
Aldric memiliki waktu istirahat sekarang di jam 3 dari pekerjaanya yang panjang. Dia tidak terlalu peduli dengan berapa jam dia bekerja lagipula dia dulunya tentara bayaran yang mungkin bekerja beberapa hari tanpa istirahat.
Aldric keluar dari pub, tuan Arthur menyuruhnya keluar serta menjengunk rekannya yang lain Victor Wismen setelah dia selesai dengan istirahatnya. Dia ijin sakit namun tuan Arthur menyuruhnya menjemputnya setelah dia tidak datang ke pub tadi siang. Dia memiliki waktu 2 jam untuk istirahat, jadi itu bukanlah masalah. Lagipula rumah Victor tidak terlalu jauh dari pub. Dan itu bahkan melewati jalan menuju toko roti Alice bekerja. Dia akan pergi ke tempat Alice dulu untuk membantunya berbelanja bahan makan dan setelah itu dia akan kembali ke pub sambil menjenguk Victor. Biasanya bibinya yang berbelanja dengan Alice, namun dia jelas tidak bisa hari ini. Dia cukup sibuk mempersiapkan ujian untuk kelulusan di sekolah tempat dia bekerja. Dan dia tentu tidak bisa membiarkan Alice pergi sendirian, bukankah sebagai adik yang baik dia perlu membantu kakaknya.
Aldric berjalan menyusuri jalan beraspal yang dipenuhi dengan kereta kuda, pedagang kaki lima, dan orang-orang yang berlalu-lalang. Udara di kota kecil ini bercampur dengan bau apek, polusi dan debu. Jelas tidak seperti gambaran dunia lain yang dia baca. Dan mungkin udara di kota besar akan jauh lebih tidak buruk. Lagipula ini adalah era dimana revolusi industri berada pada masa puncaknya.
Era dimana pertumbuhan ekonomi yang pesat dan perkembangan teknologi yang besar-besaran. Ini membawa manfaat besar bagi negara dalam hal kemajuan industri dan ekonomi, namun juga memiliki dampak sosial yang rumit dan sering kali merugikan masyarakat. Seperti minimnya upah, kondisi kerja yang tidak aman, polusi lingkungan, hidup di perkotaan yang padat, serta meningkatnya kesenjangan sosial. Dalam era ini, banyak pekerja menghadapi eksploitasi dan kondisi kerja yang berbahaya, sementara perkembangan industri menyebabkan pencemaran dan urbanisasi yang padat, menciptakan kesenjangan ekonomi yang besar antara pemilik pabrik dan pekerja.
Peningkatan ketidakpuasan dan kesulitan hidup pekerja di pabrik-pabrik memicu munculnya gerakan serikat buruh dan perjuangan politik pekerja untuk hak-hak yang lebih baik. Dan tekanan dari masyarakat yang prihatin terhadap kondisi pekerja dan perumahan yang buruk mengarah pada upaya politik untuk merumuskan undang-undang perlindungan pekerja dan peraturan perumahan yang lebih baik.
Ini berbeda dengan dunia lain yang dibaca Aldric dimana tidak perlu peduli tentang dampak ekonomi, politik, sosial dan lainnya.
Aldric menuju ke toko roti di sudut jalan, tempat kakaknya Alice bekerja. Disana dia melihat Toko roti sederhana, bangunan yang berdiri dengan kokoh di tengah jalan beraspal. Tidak ada dekorasi mewah, hanya pintu kayu tua dan jendela-jendela kecil yang memungkinkan cahaya matahari pagi masuk dengan gemilang. Atap toko terbuat dari genteng merah tua yang telah berusia puluhan tahun. Di atas pintu masuk, terdapat tanda yang terukir dengan anggun, bertuliskan " Clara's Bread and Cakes" dengan huruf-huruf klasik.
Aldric masuk ke toko roti dengan lonceng berdenting ketika dia masuk. Dia disambut oleh aroma manis roti segar yang baru saja keluar dari oven. Di dalam, terlihat rak-rak kayu yang sederhana dihiasi dengan sejumlah roti yang terletak. Ada juga beberapa pai yang disusun rapi, menunggu untuk diambil. Semua roti dan kue terlihat lezat, meskipun tidak ada hiasan mewah yang mengelilinginya.
