
Pub tutup lebih awal hari ini, menurut ingatan Aldric pub harusnya tutup tepat jam 11 malam. Aldric meninggalkan pub setelah paman Arthur menyuruh mereka kembali. Dia mencoba bertanya kepada Tom dan Frank, kenapa pub tutup lebih awal. Mereka hanya menjawab bahwa mungkin hari ini paman Arthur akan pergi ke makam istrinya.
Menurut ingatan Aldric paman Arthur akan selalu menutup pub saat dia berkunjung ke makam istrinya. Dia bisa saja menyerahkan sementara tanggung jawab pub kepada Frank, tetapi dia membalas tidak bisa menyerahkan tanggung jawab kepada anak nakal seperti mereka. Mungkin dia tidak ingin stres menimpanya karena memikirkan mereka saat dia mengujungi makam istrinya.
Dari ingatan Aldric istri tuan Arthur bernama Sofia Deniel, sesuai nama belakang tuan Arthur, Deniel. Istrinya meninggal saat mereka baru menikah, dia meninggal sebelum kematiam orang tua Aldric. Istri tuan Arthur adalah sahabat ibu dan bibinya. Hanya itu yang dia ketahui dari ingatan Aldric.
Ini baru jam 9 malam, Aldric sedikit bingung apakah dia akan pulang sekarang atau tidak. Dia ingin lebih mengenal tempat ini dengan mata kepala sendiri namun memutuskan untuk istirahat saat. Hari ini lebih dari cukup, untuk awal dia di dunia ini, dia tidak ingin terburu - buru. Dia mencoba melewati jalan yang jauh menuju rumahnya, itu jalan yang sepi dekat dermaga. Tempat dimana dia bisa berjalan santai dan menikmati malam.
Dia berjalan dengan santai sambil melihat pemandangan baru dari bangunan di dunia ini pada malam hari. Lampu jalan yang berbaris rapi, dengan jalanan dilewati beberapa orang saja, angin sejuk menimpa wajahnya disertai suara siulan ombak yang samar.
Dia melihat kelangit yang diterangi oleh cahaya bulan. Bulan purnama berjumlah 8 sudah tidak ada lagi, hanya satu bulan besar bersinar menggantikan mereka. Dia memiliki keraguan dengan fenomena itu. Aldric tidak pernah belajar astronomi jadi dia bahkan tidak tahu apa alasan dari fenomena itu. Sambil menebak - nebak liar alasan fenomena di dunia ini, dia mulai berjalan pergi.
Dia berjalan sambil memikirkan rekan-rekannya di pub. Frank dan Tom, meskipun sering bertengkar, mereka adalah orang - orang yang menyenangkan. Mereka juga sering bercanda dan tertawa bersama. Mereka mengingatkannya pada ingatan bawahannya.
Dia tersenyum sedikit. Ini mungkin bukan kehidupan yang terlalu buruk. Dia bisa hidup dengan damai dan tenang di sini tanpa suara peluru dan bom membangunkannya setiap saat. Dia bisa memiliki keluarga yang tidak pernah dimiliki, dan dia bisa tertawa bersama teman - teman yang tanpa mereka berencana untuk membunuhnya.
Tiba - tiba, dia mendengar suara di sebuah gang di dekat dermaga yang dia lewati. Suara itu terdengar seperti jeritan dan tangisan. Aldric merasa penasaran. Apa yang terjadi di sana? Dia tidak ingin terlibat masalah.
Dia berhenti sejenak dan berubah pikiran saat melihat ke arah gang gelap itu. Dia melihat ada cahaya merah menyala di ujung gang. Apakah itu api? Apakah ada kebakaran? Ini mengingatkannya tentang kebakaran di koran tadi pagi.
Dia sedikit ragu - ragu ingin masuk ke gang itu. Dia merasa ada sesuatu yang aneh di sana. Dia berencana untuk pergi, jika memang ada kebakaran maka para penduduk disekitar akan datang memadamkannya. Saat dia akan pergi, dia merasakan sengatan keakraban di kepalanya, hal itu membuatnya bingung, apakah dia pernah menemui adegan seperti ini. Dia merasa hal itu mengingatkannya pada sesuatu yang telah dia lupakan. Dia yakin keakraban ini dari ingatan Aldric. Sekuat kuatnya dia mencoba mengingat, dia tidak dapat mengingat apa - apa tapi dia hanya merasakan adegan ini memiliki keakraban. Dia dalam kontemplasi, apakah akan memeriksa atau tidak.
