Jack Vs Diandra (Misteri Vampir Di Rumah Tua)

Jack Vs Diandra (Misteri Vampir Di Rumah Tua)
PUTRI DAN JUGA DIANDRA


__ADS_3

Putri dan juga Diandra berjalan keluar dari kampus menuju ke parkiran.


Setelah keduanya masuk ke dalam mobil. Putri langsung saja menjalankan mobilnya.


"Bagaimana hari ini? Apa menyenangkan? Kamu sudah memiliki teman baru dan juga dosen serta kampus baru." ujar Putri yang mengira jika Diandra akan merasa sangat senang setelah pindah ke luar kota.


Padahal kini Diandra sama sekali tidak memiliki teman dan di kucilkan oleh anak-anak kampus.


Sungguh menyebalkan dan membuat nya menjadi tidak mood sekarang!


"Mah, apa mama percaya dengan Vampir?" tanya Diandra secara tiba-tiba.


"Tidak sayang! Itu hanya cerita fiksi dan tidak nyata. Jangan takut! Jika dia memang ada di rumah itu, mungkin hari ini kita tidak bisa mengobrol. Benarkan?" tanya Putri.


"Iya, mungkin tadi malam dia tidak muncul. Lalu bagaimana dengan malam-malam berikutnya?" jawab Diandra.


"Doakan saja semoga yang muncul adalah vampir yang tidak suka minum darah dan juga sangat tampan. Agar kau tidak takut lagi!" ujar Putri berseloroh, sehingga membuat Diandra langsung tersenyum.


"Mana ada vampir seperti itu!" protes Diandra sambil tersenyum kesal dan memilih untuk segera membuang wajahnya ke samping.


Sementara Putri hanya bisa tertawa lucu ketika melihat wajah kesal anaknya.


                          


...****************...


Sesuai dengan perkataan Putri yang sebelumnya. Setelah pulang bekerja, dia, Santos dan juga Santas akan membersihkan rumah ini.


Namun sebelum itu Santas melihat ke arah Diandra yang terlihat sangat lesu dan juga tidak bersemangat.


"Ibu, sepertinya Diandra tidak usah ikut bersih-bersih. Biar saja dia istirahat dan mengerjakan tugas kuliah di kamarnya!" ucap Santas secara tiba-tiba. Karena tau kalau tadi malam sepertinya gadis itu tidak bisa tidur, dan terbaca lewat kantong mata Diandra yang berwarna hitam sudah seperti mata panda.


"Benarkah? Apa Dosen memberimu tugas? Padahal besok hari minggu! Tapi tidak apa-apa, pergi lah ke kamarmu sayang! Tidak perlu ikut membersihkan." ujar Putri.


Diandra langsung mendekat ke arah Santas.


"Terima kasih bibi! Kau adalah pahlawanku, karena hari ini aku sungguh sedang tidak ingin membantu kalian." bisik Diandra dengan sesekali melirik ke arah mamanya yang terlihat sedang sibuk mengelap lemari serta sofa.


"Benarkah? Iya bibi paham, kalau tadi malam kau pasti tidak bisa tidur seperti bibi. Bibi juga tidak bisa tidur karena takut vampir itu akan datang secara tiba-tiba." balas Santas berbicara sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh Putri.


"Lalu bagaimana dengan paman Santos? Apa dia tidak bisa tidur juga sama seperti bibi?" tanya Diandra lagi.


"Paman mu itu tidak jelas! Meski takut tetapi dia bisa tidur dan molor sampai pagi." jawab Santas sembari menepuk jidatnya.

__ADS_1


Hingga membuat Diandra langsung tersenyum, dan memutuskan untuk pergi dari sana.


Gadis itu berjalan menaiki satu persatu anak tangga! Hingga akhirnya Diandra sampai ke dalam kamarnya dan langsung masuk begitu saja.


"Dasar setan alas! Tolong biarkan aku tidur, jangan ganggu aku. Cukup malam saja kalian menggangu ku! Dasar bajingan dan penakut! Kenapa harus aku yang kalian ganggu, kenapa tidak mama dan papa saja. Beraninya hanya sama anak kecil." ketus Diandra memarahi makhluk tak kasat mata yang mengganggunya tadi malam.


Sebenarnya Diandra pura-pura berani mengatakan kalimat itu. Padahal nyalinya sedang menciut sekarang! Dia langsung tidur dan menarik selimutnya untuk menutupi seluruh tubuh serta bagian wajahnya.


                       


Setelah bangun tidur! Diandra bergegas ingin keluar dari kamar. Namun sebelum itu ia menyempatkan diri untuk menekan tombol lampu.


Dan ternyata hidup, itu artinya listrik yang padam sudah di perbaiki.


"Yess!" teriak Diandra dalam hati, karena terlanjur senang.


Akhirnya malam ini ia tak perlu tidur gelap-gelapan lagi, karena sudah ada lampu.


Diandra turun ke bawah dengan membawa handuknya, dan tak sengaja berselisihan dengan papanya.