Walaupun suasana di dalam toko roti sederhana, ini memberikan perasaan hangat dan mengundang, menciptakan tempat yang nyaman untuk berkunjung.
Disana dia melihat seorang wanita tua di kasir. Dengan rambut bewarna abu, mata hitam lembut dan wajah yang memiliki keriput, menggambarkan masa hidupnya. Itu membuatnya memiliki gambaran seorang nenek yang ramah dan lembut.
Aldric mencoba menyapanya. "Halo nyonya Clara"
“Oh, Aldric!” nyonya Crala berseru ketika melihat. Dia menatap Aldric sambil tersenyum. “Apakah kamu datang kesini untuk kakakmu, kamu sudah lama tidak kesini."
Aldric sedikit canggung namun dia masih mengangguk.
"Kakakmu sedang beres-beres didalam tunggulah sebentar, aku akan memanggilnya." Nyonya Clara berkata sambil tersenyum.
"Ya." Aldric menjawab dengan singkat sambil pergi ke kursi didekatnya. Dia melupakan untuk bertanya di pub tentang kejadian kemarin. Dia akan bertanya setelah kembali apakah ada kejadian besar di dekat dermaga kemarin. Lagipula peristiwa seperti itu harusnya menjadi berita besar. Dia tidak mungkin salah dalam mencium bau kemarin, itu jelas bau darah dan ada orang yang mengikutinya. Dia mencoba memikirkan bagaimana cara agar pertanyaannya tidak dicurigai dan samar.
Pikirannya dikaburkan oleh suara yang memanggilnya. "Aldric kenapa kamu disini, bukankah kamu lembur. Apakah ada sesuatu?"
Alice mendongkak, dia melihat Alice masih dengan apron berjalan ke arahnya dengan ekspresi bingung.
"Aku sedang istirahat dan aku berpikir untuk membantumu berbelanja, bukankah bibi tidak bisa membantumu hari ini." Kata Aldric dengan sedikit malu. Dia tidak memiliki niat lain, dia hanya ingin lebih dekat dengan keluarga barunya.
Alice jelas sedikit terkejut. "Apakah begitu, bukankah kamu harusnya menggunakan waktu istirahatmu dengan lebih baik."
Sebelum Alice melanjutkan perkataanya lebih jauh. Aldric mencoba berbicara. "Karena hal itulah aku membantumu."
Alice tersenyum samar. "Baiklah, tunggu sebentar. Aku perlu membereskan beberapa hal."
Aldric mengangguk dan melihat Alice pergi ke dapur. Dia mencoba mengalihkan pandangan keluar ketempat jendela berada. Saat sebelum nyonya Clara membawa sebuah nampan berisi dua gelas teh dan sepotong pai berjalan ke arahnya. Dia jelas ingin mengobrol dengannya. Lagipula toko sudah hampir tutup dan tidak ada pelanggan yang datang.
Dia tidak memiliki sesuatu untuk dilakukan jadi dia tidak mempermasalahkannya. Terutama dengan sebuah pai untuknya. Dia hanya perlu mendengarkan nyonya Clara berbicara dan menimpali dengan singkat, sambil menikmati potongan pai. Pembicaraan tenang bahkan menyenakan berisi cerita tentang kakaknya. Sebelum pembicaraan berubah menjadi canggung karena membahas masa muda, kekasih, pernikahan, dan masa depan.
Dia mencoba untuk pergi keluar, dengan alasan mencari udara segar. Tetapi jelas nyonya Clara pura-pura tidak mendengarnya terus melanjutkan kata-katanya. Dia hanya bisa pasrah melihat pintu keluar dengan tatapan kosong dengan kata-kata nasihat panjang di sampingnya.
Dia diselamatkan oleh Alice yang sudah selesai beres-beres dengan tas penuh roti di tangannya. Nyonya Clara jelas enggan membiarkan dia pergi. Namun Alice bersikeras bahwa mereka harus pergi sekarang, dia menjelaskan bahwa Aldric tidak punya banyak waktu perlu bekerja kembali. Nyonya hanya bisa dengan kecewa membiarkan Alice membawanya pergi.
__ADS_1
"Terima kasih." Kata Aldric dengan malu. Sambil mencoba mengambil tas yang penuh roti.
