
Aldric terbangun dari tidurnya oleh suara ketukan di pintu kamarnya. Dia mendengar suara samar wanita muda yang sepertinya mencoba membangunkannya.
"Aldric, bangun! Jika tidak ingin terlambat bekerja!" Suara itu terdengar tergesa-gesa.
Aldric menguap dan mengusap matanya. Dia melihat jam di meja dan melihat bahwa masih pukul 5. Dia ingin melajutkan tidur, beban pemikiran tadi malam membuatnya lelah. Namun dia sadar bahwa dia harus bekerja, jadi dia mencoba untuk bangun.
Dia ingat kemarin yang membangukannya adalah bibinya, dan sekarang giliran kakaknya. Dia merasa sedikit hangat akan hal itu.
Dia bangkit dari ranjang dan berjalan ke cermin. Dia melihat kantung mata hitam di wajahnya. Dia terlihat sedikit lelah dan pucat, efek begadang tadi malam. Hal ini tentu disebabkan oleh tubuh Aldric yang tidak terbiasa. Dan tentu juga kebiasaannya begadang sebagai Elric. Itu membuat efek perpaduan dua kebiasaan baik dan buruk menjadi lebih buruk.
Dia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu hari ini mencoba menghilangkan rasa ngantuk yang ada. Dia harus dalam kondisi terjaga, setelah peristiwa kemarin. Untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak terduga. Sikap selalu waspada dan paranoid selalu dihargai saat berada di dalam kondisi seperti ini.
Dia membuka lemari dan memilih pakaian. Dia memilih kemeja linen putih dengan rompi dan celana, dengan perpaduan warna yang cocok.
Dia keluar dari kamarnya dan bertemu bibinya di ruang tamu. Bibinya bilang dia akan segera berangkat lebih awal ke sekolah tempat dia mengajar hari ini. Karena perlu mempersiapkan ujian untuk muridnya.
"Baiklah bibi berhati-hatilah." Kata Aldric dengan hangat.
Bibinya hanya mengangguk lalu tersenyum dan pergi.
Aldric pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Dia merasa segar setelah mandi. Dia mengeringkan rambutnya dengan handuk dan menyisirnya dengan rapi.
Dia pergi ke dapur untuk mengambil makanan. Di sana, dia melihat kakaknya yang sudah menunggunya di depan meja. Kakaknya juga sudah siap untuk berangkat ke toko roti tempat dia bekerja. Dengan gaun sederhana milik ibu mereka yang menojolkan kedewasaannya.
"Selamat pagi, Aldric." Sapa kakaknya dengan senyum.
"Selamat pagi, Alice." Jawab Aldric dengan sopan.
"Kamu terlihat lebih segar sekarang." Kata kakaknya sambil menatap wajahnya.
"Terima kasih Alice." Kata Aldric sambil mecoba mengambil sarapannya.
"Kamu tidak akan sarapan dulu?" Tanya kakaknya sambil menunjukkan nampan yang berisi roti, selai dan mentega yang coba dia ambil.
"Aku akan memakannya di jalan. Aku mungkin sudah terlambat bekerja jika aku tidak pergi." Jawab Aldric sambil menggelengkan kepala.
"Baiklah?" Sedikit cemberut menghiasi wajahnya.
Aldric sambil hanya tersenyum tipis.
"Kalau begitu, kenapa kamu pulang terlambat kemarin?" Tanya kakaknya dengan tajam.
Aldric terkejut mendengar pertanyaan itu. Dia tidak dapat merespon dengan cepat. Dia harusnya tahu bahwa kakaknya pasti akan bertanya alasan dia pulang terlambat. Lagipula sangat jarang bagi Aldric pulang terlambat. Dan bahkan tidak pernah sebelum dia mengatakan kepada bibi atau kakanya. Bukankah ini situasi yang sangat mencurigakan. Dia mencoba berpikir cepat untuk menemukan alasan.
"Aku bertemu dengan temanku kemarin." Jawab Aldric dengan cepat.
