Jalur Kegilaan

Jalur Kegilaan
Bab 3: Awal Baru


__ADS_3

Elric berbaring di tempat tidur Aldric dengan mata terpejam. Sambil memikirkan pertemuan dengan kakanya, dia merasa perasaan asing yang sulit dijelaskan saat bertemu dengannya. Dia mencoba untuk tidur, tetapi pikirannya tidak bisa tenang. Dia memikirkan bagaimana kehidupannya besok, bagaimana dia harus berpura-pura menjadi Aldric, bagaimana menyembunyikan rahasianya, apakah dia harus menyelidiki kematian Aldric atau tidak.


Di awal dia memikirkan bagaimana dia harus belajar tentang dunia ini. Namun dia menemukan bahwa dia sudah ingat hampir semua ingatan Aldric. tetapi ingatan akan kematian, ritual, agama, Geng Breton, Nyonya Walikota, Uskup Theodore dan sesuatu yang berhubungan dengan okultisme seakan hilang. Itu mungkin bisa dijelaskan kalau hanya ritual, Geng Breton, Nyonya Walikota, Uskup Theodore dan yang berhubungan dengan kematiannya hilang. Namun okultisme, menurut ingatannya Aldric adalah seseorang yang suka akan pengetahuan okultisme, tetapi semua pengetahuan yang berhubungan dengan okultisme seakan hilang terhapus secara kasar. Hal ini membuatnya sangat tidak nyaman, karena kedatangannya di dunia ini disebabkan oleh okultisme.


Dia juga menemukan sebuah ingatan yang penting dari ingatan Aldric tentang dunia ini. Menurut ingatan Aldric dunia ini dibagi menjadi 3 benua besar dengan yaitu benua utara, tengah dan selatan. Dengan Wilayah Utara ditempati : Kekaisaran Drakonia dan Berbagai negara kecil lainnya. Wilayah Tengah di tempati : Republik Lumina dan Republik Monarki Ronian. Wilayah Selatan ditempati : Kekaisaran Emberfell dan Federasi Eldrion. Dan bahkan ada banyak agama di dunia ini seperti di utara ada : Gereja Kehidupan dan Suara. Di tengah ada Gereja Pengetahuan dan Sejarah, Di selatan ada Gereja Kematian dan Kekacauan. Gereja di dunia ini bersifat sangat mengakar di berbagai unsur. Baik pada masyarakat, pengetahuan, sosial, keamanan, politik, bahkan pertahanan. Jika seseorang mengalami peristiwa aneh atau menemukan peristiwa aneh, mereka akan lebih memilih pergi melaporkan ke gereja terlebih dahulu daripada polisi atau pihak berwenang. Hal ini didasari oleh fenomena supranatural yang ada di dunia ini yang bersifat terbuka diketahui oleh masyarakat. Dan gereja diketahui secara luas sangat berhubungan erat dengan hal itu. Mungkin hal itulah alasan gereja sangat mendukung penyebaran pengetahuan secara luas.


Dia juga mempelajari bahwa keluarga White adalah seseorang yang taat. Mereka menyembah dewa pengetahuan. Di dunia ini gereja juga sangat berhubungan erat dengan okultisme dan bahkan anomali selain fenomena supranatural. Jika di dunianya dulu, anomali sering berhubungan dengan peristiwa atau fenomena yang tidak sesuai dengan pola atau ekspektasi yang berlaku dalam konteks ilmiah, statistik, atau penelitian. Sedangkan disini, gereja juga ikut bergabung dalam menyelesaikan dan memahami anomali dengan para ilmuwan, peneliti dan ahli. Terdengar sangat aneh, karena supranatural dan anomali bukanlah konteks yang sama. Mungkin hal itulah salah satu alasan gereja sangat mendukung penyebaran pengetahuan secara luas. Hal ini membedakan era victorian di dunianya dulu yang sangat kurang dalam lingkup pendidikan.


Berbeda dengan dunia Elric dunia ini ada keberadaan monster. Di dunia ini monster cenderung tinggal di laut dalam atau hutan purba yang jarang diinjaki manusia. Mereka mulai punah dari zaman ke zaman. Meskipun jumlahnya berkurang, masih banyak orang yang bisa melihat mereka. Jika seseorang tidak takut mati, mereka hanya perlu pergi ke perairan luar dan dalam, yang belum dijelajahi atau pergi ke pulau yang belum dijangkau maka mereka akan menemukan monster. Dan bisa juga pergi ke hutan purba yang sulit dijangkau.


