
Sinar bulan purnama mulai meredup secara bersamaan dengan sang bulan yang telah hampir tenggelam sepenuhnya.
Jack telah kembali tepat pada pukul 6 pagi. Waktu yang begitu mepet, karena pada pukul 6 lewat 20 menit maka matahari akan segera terbit dari arah utara.
Vampir itu masuk ke dalam kamar Diandra melalui jendela, dan setelah itu tak lupa pula untuk menutup kembali jendelanya.
Jack pergi berlalu karena mengira jika Diandra masih tertidur dengan pulas. Tanpa tau jika sebenarnya saat ini wanita itu sedang mengintipnya dan memperhatikan ke arah punggungnya.
...****************...
Hari-hari panjang telah di lalui oleh mereka berdua. Sekarang sudah lebih selama 1 minggu Diandra tinggal di rumah tua ini bersama dengan keluarganya.
Awal-awal gadis itu memang sangat pendiam, namun setelah bertemu dengan Jack membuat Diandra selalu saja tertawa bahagia dengan lepas. Keceriaan terpapar dengan jelas pada wajahnya, tentu membuat Putri dan juga Radix merasa ikut bahagia.
Pertemanan di antara ras/bangsa yang berbeda kini sudah terjalin dengan sangat baik. Diandra dan Jack sering kali menghabiskan waktu bersama dan bermain ke dalam hutan pada malam hari.
Jack yang biasanya akan keluar dari peti matinya pada saat tengah malam. Namun kini sudah tidak lagi, bahkan disaat matahari terbenam dia sudah keluar untuk menemui Diandra.
Benar-benar kehadiran Diandra begitu membawa pengaruh besar terhadap vampir yang di asingkan itu.
"Jack!" ucap Diandra sambil menyusun sebuah puzzle.
"Hm!" sahut Jack dengan singkat.
Wanita itu langsung menghentikan aktivitasnya, dan beralih menatap mata Jack dengan sangat intens.
"Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu! Tapi aku ragu." ujar Diandra berkata dengan pelan.
Karena hatinya benar-benar ingin mengungkapkan sebuah perasaan, namun dirinya takut jika seandainya nanti Jack akan menolaknya.
Tiba-tiba saja Diandra mengingat akan kejadian pada saat di sekolah tadi.
Flasback On.
"Hai Diandra!" sapa Daniel, yang merupakan mahasiswa senior di kampus.
Diandra hanya membalas Daniel dengan sebuah senyuman saja, tanpa berniat untuk berbicara.
__ADS_1
Keduanya lalu berjalan menuju ke kelas. Tentu tak luput dari pandangan seluruh anak kampus yang memandang ke arah Diandra dengan tatapan yang iri.
Bagaimana mungkin tidak? Karena Daniel merupakan pria tertampan di kampus ini, dan menjadi idola banyak orang.
"Kau anak pindah dari kota sebrang bukan?" tanya Daniel ingin memastikan, jika Diandra adalah gadis yang di gosip-gosipkan oleh para teman kelasnya dan mengatakan jikalau ada anak pindahan baru di kampus ini.
"Iya, aku baru 1 minggu belajar disini." jawab Diandra.
Pada saat Diandra ingin melangkah ke arah kiri, karena lorong sebelah kiri merupakan jalan menuju ke kelasnya.
Namun tiba-tiba saja, Daniel malah menyudutkanya ke tembok. Sehingga membuat kepala Diandra langsung terbentur dengan sedikit keras.
Bukannya meminta maaf, namun pria itu malah semangkin mendekatkan wajahnya. Dan ingin mencium bibir Diandra. Beruntung karena gadis itu segera melawan dengan mendorong Daniel, sampai pria itu terjatuh ke lantai.
"Dasar bajingan! Pria mesum yang tidak tau diri. Memangnya siapa kau? Berani sekali ingin menciumku." bentak Diandra dengan penuh amarah.
Beruntung karena di lorong tersebut sama sekali tidak ada orang, karena anak-anak kampus mungkin sudah pada masuk ke dalam kelas mereka masing-masing.
Jika tidak! Mungkin Daniel akan malu, karena ciumannya sudah di tolak mentah-mentah oleh Diandra.
"Minggir!" perintah Diandra namun Daniel tidak mau menghiaraukan ucapan wanita itu.
