
Elric memikirkan beberapa hal, dia benar - banar merasa bingung dan takut. Emosi yang bahkan dia jarang rasakan di kehidupannya sebelumnya. Dia tidak tahu bagaimana cara berpura-pura menjadi Aldric. Walaupun dia sudah memiliki ingatannya dia masih tidak akan bisa menjadi orang yang sama bahkan jika dia mencoba meniru setiap sikap yang dimiliki Aldric. Manusia diciptakan dengan berbeda - beda, bahkan sesorang yang memiliki wajah, tubuh, sikap, sifat yang sama, tidak bisa menjadi orang yang sama. Dia tidak tahu apa yang mereka lakukan jika mereka mencurigainya, dan terburuk tahu jati dirinya. Apa mereka akan mengadukannya ke polisi atau bahkan gereja. Didunia ini gereja cukup dipercaya dalam hal supranatural. Dan dia pasti tidak ingin diintrogasi. Bukankah jika dia diduga menjadi penyihir yang menggantikan tubuh seseorang, dia akan berakhir dibakar atau lebih buruk. Pastinya dia tidak ingin hal itu terjadi.
Dia benar - benar tidak tahu bagaimana cara hidup di dunia yang asing ini, bagaimana cara menghadapi ancaman yang mungkin datang tanpa diketahui, bagaimana cara membayar sesuatu yang membuatnya hidup kembali dan apa konsekuensinya. Dia tahu bahwa pasti hal ini memiliki sesuatu yang perlu dia bayar suatu saat nanti. Dan dia tidak akan lepas dari hal ini. Bukankah dia hanya mencari kematian kembali jika dia mencoba untuk lari dari sesuatu yang menghidupkannya kembali.
Dia hanya tahu bahwa saat ini dia harus bertahan hidup dan menyembunyikan siapa dirinya sebenarnya apapun caranya, karena itu yang dia pelajari dari kehidupan masa lalunya, dimanapun dia berada dia perlu bertahan. Jika dia sanggup bertahan, hanya dia yang akan menang.
“Apa yang harus aku lakukan?” Elric bergumam pada dirinya sendiri. “Aku harus mencari cara untuk menyembunyikan bekas tali di leherku. Mungkin aku bisa memakai syal. Tapi apakah itu tidak akan mencurigakan? Apakah mereka tidak akan bertanya kenapa aku tiba-tiba memakainya? Apakah aku harus berbohong karena sakit? Itu akan membuat aku dalam sedikit masalah jika berhadapan dengan keluarga Aldric. Tapi aku tidak punya pilihan lain.”
Elric merasakan dinginnya air yang mengalir di tubuhnya. Dia berharap air itu bisa menghilangkan luka dan memar yang ada dilehernya. Dia menatap dinding kamar mandi yang kusam dan gelap. Dia merasa seperti terperangkap dalam penjara tanpa jendela. Dia ingin keluar dari sini, tapi dia tidak tahu kemana harus pergi, dan bagaimana caranya.
Elric cepat-cepat mematikan air dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk yang dia temukan di lemari Aldric. Elric mengenakan pakaian bersih dan rapi yang dia temukan di lemari Aldric. Dia memilih kemeja putih linen dan celana hitam yang sederhana dan tidak mencolok. Dia juga memakai syal yang dia ikat di lehernya untuk menutupi bekas tali yang masih sedikit terlihat dan berjaga jaga jika ada kejadian tak terduga. Dia tidak mau saat dia keluar, dia tiba - tiba berhadapan dengan kakak atau bibinya. Namun ketakutannya menjadi kenyataan.
Dia membuka pintu dan melihat wajah seorang wanita muda yang cantik dan dewasa dengan rambut hitam dan mata hitam. Dengan pakaian tidur tertutup menghiasi tubuhnya. Itu adalah saudara Aldric. Dia mencoba berbalik dan menutup pintu kembali.
“Aldric? Apakah ada sesuatu” Suara saudari Aldric terdengar dari balik pintu kamar mandi.
“Oh, hai, Alice.” Elric mencoba menyapa dengan suara canggung dan gugup dengan nama saudari Aldric.