Saat ini aldric tinggal di sebuah kota di pulau kecil bagian dari Republik Monarki Ronian. Ini adalah bagian terluar dari wilayah Republik Monarki Ronian sebelum laut tanpa batas di barat. Kota ini bernama Elrya.


Wilayah laut di dunia ini cenderung berbahaya karena keberadaan monster namun wilayah laut dekat Elrya memiliki zona aman yang sangat luas, tidak dihuni oleh monster selain ikan-ikan biasa. Hal ini menyebabkan ekonomi disini cukup maju, walaupun merupakan kota kecil.


Elric bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke lemari pakaiannya. Dia membuka lemari itu dan melihat-lihat pakaian-pakaian milik Aldric yang ada di sana. Pakaian-pakaian itu terlihat sederhana dan biasa, sesuai dengan gaya hidup Aldric yang rendah profil dan hemat. Celana panjang atau celana kulot, kemeja linen atau katun, rompi, topi bowler hat atau topi cap. Aldric juga memiliki beberapa jas dan setelan formal peninggalan ayahnya. Seperti pakaian era victorian pada umumnya.


Suasana di dunia ini sama dengan era victorian di dunianya, orang-orang umumnya cenderung lebih memperhatikan berpakaian dengan cara yang terhormat, terutama dalam konteks sosial dan formal. Ini adalah periode di mana norma-norma sosial sangat menekankan tampilan dan etika dalam berpakaian, terutama di kalangan kelas menengah ke atas dan bahkan menengah kebawah. Pakaian menjadi sangat penting sebagai simbol status sosial, dan ada tekanan besar untuk tampil sopan dan sesuai dalam setiap kesempatan. Hal ini mencakup pakaian sehari-hari yang lebih sopan untuk pergi ke gereja, bekerja, atau berpartisipasi dalam acara sosial. Orang-orang sering kali mengenakan pakaian formal atau setidaknya lebih rapi untuk acara-acara tertentu. Dalam ingatan Aldric dia akan memakai setelan formal saat pergi ke gereja setiap minggu bersama keluarganya.


Elric memakai pakaian kemeja linen dan celana hitam. Elric juga memakai syal hitam yang dia ikat di lehernya untuk menutupi bekas tali yang samar terlihat.


Elric mengenakan pakaian-pakaian itu dengan hati-hati dan teliti. Dia kemudian berjalan menuju cermin di dinding kamarnya. Dia melihat pantulan dirinya yang baru di cermin itu dengan tatapan penasaran dan kagum.


Di depannya, dia melihat seorang pemuda tampan dengan rambut hitam pendek, mata hitam, hidung mancung, bibir tipis, dan dagu lancip. Dia memiliki wajah segar berbeda dengan tatapan kosong dan wajah pucatnya tadi malam. Pemuda itu memiliki tubuh yang cukup tinggi.


Pemuda itu adalah dirinya sendiri, tapi juga bukan dirinya sendiri.


"Ok, sekarang diriku adalah Aldric." Sambil melihat ke cermin.


Aldric tersenyum tipis saat melihat pantulan dirinya di cermin itu. Dia menyukai penampilan barunya. Tidak seperti tubuhnya yang dulu yang di penuhi bekas luka dan kekasaran. Meskipun tubuhnya sekarang menjadi lemah, setidaknya dia memiliki ketampanan.


Aldric berbalik dari cerminnya dan akan berjalan menuju pintu kamarnya dan keluar dari rumah. Tetapi sebelum dia keluar kamar dia mendengar suara ketukan di pintu, diiringi suara wanita dewasa.


"Aldric bangunlah, sudah pagi" Itu adalah suara bibinya.


Dia hanya bisa terdiam kaku tak bisa bergerak. Dia panik setelah bibinya memanggilnya.


"Aldric apa kamu tidak apa - apa." Suara bibinya dengan nada khawatir.


"Tidak apa - apa bibi, berikan aku beberapa saat untuk bersiap." Dengan nada panik tergesa gesa


"Baiklah, aku akan ada di dapur." Jawab bibinya dengan tenang.


Terdengar langkah kaki mulai menjauh dari kamarnya. Setelah beberapa menit. Dia membuka pintu itu dengan perlahan. Dia berjalan menuju pintu keluar rumah dengan langkah ringan. Dia berharap bisa pergi tanpa ketahuan oleh bibinya atau kakaknya.


