
Aldric terbangun dengan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Dia membuka matanya perlahan dan melihat sekelilingnya. Dia berada di sebuah sel bawah tanah yang gelap dan lembab. Dinding-dindingnya terdapat rantai-rantai berkarat dan darah kering, bagian lantainya terbuat dari beton kasar terdapat genangan air diatasnya. Di depannya terdapat sebuah pintu besi yang terkunci rapat, dan di atas kepalanya hanya ada kegelapan, tidak ada cahaya sama sekali kecuali lampu gas redup di lorong sel.
Dia mencoba untuk bangkit, tapi merasakan sesuatu yang menahan kaki dan tangannya. Dia menoleh ke bawah dan melihat sebuah belenggu besi yang mengikat kakinya dengan dinding. Dia merasakan sakit menjalar dari seluruh tubuhnya. Dia mengingat apa yang terjadi sebelum dia dibawa ke sini.
Dia dikepung oleh sekelompok polisi berseragam biru yang membawa tongkat dan pistol. Mereka menodongkan senjata dan menuduhnya sebagai pembunuh Victor. Aldric mencoba untuk membela diri, tapi mereka tidak mau mendengarkan. Mereka hanya terus menodongkan senjata sampai atasan mereka datang.
Dia memiliki tanda pangkat yang tertera nama inspektur. Dia mengawasinya lalu memberikan perintah kepada bawahannya. Aldric memiliki firasat buruk dengan itu, dia mencoba untuk melawan dan berteriak namun mereka tidak menghiraukannya. Mereka mendekatinya lalu memukulinya dengan brutal dan menyeretnya dengan borgol di tangannya ke sebuah kereta kuda biru di tengah badai.
Di dalam kereta kuda, mereka mulai menanyainya siapa dia, dimana dia tinggal, apa dia punya hubungan dengan korban, apa dia membunuh orang itu, apa motifnya, kenapa dia disana. Dia berusaha menjawab dengan serius. Sejujurnya Aldric hanya ingin mengutuk mereka semua, kenapa mereka baru menanyainya sekarang. Namun dia juga berpikir itu hal yang wajar. Jika dia menemukan sebuah mayat mengerikan dengan orang di dalam ruangan. Maka tersangka jelas adalah dia, walaupun dia mencoba mengatakan bahwa dia tidak ada hubungannya. Hampir semua pembunuh, pencuri dan kriminal lainnya akan mengatakan hal yang sama. Namun dia tidak tahu kenapa mereka memukulnya, bukankah itu terlalu berlebihan.
Mereka tidak melakukan apa-apa setelah itu. Lalu mereka membawanya ke tempat ini, penjara bawah tanah di bawah kantor polisi. Di sini, mereka mulai mengintrogasinya dengan sungguh-sungguh. Mereka mulai menyakan berbagai hal dan lebih detail, seperti mengapa dia di rumah korban, apa yang membuatnya datang di tengah badai, apa kepercayaannya. Jujur Aldric sedikit bingung mengenai pertanyaan kepercayaan tapi dia tetap menjawabnya dengan tenang bahwa itu gereja pengetahuan. Lalu mereka mulai melanjutkan berbagai pertanyaan.
Aldric menjawab dengan tenang bahwa dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya seorang pelayan pub biasa yang ditugaskan oleh Tuan Arthur, pemilik pub tempat dia bekerja, untuk menjenguk rekannua Victor, yang sakit dan kebetulan terjadi badai saat akan mengjenguknya. Dia menjelaskan bahwa saat dia menjenguk Victor, pintu rumahnya tidak terkunci, jadi dia masuk ke dalam untuk mengecek kondisi Victor karena mengkhawatirkannya dan berencana untuk berteduh hingga badai mereda. Di sana dia mencoba mencari Victor dan tidak menyangka akan menemukan sebuah mayat di salah satu ruangan. Dia juga menjelaskan saat dia menemukan mayat Victor, dia sangat syok hingga terdiam lama saat melihatnya. Lalu Polisi tiba-tiba datang dan menangkapnya.
Dia juga meminta mereka untuk menyelidiki lebih lanjut dan menanyakan beberapa saksi untuk membuktikan ketidak bersalahannya. Dia meminta mereka untuk meminta kesaksian kepada Tuan Arthur, pemilik pub tempat dia bekerja, Alice White, kakaknya, dan Nyonya Clara, pemilik tempat kakanya bekerja. Dia juga menjelaskan berbagai hal mengenai kesehariannya hari ini. Dia mulai menjelaskan bahwa dia di pub dari jam 6 sampai jam 3 lalu pergi ke tempat kakaknya bekerja, mereka berbelanja selama kurang lebih 1 jam lalu dia mengatarkan kakaknya kerumah sekitar 15 menit dan pergi kerumah Victor sebelum kembali ke pub.