"Pap, kalau listriknya sudah di perbaiki. Itu artinya kamar mandi di kamar atas sudah bisa di pakai?" tanya Diandra.


"Iya, kamu bisa memakai kamar mandi di kamar mu. Tidak perlu memakai kamar mandi di bawah lagi." balas Radix.


Tak lama kemudian Putri datang.


"Baik mah!" jawab Diandra yang langsung kembali ke dalam kamarnya.


Kini suasana rumah benar-benar berubah dan menjadi rapi. Suasana horor yang sangat menyeramkan telah menghilang begitu saja.


Berganti dengan suasana keharmonisan keluarga kecil yang penuh kebahagiaan.


Mereka semua tertawa sambil menyantap makan malam bersama.


Tengah malam...


Diandra yang sedang tertidur lelap, tiba-tiba harus terusik dengan suara yang sangat berisik. Hingga mampu membuatnya menjadi terjaga dan bangun dengan spontan.


Wanita itu langsung mengucek matanya, dan sekilas ia dapat melihat ada seorang pria dengan menggunakan jubah berwarna hitam tengah berdiri di jendela kamarnya.


Tak lama kemudian pria itu malah terjun bebas ke bawah begitu saja.


Membuat Diandra langsung terkejut. Namun bukannya bangun untuk memastikan apakah pria itu sedang baik-baik saja.

__ADS_1


Tetapi Diandra malah kembali tidur dan tepar di atas kasur.


Mungkin akibat lelah atau telanjur mengantuk, membuatnya tidak terlalu memperdulikan akan hal itu.


Dan menganggap bahwa kejadian yang di lihatnya adalah sebuah mimpi belaka.


                          


...****************...


Siang ini merupakan salah satu hari yang sangat membosankan di dalam hidupnya.


Diandra langsung menghela nafas dan meletakan buku yang tengah di pegangnya.


Wanita itu kini sedang duduk di pinggir jendela kamar. Melihat ke arah bawah sana, dan Diandra cukup di buat yakin jika kejadian tadi malam itu adalah sebuah mimpi.


Berpikir secara logis saja! Mana mungkin jika seandainya orang itu benar-benar terjun kebawah. Pastinya hanya akan tinggal nama saja, dan akan m*ti pada detik itu juga.


Tapi buktinya bahkan jenazah nya tidak ada dan tidak di temukan.


Diandra ingin buang air kecil, namun tiba-tiba saja di hadapannya kini sudah ada seorang pria bertubuh tinggi, serta berpakaian sangat aneh dan serba hitam.


Serta tak lupa menggunakan jubah untuk menutupi wajahnya.


"Si-siapa kau? Jangan-jangan kau adalah pencuri yang sudah masuk ke dalam kamar ku tadi malam." ujar Diandra yang langsung panik setengah mati, dan sudah bersiap ingin lari.


Namun pria misterius itu malah menyergapnya dan langsung dengan cepat menutup mulut Diandra. Karena Jack tau jika wanita itu pasti akan langsung berteriak.


Dengan sekuat tenaga Diandra mencoba untuk melawan namun tidak bisa, dan pria itu malah semangkin menguatkan cekalan tangannya.


"Tolong lepaskan aku!" suara Diandra benar-benar terdengar sangat pelan, dan hanya Jack yang bisa mendengarnya.


"Aku akan melepaskanmu, tapi kau berjanji tidak akan berteriak setelah itu." Secara perlahan Jack mulai melepaskan Diandra, dan wanita itu langsung mengesot ke bawah dan mulai menjauhi Jack dengan nafas yang terengah-engah.


"Jangan dekati aku!" ancam Diandra bersungguh-sungguh.


"Baiklah aku tidak akan mendekatimu! Perkenalkan namaku Jack Swalow! Kau bisa memanggil ku Jack. Aku penghuni di rumah ini sejak 10 tahun lalu. Sejak rumah ini di tinggalkan aku memutuskan untuk menempatinya, lebih tepatnya menempati kamar ini saja. Makanya tidak usah heran kenapa kamar ini bisa sangat bersih, karena aku yang selalu membersihkan nya." ungkap Jack memberitahu dan menjelaskan nya kepada Diandra.


"Lalu kenapa sekarang kau masih ada disini? Pergilah karena mulai sekarang kamar ini sudah menjadi milik ku! Papaku sudah membeli rumah ini sepenuhnya. Jadi kau sudah tidak berhak lagi untuk menempatinya." bentak Diandra.


Sesaat Jack terdiam dan memilih untuk duduk di pinggir ranjang.


"Tapi sepertinya aku tidak bisa! Keluarga Swalow mengusirku dari kastil. Dan hanya ini tempat tinggal ku satu-satunya. Aku di asingkan karena aku memiliki kelainan dan berbeda dari ras bangsa ku." balas Jack dengan menunduk lesu.

__ADS_1


Diandra langsung merasa kasihan setelah mendengar penjelasan dari pria ini, karena ekspresinya benar-benar menunjukan sebuah kesedihan yang sangat mendalam.


Secara perlahan dia pun mulai memberanikan diri untuk mendekat dan duduk di samping pria itu.


__ADS_2