Dia mengambil langkah pertama ke arah gang itu. Ketika dia menghirup napas dalam - dalam, aroma darah menghantamnya dengan keras, memenuhi hidungnya dengan sensasi yang tak terlupakan. Bau logam yang pekat dan asing itu membuatnya terkejut.
Dia merasakan denyutan jantungnya meningkat, dan napasnya menjadi terengah-engah. Aroma itu sangat familiar baginya, bau yang tidak akan pernah terlupakan. bulan yang menyinari jalanan di belakang gang, memberikan sentuhan cahaya pada lingkungan sekitarnya, namun bau itu menghadirkan kontras yang tak terlupakan dengan alam yang tampak tenang.
Bau sangat kental dan menyengat. Bau itu membuatnya merinding. Bau darah, itu adalah bau yang tidak pernah bisa dia lupakan. Bau yang selalu mengikutinya saat di medan perang. Bau darah itu adalah bau yang selalu menandai kematian, kesedihan dan kehancuran.
Nalurinya yang tidur di kedalaman jiwanya berteriak, mengirimkan peringatan keras.
__ADS_1
Aldric tidak berani melangkah lebih jauh ke dalam gang itu. Dia tidak mau tahu apa yang ada di sana. Dia tidak mau terlibat dalam hal - hal entah apa itu.
Dia mencoba berbalik dengan alami dan meninggalkan gang itu dengan tenang. Dia berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Dia berjalan menuju rumahnya dengan kondisi santai, tidak ada perubahan dalam tempo dia berjalan. Dia akan berjalan dengan rute acak menuju distrik komersial terlebih dahulu, jika ada yang mengikutinya, dia akan dapat kabur dari pelacakan menggunakan kerumunan.
Saat dia berjalan, dia merasakan perubahan dalam dirinya. Dia merasakan dirinya menjadi dingin, tenang dan tanpa emosi. Dia merasakan dirinya kembali menjadi Elric, tentara bayaran profesional yang memiliki pengalaman puluhan tahun di medan perang.
Dia mencoba untuk tidak menoleh kebelakang untuk menentukan apakah ada yang mengikutinya atau tidak. Dia sudah merasakan bahwa dia sedang diawasi. Dibelakangnya dia merasakan ada tatapan yang mengawasinya. Dia tetap acuh dan berjalan dengan tempo tak berubah.
Saat dia mulai melihat bayangan kerumunan yang masih ramai di distrik komersial. Dia merasakan pandangan di belakangnya hilang. Dia masih tidak berani melihat kebelakang. Dia akan berjalan jalan di distrik komersial selama beberapa jam. Untuk menghilangkan pengawasan yang mungkin tidak dia sadari.
Lonceng gereja mulai bergema kembali menandai jam 12 malam. Di dunia ini lonceng gereja akan bergema pada pukul 6 pagi, 12 siang dan 12 malam.
Dia sudah mencoba bergabung berbagai kerumunan untuk menghilangkan jejaknya kemana dia pergi. Hal ini harusnya cukup. Distrik komersial akan mulai tutup setelah jam 12 malam, jika dia mencoba mengulur waktu lagi, mungkin akan semakin mudah musuh menemukannya. Dia mulai menuju kerumah melewati beberapa gang yang sempit.
Dia sampai di rumahnya dengan selamat. Dia membuka pintu dengan kunci cadangan yang dia simpan. Dia masuk ke dalam rumah dan memcoba menutup pintu dengan pelan. Dia tidak ingin membangunkan keluarganya yang sedang istirahat. Dia akan mencoba berjalan dengan hati - hati saat dia mendengar suara bibinya dari ruang tamu. “Aldric, kamu sudah pulang?
Sarah melihat Aldric dengan wajah khawatir.
“Aldric, kamu baru pulang? Kenapa kamu pulang sangat terlambat?” Tanya Sarah dengan nada lembut.
Aldric menatap bibinya dengan mata kosong.
“Maaf, Bibi Sarah.” Jawab Aldric dengan suara sedikit gugup.
“Ada apa? Aku tidak akan memarahimu karena pulang terlambat.” Tanya Sarah lagi dengan nada bingung.
