yang selalu bisa diandalkan segera meluncur datang ke perusahaan Nisha. Namun, kali ini dia terapkan membawa seseorang yang terus memaksa ingin ikut. Bukan tidak mengizinkan untuk bertemu dengan Nisha dan juga Alsha, hanya saja Danar takut jika ibunya ikut hanya akan menambah masalah saja.


"Ibu janji tidak akan menciptakan kekacauan. Ibu hanya ingin bertemu dan melihat bagaimana cucu ibu. Sampai kapan kamu menyembunyikan cucu ibu?" keluh Murel yang tak lain adalah ibu Danar.

__ADS_1


Wanita yang dulunya mempunyai kekuasaan dan hampir tak terkalahkan oleh siapapun, kini hanya wanita biasa karena sebuah penyakit yang dideritanya.


"Danar, apakah kamu tidak mempercayai wanita penyakitan ini untuk bertemu dengan cucu dan menantunya? Sungguh Ibu berjanji tidak akan membuat ulah," rengek ibunya.


Danar yang merasa tidak tega tidak bisa menolak keinginan ibunya. Dengan terpaksa dia membawa ibunya oleh bertemu dengan Alsha.


"Baiklah, tapi berjanjilah untuk tidak membuat ulah, karena saat ini keadaan Nisha sedang tidak baik-baik saja."


"Iya, aku berjanji."


Murel yang tak sehebat dulu hanya bisa berharap bisa mendapatkan maaf dari Nisha, meskipun mereka berdua belum sempat bertemu. Sebenarnya Murel ingin mendatangi Nisha saat wanita itu sedang terpuruk, tetapi tidak diizinkan oleh Danar. Bahkan selama enam tahun keberadaan Nisha terus disembunyikan. Namun, untuk kali ini Murel benar-benar ingin menemui Nisha dan ingin memberikan kekuatan, meskipun rasanya sudah sangat terlambat.


Sebuah rumah yang tidak terlalu besar, tetapi terlihat asri. Bahkan baru aja menghirup halamannya saja sudah terasa dingin dan sejuk. Hati Murel tiba-tiba bergetar saat Danar terus mendorong kursi rodanya untuk masuk ke teras rumah Nisha.


"Apakah Nisha tinggal di rumah ini? Mengapa terlihat kecil. Padahal jika melihat perusahaan yang begitu besar, ibu yakin dia bisa membeli rumah yang besar," komentar Murel saat melihat rumah Nisha.


"Lebih baik diam tidak usah banyak berkomentar yang tidak penting. Bukankah tadi sudah berjanji untuk tidak membuat ulah. Jika ingin terlalu kecil mengapa tidak kamu membangunkan rumah yang besar?" ujar Danar dengan ketus.


"Baiklah, aku akan diam."


Tangan Danar langsung memencet bel agar penghuni rumah tahu jika ada tamu. Tak butuh lama seorang wanita muda datang untuk membuka pintu. "Mas Danar," sapa seorang pembantu di rumah Nisha. "Ayo masuk! Ibu juga baru aja sampai."


Danar mengangguk pelan dan mendorong kursi roda ibunya untuk masuk ke dalam rumah. Meskipun ada rasa penasaran dengan sosok yang dibawa oleh Danar tetapi pembantu Nisha tidak mau bertanya lebih. Dia cukup tau diri, tidak mau terlalu ikut campur dengan urusan orang lain.


"Mas Danar mau minum apa? Biar Neng buatkan minum," tawar Neneng, pembantu Nisha.


"Air putih aja."


"Em ... ibu itu mau minum apa?" tanya Neneng dengan ragu-ragu.

__ADS_1


"Sama. Air putih aja," jawab Murel.


"Alsha dimana ya, Neng? Kok enggak kelihatan?" tanya Danar yang merasa heran karena tidak mendengarkan suara Alsha.


"Nona Alsha sedang ngambek di kamarnya, gara-gara papanya enggak pulang, padahal janjinya hanya dua hari dan sekarang sudah satu Minggu. Bahkan nomor teleponnya saja sudah tidak aktif. Non Alsha penyakit yang sangat kecewa dengan papanya," jelas Neneng dari dapur.


Tiba-tiba dada Murel berdegup dengan kencang saat pembantu Nisha menyebut kata Papa. Mungkin yang disebut itu adalah Alexander? Tetapi bukankah Alexander sudah tidak ada?


"Danar, coba jelaskan mengapa membantu itu mengatakan jika saat ini Alsha sedang kecewa dengan papanya. Yang dimaksud papanya itu siapa? Apakah Nisha sudah menikah lagi?" tanya Murel yang sama sekali tidak mengetahui jika Alexander telah kembali. Yang Murel tau Alexander telah tiada.


"Nisha tidak pernah menikah lagi dan yang dimaksud papanya Alsha adalah Alexander. Ternyata Alexander masih hidup. Dia sempat pulang, tetapi dia kehilangan ingatannya, sehingga tidak mengenali kita," jelas Danar.


"Apa? Alexander masih hidup. Lalu sekarang dia kemana? Apakah dengan kehilangan ingatan dia telah menikah dengan wanita lain?" tanya Murel dengan rasa penasarannya.


"Tidak. Alexander tidak menikah lagi tetapi dia sedang pada sebuah pekerjaan yang harus disiapkan. Namun, hingga saat ini dia belum kembali. Mungkin Alsha kecewa karena Alexander yang tak kunjung pulang, karena saat itu Alexander berjanji hanya akan pergi selama dua hari, tetapi nyatanya ini sudah satu minggu dan Alexander tidak pulang. Aku harap setelah Nisha dan juga Alsha jangan banyak bertanya tentang Alexander. Nanti di rumah aku akan menceritakan semuanya padamu," tegas Danar dengan ketus.


Murel mengangguk dengan pelan. "Baiklah, aku tahu. Aku akan menjaga setiap kata, agar tidak membuat Nisha dan juga Alsha tersinggung."


Murel hanya bisa pasrah ketika semua anaknya menjaga jarak dengan dirinya. Namun, Murel menyadari semua salah yang telah dia perbuat selama ini. Masih untung Danar mau merawatnya saat dia sudah tak berdaya. Bagaimana jadinya jika Dinar sama sekali tidak mau merawatnya. Akan bersama siapa dirinya, mengingat Giovanni tidak mau untuk merawatnya.


Tak lama kemudian, Nisha datang karena di panggil oleh pembantunya jika saat ini dolar sudah datang. Nisha yang belum pernah melihat wajah Ibu mertuanya, hanya bertanya dalam hati saat melihat seorang wanita asing duduk di kursi roda dan menatapnya dengan lekat.


"Danar, kamu bawa siapa?"


Danar langsung menatap kearah ibunya. "Dia ibunya Alexander dan juga ibuku. Berati dia adalah ibu mertuamu," ucap Danar dengan datar.


Seketika Nisha langsung menangkup bibirnya dengan keterkejutan. "Astaghfirullahaladzim ... Danar, serius ini ibu kamu?" Nisha pun segera mendekat dan menyalami wanita yang tak lain adalah ibu mertuanya.


"Ibu ... maafkan Nisha yang tak mengenali ibu," ujar Nisha dengan rasa sesalnya.

__ADS_1


...#BERSAMBUNG#...


__ADS_2