Jalur Kegilaan

Jalur Kegilaan
Bab 10 : Racun


__ADS_3

Aldric memeluk bagian tubuhnya yang terluka. Dia melihat para preman berlari dengan beberapa dari mereka terluka karena tembakannya. Dia juga melihat beberapa mayat tergeletak di sekelilingnya.


Aldric mendapatkan beberapa luka selain luka tembak. Dia merasakan rasa sakit yang menusuk di lukanya. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia tidak tahu apakah dia masih bisa kembali ke rumah atau tidak.


Dia hanya tahu bahwa dia harus pergi dari tempat ini. Dia hanya memiliki dua pilihan, harus pergi sebelum ada orang lain yang datang dan menemukan mayat-mayat di gang itu atau membuang mayat - mayat itu. Tetapi kondisinya tidak memungkinkan. Dan harus pergi sebelum ada orang lain yang mengetahui bahwa dia adalah pembunuhnya.


Dia bangkit dari tanah, sambil menyembunyikan pistol dan pisau di sakunya. Dia melihat anak perempuan dan anak laki-laki yang masih tergeletak di tanah. Mereka berdua pingsan terlihat pucat dan lemah, tetapi masih bernapas. Dia sedikit ragu - ragu, sambil memegang sakunya. Kemudia dia berbalik dan pergi.


Dia kembali berfikir untuk menhentikan lukanya segera. Namun suara teriakan membangunkannya. Seorang tunawisma melihatnya berlumuran darah dengan mayat disekitarnya. Tuniwisma itu mulai berlari sambil berteriak. Hal itu menyebabkan Aldric menegang. Dia harus segera pergi atau membereskan mayat sebelum polisi datang.


Aldric memutuskan membereskan mayat itu terlebih dahulu. Dia tahu bahwa mungkin pada masa ini tidak ada hal seperti CCTV, tes DNA atau sidik jari. Namun dia tidak mau mengulangi kecerobohannya lagi. Lagipula ini dunia lain, jika ada hal yang hampir sama seperti itu bukankah dia hanya ingin berkelahi dengan nasib.


Saat dia bertarung, dia melihat sebuah bagian besi menutupi bawah jalan tertutup lumpur. Itu adalah penutup sekolan bawah tanah untuk pembuangan limbah. Kota ini tidak memiliki sistem saluran pembuangan yang canggih seperti di kota besar. Tetapi masih memiliki sistem pembuangan yang sederhana, yang fungsi utamanya membuang limbah pabrik, sedangkan limbah lainnya akan di alihkan ke saluran sederhana yang lebih kecil.


Sambil mendekati penutup sekolan. Dengan usaha yang besar dia berhasil membuka penutup selokan itu.


Aldric merasakan tubuhnya semakin lemah. Darahnya semakin banyak membasahi pakaiannya. Dia melihat ke langit yang mulai memiliki warna gelap.


Dia berdoa agar hujan cepat datang, menghilangkan bau dan genangan darah. Aldric hanya bisa berharap polisi tidak akan datang sebelum hujan datang.


Dia mendekati mayat pertama, dan menyeret mereka satu persatu dari tanah ke selokan secepatnya. Dia menghitung bahwa ada 4 yang mati dari 12 preman itu.


Aldric ingin pergi dan menghentikan lukanya. Tetapi dia merasakan dia tidak bisa berjalan jauh setelah menutup selokan. Dia merasakan tubuhnya semakin dan semakin lemah, pandangannya mulai semakin kabur. Dia merasakan darahnya terus mengalir dari lukanya, dan membasahi bajunya.


Suara hujan datang melewati Aldric. Dia merasakan hujan mulai turun diatas kepalanya.


Tiba-tiba, dia mendengar suara di belakangnya. Dia menoleh kebelakang dengan waspada. Dia melihat anak - anak itu sudah bangun. Mereka gemetar ketakutan sambil melihatnya.


Aldric menyadari bahwa dia melupakan anak-anak itu. Dia sedikit penasaran apakah mereka melihatnya membunuh preman atau membuang mayat ke selokan. Namun hal itu tak bertahan lama di pikiran Aldric.


Aldric ingin menyuruh mereka membawanya ke tempat yang aman. Namun dia menghentikan pikirannya. Dia tahu bahwa tidak ada tempat aman di lingkungan ini. Jika mereka tahu tempat yang aman kenapa mereka dipukuli di gang ini.


"Hai, Kalian pergilah jauh - jauh?" Kata aldric dengan lemah.

__ADS_1


Anak-anak itu menatapnya dengan ketakutan. Mereka tidak bisa membalas perkataanya.


Aldric tidak mempermasalahkannya lagi, dia berbalik mencoba pergi mencari tempat aman untuk menghentikan pendarahannya. Dia berfikir setidaknya tempat itu harus jauh dari sini, dia tidak mau ditemukan saat polisi menggeledah tempat ini dan sekitarnya. Jika mereka menemukannya dia hanya akan membuat masalah pada dirinya sendiri.


Aldric mulai berjalan saat tiba - tiba matanya tertutup, seluruh tubuhnya kejang dan mati rasa, dia kesulitan menggerakan tubuhnya dan bahkan bernafas.