“Baiklah kalau begitu.” Jawab Aldric lagi dengan suara lega.
Sarah bangkit dari sofa dan mendekati Aldric. Dia memegang tangan Aldric dengan lembut dan mengisyaratkan kekhawatiran.
__ADS_1
“Aldric, aku tahu kamu sudah dewasa. Akan normal untuk pemuda sepertimu pulang larut malam. Tetapi ingat jangan terlibat dengan masalah saat kau diluar!” Kata bibinya dengan suara tegasnya yang biasa.
Aldric sedikit tersenyum dan berkata. "Baiklah bibi, aku berjanji bahwa aku tidak akan terlibat masalah."
"Lalu kenapa kamu masih belum tidur bibi?" Tanya Aldric mencoba menghilangkan rasa bersalah karena sudah mengingkari janji sebelum dia buat.
"Aku hanya ingin membaca buku saja sebelum tidur." Jawab bibinya dengan nada cepat.
Aldric melihat bahwa bibinya mencoba berbohong padanya. Mungkin dia bukan orang yang sangat peka tetapi dia tidak akan melewatkan adegan yang sangat jelas seperti ini. Mata bibinya jelas mencerminkan kelembutan dan kekhawatiran saat memandangnya. Dia mungkin menunggu Aldric pulang dengan gelisah dan resah. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada mata itu saat dia mengetahui bahwa Aldric White telah mati, bunuh diri. Apakah akan mencerminkan kesedihan, amarah, atau kosong sama sekali.
Aldric merasakan hangat di hatinya. Walau dia tahu bahwa tatapan itu tidak ditunjukan untuk dirinya. Ini tetap merupakan perasaan asing yang membuatnya ketagihan. Seperti saat kakaknya mepedulikannya atau bibinya mengkhawatirkannya. Dia mulai memiliki keraguan di kedalaman hatinya, apakah dia layak untuk hal ini. Layak mendapatkan sebuah keluarga yang mempedulikan dan mengkhawatirkannya. Dia merupakan sampah yang harusnya terbuang di neraka dan mendapatkan bayaran akan dosanya. Dia menggit bibirnya dan mencoba menjawab bibinya.
“Apakah begitu, jangan membaca terlalu larut bibi.” Kata Aldric dengan suara lembut.
Sarah tersenyum sambil menjawab. “Ayo, bersihkan tubuhmu sebelum masuk ke kamarmu. Kamu harus istirahat sekarang.”
Aldric mengangguk dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan tubuh.
Dia masuk ke kamarnya dan berbaring di ranjang tanpa berganti pakaian. Dia memikirkan kejadian yang baru saja terjadi.
Dia ingat bau darah yang dia hirup di gang itu. Dia yakin itu bukan darah dari korban kecelakaan atau pembunuhan biasa. Bau darah itu memiliki aroma yang sangat pekat, menurut pengalamnnya aroma dengan kepekatan seperti itu hanya bisa ada dengan memotong salah satu tubuh korban hingga kekeringan darah, melubangi tubuhnya dengan meriam atau bom, atau beberapa kumpulan korban yang dibunuh disatu tempat.
Dia mengamati cahaya bulan dari jendela dalam diam. Itu bukan lagi cahaya yang tenang membawa kedamaian, dia mulai memiliki ilusi bahwa cahayanya berganti menjadi merah darah menyinari dunia ini.
Dia akan mencoba menyelidiki kejadian ini besok, jika peristiwa menjadi besar maka biarkan pihak berwenang mengatasinya. Dia tidak akan repot - repot terjun ke dalam masalah. Namun jika tidak ada kabar sama sekali. Maka hanya akan menjadi bahaya yang tidak diketahui. Mungkin dia akan mencoba mencari sesuatu untuk menghindari hal tersebut. Dunia ini tidak akan sedamai yang dia kira jika tebakannya benar.
Mungkin dia juga harus memutuskan apakah akan menyelidiki kematian Aldric asli. Dia tidak bisa setengah - setengah dalam hal ini.
Tapi sebelum itu dia harus memikirkan rencana, jika dia akan mengambil resiko dia harus membuat beberapa rencana jalan keluar. Malam itu Aldric berpikir panjang dengan ditemani ketenangan.
__ADS_1