Mereka hanya mengangguk dan mengatakan bahwa mereka akan menyelidiki dan jika dia dibuktikan tidak bersalah dia akan dibeskan, lalu mereka pergi begitu saja setelah merantainya di dinding dengan alasan keamanan. Dia menerima sepenuhnya tanpa perlawanan. Sungguh jika dia melawan, mereka pasti akan tetap merantainnya. Jadi tidak yang perbedaan.
Aldric merasa putus asa dan tidak berdaya. Dia tidak terlalu mengkhawatirkan tentang kebebasannya. Jika para polisi itu menyelidiki dengan benar, maka mereka akan menemukan bahwa dia tidak bersalah. Dia lebih khawatir dengan bibinya dan Alice. Jika polisi datang ke rumah mereka, dan mengatakan dia menjadi tersangka pembunuhan. Mereka pasti akan sangat khawatir. Dia bahkan bisa merasakan sakit kepalanya sekarang karena rentetan pertanyaan dan omelan mereka yang akan diberikan saat dia pulang.
Dia hanya bisa berdoa agar tidak ada kesalahan dalam penyelidikan. Dia sudah memikirkan beberapa kemungkinan paling buruk yang dapat dia pikirkan. Seperti jika pembunuh menjebaknya, pembunuh sebenarnya adalah eselon atas kota, dia digunakan menjadi kambing hitam dan kemungkinan lainnya. Sekali lagi dia hanya bisa berharap bahwa polisi melakukan penyelidikan dengan benar.
Beberapa hari kemudian, Aldric mendengar suara pintu besinya dibuka. Setelah sudah mulai jenuh dengan makanan penjara hanya bubur hambar atau roti keras dan air. Dia akhirnya melihat dua orang datang ke selnya. Salah satunya memiliki pakaian pendeta dengan lambang gereja pengetahuan dan dia membawa sebuah kertas dan sebuah pena di tangannya.
“Bangun, kamu!” salah satu dari mereka berkata sambil membuka pintu sel Aldric.
__ADS_1
Aldric merintih kesakitan dan bangkit dari lantai kotor.
“Apa aku akan dibebaskan?” dia bertanya dengan suara tenang.
"Kamu akan dibebaskan setelah beberapa tes." Polisi itu menjawab sambil melihat ke arah pendeta.
Pendeta itu mengangguk lalu berjalan kearahnya. Dia mengeluarkan sebuah buku kecil di sakunya, lalu dia bertanya kepadanya beberapa pertanyaan yang sama seperti beberapa hari yang lalu. Aldric sedikit curiga, apakah buku yang dibawa pendeta itu alat khusus yang dapat membuktikan sesuatu atau hanya buku biasa dimana kesaksiannya tertulis disana. Dia tetap menjawab dengan jujur sesuai dengan pertaannya diajukan, bahkan dia menjawab dengan sama semua pertanyaan seperti beberapa hari yang lalu tanpa ada perbedaan sama sekali.
Pendeta itu hanya melirik buku itu dan menutupnya setelah beberapa saat. Dia menoleh kebelakang dan mengangguk kepada polisi di belakangnya.
“Kami telah membuktikan bahwa kamu tidak bersalah,” pendeta itu menjawab sambil menyodorkan kertas dan pena ke Aldric.
Aldric sedikit bingung mengapa mereka mengajukan tes singkat dan langsung mencoba membebaskannya, dia mencoba membuang pemikirannya di belakang kepalanya.
Dia mengambil kertas itu dan membacanya. Di situ singkatnya tertulis sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa dia tidak bersalah atas kematian Victor dan bahwa dia akan merahasiakan semua yang dilihatnya di rumah Victor. Dia juga akan diberikan kompensasi karena kesalahan penahanan. Di bawahnya terdapat sebuah syarat yang menyatakan bahwa dia harus menandatangani klaus di atas dan bersumpah kepada dewa sesuai kepercayaannya. Dan beberapa tulisan mengenai hukuman apa yang akan dia dapatkan karena melanggarnya.
“Baiklah, sekarang bersumpahlah kepada dewa,” Pendeta itu berkata sambil menunjuk ke atas.
Aldric mengangkat satu tangannya ke atas kepalanya dan mengucapkan sumpahnya. Sesuai ingatan yang ada di kepalanya.
“Aku bersumpah kepada dewa pengetahuan bahwa aku tidak akan menyebarkan apapun yang aku lihat di rumah Victor dan jika aku melanggarnya aku akan dihukum sesuai kesalahan yang aku buat."