"Berani sekali kau menolak ku? Apa kau tidak mengenal siapa aku? Namaku Daniel, dan aku adalah seniormu. Kau harus mematuhi dan menghargai ku!" tekan Daniel berbicara dengan menatap lekat kedua bola mata hitam milik Diandra.
"Diam, lelaki brengsek! Jangan harap aku bisa menghargaimu dasar pria mesum! Senior gila!" umpat Diandra dengan nada yang tinggi, lalu memutuskan untuk pergi meninggalkan Daniel.
Wanita itu masuk ke dalam kelasnya dengan perasaan yang tidak menentu sekaligus kesal atas perbuataan yang hendak di lakukan oleh Daniel kepadanya.
Sungguh jika sampai ciuman pertamanya tadi berhasil di renggut oleh pria mesum itu. Mungkin Diandra benar-benar akan merasa gila dan sangat tidak terima.
Flasback Of.
Jack terus menatap wajah Diandra yang kini terlihat sedang marah dan menahan kesal.
Membuat Jack sendiri menjadi bingung! Apa sebenarnya yang telah ia lakukan sampai-sampai membuat temannya menjadi marah seperti sekarang.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Jack yang merasa panik sekaligus takut jika seandainya Diandra akan marah kepadanya.
__ADS_1
Wanita itu langsung menggeleng, lalu berdiri dengan di susul oleh Jack juga.
"Teman pria ku, dia sangat menyukaiku! Dan juga sempat mengatakan cinta tadinya. Tapi aku bingung, harus menerimanya atau tidak!" bohong Diandra yang sebenarnya ingin memancing Jack.
"Lalu?" tanya vampir itu dengan polos.
"Apa kau tidak cemburu?" tanya Diandra, nadanya terdengar sedang protes sekaligus bercampur dengan rasa kesal.
"Buat apa aku cemburu?"
Bukannya menjawab, tetapi Jack malah kembali bertanya kepadanya. Sehingga membuat Diandra semangkin bertambah prustasi dan stres.
"Ahhhh, kau ini! Kalau begitu pergilah dari sini." perintah Diandra yang langsung mendorong tubuh Jack, agar vampir itu masuk ke dalam lemari.
Setelah itu Diandra pun langsung menutup pintu lemarinya, dan tak lupa untuk menguncinya.
Dia merasa sangat jengkel, dan memutuskan untuk segera memberesi semua puzzle yang tengah berserakan di lantai kamarnya.
"Dia itu! Kenapa sangat tidak peka? Padahal aku sangat mencintainya, tetapi dia seperti tidak mencintaiku! Sementara perasaan ku sudah minta di lepaskan, tapi aku sama sekali tidak mau menerima penolakan." gerutu Diandra yang merasa kesal sendiri.
Beberapa hari ini Jack selalu saja melakukan hal romantis kepadanya. Tentu sebagai seorang wanita pasti Diandra akan merasa sangat luluh, tidak pandang bulu meskipun Jack adalah sesosok VAMPIR sekalipun.
Namun Jack sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda bahwa vampir itu juga mencintainya. Sepertinya cinta Diandra hanya bertepuk sebelah tangan.
Pada Malam Harinya..
Seperti biasa, setelah semua keluarga nya tidur. Diandra dan juga Jack pergi melalui jendela kamarnya, untuk pergi menjelajah ke suatu tempat.
Diandra memeluk tubuh Jack dengan sangat erat, dan membiarkan vampir itu pergi membawanya terbang.
Keduanya mengambang di atas ketinggian, dengan Diandra yang sesaat melihat ke arah bawah. Sehingga tak lama kemudian, Jack pun langsung membawanya turun hingga keduanya mendarat di atas sebuah bukit.
"Kau membawa ku kemana malam ini?" tanya Diandra yang langsung berjalan dan memandang ke arah bawah bukit, dimana terdapat cahaya lampu yang berasal dari sebuah kota.
"Aku tidak tau!" jawab Jack dengan jujur sambil tertawa, karena memang dia belum berkeliling dan mengenali semua daerah.
Itu di karenakan selama ini dirinya selalu mengurung diri di dalam kamar, tanpa berniat untuk menjelajahi sebuah tempat. Selain hanya tempat pemukiman warga di desa.
__ADS_1