"Kamu harusnya mencoba pergi jika tidak tahan dengan nasihat nyonya Clara. Dia masihlah wanita tua yang baik. Dia akan membiarkanmu pergi jika kamu berbicara padanya." Kata Alice sambil nyerahkan tasnya.
Mulut Aldric berkedut saat mendengarnya, namun dia masih menjawabnya dengan singkat. "Ya. Aku akan mencobanya dimasa depan"
Mereka berjalan menuju pasar yang ramai di pusat kota dengan orang-orang yang menjajakan berbagai macam barang, mulai dari sayur-sayuran, buah-buahan, daging, ikan, telur, susu, keju, hingga pakaian, perhiasan, mainan, buku, dan barang lainnya.
Mereka memutuskan untuk berhenti di salah satu pedagang sayur terlebih dahulu. Mereka membeli kentang, wortel, dan beberapa sayuran lainnya.
Setelah berbelanja sayuran, mereka melanjutkan ke pedagang ikan. Mereka membeli beberapa ikan segar dari perairan sekitar untuk hidangan utama mereka. Setelah berbelanja beberapa bahan seperti rempah, keju dan beberapa hal lain, mereka berjalan pulang dengan tangan penuh dengan belanjaan mereka. Mereka menghabiskan sekitar 1 REPL untuk ikan dan 2 REPL untuk bahan lainnya selain roti. Roti itu gratis karena nyonya Clara akan memberikan beberapa roti setiap hari ke pada karyawannya. Dan bahan lainnya bisa mereka gunakan untuk beberapa hari kedepan, hal itu membuat mereka lebih hemat dalam satu minggu, mereka hanya menghabiskan sekitar 12 REPL untuk makan dengan menu utama daging, ikan atau telur. Harga makanan di pub atau tempat lainnya biasanya berkisar 2 - 5 REPL dan minuman termurah seharga 1,5 REPL.
Angin mulai berbisik lembut, merayap di antara pepohonan dan merambat melalui rerumputan. Di kejauhan, guntur bergemuruh seperti tanda dari langit yang bewarna gelap.
Aldric dan Alice mencoba mempercepat langkah mereka menuju rumah. Mereka bisa saja menaiki kereta, tetapi biaya antara pusat kota dan rumah mereka sekitar 2 REPL. Mereka lebih memilih berjalan untuk menghemat uang.
Setelah tiba di rumah. Hujan mulai terdengar dibelakang mereka. Aldric sedikit bingung bagaimana cara dia kembali ke pub. Payung belum umum disini, mereka cenderung digunakan oleh kalangan atas dan bangsawan. Dia melihat jam di ruang tamu yang menunjukan pukul 4.15. Perjalanan antara rumahnya dan pub sekitar 20 menit, jadi dia tidak terlalu terburu-buru.
"Apa kamu akan keluar saat hujan seperti ini." Alice berbicara dengannya dibelakangnya.
"Ya, aku tidak punya pilihan. Hujan sepertinya tidak akan berhenti dalam waktu singkat." Aldric menoleh kebelakang melihatnya. Dia jelas mengkhawatirkannya.
"Aku yakin tuan Arthur akan memahami jika kamu terlambat karena mununggu hujan reda." Alice berusaha untuk membujuknya.
"Tuan Arthur menyuruhku mampir ke suatu tempat, jadi aku harus pergi. Lagipula hujan belum menjadi badai." Dia masuk kerumahnya untuk meletakan belanjaan.
Aldric tersenyum mendengarnya. "Baiklah."
Aldric menghirup bau hujan disekitarnya. Dia mencoba melewati hujan dengan mantel tebal ditubuhnya, sambil mengingat jalan menuju rumah Victor dari fragmen ingatannya.
Angin hujan yang dingin menusuk tulang dan tangannya gemetar, dia mencoba berjalan lebih cepat ke arah rumah Victor.
Lampu jalan dan lampu di rumah penduduk mulai menyala satu persatu. Kota mulai menjadi lebih sepi, diiringi guyuran hujan yang lebih deras. Terdengar suara guntur yang lebih sering menjadi tanda datangnya badai.
Dia mencoba untuk sampai setidaknya sebelum badai. Jika tuan Arthur tahu bahwa dia sudah menjenguk victor dan terlambat. Setidaknya dia tidak akan memarahinya. Dia akan mencoba berteduh di rumah victor sampai setidaknya hujan mereda.