Dia tidak ingin menimbulkan kecurigaan atau kekhawatiran dengan perilakunya yang berbeda. Namun dia merasa bertemu mereka bukan ide bagus. Dia tidak memiliki pengalaman dengan keluarga sama sekali. Walaupun ingatan Aldric dapat membantunya. Itu masih membuatnya tidak nyaman.


Namun, sebelum dia bisa membuka pintu, dia mendengar suara dari belakangnya.


“Aldric White mau kemana kamu!" Suara itu berkata dengan tegas.


Elric menoleh ke belakang dengan cepat. Dia melihat bibinya berdiri di ujung koridor ekspresi marah di wajahnya.


Bibi Aldric adalah Sarah White, seorang wanita berusia 38 tahun yang bekerja sebagai guru di sekolah di kota kecil ini. Bibinya adalah adik dari ibu Aldric dan Alice, yang meninggal karena kecelakaan di benua utara saat menjalankan bisnis. Bibinya adalah orang yang telah mengasuh Aldric dan Alice sejak mereka masih kecil, dengan penuh kasih sayang seakan mereka adalah anaknya. Dia mengorbankan masa mudahnya demi mereka.


Bibinya adalah orang yang memiliki sikap sangat tegas dan disiplin, tetapi juga lembut dan penyayang. Mungkin itu alasanya dia menjadi guru.


Aldric merasa canggung saat melihat bibinya yang marah. Dia tahu bahwa pertemuan dengan keluarganya tidak bisa dihindari. Dia juga tahu mungkin alasan kenapa bibinya marah kepadanya. Sejak kematian orangtua Aldric dan Alice saat bibinya mengurus mereka. Mereka menggunakan meja makan sebagai bentuk kedekatan dalam keluarga.


Elric menghela napas dan berjalan kembali ke arah bibinya dengan wajah gugup. Dia tahu bahwa dia tidak bisa lolos dari amarah bibinya. Dia tahu bahwa dia harus menghadapi konsekuensi dari tindakannya.

__ADS_1


“Maaf, bibi aku hanya ingin pergi ke pub secepatnya.” Aldric meminta maaf dengan suara lembut.


"Apakah ada masalah di pub." Bibinya bertanya dengan suara lembut.


"Tidak, aku hanya ingin pergi lebih awal". Jawab Aldric dengan kaku.


"Aldric kamu harusnya tahu apa yang kamu lakukan dan hari ini aku ingin mengobrol denganmu sebentar." Bibinya mengatakan dengan tegas.


"Baiklah." Aldric tahu di tidak memiliki pilihan lain saat ini.


Bibinya memerintahkan Aldric pergi ke ruang makan terlebih dahulu. Di sana, Aldric melihat kakaknya sedang duduk di meja dengan piring berisi makanan sederhana. Seperti roti, sup krim kentang, dan sosis panggang di depannya. Dia melihatnya dengan ekspresi terhibur.


Kakak Aldric adalah Alice White, seorang wanita berusia 24 tahun yang bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran kue di pusat kota. Kakaknya adalah orang yang memiliki pengetahuan dan bakat yang luas, tetapi juga rendah hati dan sopan. Kakaknya adalah orang yang memiliki sifat dewasa dan tajam. Mungkin karena saat orang tua mereka meninggal dia merasa harus memikul beban milik keluarga, sebelum akhirnya bibinya datang merawat mereka.


Alice tersenyum saat melihat Aldric masuk ke ruang makan dengan wajah malu. Alice akur dengan adiknya dari kecil. Mungkin dialah orang yang paling tahu sifat Aldric. Jika dia bersikap sangat berbeda mungkin yang pertama mencurigainya pasti dia. Hal itulah yang menyebabkan tadi malam dia begitu gugup.


“Selamat pagi, Aldric.” Alice menyapa dengan suara tegas berbeda dengan ekspresinya.


“Selamat pagi, Alice.” Aldric menyapa balik dengan suara canggung disertai kejutan.


Aldric merasa aneh saat kakaknya menyapanya seperti itu. Dia merasa ada sesuatu yang salah dengan cara kakaknya berbicara. Dia mulai sedikit gugup, apakah kakaknya menyadari sesuatu.


"Apakah ada sesuatu," Aldric memcoba bertanya dengan kegelisahan.


"Tidak, aku hanya masih berpikir kamu menyembunyikan masalah besar." Sambil melihatnya dengan seksama.


