
Diandra keluar dari dalam kamar, namun tak sengaja malah berselisihan dengan mamanya.
"Diandra, apa kamarnya cukup nyaman? Kalau begitu biarkan bibi Santas memeriksa dan membersihkannya terlebih dahulu." ucap Putri. Sehingga membuat Diandra langsung kaget ketika mendengar pengakuan itu.
Apalagi ketika ia melihat Santas yang kini sudah bersiap hendak masuk begitu saja ke dalam kamarnya dengan membawa beberapa alat kebersihan.
Beruntung karena akhirnya gadis itu berhasil mencegah, dan dengan sigap langsung berlari lalu menutup rapat pintu kamarnya.
"Aha, tidak-tidak! Bibi tidak perlu membersihkan nya. Karena aku bisa sendiri, aku kan sudah besar kalau begitu tidak perlu repot-repot." ujar Diandra sambil tersenyum kaku, mencoba untuk meyakinkan Santas agar wanita parubaya itu tidak masuk ke dalam kamarnya.
Putri dan juga wanita parubaya itu langsung saling bersitatap ketika melihat keanehan yang di tunjukan oleh Diandra.
Namun Santas dan Putri hanya mengira jika Diandra memang ingin membantu dan tidak mau merepotkan Santas saja, yaitu dengan cara membersihkan kamar nya sendiri.
"Baiklah kalau begitu bibi Santas tidak usah membersihkan kamar ku lagi, nanti aku akan membersihkannya setiap hari." Setelah mengucapkan kalimat itu Diandra pun kembali masuk ke dalam kamarnya dan tak lupa untuk menutup pintu kamarnya agar tidak ada orang yang masuk setelah ini.
Padahal tadinya gadis itu berniat ingin turun kebawah untuk mengambil handphonenya yang ketinggalan di atas sofa. Tapi ternyata karena kejadian tersebut membuatnya menjadi urung akan niatnya. Dan memutuskan untuk tidak jadi turun kebawah.
Diandra langsung memegangi dadanya yang berdetak dengan kencang, dan baru bisa bernafas lega.
"Huh, akhirnya mereka pergi juga! Mulai sekarang sepertinya aku tidak boleh keluar dari kamar tanpa mengunci pintunya terlebih dahulu. Nanti bibi Santas akan masuk dan membersihkan kamarku, bisa-bisa dia akan terkejut ketika mendapati peti mati milik Jack." gumam wanita itu bermonolog sendiri.
Hingga akhirnya Diandra lebih memutuskan untuk naik ke atas ranjangnya sambil membuka-buka buku pelajaran.
...****************...
Sesuai dengan pesan yang di berikan oleh Jack tadinya. Diandra sampai rela menunggu hingga sampai larut malam untuk bertemu kembali dengan vampir itu.
Pukul 9 malam..
Pukul 10 malam...
Pukul 11 malam..
__ADS_1
Hingga tiba pada akhirnya, Diandra langsung terbangun secara bersamaan dengan Jack yang ingin menyentuh bahu gadis itu.
Mungkin akibat terlalu lama menunggu, sekaligus mengantuk. Sampai membuat Diandra menjadi ketiduran dengan posisi duduk di atas ranjang.
Diandra langsung tersenyum ketika melihat vampir itu sudah datang.
Dia pun bergegas turun dari atas ranjangnya, dan berhadapan secara langsung dengan Jack.
Akibat perbedaan tinggi badan yang sangat jauh, Diandra begitu sangat kesulitan untuk memandang wajah Jack, dan terpaksa harus mendongak kan kepalanya ke atas.
"Ternyata kau rela menungguku sampai ketiduran seperti ini." ujar Jack berbicara sambil tersenyum singkat.
Dan Diandra langsung mengangguk seraya tersenyum. "Iya, aku menunggumu karena aku penasaran dengan mu." jawab Diandra.
"Apa yang membuat mu penasaran?" tanya Jack pula.
"Tentu saja aku penasaran karena kamu adalah seorang Monster!" balas Diandra yang langsung berjalan menuju ke arah jendela kamarnya. "Kau monster vampir penghisap darah yang terkenal itu, sampai-sampau karena mu aku harus di jauhi oleh teman-teman di kampusku." sambung Diandra lagi.
Jack langsung menjawab.
Sejujurnya dia juga di buat penasaran apa yang sampai membuat gadis ini begitu berani kepadanya, dan tidak takut sama sekali.
Diandra hanya tertawa kecil ketika mendengar pertanyan bodoh itu.