Aldric menghela nafas dengan lemah lalu dia melihat ke arah pendeta yang mengangguk padanya.
“Apakah sekarang aku sudah bisa keluar?” Aldric mencoba bertanya sambil melihat mereka.
__ADS_1
"Ya." Jawab Polisi dengan singkat sambil mencoba membuka belenggunya.
“Bolehkan aku tahu apa penyebab kematian rekanku?” Aldric bertanya dengan hati-hati.
Polisi itu hanya diam terus mencoba membuka belenggunya dan pendeta itu hanya tersenyum sambil berkata. "Lebih baik kamu tidak tahu apa-apa demi kebaikanmu."
“Baiklah." Jawab Aldric dengan singkat. Dia bertanya hanya sekedar penasaran dan setelah pendeta berkata seperti itu, dia tidak ingin tahu lagi.
“Itu tidak penting bagimu. Yang penting, kamu sudah terbukti tidak bersalah. Kami sudah mendengar kesaksian dari Tuan Arthur, Alice, Nyonya Clara, dan beberapa orang lain yang mengenal kamu. Mereka semua mengatakan hal yang sama, sesuai kesaksianmu.” Polisi yang sudah melepaskan borgolnya berkata dengan tajam. "Dan ingat jangan menyebarkan rahasian yang kamu lihat sesuai isi perjanjian.
"Baik." Jawab Aldric sambil memegang pergelangan tangannya yang sakit. Aldric merasa lega mendengar itu.
“Baiklah, sekarang kamu bebas,” orang itu berkata sambil berjalan ke luar sel Aldric. "Jangan lupa mengambil kompensasimu dan barangmu di bagian adminitrasi."
Aldric mengangguk mengikuti di belakang mereka.
......................
Aldric berjalan secepatnya dari pintu kantor polisi. Dia merasakan sinar matahari menyentuh kulitnya dan udara segar mengisi paru-parunya. Dia merasakan kebebasan yang lama hilang dari dirinya.
Aldric memiliki senyum bahagia di wajahnya. Dia sempat berpikir bahwa penjara tidak begitu buruk. Namun dia menghapus pikiran yang tidak berguna itu dikepalanya.
Dia berpikir seperti itu karena kompensasi yang dia terima adalah 50 REPL, kurang lebih sebanding dengan 3 minggu dia bekerja. Dia berpikir untuk membeli beberapa hal untuk keluarganya dengan itu. Dia berharap setidaknya dapat sedikit menghibur kemarahan mereka, karena dia membuat masalah dan membuat mereka khawatir. Jadi dia pergi menuju pusat kota. Dia berkeliling ke beberapa toko dan memilih hal-hal yang cocok untuk bibi dan kakaknya.
Saat sinar matahari menjadi semakin menyengat dia akhirnya selesai berbelanja, barang yang dia pilih adalah syal dan hiasan rambut yang berharga 8 REPL dan 7 REPL. Syal itu terbuat dari wol dengan warna putih bermotif bunga dengan manik manik di ujungnya. Sedangkan hiasan rambut berupa pin yang diukir membentuk bunga dengan warna perak. Dia ingin memberikan syal itu kepada bibinya dan hiasan rambut itu kepada Alice. Dia juga tidak lupa membeli makanan penutup seperti puding prem dan puding roti. Puding prem adalah salah satu jenis puding yang populer di sini. Meskipun nama "prem" digunakan, hidangan ini tidak selalu mengandung plum sejati. Biasanya terbuat dari campuran tepung, buah kering, rempah-rempah, dan lemak. Harganya sekitar 2 REPL, cukup mahal untuk hanya sekedar puding. Sedangkan puding roti adalah hidangan yang dibuat dari roti yang sudah tidak segar, susu, gula, telur, dan rempah-rempah. Ini adalah cara yang baik untuk memanfaatkan roti yang tersisa. Harganya hanya 0,5 REPL. Ini membuatnya menjadi makanan yang cukup digemari oleh wanita dan anak-anak. Karena harganya yang murah danrasanya yang enak.
__ADS_1
Dia mendengar bunyi lonceng gereja yang menandakan jam 12 siang. Dia buru-buru berjalan pulang menuju rumahnya. Harusnya sekitar beberapa jam sebelum Alice dan bibinya pulang, dia ingin mandi terlebih dahulu. Tubuhnya memiliki bau yang tidak sedap. Bahkan para pedagang tadi mengerutkan kening ketika melihatnya.
Dia mulai berjalan kaki menuju rumahnya dengan hati yang ringan sambil memikirkan reaksi mereka saat mendapatkan hadiah darinya.