
Elric merasa terombang-ambing dalam gelap. Tidak ada dentingan senjata, ledakan, atau suara tembakan yang menghantui. Hanya gelap dan sunyi. Ketika matanya akhirnya terbuka, dia merasa terkejut. Dia tidak lagi berada di medan perang yang mematikan. Sebaliknya, dia berada dalam sebuah ruangan yang sepertinya tidak pernah dia lihat sebelumnya. Bau lembab dan apek menghiasi udara. Ini bukanlah medan perang yang mematikan yang selalu dia kenal, tetapi sebuah tempat yang jauh dari familiar.
Elric terbangun dalam kebingungan yang tak terlukiskan. Ia merasa seperti dua aliran memori yang saling bertentangan berkecamuk di dalam kepalanya. Saat kegelapan dan cahaya bulan memenuhi sekitarnya, ia merasakan perasaan yang asing, sebagian dirinya adalah seseorang yang telah berjuang melalui medan perang, dengan bahaya dan ancaman setiap saat dan sebagian sebagai seorang pemuda yang hidup damai, dan baru melihat dunia, sensasi ini begitu aneh baginya. Elric merasakan perasaan kebingungan yang begitu mendalam sehingga dia hampir merasa seolah-olah dia telah terjebak dalam mimpi buruk yang tak berujung. Pikirannya melayang-layang antara kenangan penuh perang miliknya dan kenangan orang lain, menciptakan perasaan konflik yang menyiksa. Seperti kilatan memori, dia melihat seorang anak yang tertidur lelap di tempat tidurnya, dengan seorang wanita menyanyikannya. Suara gelak tawa kecil seorang wanita muda menggema di telinganya saat bermain dengannya, mengingatkan Elric pada masa kanak-kanak yang dia tidak pernah dimiliki.Tapi kemudian, kenangan itu berubah gelap. Elric merasakan ketegangan yang pernah dialami ketika dia berjuang di medan perang. Dia melihat ledakan api, mendengar dentingan peluru, dan merasakan rasa sakit luka-luka yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.Ini seperti dia terjebak dalam dua dunia yang saling bertentangan. Kenangan seseorang menghantamnya seperti gelombang yang tak terduga, mengingatkannya pada identitas yang telah hilang, sementara dia masih harus mencoba menjaga kenangannya sendiri. Konflik dalam dirinya semakin dalam saat dia mencoba memahami dan memisahkan antara dua kepribadian dalam kenangan yang begitu berbeda ini.
Dengan perasaan penuh konflik, Elric memeriksa tubuhnya yang sekarang berubah. Ini mustahil, pikirnya.
Ia yang dulunya seorang prajurit berotot dan kuat, sekarang telah berubah menjadi pemuda yang asing dengan tubuh yang tampak biasa saja. Setiap gerakan yang dia coba lakukan dengan tubuh barunya terasa seperti berjalan di atas air. Dia mencoba mengangkat tangannya, dan jari-jarinya gemetar, seolah-olah dia belum pernah menggunakannya sebelumnya.
Ia meremas kasar kulit tubuhnya, mencoba mencari tanda-tanda bekas luka dari pisau atau peluru, tanda-tanda bahwa ini adalah bagian dari kenangan yang terlupakan. Tapi tak ada, hanya kulit halus yang tidak kenal dengan perang. Ia juga merasakan kelemahan dalam tubuhnya, ketidakmampuan untuk berdiri dan bergerak sesuka hati.
Elric mencoba menoleh ke sekelilingnya, mencoba untuk memahami apa yang terjadi. Kamar itu terasa sangat asing baginya, meskipun ada rasa asing keakraban yang samar-samar dalam benaknya. Dia tahu kamar ini bukanlah miliknya. Tempat tidurnya yang biasanya kokoh dan keras sekarang tampak jauh lebih kecil dan lembut, diterangi oleh cahaya bulan yang masuk dari jendela, dengan kegelapan memenuhi ruangan. Seolah-olah mencerminkan keadaannya yang baru.
Dengan tubuh gemetar, dia melihat cermin yang menggantung di dinding yang dia lihat. Gambar yang dipantulkan di sana adalah seorang pemuda dengan rambut hitam berantakan dengan warna mata serasi. Namun itu bukan wajahnya.
__ADS_1
Wajahnya selalu dihiasi oleh bekas luka pertempuran dan ketegasan yang mengiringi kehidupan medan perang. Ekspresinya yang dulu selalu tegar dan tajam, kini tampak berubah menjadi kosong dan pucat wajah sesorang yang jatuh saat akan menghadapi kematian. Seakan menjadi narapidana mati.
Elric mencoba untuk mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata yang biasanya mudah terdengar menjadi sulit, bahkan tidak terdengar keluar dari bibirnya.
Kegelisahan dan Kengerian melanda dirinya, tetapi di tengah kebingungan itu, dia mengingat suatu bahasa yang sangat berbeda dari semua bahasa yang pernah dia kenal. Bahasa asing ini muncul sebagai bisikan lemah namun bisa diucapkan dengan susah payah, dengan satu kata yang menghiasi pikirannya: “apa” dalam bahasa yang tak dikenal.
Elric mencoba mengucapkan beberapa kata dalam bahasa yang dia kenal dari ingatannya. Namun, setiap percobaan hanya menghasilkan suara-suara yang tidak jelas dan frustrasi. Ini menambah tingkat frustrasinya. Dia masih kebingungan dan merasa sangat tidak nyaman dengan perubahan baru yang dialaminya.