Ini racun, pikirnya dalam hati. Para bajingan itu mengoleskan racun ke senjatanya. Dia mencoba menenangkan tubuhnya sambil mencoba bernafas. Dia mulai merasakan bahwa dia mungkin tidak selamat. Dia hanya bisa berjongkok kaku dengan putus asa mempertahankan kesadarannya.


Saat hujan mengguyur lebih deras. Aldric mulai memikirkan tentang keluarga barunya. Dia mungkin membuat bibi dan kakaknya menangis karena kehilangannya. Mungkin lebih tepat mengatakan karena Aldric bukan dirinya. Dia mulai merasakan perasaan kekosongan di hatinya. Seperti kehidupan lamanya. Dia tidak memiliki apa - apa, tidak berhak untuk apa - apa, dan tidak mengharapkan apa - apa.


Aldric mendengar suara di belakangnya.


"Lalu bagaimana denganmu" kata salah satu anak mencoba memberanikan diri itu.


Aldric berbalik dengan lemah melihat suara itu.


Anak itu adalah anak laki - laki yang di bela anak perempuan yang menabrak Aldric.


"Pergilah." Jawab Aldric dengan suara terakhir yang bisa dia kerahkan.


Dia merasakan kesadarannya semakin hilang. Dia merasakan hidupnya semakin menipis. Dia mencoba membuka matanya, dan tidak menyerah. Namun takdir berkata lain.


Aldric akhirnya mulai jatuh di tengah guyuran hujan yang menimpanya.


"Apa yang harus kita lakukan dengannya?" tanya anak perempuan itu setelah melihat Aldric jatuh.


"Apakah dia pingsan." kata anak laki-laki itu dengan bingung. "Bagaimana jika membawanya ke rumah,"


"Tapi bagaimana?" tanya anak perempuan itu terbelalak. "Dia membunuh mereka."


"Aku tahu kakak," kata anak laki-laki itu dengan tegas. "Tapi dia membantu kita."


"Dia tidak membantu kita, dia melawan mereka karena mereka menggangunya dan dia mungkin sudah mati!" Kata anak perempuan dengan keras

__ADS_1


"Dia tetap membantu kita dan dia belum mati, kita bahkan belum mengeceknya" kata anak laki - laki dengan kuat.


"Tetap saja." Jawab anak perempuan dengan nada kuat lainnya.


Sela Anak laki - laki itu melihat pada anak perempuan.


"Jangan lupakan orang yang membantu kita. Itu yang selalu kamu katakan kakak."


Anak perempuan memiliki ekspresi marah diwajahnya. Sedangkan anak laki - laki itu tidak menghiraukannya. Dia mulai mendekati tubuh Aldric yang jatuh. Dia mendekatkan tangannya ke hidung Aldric. Dia merasakan merasakan hembusan nafas. Setelah itu dia mencoba mengangkat tubuh aldric sendirian, dengan usaha keras anak itu menyadari bahwa dia tidak bisa mengakatnya. Jadi dia mencoba menyeret tubuh Aldric.


"Apasih yang kamu lakukan jika kamu menyeretnya seperti itu dia akan benar - benar mati!" Bentak anak perempuan sambil mengambil tubuh Aldric. "Bantu saja aku mengakatnya."


Anak laki - laki itu menganguk dengan bersemangat berkata. "Baik kakak".


Anak perempuan itu berjongkok di depan Aldric, dan membantunya berdiri. Dia merangkul Aldric, dan membawanya ke rumah mereka.


Mereka berjalan melewati gang keluar dari daerah kumuh. Mereka mencoba untuk melewati jalan yang jarang dilewati orang. Akhirnya mereka sampai dirumah tanpa ada orang mencurigai mereka. Bahkan jika ada yang melihat mereka, mereka hanya akan menganggap anak kecil, membawa pulang kakaknya yang mabuk. Dan mereka sudah menutupi kemeja bekas darah aldric dengan kain kotor yang ditemukan.


Rumah anak-anak itu adalah sebuah gudang kecil yang sudah hancur di gang sempit di dekat distrik komersial.


Anak perempuan itu membaringkan Aldric di tempat tidur kecil, tempat mereka tidur. Dia membuang kain kotor di kemeja Aldric, dan mencari kain bersih di laci meja dekat tempat tidur.


"Aku akan mengambilkan air," kata anak laki - laki itu.


"Ya." jawab anak perempuan itu dengan singkat.


Dia mulai melepaskan pakaian Aldric dengan hati - hati. Dia terkejut semua otot ditubuhnya menegang secara tidak wajar. Dia mulai tahu bahwa Aldric teracuni.


Dia mencoba mencari sesuatu di laci mejanya. Dan dia menemukan toples kecil dengan bunga kering didalamnya. Dia mencoba mengambil beberapa dan mulai menghancurkannya dengan tangan.


Setelah anak laki - laki itu mengambil air, anak perempuan itu mencampur sedikit air dengan serbuk bunga yang dihancurkannya. Dia mulai bekerja dengan cekatan dan hati-hati. Dia membersihkan darah dari luka-luka Aldric, kemudian melapisi semua luka aldric dengan serbuk bunga yang dihancurkan dan dicampur air, selanjutnya membalutnya dengan kain bersih.


"Apakah dia akan hidup?" Tanya anak laki laki disampingnya.

__ADS_1


"Dia akan hidup". Jawab anak perempuan dalam kelelahan.


__ADS_2