"Apa kamu baik - baik saja?" Suara saudari Aldric masih terdengar di balik pintu.
"Aku baik - baik saja, hanya sedikit terkejut." Jawab Elric masih dengan suara canggung mencoba untuk tenang.
"Jadi bisakah sekarang kamu keluar sskarang?" Tanya saudari Aldric masih didepan pintu.
"A..Aku akan." Elric mencoba bersikap tenang dan membuka pintu.
Disana akhirnya dia berhadapan dengan Alice, saudara Aldric dan salah satu keluarganya.
“Apa kamu baru saja mandi?” Alice bertanya dengan ekspresi heran.
“Ya, aku… aku merasa sedikit gerah.” Elric menjawab dengan sedikit gugup.
“Dimalam hari? Kenapa? Dan kenapa kamu memakai syal?” Saudari Aldric bertanya dengan curiga dan heran.
__ADS_1
“Tidak, tidak ada. Aku hanya… aku hanya ingin menyegarkan diri dan setelah itu kupikir menjadi sedikit dingin jadi aku memakai syal." Elric berbohong dengan cepat dengan gugup. Dia benar benar tidak bisa tidak gugup bertemu dengan sesuatu yang disebut keluarganya sekarang. Dia bahkan dulu tidak memiliki keluarga.
“Oh, begitu. Tapi itu tidak menjelaskan kenapa kamu mandi tengah malam? Apa kau mendapat masalah yang tidak bisa diceritakan?” Saudari Aldric bertanya dengan curiga dan khawatir.
Elric merasa tidak nyaman dengan tatapan saudari Aldric. Dia merasa seperti dilihat dengan tatapan saat orang - orang yang mengkhawatirkan seseorang. Ini benar - benar membuatnya tidak nyaman, dia dulu hanya mencemoh dan jijik dengan orang yang memiliki tatapan itu. Mungkin dulu dia hanya tidak tahu bagaimana rasanya karena tidak ada yang menatapnya seperti itu. Dia merasakah sesuatu yang asing di dadanya. Dia berusaha untuk tidak menunjukkan rasa gugup atau bersalah di wajahnya. Dia menundukan kepala dan menghindari kontak mata dengan saudari Aldric.
“Ah, itu… itu tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa mandi tengah malam dan setiap orang pasti punya masalah yang tidak bisa dibagikan.” Elric mencoba menjelaskan dengan alasan yang masuk akal.
Alice memiliki wajah mengernyit saat mendengar alasannya.
“Terbiasa? Sejak kapan?” Alice bertanya dengan nada tinggi.
“Sejak… sejak beberapa hari lalu.” Elric menjawab dengan sembarangan.
“Beberapa hari lalu? Kamu yakin?” Saudari Aldric bertanya dengan skeptis.
“Ya, ya, yakinlah.” Elric menjawab dengan kesal.
“Kamu yakin kamu baik-baik saja? Kamu tidak terlihat baik-baik saja.” Alice berkata dengan lembut.
“Ya, ya, aku baik-baik saja. Jangan khawatir.” Elric berkata dengan cepat.
“Baiklah, kalau begitu. Tapi kalau kamu memiliki masalah, ceritakan saja. Aku akan selalu membantumu.” Saudari Aldric berkata dengan pelan.
“Terima kasih, Alice. Aku menghargainya.” Elric berkata dengan tulus.
Alice tersenyum dan menyuruhnya untuk minggir. Dia berbalik dan meninggalkan kamar mandi. Elric menghela napas lega dan menutup pintu kamar tidur. Dia merasa sedikit khawatir telah menghadapi saudari Aldric. Dia tidak bisa terus bersikap mencurigakan dan secara tidak sengaja memberitahunya kebenaran tentang dirinya.