"Temanmu? Apakah seorang wanita?" Tanya kakaknya dengan curiga.
"Ti..tidak, dia seorang laki-laki, namanya Samuel." Jawab Aldric dengan kesal.
"Samuel? Samuel Hartley?" Tanya kakaknya dengan kaget.
"Benar. Samuel Hartley." Jawab Aldric yang masih memiliki ekspresi kesal diwajahnya.
__ADS_1
Kakaknya hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa lagi. Dia tahu siapa Samuel Hartley itu. Dia adalah anak staf wali kota yang terkenal pintar dan tampan. Namun dia memiliki hobi aneh mempelajari okultisme. Dia juga tahu bahwa Samuel Hartley adalah teman sekolah Aldric dan Grace Hartwell, putri wali kota yang cantik dan ceria. Dia pernah mendengar bahwa mereka bertiga sering menghabiskan waktu bersama di sekolah.
Dia tidak tahu bahwa Aldric masih berteman dengan Samuel Hartley setelah lulus sekolah.
Setelah beberapa saat merenungkan nasihat apa yang bisa dia katakan. "Jangan mencoba hal-hal aneh Aldric. Setiap hal aneh selalu berakhir dengan aneh."
"Aku tidak akan berani, aku bersumpah." Jawab aldric dengan nada tergesa gesa.
Menurut ingatannya Aldric White sangat suka sesuatu yang berbau okultisme. Karena itulah dia sering ke toko barang antik kakek German, tempat dimana barang okultisme ada, yang tersembunyi di antara barang antik. Dan Inilah alasan dia dapat bergaul dengan Samuel dan Grace. Karena mereka memiliki minat yang sama.
Okultisme berhubungan erat dengan gereja dan tentu mereka akan membatasi penyebarluasan pengetahuan okultisme, terutama yang dapat merusak reputasi mereka dan berbahaya bagi orang lain. Namun gereja tidak akan pernah mampu menjaga semuanya tetap terkendali. Walaupun okultisme berhubungan erat dengan gereja, pengetahuan okultisme lahir sebelum berbagai gereja didirikan. Hal ini menyebabkan gereja hanya bisa mencoba membatasi dan mengawasi dengan ketat tentang segala topik okultisme yang berbahaya. Lagipula di dunia ini okultisme cukup populer.
Alice memutuskan untuk tidak menanyakan lebih jauh tentang pertemuan itu. Dia hanya berharap bahwa Aldric tidak mencoba hal-hal yang aneh yang dapat membahayakannya.
"Baiklah, kalau begitu, ayo kita berangkat." Kata kakaknya dengan mengubah topik.
"Baik." Kata Aldric singkat dengan mengangguk sambil mengambil rotinya.
Mereka berpamitan dan berpisah di depan pintu. Karena tempat kerja mereka yang berbeda. Pub berada di dekat dermaga. Dan toko roti kakaknya bekerja berada di dekat pusat kota. Sedangkan rumah mereka berada pertengahan antara pusat kota dan dermaga.
Aldric sampai di pub dan masuk ke dalamnya. Dia disambut oleh suara keras didalam pub seperti kemarin. Disana sudah memiliki cukup banyak pelanggan, hal itu membuat Tom dan Frank terlihat kerepotan. Dan saat dia melihat dimana sebuat tatapan menatapnya dengan sengit, disana tuan Arthur sedang duduk dan menatapnya dengan pandangan marah. Dia tahu dia dalam masalah sekarang.
Dia mencoba melihat jam dinding di atas meja kasir. Sekarang jarum jam menunjukan pukul 6.25. Dia menjadi sedikit sakit kepala kali ini. Jam kerja mereka terbagi menjadi shift pagi dan malam, dengan shift pagi di jam 6 sampai jam 2 siang dan shift malam di jam 2 sampai 11. Dia jelas terlambat.
Di hari sebelumnya dia, Tom dan Arthur bekerja lembur karena dua karyawan lain di shift malam mengundurkan diri. Hanya terdapat satu karyawan yang kebetulan ijin sakit kemarin bernama Victor, dia cukup dekat dengan Aldric dan Tom. Victor menurut ingatannya adalah orang yang sangat riang, hal itu menyebabkan dia mudah bergaul dengan siapa saja.