"Ti..tidak sama sekali, aku bersumpah padamu." Aldric menjawab dengan cepat. Dia tahu bahwa kakaknya membahas kejadian tadi malam.


"Apakah itu masalah pekerjaan." Dia bertanya dengan suara halus.


Dia merasa harus menjawab pertanyaan itu. Dengan melihat wajah tegasnya. Dia mungkin akan menanyainya sampai dia menjawab.


"Ya itu masalah pekerjaan, itu hanya hal sepele". Jawab Aldric dengan malu.


Aldric duduk di sebelah kakaknya dengan hati-hati. Bibinya menaruh piring berisi makanan yang sama seperti kakaknya di depannya. Bibinya kemudian duduk di seberang mereka setelah mengambil teko teh.


“Sekarang, makanlah, Aldric.” Bibinya memerintah dengan suara tegas.


“Ya, bibi.” Aldric menjawab dengan suara patuh.


Mereka makan dalam diam. Dengan suara alat makan yang berirama.


Aldric mulai merobek roti menjadi beberapa potongan. Dia mencelupkan potongan roti itu ke dalam sup krim kentang yang masih panas. Dia menggigit potongan roti itu dengan lembut dan merasakan rasa gurih mulutnya. Dia menelan potongan roti itu dengan mudah dan merasakan kehangatan di perutnya. Dia mencoba untuk memakan sosis bersama sup dan roti. Ini mungkin salah satu makanan paling enak yang dia rasakan.


Di dunianya sebagai tentara bayaran, sebagian makanan yang dia makan hanya makanan Instan, makanan Kaleng, makanan Kering, atau makanan lokal yang hambar.


Aldric merasa kenyang dan puas. Dia tahu bahwa makanan sederhana tetapi enak ini adalah hasil dari kerja keras bibinya yang bangun lebih awal untuk memasaknya.


Aldric melirik ke arah kakaknya yang juga sedang menikmati makanannya. Kakaknya tampak tenang dan anggun saat makan. Dia berbalik dan melihat Aldric.


Aldric mencoba untuk menghindari kontak mata dengan kakaknya sebisa mungkin seperti tadi malam. Dia mencoba untuk fokus pada teh yang dia minum sebanyak mungkin.


Setelah mereka selesai makan, bibinya bangkit dari kursinya dan membawa piring - piring kotor ke dapur. Kakaknya juga bangkit dari kursinya dan mengambil lap untuk membersihkan meja. Aldirc juga bangkit dari kursinya dan berencana untuk pergi ke kamar mandi untuk menyikat gigi.


Namun, sebelum dia bisa bergerak, dia mendengar suara bibinya dari dapur.


“Aldric, tunggu sebentar.” Suara itu berkata dengan lembut.


Aldric berhenti di tempat dan menoleh ke arah dapur dengan bingung. Dia melihat bibinya keluar dari dapur dengan wajah serius. Bibinya mendekati Aldric dengan langkah lambat.

__ADS_1


“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu, Aldric.” Bibinya berkata dengan suara pelan.


“Ada apa, bibi?” Aldric bertanya dengan suara gugup.


Bibinya menghela napas dan menatap Aldric dalam diam.


“Maafkan aku, kamu sudah dewasa harusnya aku tahu itu.” Bibinya meminta maaf dengan suara pelan. “Maafkan aku karena membentakmu tadi.”


Aldric terkejut mendengar permintaan maaf bibinya. Dia tidak mengharapkan hal itu sama sekali. Dia tidak tahu bagaimana harus merespon hal itu.


“Tidak apa-apa, bibi.” Aldric menjawab dengan suara kaku.


Bibinya menggelengkan kepala dan menggenggam tangan Aldric dengan erat.


“Tidak, itu tidak baik, Aldric.” Bibinya membantah dengan suara tegas. “Aku tidak seharusnya membentakmu seperti itu. Aku hanya sedikit terkejut kau mau pergi tanpa mengatakan sesuatu.”


Bibinya menundukkan kepalanya dan berkata.


"Mungkin aku melakukan kesalahan padamu, setelah kejadian beberapa hari yang lalu". Bibinya berkata dengan suara bingung.


“Aku minta maaf, Aldric.” Bibinya mengulangi dengan suara samar sedih. “Aku tahu kamu ingin pindah ke tempat lain dan hidup baru, namun kita tidak bisa Aldric.”


"Apa?" Kata Aldric penuh kebingungan.


