Istri Tuan Alexander

Istri Tuan Alexander
Bab 27


__ADS_3

Dengan berbagai cara dan ancaman, akhirnya Nisha berhasil membuat Hansen buka mulut. Tangan kanan Alexander akhirnya berterus terang tentang dimana keberadaan bosnya dan tujuannya menghilang.


Derap langkah yang nyaring menggema di sebuah ruangan, hingga membuat penghuninya terheran dengan siapa yang datang. Namun, dia mencoba acuh karena satu-satunya orang yang akan mendatanginya adalah Hansen, tangan kanannya. Dia pun berpikir jika itu adalah langkah Hansen.


Terdengar suara pintu dibuka dan tak lama lampu kamar pun dinyalakan.


"Han.... matikan lampunya. Bukankan kamu tahu aku tidak suka cahaya lampu?" protes Alexander tanpa ingin melihat siapa pelakunya.


Tak ada jawaban, tetapi derap langkah semakin mendekat. "Oh, jadi seperti ini kerjaanmu tipa hari. Makan tidur, makan tidur tanpa memikirkan orang di jauh sana sedang mengkhawatirkanmu! Dasar egois!"


Bola mata Alexander langsung terbelalak saat mendengar suara yang baru saja didengarnya. Jelas saja Alexander begitu familiar dengan suaranya. Dengan cepat dia menoleh ke samping dengan mulut ternganga, karena merasa terkejut.


"Nisha," gumamnya, sambil menelan kasar salivanya. "Kamu kok ada disini?"

__ADS_1


"Kenapa? Apakah kedatanganku menganggumu?"


Alexander langsung menyibakkan selimut yang membungkus tubuhnya. "Bukan. Bukan begitu, Nish. Tapi .... " Alexander menjeda ucapannya saat melihat sosok pria yang baru muncul dari balik pintu.


"Maafkan aku, Bos. Istri Anda terus mendesak dan mengancamku. Jadi aku tak punya pilihan lain selain mengatakan semua pada istri Anda. Istri Anda itu ternyata galak. Jangan tertipu dengan penampilan!" adu Hansen pada Bosnya.


Alexander tak berdaya. Dengan helaan napas panjang Alexander hanya bisa menggusar rambutnya dengan kasar. Ternyata Hansen sama sekali tidak bisa diandalkan. Bisa-bisanya Hansen mengkhianati dirinya. Padahal yang menggaji adalah dirinya. Jika saja tidak ada Nisha dihadapannya, sudah pasti Alexander akan memaki Hansen sesuka hatinya.


Dengan kepala tertunduk, Hansen pun keluar begitu saja. Sebenarnya bukan keinginannya untuk mengkhianati bosnya, tetapi istri dari bosnya menggunakan kelemahan untuk mengancamnya.


Setelah kepergian Hansen, mendadak tubuh Alexander terasa dingin. Tatap Nisha kali ini bukan seperti tatapan wanita kalem pada umumnya. Sungguh tatapannya benar-benar menusuk dan anehnya Alexander merasa takut. Padahal selama ini Alexander tak pernah takut dengan siapapun.


"Nisha ... aku bisa jelasin. Semua ini aku lakukan untuk kita. Aku ingin ingatanku segera pulih. Sudah cukup kamu menanggung semua penderitaan ini seorang diri," jelas Alexander.

__ADS_1


"Tapi bukan seperti ini caranya Alexander. Seharusnya kamu bilang apa adanya agar aku dan Alsha tidak terus menerus menunggumu. Asal kamu tau, Alsha sangat kecewa karena kamu membohonginya. Janji dua hari, tapi nyatanya empat bulan tak ada kabar. Sungguh keterlaluan!"


"Iya, aku minta maaf. Sebenarnya aku juga sudah berencana ingin pulang, tetapi aku harus menyelesaikan masalah yang aku buat."


Alexander langsung membawa Nisha untuk duduk ke sebuah sofa. Perlahan Alexander mencoba untuk menjelaskan satu persatu alasannya, mengapa dia harus menghilang tanpa jejak terlebih dahulu. Semua itu dilakukan agar tidak terlacak oleh keluarga Xella, mengingat Alexander sudah melakukan kecurangan pada perusahaan milik Daddy-nya Xella. Sebenarnya itu tidak sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan padanya. Bisa-bisanya Xella menculiknya saat dia dalam keadaan tak sadarkan diri dan mencoba untuk menutupi kebenaran.


"Nisha, sekali lagi aku minta maaf. Baiklah, mulai hari ini aku tidak akan menyembunyikan sesuatu darimu lagi. Maafkan aku karena aku telah membuatmu harus menanggung semua penderitaan ini. Jika saja malam itu aku tidak .... " Alexander menjeda sejenak ucapannya. Dadanya terasa sesak jika mengingat apa yang telah dia lakukan pada Nisha di masa lalu.


"Kamu mengingatnya?" Nisha terbelalak dengan lebar mendengar penjelasan Alexander.


"Iya, aku sudah mengingat semuanya. Ingatanku sudah kembali. Nisha ... maafkan aku."


...####...

__ADS_1


__ADS_2