Elric melihat-lihat kamar yang sekarang menjadi miliknya. Kamar itu tidak terlalu besar, tetapi cukup nyaman dan bersih. Di sana ada tempat tidur, rak buku, kursi, lemari, meja, dan liontin diatasnya. Elric merasa perasaan asing saat melihat foto di liontin itu. Dia tahu bahwa orang tua Aldric sudah meninggal karena kecelakaan tidak diketahui di benua utara saat menjalankan bisnis. Dia tahu bahwa Alice dan bibi mereka adalah satu-satunya keluarga yang tersisa bagi Aldric. Dan jika dia mati, mungkin mereka akan sangat sedih. Dia berpikir bahwa dia sekarang tidak memiliki pilihan lain selain menggantikan Aldric sebagai bagian dari keluarga itu. Jika dia mencoba pergi diam - diam, mungkin mereka akan memcarinya seperti orang gila. Dan mereka pasti akan meminta bantuan polisi dan sebagainnya. Dia tidak mau berurusan dengan pihak berwenang saat ini.
Elric menghela napas dan berjalan ke meja Aldric. Di atas meja ada beberapa barang milik Aldric selain liontin yang tadi dia ambil didalam laci meja, seperti buku-buku, pensil, kertas, dan jam.
Elric mengambil liotin dan membukanya. Di dalamnya ada foto orang tua Aldric. Elric merasakan sesuatu yang aneh di dadanya saat melihat foto itu. Dia merasakan rasa hormat dan kasih sayang terhadap orang-orang yang tidak pernah dia kenal sebelumnya. Dia merasakan rasa ikatan darah yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya dikehidupan elric. Ini membuatnya bingung dengan perasaannya yang baru.
__ADS_1
Elric menutup liotin dan meletakkannya kembali di meja dengan hati - hati. Dia berpikir keras bagaimana cara hidup kedepannya untuk membuat dirinya menjadi Aldric sepenuhnya tanpa dicurigai keluarganya. Dia berpikir tentang apa yang harus dia lakukan besok, apa yang harus dia katakan kepada Alice dan bibinya, apa yang harus dia kerjakan di pub tempat dia bekerja, apa yang harus dia hadapi selanjutnya. Dia berpikir tentang semua hal yang harus dia pelajari tentang dunia ini.
Elric mengambil buku harian Aldric dari laci meja. Dia membuka halaman terakhir yang ditulis oleh Aldric dengan coretan, sebelum bunuh diri. Di sana ada tulisan tangan Aldric yang penuh coretan dan tidak teratur namun masih bisa terbaca, dengan bahasa yang asing bagi Elric.
......................
Hari ini adalah hari terakhirku di dunia ini. Aku tidak tahan lagi dengan semua penderitaan dan tekanan yang aku alami. Aku tidak mau melihat kakak atau bibiku terluka karena diriku. Aku tidak mau menjadi beban bagi mereka lagi apalagi membuat mereka dalam masalah.
Aku sudah memutuskan untuk mengakhiri hidupku dengan cara ini, mungkin ini cara agar mereka tidak terkena masalah. Aku sudah menyiapkan segalanya dengan baik. Aku sudah menulis surat perpisahan untuk kakak dan bibiku yang tersimpan di laci bawah meja. Mereka akan tahu karena aku sering menyimpan hal penting disana. Aku sudah membereskan semua urusanku di pub tempat aku bekerja dengan mengatakan pada tuan Arthur bahwa aku berhenti. Namun dia tak mempedulikannya dan memberikanku cuti 1 hari. Aku sudah mengucapkan selamat tinggal kepada kenalanku seperti rekan kerjaku di pub Tom dan Frank, kakek German pemilik toko antik, bibi Clara pemilik toko roti kakakku bekerja, Samuel dan grace satu satunya temanku. Aku harap kakak dan bibiku serta mereka bisa memaafkanku atas keputusanku yang bodoh ini. Aku harap mereka bisa bahagia dan damai tanpa aku. Aku harap mereka bisa melupakan aku dan melanjutkan hidup mereka. Aku mencintai mereka lebih dari apapun di dunia ini. Namun takdir melakukan sesuatu yang misterius.
Dan aku juga harap orang yang akan menggantikan tubuhku bisa menjalani hidup yang lebih baik dariku dan menggantikanku. Aku tidak tahu apakah ritual dan mantra itu benar atau tidak, tetapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin mencoba sesuatu yang baru. Mungkin itu berhasil jika tidak itu tidak masalah. Aku akan tetap mati. Tidak masalah karena hidupku tak akan berakhir lama jika aku tetap hidup. Aku pasti gila.