"Walaupun aku dan kakakmu tidak keberatan untuk pindah. Tabungan kita semua mungkin tidak cukup untuk memenuhi biaya hidup lebih dari beberapa bulan setelah menjual rumah kita. Dan aku tidak pernah mengijinkan kamu pindah sendiri!" Kata bibinya dengan suara lemah disertai suara tegas dibagian kalimat terakhir.


Sebelum Aldric menjawab bibinya terus melanjutkan. "Biaya hidup di kota sangat besar tidak murah Aldric. Dan jika kita pindah maka mencari pekerjaan disana sangat susah. Menurut surat kabar dikota besar seperti ibu kota Rovale, terdapat peningkatan pengangguran karena teknologi mulai menggatikan tenaga kerja. Dan biaya rumah sama tingginya walaupun kita tidak masalah untuk menyewa. Namun memiliki lebih dihargai..."


"Tung...Tunggu, tunggu bibi!" Aldric merasa bahwa kata - kata bibinya tidak akan berhenti dalam waktu singkat.


Dia merasa tidak berdaya, dia sungguh tidak tahu apa yang dikatakan bibinya. Aldric mencoba bertanya untuk mencari tahu.


"Apakah itu keinginanku bibi?" Tanya Aldric dalam nada bingung.


“Apakah kau mencoba melupakannya.” Jawab bibinya dengan ekspresi marah. "Kamu meminta kami pindah dari pulau ini, beberapa minggu yang lalu.


Aldric sekarang menyadari sesuatu. Kenapa kakaknya menanyakan tentang masalah padanya, kenapa bibinya ingin berbicara dengannya. Mungkin Aldric terdahulu mencoba membuat keluarganya meninggalkan tempat ini. Jadi mungkin rahasia yang membuat Aldric terdahulu mati dari awal benar - benar berhubungan dengan pulau ini. Dia merasakan sedikit takut dan gelisah. Dia mungkin harus memutuskan apakah perlu menyelidiki kematian Aldric White atau tidak. Dia mencoba untuk membuat alasan pada bibinya terlebih dahulu.


“Bibi sejujurnya aku mendapat sedikit masalah dari rekan kerja.” Elric berkata dengan suara tulus, dengan penuh kebohongan . “Tapi aku sudah menyelesaikannya, yakinlah.”


Elric tersenyum dan meyakinkan bibinya.


Bibinya hanya melihatnya dalam diam. Hal itu menyebabkan Elric menjadi gugup.


“Baiklah Aldric, jika itu yang kamu katakan.” Bibinya berkata dengan suara pasrah.


Bibinya memandang Elric dengan mata penuh kekhawatiran dan ketidakberdayaan. Aldric merasa canggung dengan pandangan itu. Namun itu memberinya perasaan asing yang tidak pernah dia rasakan.


“Baiklah bibi, aku perlu berangkat kerja.” Aldric berkata sambil mencoba tersenyum.


Bibinya hanya menganguk.


Aldric pergi ke kamar mandi untuk menyikat gigi. Dia tidak berencana untuk mandi, karena sudah waktunya sebelum dia berangkat kerja.


Pada suasana masa ini orang yang bekerja di pabrik dan tempat lainnya lebih memilih datang lebih awal untuk bekerja karena keterbatasan waktu dan untuk pekerja didermaga mungkin jika mereka telat mereka tidak akan mendapat pekerjaan. Dan walau dia tidak bekerja di dermaga, dia bekerja di pub untuk menyajikan sarapan. Yang kebanyakan pelanggan mereka di pagi hari adalah pekerja dermaga dan pabrik.


Dia lebih memilih mengehemat air bersih seperti sifat Aldric White sebenarnya. Lagipula hemat bukanlah sifat buruk. Di dunia ini walau dia berada di pulau, kebutuhan air bersih masih terpenuhi untuk keluarga sederhana seperti mereka. Dia pernah membaca dikoran bahwa di benua pusat ibu kota Republik Monarki Ronian, Rovale. Disana untuk keluarga dengan gaji tahunan sekitar 12.000 REPL per tahun, seperti keluarga mereka. bahkan tidak memiliki banyak air bersih.


Aldric membuka pintu kamar mandi dan berjalan menuju pintu keluar. Dia tidak lupa menyapa bibi dan kakaknya sebelum pergi. Dia meraih gagang pintu dan sedikit mendorongnya.

__ADS_1


Melankahkan kaki kedepan, dia melihat sebuah pemandangan yang tidak akan dilupakan.


Awal saat dia berjalan di dunia yang baru.


__ADS_2