"Hai tuan Arthur, ini pagi yang cerah bukan." Senyum alami menghiasi wajahnya mencoba acuh terhadap tatapan sengit yang masih diarahkan padanya.
"Kau terlambat Aldric dan cuaca di luar mendung." Jawab tuan Arthur dengan tangan tersilang bernada marah.
"Ya itu masih cerah bagiku." Aldric mencoba tetap berpegang teguh dengan ucapannya.
"Hentikan omong kosongmu dan bekerjalah nak sebelum aku memajangmu di atap untuk melihat cuaca sepanjang hari!"
"Baik pak!" Jawab Aldric dengan kencang.
Dia melupannya kemarin, dia kira walaupun mantan pensiunan tuan Arthur adalah orang yang lugas dan ramah. Ternyata sifat pemarahnya masih mengikutinya. Oh tagas maksudku.
Dia melihat Frank dan Tom yang memiliki ekspresi senang di wajah mereka. Mereka tersenyum sambil dan menyapa Aldric.
"Selamat pagi, Aldric." Sapa Frank dengan senyum.
"Selamat pagi, Aldric." Sapa Tom dengan senyum.
"Selamat pagi, Frank dan Tom." Sapa Aldric kembali dengan senyum dipaksakan.
"Kenapa, kamu datang terlambat, bukankah kamu ijin di hari sebelumnya." Kata Tom dengan senyum tidak hilang.
Aldric benar - benar merasa ingin memukul wajahnya dan melihat apakah dia masih bisa memasang wajah tersenyum itu lagi atau tidak.
"Hanya telat bangun saja." Jawab Aldric sambil membuang pikirannya.
Frank datang ke arah mereka dan bertanya
__ADS_1
"Apa kau tidur dengan wanita."
"Tidak." Jawab Aldric sambil tersentak.
"Jujurlah, anak muda. Lagipula diumurmu itu hal wajar." Frank tersenyum aneh dan jelas terlihat cabul.
"Sudah kubilang tidak. Aku bahkan belum pernah menyentuh wanita" Teriak Aldric marah dengan mata terbuka lebar.
Frank berbicara dengan berbisik didepannya. "Apa kau percaya itu Tom."
"Tentu saja tidak." Jawab Tom dengan nada main - main.
Aldric berpikir kembali, apakah dia akan melanjutkan rencananya memukul mereka sekarang. Dia mencoba untuk tenang, dia sudah membuat tuan Arthur marah hari ini, jika dia membuat keributan lagi. Mungkin dia akan berakhir terikat di atap memandang awan sampai malam.
Aldric menghela nafas sambil berkata.
"Hhhh. Ayo cepat bekerja sebelum tuan Arthur marah.
"Kau benar - benar tidak menyenangkan Aldric." Jawab mereka secara bersamaan. Lalu mereka pergi untuk tugas mereka masing - masing.
Aldric mengelap meja, sambil memikirkan perkataan Frank dan Tom tadi. Dia tahu bahwa Aldric White sebelumnya tidak pernah menyentuh wanita. Dia tidak tahu kenapa, lagipula dari ingatannya sepertinya dia mati matian berusaha membalas kakak dan bibinya.
................
Sementara itu, di toko roti sederhana dengan nama Clara's Bread and Cakes. Disana Alice sedang bekerja dengan nyonya Clara, pemilik toko kue dengan beberapa karyawan lain. Mereka menjual roti - roti panas kepada pelanggan - pelanggan yang datang ke toko roti. Mereka bekerja dengan santai, bahkan mereka juga bercerita tentang hal - hal ringan dan tertawa bersama saat bekerja. Para pelanggan yang mampir ke toko tidak mempersalahkannya, sepertinya mereka tidak keberatan dengan hal itu.