Dia melewati beberapa orang yang berteduh di toko dan rumah sekitarnya. Saat dia melewati persimpangan jalan dia menemukan sebuah rumah sederhana diantara rumah lain. Dia mencoba mendekatinya sambil bergumam pada diri sendiri.
"Aneh kenapa tidak ada lampu yang menyala apakah Victor pergi kesuatu tempat."
Dia mencoba mengetuk pintu didepannya sambil menunggu balasan. Dia memikirkan beberapa hal, menurut ingatannya, Victor tinggal sendiri tanpa kerabat, ibunya meninggal beberapa tahun yang lalu. Jadi dia hanya hidup sendiri saat ini. karena hal itulah tuan Arthur menyuruhnya melihatnya.
Dia mencoba mengetuk kembali namun masih tidak ada jawaban dari dalam. Dia mengetuk beberapa kali dan masih tidak ada jawaban. Dia berencana memanggilnya jika dia tidak mendengar balasan dia akan mencoba pergi dari sini. Mungkin Victor benar sedang pergi keluar.
"Victor...Victor...Victor apakah kau didalam." Aldric terus menerus memanggilnya dari luar. Dan tidak ada jawaban lagi. Dia melihat kebelakang, angin dan hujan tidak terlihat semakin mereda. Mungkin dia akan sakit setelah hari ini, dia sedikit kesal sekarang. Harusnya dia mendengar saran Alice.
Aldric mencoba memutar kenop pintu sebelum dia pergi, dan ternyata berhasil. Itu membuatnya bingung, kenapa Victor tidak mengkunci pintu jika dia pergi. Dia mulai mengkhawatirkan rekannya yang ada di dalam.
Aldric ingin masuk kedalam. Dia merasa sedikit ragu, tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia harus tahu apa yang terjadi dengan Victor. Dia hanya berharap Victor tidak marah dan menduga dia berbuat kejahatan. Itu akan membuatnya berada di kantor polisi.
__ADS_1
Rumah Victor adalah rumah sederhana yang terdiri dari beberapa ruangan. Aldric mencoba mencari lampu gas di sekitarnya, tapi dia tidak menemukan apa-apa. Dia hanya melihat beberapa lilin yang sudah habis terbakar di atas meja dan rak. Dia mencoba menyalakannya dan mengambilnya. Dia melihat sekeliling, rumah itu tampak kotor dan berantakan, itu tidak mengejutkan karena hanya pemuda yang hidup disini. Dia mencoba mencari dimana kamar tidur Victor.
Aldric berjalan ke beberapa ruangan dengan hati-hati, sambil mencoba untuk tidak menabrak barang-barang yang tidak terlalu terlihat. Dia melihat bahwa ruangan-ruangan itu kosong dan gelap, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Dia mencoba pergi ke ruangan lain, di sana hanya ada tempat tidur, lemari, atau meja tanpa tanda tanda orang.
Aldric merasa semakin bingung dan khawatir. Apakah Victor tidak ada dirumah? Maka dia akan membuat masalah karena mendobrak masuk ke rumah orang. Aldric membuang pikiran tidak berguna itu dan melanjutkan berjalan ke kamar lain, dia akan pergi dan meminta maaf setelah memeriksa semua ruangan.
Dia akan mencoba membuka pintu ruangan di sudut lorong, aroma harum yang menyengat tercium di hidungnya. Dia berhenti membuka pintu. Dia melihat pemandangan melewati celah pintu yang terbuka. Disana hanya terlihat bayangan dari meja samar dalam kegelapan.
Suara guntur dan hujan deras masih terdengar di luar rumah. Dan aroma harum lebih menyengat dan kuat mulai menyebar di udara. Ini membuat suasana menjadi menyeramkan.
Seluruh otot Aldric langsung menegang. Mencoba bersikap setenang mungkin, dia mulai berjalan menjauh dari pintu dengan tenang. Seluruh fokusnya di arahkan disekitarnya terutama pintu dia mencari sebuah tanda bahaya yang mungkin datang. Nalurinya mulai berteriak membuatnya untuk pergi. Dia mencoba mendengarkan bunyi yang mungkin tidak ada dan mulai merendahkan suara nafasnya. Dia tidak mengalihkan pandangan dari pintu dan sekitarnya dari awal. Dia menghitung beberapa menit berlalu dalam keheningan.