Aku menemukan ritual dan mantra di sebuah catatan sobek di buku tua di rak toko bawah milik kakek German. Dia mengatakan bahwa buku itu tak berharga jadi aku mengambilnya.
Ritual itu cukup mudah untuk dilakukan. Aku hanya perlu menyiapkan beberapa bahan dan persiapan. Bahan-bahan itu adalah 7 lilin, korek api, pisau, mangkuk, kertas, pena, dan darah. Aku harus menyalakan lilin dan menulis mantra serta melafalkan mantra yang telah kutemukan, alirkan di kertas dengan darahku. Aku harus meletakkan kertas itu di atas mangkuk dan menusuknya dengan pisau. Menari dengan gerakan aneh. Dan Aku harus memastikan bahwa aku mati dalam waktu kurang dari satu jam setelah melakukan ritual itu. Jika tidak, ritual itu tidak akan bekerja. Dan pastikan ritual dilakukan saat bulan purnama saat semua bulan terbit di langit. sesuai yang tertulis di kertas itu. Aku akan membersihkan semuanya setelah ritual agar tidak menimbulkan masalah. Termasuk bukunya.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah aku mati. Aku tidak tahu apakah aku akan pergi ke surga atau neraka, atau ke tempat lain yang tidak diketahui. Aku tidak tahu apakah aku akan bertemu dengan orang tuaku lagi, atau dengan orang lain yang kucintai. Aku tidak tahu apakah aku akan bahagia atau menderita.
Yang aku tahu hanyalah bahwa aku sudah menemukan suatu rahasia yang tidak boleh ditemukan. Aku sudah menyerah dengan dunia ini yang penuh dengan kegelapan dan misteri. Aku sudah tercemar, jiwaku telah tercemar. Jiwaku tercemar, aku tidak ingin jadi monster.
Aku ingin pergi dari sini. Aku ingin pergi ke dunia lain. Aku ingin pergi ke tempat yang lebih baik. Tolong maafkan aku Alice, Bibi dan semuanya. Tolong maafkan aku meninggalkan kalian didunia yang gila ini.
Dan...
Dan jika ritual ini berhasil ingat ini orang yang menggantikan tubuhku, Geng Breton, Nyonya Walikota, Uskup Theodore, Jangan selidiki mereka. Aku mati karena sesuatu yang tidak harusnya diketahui jadi jangan menyelidiki mereka, atau kamu akan menyesalinya.
......................
Elric membaca tulisan Aldric dengan perasaan campur aduk dan ngeri. Dia merasakan rasa dendam dan kemarahan terhadap Aldric yang putus asa dan depresi yang telah membawanya kesini. Dia merasakan rasa takut atas apa yang menyebabkan alasan kematian Aldric yang aneh. Dan dia merasakan sedikit penasaran terhadap ritual yang membuatnya berpindah jiwa ke tubuh Aldric.
Elric menatap catatan itu dengan seksama. Dia tidak mengerti apa arti dari bahan dan maknanya dan cara kerjanya. Namun dia tahu bahwa bulan purnama yang dimaksud adalah 8 bulan di luar kamarnya. Dia setidaknya juga tahu bahwa yang mengirimnya adalah Aldric. Ini menjawab kecemasannya, namun ini juga membuat banyak pertanyaan menjadi lebih rumit. Bagaimana seorang manusia biasa dengan ritual yang mungkin tidak lengkap dapat membuatnya jatuh ke dunia ini.
Aldric juga mengatakan tercemar, apa yang membuat jiwa Aldric tercemar hingga dia memilih bunuh diri. Dan apa hubungan jiwa tercemar dengan menjadi monster. Dan nama - nama Geng Breton, Nyonya Walikota, Uskup Theodore, dia tidak memiliki kenangan sama sekali tentang mereka dari ingatan Aldric. Ini membuatnya paling gelisah. Dia menyadari bahwa hal yang paling berbahaya adalah bahaya yang tidak diketahui dan mereka mungkin tahu kita.
__ADS_1