Alice melihat nyonya Clara yang sedang membuat adonan roti. Nyonya Clara adalah seorang wanita tua yang baik hati dan ramah. Dia selalu memperlakukan Alice dan karyawan lain seperti kerabatnya sendiri. Dia juga sering memberikan mereka nasihat dan dukungan saat mereka dalam masalah.
Alice merasa senang bekerja di toko roti ini. Walaupun dia memiliki kemampuan di bidang akademis yang tinggi, yang membuatnya mampu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, dia lebih memilih bekerja sebagai pembuat roti dan kue.
Dulunya dia ingin setelah lulus dari sekolah, dia akan mencoba mendapatkan pekerjaan di pusat kota. Namun dia berubah pikiran saat dia selesai membantu Nyonya Clara langganan toko tempat keluarga mereka membeli roti.
Dia menawarkan padanya untuk membantu mereka membuat roti. Dia ragu-ragu awalnya, dia menjelaskan bahwa dia belum pernah melakukannya sebelumnya. Namun nyonya Clara berkata bahwa dia akan mengajarinya sampai dia berhasil. Awalnya dia hanya mencoba dan mengundurkan diri saat dia beberapa kali gagal. Namun saat dia telah berhasil membuatnya setelah bekerja keras dari beberapa kegagalan, dia sangat gembira. Dia menemukan kebahagiaan dalam melihat produk akhir dari usaha kerasnya. Ketika pelanggan menikmati roti dan kue yang dia buat, itu memberikan rasa prestasi yang luar biasa dan memberi arti pada hasil pekerjaannya. Semakin lama dia mengerahkan semua perasaan dan fokusnya dalam pembuatan roti dan kue semakin nyaman jadinya dirinya. Hal itu yang membuatnya bekerja disini hingga sekarang.
Nyonya Clara juga senang melihatnya bekerja disini. Dia mengingatkannya dengan anaknya yang sudah menikah di Rovale. Alice adalah seorang wanita muda yang cantik dan pintar. Dia selalu bekerja dengan rajin dan teliti. Dia juga selalu sopan dan ramah kepada pelanggan-pelanggan.
"Bagaimana kabarmu, Alice?" Tanya nyonya Clara dengan suara ramah.
"Baik-baik saja, nyonya Clara." Jawab Alice dengan senyum.
"Bagaimana dengan adikmu, Aldric? Apa dia baik-baik saja? Dia sudah lama tidak mampir kesini setelah kamu bekerja disini." Tanya nyonya Clara sambil tersenyum.
Alice tersenyum kembali. "Dia baik-baik saja, dia tidak kesini lagi karena dia cukup sibuk, selain itu aku yang akan membawa roti dari sini setiap hari."
"Kamu harus membuatnya paling tidak Adikmu mampir kesini, dia masih muda. Pemuda seperti dia perlu mencari pasangan secepatnya untuk menikah, begitu juga wanita muda sepertimu Alice." Kata nyonya Clara dengan nada menasihati.
Alice hanya bisa tertawa canggung. "Jika soal pernikahan, kami masih terlalu muda."
"Wanita muda sepertimu harusnya mulai mencari kehidupan yang lebih baik. Carilah pria baik dan menikahlah kemudia hadirkan anak kecil yang menggemaskan." Jawab nyonya Clara dengan tersenyum.
Alice merasa benar-benar sangat canggung. Wajahnya dipenuhi warna merah karena malu. Dia bahkan tidak bisa menjawab perkataan nyonya Clara.
Nyonya Clara tersenyum melihatnya dalam ekspresi seperti itu. "Tenanglah Alice, aku hanya bercanda. Namun sungguh, aku serius saat mengatakan ingin melihat anak kecil menggemaskan seperti dirimu waktu dulu."
__ADS_1
Alice benar-benar tidak bisa berkata kata. Dia mencoba membalikan tubuhnya dan melanjutkan pekerjaannya.
Nyonya Alice masih terkekeh saat melihat bagian belakang punggung Alice. Dia melihat telinganya masih diwarnai merah. Ini sungguh kesenangannya bermain dengan wanita muda seperti itu.