Pikiran Elric mulai lebih dalam menyusun dua aliran memori yang saling bertentangan. Dia mulai memahami beberapa hal. Seperti bahwa dia adalah seorang yang bukan dari dunia ini, dia adalah seorang yang harusnya sudah mati. Setelah kematiannya dia berakhir di tubuh seseorang tidak dikenal. Hal ini seperti beberapa novel yang pernah dia baca. Dia menyadari betapa tidak masuk akalnya hal ini. Bagaimana seseorang yang sudah mati pergi ke dunia lain dan hidup damai. Dia bahkan tidak percaya akan agama dan tuhan. Dan jika memang ada, dia yakin bahwa tempatnya hanya neraka.
Dia begitu jijik dengan tebakannya sendiri, jika seseorang ingin menyelamatkan dunia kenapa seseorang harus melakukannya karena mereka dikirim ke dunia lain. Dan jika mereka benar benar perlu, jika dunia di ambang kehancuran bukankah harusnya mereka mencari seseorang yang lebih kuat. Kenapa seseorang mengirimkan manusia biasa tanpa kekuatan cheat dan lainnya untuk menyelamatkan dunia. Bukanlah lebih logis memilih ras dalam mitologi seperti naga dan raksasa atau iblis.
Dia tidak bisa menentukan apa yang menyebabkan dia berakhir disini. Dia mencoba untuk menyingkirkan pikirannya terlebih dahulu, hal ini tidak bisa ditentutakn hanya sekedar tebakan belaka saja. Dia memutuskan untuk melihat kondisi barunya dahulu.
__ADS_1
Elric dengan hati-hati berdiri, merasa ketidaknyamanan fisik yang tak biasa di seluruh tubuhnya, terutama lehernya. Dia sedikit bingung, dia melihat - lihat kamar yang kini tampak berbeda baginya. Meja yang sederhana tanpa hiasan hanya dengan beberapa barang diatasnya seperti jam, rak buku dengan sedikit buku didalamnya, kursi dan lemari kayu yang sudah tua, lantai yang pudar, jendela kecil yang terbuka dan cermin yang sederhana tergantung di dinding. Dia melihat kaca sekali lagi setelah kebingungan mereda. Cermin itu tidak mencerminkan bayang masa lalu yang luar biasa, kaca itu hanya memantulkan gambar seorang pemuda kurus, pucat dan lemah dengan tali melilit lehernya seakan baru saja menerima kematian dalam hidupnya, yang tidak dia sadari saat pertama kali melihat kecermin. Wajahnya sedikit ngeri saat melihatnya. Dia mencoba kembali menjadi tenang.
Dia memiliki banyak hal untuk dipikirkan, namun dia terus menatap cermin, mencoba mencari jejak dirinya sendiri dalam mata pemuda yang mencerminkan kembali pandangan hampa. Kepanikannya semakin dalam saat dia merasa dirinya benar - benar terperangkap dalam tubuh orang lain. Dia menjadi diam.
Dia mencoba melepaskan tali yang menjerat lehernya sambil memilah ingatan dari fragmen ingatannya. Pemilik tubuh ini bernama Aldric, dia mati karena bunuh diri, hanya itu yang dia ingat. Alasan kematiannya kenapa dia bunuh diri tidak ada, seakan hilang.
Dia mulai menyusun ingatan dengan hati hati. Saat Elric menyusuri kenangan Aldric, dia menemukan potongan-potongan yang menarik perhatiannya, kenangan tentang kakak dan bibinya, mereka satu - satunya keluarga Aldric.
Dia merenungkan bsberapa hal, seperti kenyataan bahwa dia berada dalam tubuh Aldric karena kematiannya yang aneh. Bagaimana dia hidup mulai sekarang. Apa yang menyebabkan dia pindah ketubuh Aldric. Siapa yang mengirimnya kesini. Rasa ketidakpastian dan rasa beterasingan menyelimuti pikirannya, dan dia merasa kebingungan untuk apa yang dilakukan untuk menjawab pertanyaannya.
Elric mulai menyelidiki setiap sudut kamar yang asing ini. Setelah dia memutuskan bahwa yang terpenting berpura - pura menjadi Aldric sepenuhnya. Dia perlu lebih mengenal langsung daripada hanya mengingat sesuatu dari ingatan Aldric yang asing.
Dia mulai membuka laci meja, tempat Aldric menyimpan sesuatu. Didalamnya berisi sebuah buku harian, sebuah liotin diatasnya dan beberapa barang lain. Setelah sekian lama dia mengambil liontin, Itu adalah liotin biasa dengan foto hitam putih berisi foto dua orang.
__ADS_1
Itu adalah foto dari orang tua aldric yang sudah tiada. Dia hanya mengamati dalam diam. Setelah diam begitu lama dia mulai melangkah perlahan dengan langkah gemetaran menuju ke tempat cahaya yang datang dari jendela. Di sana, dia berdiri diam, menatap keluar melalui jendela pada bulan purnama yang aneh yang berjumlah delapan di langit malam yang kosong. Berdiri dengan tubuh terhuyung-huyung selama beberapa saat, dia menyadari sekali lagi bahwa ini bukan sekedar mimpi.