"Mana mungkin kau bisa melakukannya, karena sepertinya kamu tidak bernafsu untuk menggigit leherku. Jika seandainya kau adalah vampir sejati, pasti aku sudah kau gigit sejak pertemuan pertama kita." ujar Diandra yang mengingat ketika pada malam itu Jack juga sudah menampak kan diri tepat di jendela kamarnya.
Kalau memang vampir itu ingin mencelakainya, pasti pada malam itu Jack juga akan menghisap darahnya secara bersamaan.
Tapi buktinya tidak, hingga terjadilah pertemuan kedua dan ketiga. Bahkan hingga sekarang Jack sama sekali tidak melakukan hal itu.
Dan karenanya lah, mengapa Diandra menyebut Jack bukanlah vampir sejati. Karena biasanya vampir sangat haus darah manusia, tetapi Jack tidak!
Sementara Jack sendiri juga ikut tertawa kecil, ketika melihat wanita itu tertawa. Atau lebih tepatnya Diandra kini sedang menertawainya.
__ADS_1
"Baiklah, sebenarnya perkataan mu itu benar! Aku memang tidak bernafsu ketika melihat mu. Darahmu itu sangat kotor dan tidak suci, sementara bangsa vampir lebih suka darah yang masih suci." jawab Jack, yang seketika membuat Diandra langsung terdiam dan berubah ekspresi.
"Apa maksudmu?" tanya wanita itu, sambil memandang ke arah Jack. Nadanya terdengar sedikit tidak senang, dan marah.
"Tidak-tidak maksud ku, kau sangat cantik." elak Jack sengaja berkilah agar Diandra tidak marah lagi.
Sehingga membuat gadis itu langsung tersenyum, dan membuang wajahnya ke samping.
"Oh my god! Vampir macam apa ini? Bahkan monster pun sudah sama seperti manusia yang suka merayu wanita." ujar Diandra merasa kesal sekaligus senang.
Akibat Jack yang sudah memujinya.
Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk duduk di bawah sinar rembulan, dan Diandra memutuskan untuk membuka jendela kamarnya. Agar angin malam bisa masuk dan menjadi pendingin alami.
"Sebenarnya apa alasanmu untuk tinggal disini?" tanya Diandra akhirnya.
"Karena aku sudah tidak punya tempat tinggal!" jawab Jack dengan cepat.
Kini gadis itu langsung beralih memandang ke arah Jack dan mendengarkan secara seksama penjelasan dari vampir itu.
"Keluargaku mengasingkan ku dari bangsa vampir yang lain. Aku adalah anak pertama, namun karena kelainan pada diriku. Membuat mereka harus melakukan ini." ucap Jack lagi.
Sehingga membuat Diandra menjadi ikut merasa sedih, sekaligus merasa tak percaya dengan apa yang sudah di lakukan oleh keluarga vampir itu terhadap Jack.
"Hanya karena kelainan, mereka mengasingkan kan mu seperti ini? Apa mereka pantas untuk di sebut sebagai keluarga? Ku kira hanya bangsa manusia saja yang seperti itu, ternyata bangsa vampir pun juga sama. Selalu pilih kasih terhadap anak-anaknya." ujar Diandra berbicara dengan sedikit ketus, akibat ikut merasa jengkel.
Beruntung karena Diandra terlahir menjadi anak satu-satunya, sehingga tidak memiliki saingan adik ataupun kakak. Ya, dari awal Putri dan Radix memang sudah merencanakan hal itu, dan ingin memiliki 1 anak saja, karena tidak ingin kasih sayang mereka terbagi pada Diandra.
Mengingat jika Diandra adalah gadis yang memiliki kepribadian berbeda dan sangat langka. Terkadang gadis itu menjadi sangat manja, pendiam, bahkan pemarah dan juga pecemburu.
"Mereka masih sangat pantas untuk di anggap keluarga, karena seharusnya aku akan di bunuh pada saat itu. Karena seorang peramal mengatakan jika aku adalah pembawa malapetaka dan akan membuat keluarga Swallow menjadi hancur." balas Jack, dan seketika mengingat tentang kisah masalalunya dulu.
Dimana ia akan di kubur secara hidup-hidup dan di bunuh oleh keluarganya. Namun hal itu tidak terjadi, karena Tamara Swallow yang merupakan ibunya Jack, merasa tidak tega dan kasihan kepada anaknya.
__ADS_1
Hingga akhirnya mereka memilih untuk mengusir Jack dari Kastil mereka. Berharap setelah kepergian Jack, maka ramalan tersebut tidak akan pernah terjadi nantinya.