"Victor, apakah kamu ada di sana?" serunya sambil bersiap dalam posisi menyerang, mencoba melihat apa yang mungkin keluar.
Masih dengan sebuah lilin ditangannya, Aldric mendobrak pintu dengan cepat. Bau harum menyerangnya di depan mukanya, dia terkejut dengan apa yang dia lihat di dalamnya. Seluruh tubuhnya menegang hingga membuat dia tidak bisa bergerak. Di kamar yang sederhana itu, dia melihat mayat manusia.
Di dalam ruangan yang gelap gulita, dengan cahaya lilin di tanganya dia melihat bayangan mayat terikat di atas langit kamar dengan posisi terbalik.
Pikiran Aldric hampir gila, memikirkan berbagai hal yang membuatnya terancam. Dia melihat sekeliling ruangan yang gelap penuh dengan ketegangan. Dia mencoba mundur lebih jauh dari pintu. Dia mulai menunggu beberapa saat mencoba mempertahankan sikapnya.
Setelah belasan menit berlalu, dia masih tidak tahu dimana bahaya yang mungkin datang. Dia hanya melihat bayangan mayat samar tergantung terbalik. Aldric mulai mengatur nafas memberanikan diri untuk mendekat. Dia bahkan tidak ingin pergi ke luar. Jika pembunuh tidak ada dirumah ini maka, tebakan paling tepat berada di luar. Jika terjadi serangan diluar yang penuh badai, dia tidak akan menemukan tempat perlindungan sama sekali, setidaknya jika terjadi serangan dirumah ini dia memiliki beberapa cara kabur atau menyerang memanfaatkan medan. Mungkin ini terdengar tidak logis. Namun dia sudah menghitung berbagai kemungkinan.
Yang pertama jika pembunuh berada dalam kamar, dia akan memilih menyerangnya saat dia membuka pintu, karena hal itulah dimana dia akan kehilangan posisi saat mendobrak pintu, itu didasari jika pembunuh adalah profesional. Jika mereka amatiran dia akan langsung tahu jika ada orang didalam selain mayat.
Kemungkinan kedua jika pembunuh berada di ruangan di rumah yang belum dia lihat. Maka pembunuh akan keluar atau menunggunya setelah mendengar dobrakan pintu kamar. Saat ini pembunuh belum keluar jadi dia mungkin bersembunyi. Dia tidak bisa menebak kapan tempatnya dia akan menyerangnya, tetapi dia sudah menebak beberapa tempat yang mungkin menjadi tempat persembunyian pembunuh. Tidak termasuk ruangan yang dia kunjungi dan kamar ini. Dia sudah melihat ruang tamu, ruang makan, dapur, dua kamar tidur. Jadi tinggal kamar mandi di dekat dapur dan ruang lainnya di ujung lorong, mungkin kamar tidur juga. Dia akan menyadari jika ada suara samar di kamar mandi saat dia di dapur walaupun suara badai dapat mengaburkannya. Kecuali jika pembunuh adalah profesional, dengan teknik seperti praktik diam, mengontrol pernafasan dan gerakan, dia tidak akan tahu sebelum melihat ruangan langsung. Dan ruangan di ujung lorong, dari awal setelah mendobrak pintu dia sudah membagi perhatiannya di ujung lorong dan belakang punggungnya tempat kamar mandi berada. Sedangkan ruangan yang dia kunjungi, dia sangat yakin saat memeriksanya, meksipun penglihatannya terbatas dengan cahaya lilin saja. Dia akan langsung tahu jika ada seseorang yang bersembunyi di ruangan itu. Itu salah satu keterampilannya sebagai tentara bayaran profesional.
Dan kemungkinan ketiga adalah pembunuh berada di luar. Banyak kemungkinan lagi jika dia diluar, seperti dia mungkin sudah pergi, dia menunggu di rumah lain, dia menunggu di rumah bagian luar, dia ada di atap rumah, dia berada di gang jalan tempat rumah ini terlihat, dia juga bisa saja berada di kantor polisi atau jalan menuju kantor polisi. Banyak kemungkinan jika pembunuh ada di luar. Dan itulah mengapa dia tidak ingin mengambil resiko terburu-buru keluar. Dia akan mencoba menebak motif pembunuh terlebih dahulu, dengan begitu setidaknya dia dapat menyaring beberapa kemungkinan. Hal ini sudah aneh dengan tidak adanya adegan konfontrasi didalam rumah, atau jejak darah dan baunya. Pembunuh justru menghilangkan bau dengan aroma parfum. Dan dia mungkin sudah membersihkan tempat kejadian. Hal ini lebih membuatnya yakin pembunuh tidak berada dirumah lagi. Namun dia masih menjaga sikap waspadanya untuk menghilangkan kemungkinan yang tidak terduga.
Dia mencoba masuk ke dalam kamar tempat mayat berada dan membuka tirai jendela di samping pintu. Itu akan membuatnya bisa melihat dengan cahaya walaupun diluar badai.
Saat dia membuka tirai dia akhirnya melihat kondisi mayat yang sebenarnya. Jarum-jarum kecil berada di seluruh tubuhnnya, menembus kulit, otot, dan semua yang terlihat, menjadikannya sebagai boneka raksasa besi dengan jarum mencuat. Kaki mayat itu terikat di lehernya dengan jarum panjang menghubungkan keduanya. Kepala mayat itu memiliki wajah tersenyum bengkok, diwajahnya bola mata hilang, hanya rongga kosong dengan jarum membuat matanya tetap terbuka. Di tangannya dia memegang sesuatu seperti bola mata. Bola mata itu tidak terlihat seperti bola mata namun sebuah ornamen, seolah-olah bola kayu dicat warna dan resin, membuatnya terlihat seperti duplikat bola mata. Tidak ada darah yang mengalir ditubuhnya, tidak ada bau busuk mayat, hanya bau harum parfum di sekililingnya. Seakan bukan mayat yang dibunuh secara sadis namun pajangan seni yang dibuat untuk pertunjukan mewah.
Aldric bisa melihat bahwa mayat itu adalah Victor, teman lamanya.
Aldric merasa ngeri dan ketakutan. Bahkan pengalamannya sebagai tentara bayaran tidak bisa menanggung adegan seperti itu. Dia menutup mulutnya dengan tangannya berusaha menahan mual yang akan keluar. Dia benar-benar lumpuh saat ini, dia melupakan semua kewaspadaannya. Dia merasakan denyut jantungnya semakin cepat dan napasnya semakin pendek. Dia merasakan keringat dingin mengalir diseluruh tubuhnya. Kepalanya mulai berdenyut gila membuatnya menutup mata. Dia berusaha semaksimal mungkin memegang lilin dengan erat mencoba tidak kehilangan penerangan.
Sisa lilin mulai jatuh ketangannya membuat dia tetap sadar dari waktu ke waktu. Dia mulai membuat seluruh tubuhnya tegang, mencoba mencari bahaya yang akan datang.
Suara nafasnya mulai tidak terkontrol lagi. Keheningan di sekelilingnya membuatnya lebih gelisah. Dia mencoba tetap tenang berlari ke sudut kamar. Sebelum suara dobrakan terdengar di pintu masuk rumah.
Aldric mencoba membuat tubunya tetap tegang, dia akan mencoba melawan dan keluar dari rumah dengan semua usahanya. Bahkan sebelum dia ingin melompat ke jendela berbagai suara langkah kaki mendekat ke ruangan ini dan ruang lain.
Dia mulai panik dan putus asa sekarang. Kenapa begitu banya langkah kaki. Dia mengutuk nasib buruknya karena mungkin mati beberapa hari setelah dia hidup kembali.
Suara langkah kaki semakin mendekat. Dia mencoba untuk menyerah sambil mencari kesempatan untuk hidup. Hal ini adalah pilihan paling logis. Jika dia memiliki senjata seperti pistol, dia bersumpah dia akan berburu mereka sampai mereka menangis.
Akhirnya langkah kakipun berhenti di depan kamar. Berbagai orang melihatnya di sudut ruangan dengan mayat menggantung di tengah ruangan.
Dengan keringat dingin mengalir lebih deras. Dia tahu akan dalam masalah yang lebih besar sekarang. Dia mungkin tidak bisa kabur.
__ADS_1